Seputar Rambut Atau Bulu nan Wajib Dibiarkan Dan tak boleh Dihilangkan Hukum Islam

Termasuk bentuk kesempurnaan penciptaan manusia, keberadaan rambut atau bulu di tubuhnya. Allah Subhanahu wa Ta'ala menciptakannya tak dgn sia-sia, namun mengandung hikmah atau manfaat, baik diketahui oleh manusia atau tidak. Rambut atau bulu nan tumbuh pada jasad manusia ada nan harus dijaga bahkan wajib dibiarkan, ada juga nan diperintahkan utk dihilangkan.

Dengan demikian, ditinjau dari hukum Islam (fiqh), hukum rambut atau bulu manusia bisa diklasifikasikan menjadi 3 bagian. Pertama. Rambut atau bulu nan harus dihilangkan & tak boleh dibiarkan. Kedua. Rambut atau bulu nan boleh dihilangkan atau dibiarkan. Ketiga. Rambut atau bulu nan wajib dibiarkan & tak boleh dihilangkan.

Tulisan berikut ini merupakan kelanjutan naskah nan sama, nan telah dimuat pada edisi 01/Tahun IX/1426H/2005M.

RAMBUT ATAU BULU nan WAJIB DIBIARKAN DAN tak boleh DIHILANGKAN
1. Jenggot Bagi Laki-Laki
Banyak hadist shahih nan mengharamkan seorang laki-laki mencukur jenggotnya. Beberapa lafadz nan digunakan Rasulullah dlm memerintahkan agar laki-laki membiarkan jenggotnya, seperti وَأَعْفُوا اللِّحَى perbanyaklah/ perteballah jenggot), وَفِّرُوا اللُّحَى (perbanyaklah jenggot),
أَرْحُوْا اللُّحَ (biarkanlah jenggot memanjang) ,أَوْفُوْا اللُّحَى (sempurnakan/ biarkan jenggot tumbuh lebat). Semua lafadz tersebut bermakna perintah utk membiarkan jenggot tumbuh & lebat & tak boleh mencukurnya. (*1)

Berikut ini lafadz-lafadz hadits di dlm Shahih Al Bukhari & Shahih Muslim nan memerintahkan utk membiarkan jenggot.

Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi was allam bersabda:

انْهَكُوا الشَّوَارِبَ وَأَعْفُوا اللِّحَى

“Tipiskanlah kumis & perbanyaklah (perteballah) jenggot”. [HR Bukhari].

Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

خَالِفُوا الْمُشْرِكِينَ وَفِّرُوا اللِّحَى وَأَحْفُوا الشَّوَارِبَ وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ إِذَا حَجَّ أَوْ اعْتَمَرَ قَبَضَ عَلَى لِحْيَتِهِ فَمَا فَضَلَ أَخَذَهُ

“Berbedalah dgn orang-orang musyrik & perbanyaklah jenggot. ” Abdullah bin Umar, apabila melakukan haji atau umrah, beliau menggenggam jenggotnya, apa nan lebih (dari genggaman)nya, beliau memotongnya” [HR Bukhari].

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

جُزُّوا الشَّوَارِبَ وَأَرْخُوا اللِّحَى خَالِفُوا الْمَجُوسَ

“Potonglah kumis & biarkan jenggot memanjang. Berbedalah dgn orang Majusi”. [HR Muslim].

Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

خَالِفُوا الْمُشْرِكِينَ أَحْفُوا الشَّوَارِبَ وَأَوْفُوا اللِّحَى

“Berbedalah dgn orang-orang musyrikin. Tipiskan kumis & biarkan jenggot tumbuh sempurna (panjang)”. [HR Muslim].

Syaikh Abdul Aziz bin Baz berkata,”Dengan demikian, berdasarkan beberapa hadits di atas, maka mencukur jenggot & memotongnya adalah termasuk perbuatan dosa & maksiat nan dapat mengurangi iman & memperlemahnya, serta dikhawatirkan ditimpakan kemurkaan & adzab Allah. “

Beliau menekankan: “Di dlm hadits-hadits tersebut di atas, terdapat petunjuk bahwa memanjangkan kumis & mencukur jenggot serta memotongnya, termasuk perbuatan menyerupai orang-orang Majusi & orang-orang musyrik. Padahal sudah diketahui, sikap meniru mereka merupakan perbuatan munkar nan tak boleh dilakukan. Nabi bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa nan menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk dari golongan mereka”. [HR Abu Dawud]. (*2)

2. Rambut Alis Atau Mata.
Mencukur rambut alis atau mata termasuk perbuatan haram. Pelakunya dilaknat oleh Allah, terlebih lagi bagi wanita. Dari Abdullah, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

لَعَنَ اللَّهُ الْوَاشِمَاتِ وَالْمُسْتَوْشِمَاتِ وَالنَّامِصَاتِ وَالْمُتَنَمِّصَاتِ

“Allah melaknat wanita nan membuat tato & nan minta dibuatkan (tato), nan mencukur alis & nan meminta dicukurkan”. [HR Muslim].

Mencukur alis atau menipiskannya, baik dilakukan oleh wanita nan belum menikah atau sudah menikah, dgn alasan mempercantik diri utk suami atau lainnya tetap diharamkan, sekalipun disetujui oleh suaminya. Karena nan demikian termasuk merubah penciptaan Allah nan telah menciptakannya dlm bentuk nan sebaik-baiknya. Dan telah datang ancaman nan keras serta laknat bagi pelakunya. Ini menunjukkan bahwa perbuatan tersebut adalah haram. (*3)

Adapun bila bulu alisnya terlalu panjang melebihi keadaan normal, atau ada beberapa helai nan tak rata sehingga sangat mengganggu bagi diri wanita, maka memotongnya atau meratakannya dibolehkan oleh sebagian ulama, seperti Imam Ahmad & Hasan Al Bashri. (*4)

Sedangkan menghilangkan bulu di wajah (pipi), maka bila dilakukan dgn namsh yaitu menggunakan minqasy (alat pencungkil) hingga ke akar-akarnya, maka tak boleh. Tetapi bila melakukannya dgn al huf, yaitu menghilangkan dgn silet atau pisau cukur, maka Imam Ahmad berkata: “Tidak mengapa bagi wanita, & saya tak menyukainya (dilakukan) laki-laki”. (*5)

Imam Al ‘Aini lebih mengkhususkan bagi wanita nan sudah menikah, utk mempercantik diri kepada suaminya, beliau berkata:

وَلاَ تُمْنَعُ الأَدْوِيَةُ الَّتِي تُزِيْلُ الْكَلْفَ وَتُحْسِنَ الْوَجْهَ لِلزَّوْجِ وَكَذَا أَخْذُ الشَّعْرِ مِنْهُ

“Maka tak dilarang menggunakan obat nan bisa menghilangkan bulu & mempercantik wajah utk suami, begitu juga (tidak dilarang) mengambil rambut darinya (wajah)”. (*6)

Wanita Memakai Konde
Diharamkan bagi wanita memakai konde, dgn menyambung rambutnya dgn rambut orang lain atau rambut palsu. Pelakunya mendapatkan laknat, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam:

لَعَنَ اللهُ الْوَاصِلَةَ وَالْمُسْتَوْصِلَةَ وَالْوَاشِمَةَ وَالْمُسْتَوْشِمَةَ

“Allah melaknat wanita nan menyambung rambutnya & nan minta disambung (dengan rambut lain), nan membuat tato & nan minta dibuatkan tato”. [HR Muslim].

Sebagian ulama membolehkan wanita menyambung rambutnya dgn selain rambut manusia. Misalnya, dgn rambut binatang, benang atau dari serat.

Imam Al Laits bin Sa'id berkata: “Sesungguhnya larangan menyambung rambut itu khusus menyambung dgn rambut. Tidak mengapa seorang wanita menyambung rambutnya dgn wol atau kain”. (*7)

Imam Abu Dawud meriwayatkan dari Sa'id bin Jubair, beliau berkata:

لاَبَأْسَ بِالْقَرَامِلِ

“Tidak mengapa (menyambung rambut) dgn qaramil (sejenis tumbuhan nan batangnya sangat lunak)”.

Fairuz Abadi berkata,”Sa'id bin Jubair berpendapat, nan dilarang ialah menggunakan rambut manusia. Adapun bila menyambungnya dgn sobekan kain, atau benang sutera & lainnya, maka tak dilarang. ” Al Khaththabi berkata,”Para ulama memberikan keringanan menggunakan qaramil, karena orang nan melihatnya tak ragu, bahwa nan demikian itu palsu (bukan rambutnya nan asli). ” (*8)

Ibnu Qudamah berkata,”Yang diharamkan ialah menyambung rambut dgn rambut, karena terdapat tadlis (unsur penipuan) & menggunakan sesuatu nan masih diperdebatkan kenajisannya. Adapun selain itu, maka tak diharamkan, karena tak mengandung makna ini (tadlis & najis), juga adanya maslahah utk mempercantik diri kepada suami dgn tak mendatangkan madharat (bahaya). “(*9)

Namun berdasarkan keumuman larangan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, sebaiknya seorang wanita tak melakukan wishal (menyambung rambut). Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

زَجَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ تَصِلَ الْمَرْأَةُ بِرَأْسِهَا شَيْئًا

“Rasulullah melarang wanita menyambung rambutnya dgn sesuatu”. [HR Muslim].

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

“Dua golongan dari ahli neraka nan tak pernah aku lihat: seorang nan membawa cemeti seperti ekor sapi nan dia memukul orang-orang, & perempuan nan berpakaian tetapi telanjang, berlenggok-lenggok, kepalanya bagaikan punuk onta nan bergoyang. Mereka tak akan masuk surga & tak akan mendapatkan baunya, sekalipun ia bisa didapatkan sejak perjalanan sekian & sekian”. [HR Muslim].

Imam An Nawawi menukil perkataan Imam Al Qurthubi nan berbunyi: “Rambut mereka diumpamakan seperti punuk onta, karena mereka mengangkat sanggul rambutnya ke bagian tengah kepalanya utk menghias dirinya & ia berpura-pura melakukan itu agar dianggap memiliki rambut nan lebat (panjang)”. (*10)

Seorang wanita tak perlu merasa malu dgn rambutnya nan sedikit karena itu bagian dari karunia Allah. Ditambah lagi, itu juga tak ada nan melihat, karena ia tutup dgn jilbab (hijab)nya. Adapun mengikat rambut dgn selain rambut, maka itu diperbolehkan.

Al Qadhi ‘Iyadh Al Maliki berkata, “Adapun mengikat rambut dgn sutera nan diberi warna & lainnya nan tak menyerupai rambut, maka tidaklah dilarang. Karena ia tak termasuk wishal (menyambung) & tak bertujuan utk itu. Itu hanya sekedar sebagai penghias. ” (*11) Dan inilah nan dimaksud dgn menyambung rambut nan dibolehkan oleh para ulama di atas. Wallahu a'lam.

Hukum Menyemir Rambut
Menyemir rambut dibolehkan baik laki-laki maupun perempuan dgn syarat tak menggunakan warna hitam. Demikian ini berdasarkan hadits riwayat dari Jabir bin Abdullah, beliau berkata: Abu Quhafah, ayahnya Abu Bakar datang saat penaklukan kota Makkah. Rambut & jenggot beliau telah memutih. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

غَيِّرُوا هَذَا بِشَيْءٍ وَاجْتَنِبُوا السَّوَادَ

“Rubahlah ini dgn sesuatu & jauhilah warna hitam”. [HR Muslim].

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى لَا يَصْبُغُونَ فَخَالِفُوهُمْ

“Sesungguhnya Yahudi & Nashrani tak menyemir (rambutnya), maka berbedalah dgn mereka”. [HR Muslim].

Anas berkata,”Saya melihat rambut Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mahdhuban (disemir). “
Abu Hurairah pernah ditanya: Apakah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menyemir rambutnya? Beliau menjawab,”Ya. ” (*12)

Imam An Nawawi berkata,”Madzhab kami ialah dianjurkan utk menyemir uban bagi laki-laki & wanita dgn warna kuning atau merah, & tak menyemirnya dgn warna hitam berdasarkan hadits di atas. ” (*13)

Al Hafizh Ibnu Hajar berkata,”Sebagian ulama ada nan memberikan keringanan (menyemir dgn hitam) ketika berjihad. Sebagian lagi memberikan keringanan secara mutlak. nan lebih utama adalah hukumnya makruh. Bahkan Imam Nawawi menganggapnya makruh nan lebih dekat dgn haram. Sebagian ulama salaf memberikan keringanan (menyemir dgn hitam), Misalnya, seperti Sa'd bin Abi Waqqash, Uqbah bin Amir, Al Hasan, Al Husain, Jarir, & lainnya. Inilah nan dipilih Ibnu Abi Ashim. Mereka membolehkan utk wanita & tak utk pria, inilah nan dipilih oleh Al Hulaimi. Ibnu Abi Ashim memahami dari hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam: ‘Jauhi warna hitam,' karena menyemir dgn warna hitam merupakan tradisi mereka. ” (*14)

Imam Ibnul Qayyim berkata,”Larangan menyemir rambut dgn warna hitam, bila dgn warna hitam pekat. Apabila tak hitam pekat seperti mencampur antara katam (semir warna hitam) dgn hina (warna merah), maka tak mengapa, karena akan membuat rambut menjadi merah kehitam-hitaman. “

Terkadang menyemir dgn warna hitam dilarang bila ada unsur tadlis (penipuan), seperti wanita nan sudah tua menyemir rambutnya agar menarik orang nan meminangnya & ingin menikahi dirinya, atau pria nan sudah tua agar tak kelihatan ubanan sehingga memikat wanita nan ingin dinikahinya. Semiran semacam ini termasuk penipuan & kebohongan nan dilarang. Apabila tak ada unsur penipuan & kedustaan, maka tak mengapa. Telah ada riwayat shahih nan menjelaskan bahwa Al Hasan & Al Husain menyemir rambutnya dgn warna hitam. (*15)

Membaca penjelasan para ulama di atas, maka menyemir dgn warna hitam dibolehkan dgn syarat, yaitu tak murni hitam tapi dicampur dgn warna lain, seperti merah atau kuning. Juga tak boleh terdapat unsur penipuan & pembohongan, agar dianggap lebih muda & lainnya. Hukum ini berlaku bagi pria & wanita, terutama nan sudah menikah.

Imam Ishaq berkata,”Wanita dibolehkan menyemir dgn warna hitam utk mempercantik dirinya utk suaminya. ” (*16)

Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Aisyah, beliau berkata: Isteri Utsman bin Mazh'un, dulunya menyemir (rambutnya) & memakai wewangian kemudian meninggalkannya. Ia masuk menemui Aisyah & ditanya,”Apakah Anda bersama suami atau tidak?” Ia berkata,”Bersama suami, tapi Utsman tak menyukai dunia & wanita. ” Aisyah berkata,”Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam masuk menemuiku, kemudian aku ceritakan semuanya. ” Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menemui Utsman & bersabda,”WahaiUtsman, apakah Anda beriman sebagaimana kami beriman?” Utsman menjawab,”Ya, wahai Rasulullah. ” Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,”Kenapa Anda tak menjadikan kami sebagai teladan?”

Asy Syaukani dlm menjelaskan hadits ini berkata: “Pengingkaran Aisyah terhadap isteri Utsman nan meninggalkan semir & parfum menunjukkan, bahwa wanita nan memiliki suami lebih baik baginya utk berhias utk suaminya dgn menyemir rambutnya & memakai wewangian. (*17)

Demikianlah, Allah menumbuhkan rambut (bulu) di badan manusia. Di antara rambut (bulu) tersebut ada nan diperintahkan utk tetap dibiarkan & dipelihara, namun ada juga nan diperintahkan utk dihilangkan. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan tuntunan dlm menjaga atau menghilangkan rambut bulunya. Seorang mukmin dituntut utk bisa mengikuti tuntunan tersebut, baik dlm membiarkan rambut (bulu)nya, atau ketika mencukur atau menghilangkannya. Karena ia ittiba' (mengikuti) tuntunan Rasulullah, maka tindakannya tersebut bisa bernilai ibadah nan mendapatkan kecintaan & ampunan Allah.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun IX/1426/2005M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]

Referensi
(*1). Ibnu Hajar Al Asqalani, Fathul Baari, Juz 12, hlm. 543.
(*2). Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Fatwa-Fatwa Terkini: (1/172), Darul Haq Jakarta Th. 1999
(*3). Syaikh Abdullah bin Jibrin, Fatawa Islamiyah: (3/200). Dar Al Qalam Beirut, 1408 H.
(*4). Imam An Nawawi, Al Majmu': (1:349).
(*5). Ibnu Qudamah, Al Mugni, (1/91).
(*6). Badruddin Abi Muhammad Mahmud bin Ahmad Al ‘Aini, Umdatul Qari Syarah Shahih Al Bukhari, (2/193), Ihya' At Turats Al ‘Arabi Beirut, Tanpa tahun,.
(*7). Ibnu Hajar Al Asqalani, Fathul Baari (10/375), Imam An Nawawi, Syarah Shahih Muslim, (14/104).
(*8). Fairuz Abadi, ‘Aunul Ma'buud, (11/228-229).
(*9). Ibnu Qudamah, Al Mughni, (1/94).
(*10). Ibnu Hajar Al Asqalani, Fathul Baari (10/375).
(*11). Imam An Nawawi, Syarah Shahih Muslim, (14/104-105)
(*12). Muhammad bin Isa At Tirmidzi, Syama'il Al Muhammadiyah hlm. 26-27 Daar Ibn Hazm Beirut, 1418 H.
(*13). Imam An Nawawi, Syarah Shahih Muslim, (14/80).
(*14). Ibnu Hajar Al Asqalani, Fathul Baari, (10/354-355).
(*15). Muhammad Abdurrahman bin Abdurrahim Al Mubarakfuri, Tuhfatul Ahwadzi Syarah Jami' Tirmidzi, Kairo, Al Madani, Tanpa tahun, Juz 5, hlm. 442.
(*16). Ibnu Qudamah, Al Mughni, Juz 1, hlm. 92.
(*17). Asy Syaukani, Nailul Authar, Juz 6, hlm. 193-194.
sumber: www.almanhaj.or.id penulis Ustadz Nurul Mukhlisin Asyrafuddin tags: Hukum Islam, Subhanahu Wa

penyebab jenggot berwarna kuning penyebab jenggot berwarna kuning penyebab jenggot berwarna merah kenapa jenggot jadi berwarna jenggot menjadi merah penyebab jenggot merah izzis.web.id/ seputar- rambut- atau- bulu- nan- wajib- dibiarkan- dan- tak- boleh- dihilangkan- hukum- islam- 150.htm izzis.web.id/ seputar- rambut- atau- bulu- nan- wajib- dibiarkan- dan- tak- boleh- dihilangkan- hukum- islam- 150.htm izzis.web.id/ seputar- rambut- atau- bulu- nan- wajib- dibiarkan- dan- tak- boleh- dihilangkan- hukum- islam- 150.htm jembut uban jenggot pria warna merah jenggot warna merah penyebab jenggot merah jenggot warna merah izzis.web.id/ seputar- rambut- atau- bulu- nan- wajib- dibiarkan- dan- tak- boleh- dihilangkan- hukum- islam- 150.htm