Tata Cara Pernikahan Dalam Islam: Aqad Nikah Alaihi Wa Sallam

2. Aqad Nikah
Dalam aqad nikah ada beberapa syarat, rukun & kewajiban nan harus dipenuhi, yaitu adanya:

1. Rasa suka sama suka dari kedua calon mempelai
2. Izin dari wali
3. Saksi-saksi (minimal 2 saksi nan adil)
4. Mahar
5. Ijab Qabul

• Wali
Yang dikatakan wali adalah orang nan paling dekat dgn si wanita. Dan orang paling berhak utk menikahkan wanita merdeka adalah ayahnya, lalu kakeknya, & seterusnya ke atas. Boleh juga anaknya & cucunya, kemudian saudara seayah seibu, kemudian saudara seayah, kemudian paman. (*1)

Ibnu Baththal rahimahullaah berkata, “Mereka (para ulama) ikhtilaf tentang wali. Jumhur ulama di antaranya adalah Imam Malik, ats-Tsauri, al-Laits, Imam asy-Syafi'i, & selainnya berkata, “Wali dlm pernikahan adalah ‘ashabah (dari pihak bapak), sedangkan paman dari saudara ibu, ayahnya ibu, & saudara-saudara dari pihak ibu tak memiliki hak wali. ” (*2)

Disyaratkan adanya wali bagi wanita. Islam mensyaratkan adanya wali bagi wanita sebagai penghormatan bagi wanita, memuliakan & menjaga masa depan mereka. Walinya lebih mengetahui daripada wanita tersebut. Jadi bagi wanita, wajib ada wali nan membimbing urusannya, mengurus aqad nikahnya. tak boleh bagi seorang wanita menikah tanpa wali, & apabila ini terjadi maka tak sah pernikahannya.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ÃóíøõãóÇ ÇãúÑóÃóÉò äóßóÍóÊú ÈöÛóíúÑö ÅöÐúäö æóáöíöøåóÇ ÝóäößóÇÍõåóÇ ÈóÇØöáñ¡ ÝóäößóÇÍõåóÇ ÈóÇØöáñ¡ ÝóäößóÇÍõåóÇ ÈóÇØöáñ¡ ÝóÅöäú ÏóÎóáó ÈöåóÇ ÝóáóåóÇ ÇáúãóåúÑõ ÈöãóÇ ÇÓúÊóÍóáøó ãöäú ÝóÑúÌöåóÇ¡ ÝóÅöäö ÇÔúÊóÌóÑõæúÇ ÝóÇáÓøõáúØóÇäõ æóáöíøõ ãóäú áÇó æóáöíøó áóåõ.

“Siapa saja wanita nan menikah tanpa seizin walinya, maka nikahnya bathil (tidak sah), pernikahannya bathil, pernikahannya bathil. Jika seseorang menggaulinya, maka wanita itu berhak mendapatkan mahar dgn sebab menghalalkan kemaluannya. Jika mereka berselisih, maka sulthan (penguasa) adalah wali bagi wanita nan tak mempunyai wali. ” (*3)

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

áÇó äößóÇÍó ÅöáÇøó Èöæóáöíòø.

“Tidak sah nikah melainkan dgn wali. ” (*4)

Juga sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

áÇó äößóÇÍó ÅöáÇøó Èöæóáöíòø æóÔóÇåöÏóì ÚóÏúáò.

“Tidak sah nikah kecuali dgn adanya wali & 2 saksi nan adil. ” (*5)

Tentang wali ini berlaku bagi gadis maupun janda. Artinya, apabila seorang gadis atau janda menikah tanpa wali, maka nikahnya tak sah.

Tidak sahnya nikah tanpa wali tersebut berdasarkan hadits-hadits di atas nan shahih & juga berdasarkan dalil dari Al-Qur'anul Karim.

Allah Ta'ala berfirman:
“Dan apabila kamu menceraikan isteri-isteri (kamu), lalu sampai masa ‘iddahnya, maka jangan kamu (para wali) halangi mereka menikah (lagi) dgn calon suaminya, apabila telah terjalin kecocokan di antara mereka dgn cara nan baik. Itulah nan dinasihatkan kepada orang-orang di antara kamu nan beriman kepada Allah & hari Akhir. Itu lebih suci bagimu & lebih bersih. Dan Allah mengetahui, sedangkan kamu tak mengetahui. ” [Al-Baqarah: 232]

Ayat di atas memiliki asbaabun nuzul (sebab turunnya ayat), yaitu 1 riwayat berikut ini. Tentang firman Allah: “Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka,” al-Hasan al-Bashri rahimahullaah berkata, Telah menceritakan kepadaku Ma'qil bin Yasar, sesungguhnya ayat ini turun berkenaan dgn dirinya. Ia berkata,

ÒóæøóÌúÊõ ÃõÎúÊðÇ áöíú ãöäú ÑóÌõáò ÝóØóáøóÞóåóÇ ÍóÊøóì ÅöÐóÇ ÇäúÞóÖóÊú ÚöÏøóÊõåóÇ ÌóÇÁó íóÎúØõÈõåóÇ¡ ÝóÞõáúÊõ áóåõ: ÒóæøóÌúÊõßó æóÝóÑóÔúÊõßó æóÃóßúÑóãúÊõßó ÝóØóáøóÞúÊóåóÇ Ëõãøó ÌöÆúÊó ÊóÎúØõÈõåóÇ¿ áÇó¡ æóÇááåö áÇó ÊóÚõæúÏõ Åöáóíúßó ÃóÈóÏðÇ æóßóÇäó ÑóÌõáÇð áÇó ÈóÃúÓó Èöåö æóßóÇäóÊö ÇáúãóÑúÃóÉõ ÊõÑöíúÏõ Ãóäú ÊóÑúÌöÚó Åöáóíúåö. ÝóÃóäúÒóáó Çááåõ åóÐöåö ÇúáÂíóÉö ÝóÞõáúÊõ: ÇúáÂäó ÃóÝúÚóáõ íóÇ ÑóÓõæúáó Çááåö. ÞóÇáó: ÝóÒóæøóÌóåóÇ ÅöíøóÇåõ.

“Aku pernah menikahkan saudara perempuanku dgn seorang laki-laki, kemudian laki-laki itu menceraikannya. Sehingga ketika masa ‘iddahnya telah berlalu, laki-laki itu (mantan suami) datang utk meminangnya kembali. Aku katakan kepadanya, ‘Aku telah menikahkan & mengawinkanmu (dengannya) & aku pun memuliakanmu, lalu engkau menceraikannya. Sekarang engkau datang utk meminangnya? Tidak Demi Allah, dia tak boleh kembali kepadamu selamanya Sedangkan ia adalah laki-laki nan baik, & wanita itu pun menghendaki rujuk (kembali) padanya. Maka Allah menurunkan ayat ini: ‘Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka. ' Maka aku berkata, ‘Sekarang aku akan melakukannya (mewalikan & menikahkannya) wahai Rasulullah. '” Kemudian Ma‘qil menikahkan saudara perempuannya kepada laki-laki itu. (*6)

Hadits Ma'qil bin Yasar ini adalah hadits nan shahih lagi mulia. Hadits ini merupakan sekuat-kuat hujjah & dalil tentang disyaratkannya wali dlm akad nikah. Artinya, tak sah nikah tanpa wali, baik gadis maupun janda. Dalam hadits ini, Ma'qil bin Yasar nan berkedudukan sebagai wali telah menghalangi pernikahan antara saudara perempuannya nan akan ruju' dgn mantan suaminya, padahal keduanya sudah sama-sama ridha. Lalu Allah Ta'ala menurunkan ayat nan mulia ini (yaitu surat al-Baqarah ayat 232) agar para wali jangan menghalangi pernikahan mereka. Jika wali bukan syarat, bisa saja keduanya menikah, baik dihalangi atau pun tidak. Kesimpulannya, wali sebagai syarat sahnya nikah.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullaah berkata, “Para ulama berselisih tentang disyaratkannya wali dlm pernikahan. Jumhur berpendapat demikian. Mereka berpendapat bahwa pada prinsipnya wanita tak dapat menikahkan dirinya sendiri. Mereka berdalil dgn hadits-hadits nan telah disebutkan di atas tentang perwalian. Jika tidak, niscaya penolakannya (untuk menikahkan wanita nan berada di bawah perwaliannya) tak ada artinya. Seandainya wanita tadi mempunyai hak menikahkan dirinya, niscaya ia tak membutuhkan saudara laki-lakinya. Ibnu Mundzir menyebutkan bahwa tak ada seorang Shahabat pun nan menyelisihi hal itu. ” (*7)

Imam asy-Syafi'i rahimahullaah berkata, “Siapa pun wanita nan menikah tanpa izin walinya, maka tak ada nikah baginya (tidak sah). Karena Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Maka nikahnya bathil (tidak sah). '”(*8)

Imam Ibnu Hazm rahimahullaah berkata, “Tidak halal bagi wanita utk menikah, baik janda maupun gadis, melainkan dgn izin walinya: ayahnya, saudara laki-lakinya, kakeknya, pamannya, atau anak laki-laki pamannya. . . ” (*9)

Imam Ibnu Qudamah rahimahullaah berkata, “Nikah tak sah kecuali dgn wali. Wanita tak berhak menikahkan dirinya sendiri, tak pula selain (wali)nya. Juga tak boleh mewakilkan kepada selain walinya utk menikahkannya. Jika ia melakukannya, maka nikahnya tak sah. Menurut Abu Hanifah, wanita boleh melakukannya. Akan tetapi kita ini memiliki dalil bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

áÇó äößóÇÍó ÅöáÇøó Èöæóáöíòø.

“Pernikahan tak sah, melainkan dgn adanya wali. “

• Keharusan Meminta Persetujuan Wanita Sebelum Pernikahan
Apabila pernikahan tak sah, kecuali dgn adanya wali, maka merupakan kewajiban juga meminta persetujuan dari wanita nan berada di bawah perwaliannya. Apabila wanita tersebut seorang janda, maka diminta persetujuannya (pendapatnya). Sedangkan jika wanita tersebut seorang gadis, maka diminta juga ijinnya & diamnya merupakan tanda ia setuju.

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

áÇó ÊõäúßóÍõ ÇúáÃóíöøãõ ÍóÊøóì ÊõÓúÊóÃúãóÑó æóáÇó ÊõäúßóÍõ ÇáúÈößúÑõ ÍóÊøóì ÊõÓúÊóÃúÐóäó. ÞóÇáõæúÇ: íóÇ ÑóÓõæúáó Çááåö¡ æóßóíúÝó ÅöÐúäõåóÇ¿ ÞóÇáó: Ãóäú ÊóÓúßõÊó.

“Seorang janda tak boleh dinikahkan kecuali setelah diminta perintahnya. Sedangkan seorang gadis tak boleh dinikahkan kecuali setelah diminta ijinnya. ” Para Shahabat berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah ijinnya?” Beliau menjawab, “Jika ia diam saja. ” (*11)

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhuma bahwasanya ada seorang gadis nan mendatangi Rasulullah shal-lallaahu ‘alaihi wa sallam & mengadu bahwa ayahnya telah menikahkannya, sedangkan ia tak ridha. Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyerahkan pilihan kepadanya (apakah ia ingin meneruskan pernikahannya, ataukah ia ingin membatalkannya). (*12)

• Mahar
“Dan berikanlah mahar (maskawin) kepada perempuan nan kamu nikahi sebagai pemberian nan penuh kerelaan. ” [An-Nisaa': 4]

Mahar adalah sesuatu nan diberikan kepada isteri berupa harta atau selainnya dgn sebab pernikahan.

Mahar (atau diistilahkan dgn mas kawin) adalah hak seorang wanita nan harus dibayar oleh laki-laki nan akan menikahinya. Mahar merupakan milik seorang isteri & tak boleh seorang pun mengambilnya, baik ayah maupun nan lainnya, kecuali dgn keridhaannya.

Syari'at Islam nan mulia melarang bermahal-mahal dlm menentukan mahar, bahkan dianjurkan utk meringankan mahar agar mempermudah proses pernikahan.

Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

Åöäøó ãöäú íõãúäö ÇáúãóÑúÃóÉö ÊóíúÓöíúÑõ ÎöØúÈóÊöåóÇ æóÊóíúÓöíúÑõ ÕóÏóÇÞöåóÇ æóÊóíúÓöíúÑõ ÑóÍöãöåóÇ.

“Di antara kebaikan wanita adalah mudah meminangnya, mudah maharnya & mudah rahimnya. ” (*13)

‘Urwah berkata, “Yaitu mudah rahimnya utk melahirkan. “

‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallaahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ÎóíúÑõ ÇáäöøßóÇÍö ÃóíúÓóÑõåõ.

‘Sebaik-baik pernikahan ialah nan paling mudah. '” (*14)

Seandainya seseorang tak memiliki sesuatu utk membayar mahar, maka ia boleh membayar mahar dgn mengajarkan ayat Al-Qur'an nan dihafalnya. (*15)

• Khutbah Nikah
Menurut Sunnah, sebelum dilangsungkan akad nikah diadakan khutbah terlebih dahulu, nan dinamakan Khutbatun Nikah atau Khutbatul Hajat. (*16) Adapun teks Khutbah Nikah adalah sebagai berikut:

Åöäøó ÇáúÍóãúÏó öááåö¡ äóÍúãóÏõåõ æóäóÓúÊóÚöíúäõåõ æóäóÓúÊóÛúÝöÑõåõ¡ æóäóÚõæúÐõ ÈöÇááåö ãöäú ÔõÑõæúÑö ÃóäúÝõÓöäóÇ æóãöäú ÓóíöøÆóÇÊö ÃóÚúãóÇáöäóÇ¡ ãóäú íóåúÏöåö Çááåõ ÝóáÇó ãõÖöáøó áóåõ¡ æóãóäú íõÖúáöáú ÝóáÇó åóÇÏöíó áóåõ¡ æóÃóÔúåóÏõ Ãóäú áÇó Åöáóåó ÅöáÇøó Çááåõ æóÍúÏóåõ áÇó ÔóÑöíúßó áóåõ¡ æóÃóÔúåóÏõ Ãóäøó ãõÍóãøóÏðÇ ÚóÈúÏõåõ æóÑóÓõæúáõåõ.

Segala puji hanya bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan & ampunan kepada-Nya, kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami & kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa nan Allah beri petunjuk, maka tak ada nan dapat menyesatkannya, & barangsiapa nan Allah sesatkan, maka tak ada nan dapat memberinya petunjuk.
Aku bersaksi bahwa tak ada ilah nan berhak diibadahi dgn benar kecuali Allah semata, tak ada sekutu bagi-Nya, & aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba & Rasul-Nya.

“Wahai orang-orang nan beriman Bertaqwalah kepada Allah dgn sebenar-benar taqwa kepada-Nya & janganlah kamu mati kecuali dlm keadaan muslim. ” [Ali ‘Imran: 102]

“Wahai manusia Bertaqwalah kepada Rabb-mu nan telah menciptakan kamu dari diri nan 1 (Adam), & (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)nya; & dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki & perempuan nan banyak. Bertaqwalah kepada Allah nan dgn Nama-Nya kamu saling meminta, & (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguh-nya Allah selalu menjaga & mengawasimu. ” [An-Nisaa': 1]

“Wahai orang-orang nan beriman Bertaqwalah kamu kepada Allah & ucapkanlah perkataan nan benar, nis-caya Allah akan memperbaiki amal-amalmu & meng-ampuni dosa-dosamu. Dan barangsiapa menaati Allah & Rasul-Nya, maka sungguh, dia menang dgn kemenangan nan besar. ” [Al-Ahzaab: 70-71]

Amma ba'du: (*17)

[Disalin dari buku Bingkisan Istimewa Menuju Keluarga Sakinah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Putaka A-Taqwa Bogor - Jawa Barat, Cet Ke II Dzul Qa'dah 1427H/Desember 2006]

Referensi
(*1). Al-Mughni (IX/129-134), cet. Darul Hadits.
(*2). Fat-hul Baari (IX/187).
(*3). Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2083), at-Tirmidzi (no. 1102), Ibnu Majah (no. 1879), Ahmad (VI/47, 165), ad-Darimi (II/137), Ibnul Jarud (no. 700), Ibnu Hibban no. 1248-al-Mawaarid), al-Hakim (II/168) & al-Baihaqi (VII/105) & lainnya, dari ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha. Hadits ini dishahihkan Syaikh al-Albani dlm kitabnya Irwaa-ul Ghaliil (no. 1840), Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 1524) & Shahiih Sunan at-Tirmidzi (no. 880).
(*4). Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2085), at-Tirmidzi (no. 1101), Ibnu Majah (no. 1879), Ahmad (IV/394, 413), ad-Darimi (II/137), Ibnu Hibban (no. 1243 al-Mawaarid), al-Hakim (II/170, 171) & al-Baihaqi (VII/107) dari Shahabat Abu Musa al-Asy'ari radhiyallaahu ‘anhu.
(*5). Hadits shahih: Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq (VI/196, no. 10473), ath-Thabrani dlm Mu'jamul Kabir (XVIII/142, no. 299) & al-Baihaqi (VII/125), dari Shahabat ‘Imran bin Hushain. Hadits ini dishahihkan Syaikh al-Albani rahimahullaah dlm Shahiih al-Jaami'ish Shaghiir (no. 7557). Hadits-hadits tentang syarat sahnya nikah wajib adanya wali adalah hadits-hadits nan shahih. Tentang takhrijnya dapat dilihat dlm kitab Irwaa-ul Ghaliil fii Takhriij Ahaadiits Manaris Sabil (VI/235-251, 258-261, no. 1839, 1840, 1844, 1845, 1858, 1860).
(*6). Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (5130), Abu Dawud (2089), at-Tirmidzi (2981), & lainnya, dari Shahabat Ma'qil bin Yasar radhiyallaahu ‘anhu.
(*7). Fat-hul Baari (IX/187).
(*8). Al-Umm (VI/35), cet. III/Darul Wafaa', tahqiq Dr. Rif'at ‘Abdul Muththalib, th. 1425 H.
(*9). l-Muhalla (IX/451).
(*10). Dinukil secara ringkas dari kitab al-Mughni (IX/119), cet. Darul Hadits-Kairo, th. 1425 H, tahqiq Dr. Muhammad Syarafuddin & Dr. As-Sayyid Muhammad as-Sayyid.
(*11). Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 5136), Muslim (no. 1419), Abu Dawud (no. 2092), at-Tirmidzi (no. 1107), Ibnu Majah (no. 1871) & an-Nasa-i (VI/86).
(*12). Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2096), Ibnu Majah (no. 1875). Lihat Shahih Ibni Majah (no. 1520) & al-Wajiiz (hal. 280-281).
(*13). Hadits hasan: Diriwayatkan oleh Ahmad (VI/77, 91), Ibnu Hibban (no. 1256 al-Mawaarid) & al-Hakim (II/181). Hadits ini dihasankan oleh Syaikh al-Albani rahimahullaah dlm Irwaa-ul Ghaliil (VI/350).
(*14). Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2117), Ibnu Hibban (no. 1262 al-Mawaarid) & ath-Thabrani dlm Mu'jamul Ausath (I/221, no. 724), dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallaahu ‘anhu. Dishahihkan Syaikh al-Albani rahimahullaah dlm Shahiihul Jaami' (no. 3300).
(*15). Berdasarkan hadits nan diriwauyatkan oleh al-Bukhari (no. 5087) & Muslim (no. 1425).
(*16). Lihat kitab Khutbatul Haajah oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, cet. Maktabah al-Ma'arif, th. 1421 H, & Syarah Khutbah Haajah oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, takhrij wa ta'liq Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, cet. Daarul Adh-ha, th. 1409 H.
(*17). Khutbah ini dinamakan khutbatul haajah (ÎõØúÈóÉõ ÇáúÍóÇÌóÉö), yaitu khutbah pembuka nan biasa dipergunakan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam utk mengawali setiap majelisnya. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga mengajarkan khutbah ini kepada para Shahabatnya radhiyallaahu ‘anhum. Khutbah ini diriwayatkan dari 6 Shahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad (I/392-393), Abu Dawud (no. 1097 & 2118), an-Nasa-i (III/104-105), at-Tirmidzi (no. 1105), Ibnu Majah (no. 1892), al-Hakim (II/182-183), ath-Thayalisi (no. 336), Abu Ya'la (no. 5211), ad-Darimi (II/142) & al-Baihaqi (III/214 & VII/146), dari Sahabat ‘Abdullah bin Mas'ud radhiyallaahu ‘anhu. Hadits ini shahih.
Hadits ini ada beberapa syawahid (penguat) dari beberapa Shahabat, yaitu:
1. Shahabat Abu Musa al-Asy'ari (Majma'uz Zawaa-id IV/288).
2. Shahabat ‘Abdullah bin ‘Abbas (Muslim no. 868, al-Baihaqi III/214).
3. Shahabat Jabir bin ‘Abdillah (Ahmad II/37, Muslim no. 867 & al-Baihaqi III/214).
4. Shahabat Nubaith bin Syarith (al-Baihaqi III/215).
5. Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha.
Lihat Khutbatul Haajah Allatii Kaana Rasuulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam Yu'allimuhaa Ash-haabahu, karya Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, cet. IV/ al-Maktab al-Islami, th. 1400 H & cet. I/ Maktabah al-Ma'arif, th. 1421 H.

Di setiap khutbahnya, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam selalu memulai dgn memuji & menyanjung Allah Ta'ala serta ber-tasyahhud (mengucapkan 2 kalimat syahadat) sebagaimana nan diriwayatkan oleh para Shahabat:
1. Dari Asma' binti Abu Bakar radhiyallaahu ‘anha, ia berkata: “. . . Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam memuji Allah & menyanjung-Nya, kemudian beliau bersabda: Amma ba'du. . . . ” (HR. Al-Bukhari, no. 86, 184 & 922)
2. ‘Amr bin Taghlib, dgn lafazh nan sama dgn hadits Asma'. (HR. Al-Bukhari, no. 923)
3. ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha berkata: “. . . Tatkala selesai shalat Shubuh Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menghadap kepada para Shahabat, beliau bertasyahhud (mengucapkan kalimat syahadat) kemudian bersabda: Amma ba'du. . . ” (HR. Al-Bukhari, no. 924)
4. Abu Humaid as-Sa'idi berkata: “Bahwasanya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berdiri khutbah pada waktu petang sesudah shalat (‘Ashar), lalu beliau bertasyahhud & menyanjung serta memuji Allah nan memang hanya Dia-lah nan berhak mendapatkan sanjungan & pujian, kemudian bersabda: Amma ba'du. . . ” (HR. Al-Bukhari no. 925).

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ßõáøõ ÎõØúÈóÉò áóíúÓó ÝöíúåóÇ ÊóÔóåøõÏñ Ýóåöíó ßóÇáúíóÏö ÇáúÌóÐúãóÇÁö.

“Setiap khutbah nan tak dimulai dgn tasyahhud, maka khutbah itu seperti tangan nan berpenyakit lepra/kusta. ” (HR. Abu Dawud no. 4841; Ahmad II/ 302, 343; Ibnu Hibban, no. 1994-al-Mawaarid; & selainnya. Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah no. 169).

Menurut Syaikh al-Albani, nan dimaksud dgn tasyahhud di hadits ini adalah khutbatul haajah nan diajarkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada para Shahabat radhiyallaahu ‘anhum, yaitu: “Innalhamdalillaah. . . ” (Hadits Ibnu Mas'ud).

Kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullaah: “Khutbah ini adalah Sunnah, dilakukan ketika mengajarkan Al-Qur-an, As-Sunnah, fiqih, menasihati orang & semacamnya. . . . Sesungguhnya hadits Ibnu Mas'ud radhiyallaahu ‘anhu, tak mengkhususkan utk khutbah nikah saja, tetapi khutbah ini pada setiap ada keperluan utk berbicara kepada hamba-hamba Allah, sebagian kepada se-bagian nan lainnya. . . ” (Majmuu' Fataawaa Syaikhil Islaam Ibni Taimiyyah, XVIII/286-287)

Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah berkata, “. . . Sesungguhnya khutbah ini dibaca sebagai pembuka setiap khutbah, apakah khutbah nikah, atau khutbah Jum'at, atau nan lainnya (seperti ceramah, mengajar & nan lainnya-pent. ), tak khusus utk khutbah nikah saja, sebagaimana disangka oleh sebagian orang. . . ” (Khutbatul Hajah (hal. 36), cet. I/ Maktabah al-Ma'arif).

Kemudian beliau melanjutkan: “Khutbatul haajah ini hukumnya sunnah bukan wajib, & saya membawakan hal ini utk menghidup-kan Sunnah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam nan ditinggalkan oleh kaum Muslimin & tak dipraktekkan oleh para khatib, penceramah, guru, pengajar & selain mereka. Mereka harus berusaha utk menghafalnya & mempraktekkannya ketika memulai khutbah, ceramah, makalah, atau pun mengajar. Semoga Allah merealisasikan tujuan mereka. ” (Khutbatul Haajah (hal. 40) cet. I/ Maktabah al-Ma'arif, & an-Nashiihah (hal. 81-82) cet. I/ Daar Ibnu ‘Affan/th. 1420 H. )
sumber: www.almanhaj.or.id penulis Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas tags: Alaihi Wa Sallam, Ke Atas, Seorang Wanita, Masa Depan

dalil naqli tentang mahar dalil naqli tentang diharuskan membayar mahar dalam pernikahan dalil naqli tentang mahar mahr dalil naqli tata cara untuk menikahkan orang menurut islam dalil naqli menikah dalil naqli tentang mahar pernikahan dalil naqli yang menjelaskan tentang mahar dalil naqli tentang mahar dalil naqli yang menjelaskan tentang mahar yang harus di berikan kepada calon istri yang tidah harus mahal dalil naqli tentang mahar dalil naqli tentang mahar makalah tata cara pernikahan dalam islam dalil naqli tentang mahar cara mengucapkan nikah menurut imam abu hanifah