Seputar Hukum Shalat Jama Dan Qashar Al Qur

MAKNA DAN HUKUM QASHAR.
Qashar adalah meringkas shalat 4 rakaat (Dhuhur, Ashar & Isya) menjadi 2 rakaat. (*1)

Dasar mengqashar shalat adalah Al-Qur'an, As-Sunnah & Ijma' (kesepakatan para ulama). (*2)

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman

Artinya ” Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu mengqashar salatmu, jika kamu takut di serang orang-orang kafir”[An-Nisaa': 101]

Dari Ya'la bin Umayyah bahwasanya dia bertanya kepada Umar ibnul Kaththab radhiallahu anhu tentang ayat ini seraya berkata: “Jika kamu takut di serang orang-orang kafir”, padahal manusia telah aman ?. Sahabat Umar radhiallahu anhu menjawab: Aku sempat heran seperti keherananmu itu lalu akupun bertanya kepada Rasulullah -shallallahu alaihi wa'ala alihi wasallam tentang hal itu & beliau menjawab:(Qashar itu) adalah sedekah dari Allah kepadamu, maka terimahlah sedekah Allah tersebut. (*3)

“Dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma berkata: Allah menentukan shalat melalui lisan Nabimu shallallahu alaihi wa'ala alihi wasallam 4 raka'at apabila hadhar (mukim) & 2 raka'at apabila safar”(*4)

“Dari Umar radhiallahu anhu berkata: Shalat safar (musafir) adalah 2 raka'at, shalat Jum'at adalah 2 raka'at & shalatIed adalah 2 raka'at”(*5)

Dari Ibnu Umar radhiallahu anhuma berkata:Aku menemani Rasulullah shallallahu alaihi wa'ala alihi wasallam dlm safar & beliau tak pernah menambah atas 2 raka'at sampai wafat, kemudian aku menemani Abu Bakar radhiallahu anhu & beliau tak pernah menambah atas 2 raka'at sampai wafat, kemudian aku menemani Umar radhiallahu anhu & beliau tak pernah menambah atas duaraka'at sampai wafat, kemudian aku menemani Utsman radhiallahu anhu & beliau tak pernah menambah atas 2 raka'at sampai wafat. Dan Allah subhaanahu wa ta'ala telah berfirman:Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan nan baik bagimu. “[Al-Ahzaab: 21](*6)

Berkata Anas bin Malik radhiallahu anhu: Kami pergi bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa'ala alihi wasallam dari kota Madinah ke kota Mekkah, maka beliaupun shalat dua-dua (qashar) sampai kami kembali ke kota Madinah”(*7)

JARAK SAFAR nan DIBOLEHKAN MENGQASHAR.
Qashar hanya boleh di lakukan oleh musafir -baik safar dekat atau safar jauh-, karena tak ada dalil nan membatasi jarak tertentu dlm hal ini, jadi seseorang nan bepergian boleh melakukan qashar apabila bepergiannya bisa di sebut safar menurut pengertian umumnya. Sebagian ulama memberikan batasan dgn safar nan lebih dari 8 puluh kilo meter agar tak terjadi kebingunan & tak rancu, namun pendapat ini tak berdasarkan dalil sahih nan jelas. (*8)

Apabila terjadi kerancuan & kebingungan dlm menetukan jarak atau batasan diperbolehkannya mengqashar shalat maka tak mengapa kita ini mengikuti pendapat nan menentukan jarak & batasan tersebut –yaitu sekitar 80 atau 90 kilo meter-, karena pendapat ini juga merupakan pendapat para imam & ulama nan layak berijtihad. (*9)

Seorang musafir diperbolehkan mengqashar shalatnya apabila telah meninggalkan kampung halamannya sampai dia pulang kembali ke rumahnya. (*10)

Berkata Ibnul Mundzir: Aku tak mengetahui (satu dalilpun) bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa ala alihi wa sallam mengqashar dlm safarnya melainkan setelah keluar (meninggalkan) kota Madinah.

Berkata Anas radhiallahu anhu: Aku shalat bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa'ala alihi wasallam di kota Madinah 4 raka'at & di Dzul Hulaifah (luar kota Madinah) 2 raka'at” (*11)

SAMPAI KAPAN MUSAFIR BOLEH MENGQASHAR.
Para ulama berbeda pendapat tentang batasan waktu sampai kapan seseorang dikatakan sebagai musafir & diperbolehkan mengqashar (meringkas) shalat. Jumhur (sebagian besar) ulama nan termasuk didalamnya imam empat: Hanafi, Maliki, Syafi'i & Hambali rahimahumullah berpendapat bahwa ada batasan waktu tertentu. Namun para ulama nan lain diantaranya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, Muhammad Rasyid Ridha, Syaikh Abdur Rahman As-sa'di, Syaikh Bin Baz, Syaikh Utsaimin & para ulama lainnya rahimahumullah berpendapat bahwa seorang musafir diperbolehkan utk mengqashar shalat selama ia mempunyai niatan utk kembali ke kampung halamannya walaupun ia berada di perantauannya selama bertahun-tahun. Karena tak ada 1 dalilpun nan sahih & secara tegas menerangkan tentang batasan waktu dlm masalah ini. Dan pendapat inilah nan rajih (kuat) berdasarkan dalil-dalil nan sangat banyak, diantaranya:

Sahabat Jabir radhiallahu anhu meriwayatkan, bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wa'ala alihi wasallam tinggal di Tabuk selama 2 puluh hari mengqashar shalat. (*12)

Sahabat Ibnu Abbas radhiallahu anhuma meriwayatkan, bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wa'ala alihi wasallam tinggal di Makkah selama 9 belas hari mengqashar shalat. (*13)

Nafi' rahimahullah meriwayatkan, bahwasanya Ibnu Umar radhiallahu anhuma tinggal di Azzerbaijan selama 6 bulan mengqashar shalat. (*14)

Dari dalil-dalil diatas jelaslah bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa'ala alihi wasallam tak memberikan batasan waktu tertentu utk diperbolehkannya mengqashar shalat bagi musafir (perantau) selama mereka mempunyai niatan utk kembali ke kampung halamannya & tak berniat utk menetap di daerahperantauan tersebut. (*15)

SHALAT TATHAWWU / NAFILAH / SUNNAH BAGI MUSAFIR.
Jumhur ulama (mayoritas) berpendapat bahwa tak mengapa & tak makruh shalat nafilah/ tathawwu bagi musafir nan mengqashar shalatnya, baik nafilah nan merupakan sunnah rawatib (qobliyah & ba'diyah) maupun nan lainnya. Dalil mereka adalah bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wa'ala alihi wasallam shalat 8 raka'at pada hari penaklukan kota Makkah atau Fathu Makkah & beliau dlm keadaan safar. (*16)

Sebagian ulama berpendapat bahwa nan di syari'atkan adalah meninggalkan (tidak mengerjakan) shalat sunnah rawatib (qobliyah & ba'diyah) saja ketika safar, dalil mereka adalah riwayat dari Ibnu Umar radhiallahu anhuma bahwasanya beliau melihat orang-orang (musafir) nan shalat sunnah rawatib setelah selesai shalat fardhu, maka beliaupun berkata: Kalau sekiranya aku shalat sunnah rawatib setelah shalat fardhu tentulah aku akan menyempurnakkan shalatku (maksudnya tak mengqashar). Wahai saudaraku, sungguh aku menemani Rasulullah shallallahu alaihi wa'ala alihi wasallam dlm safar & beliau tak pernah menambah atas 2 raka'at sampai wafat, kemudian aku menemani Abu Bakar radhiallahu anhu & beliau tak pernah menambah atas 2 raka'at sampai wafat, kemudian aku menemani Umar radhiallahu anhu & beliau tak pernah menambah atas 2 raka'at sampai wafat, kemudian aku menemani Utsman radhiallahu anhu & beliau tak pernah menambah atas 2 raka'at sampai wafat. Dan Allah subhaanahu wa ta'ala telah berfirman: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan nan baik bagimu”. [Al-Ahzaab: 21](*17)

Adapun shalat-shalat sunnah/nafilah/tathawwu' lainnya seperti shalat malam, witir, sunnah fajar, dhuha, shalat nan ada sebab –sunnah wudhu & tahiyyatul masjid- & tathwwu muthlak adalah tak mengapa dilakukan & bahkan tetap di syari'atkan berdasarkan hadis-hadis sahih dlm hal ini. (*18)

JAMA'.
Menjama' shalat adalah mengabungkan antara 2 shalat (Dhuhur & Ashar atau Maghrib & 'Isya') & dikerjakan dlm waktu salah satunya. Boleh seseorang melakukan jama'taqdim & jama'ta'khir. (*19)

Jama' taqdim adalah menggabungkan 2 shalat & dikerjakan dlm waktu shalat pertama, yaitu; Dhuhur & Ashar dikerjakan dlm waktu Dhuhur, Maghrib & 'Isya' dikerjakan dlm waktu Maghrib. Jama' taqdim harus dilakukan secara berurutan sebagaimana urutan shalat & tak boleh terbalik.

Adapun jama' ta'khir adalah menggabungkan 2 shalat & dikerjakan dlm waktu shalat kedua, yaitu; Dhuhur & Ashar dikerjakan dlm waktu Ashar, Maghrib & 'Isya'dikerjakan dlm waktu, Isya', Jama' ta'khir boleh dilakukan secara berurutan & boleh pula tak berurutan akan tetapi nan afdhal adalah dilakukan secara berurutan sebagaimana nan dilakukan oleh Rasulullah shallallahuhu alaihi wa'ala alihi wasallam. (*20)

Menjama' shalat boleh dilakukan oleh siapa saja nan memerlukannya - baik musafir atau bukan- & tak boleh dilakukan terus menerus tanpa udzur, jadi dilakukan ketika diperlukan saja. [21]

Termasuk udzur nan membolehkan seseorang utk menjama' shalatnya dalah musafir ketika masih dalan perjalanan & belum sampai di tempat tujuan[22] , turunnya hujan [23] , & orang sakit. [24]

Berkata Imam Nawawi rahimahullah:Sebagian imam (ulama) berpendapat bahwa seorang nan mukim boleh menjama' shalatnya apabila di perlukan asalkan tak di jadikan sebagai kebiasaan. “[25]

Dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma berkata, bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wa'ala alihi wasallam menjama antara dhuhur dgn ashar & antara maghrib dgn isya' di Madinah tanpa sebab takut & safar (dalam riwayat lain; tanpa sebab takut & hujan). Ketika ditanyakan hal itu kepada Ibnu Abbas radhiallahu anhuma beliau menjawab: Bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa'ala alihi wasallam tak ingin memberatkan ummatnya. [26]

MENJAMA'JUM'AT DENGAN ASHAR.
Tidak diperbolehkan menjama' (menggabung) antara shalat Jum'at & shalat Ashar dgn alasan apapun baik musafir, orang sakit, turun hujan atau ada keperluan dll-, walaupun dia adalah orang nan di perbolehkan menjama' antara Dhuhur & Ashar.

Hal ini di sebabkan tak adanya dalil tentang menjama' antara Jum'at & Ashar, & nan ada adalah menjama' antara Dhuhur & Ashar & antara Maghrib & Isya'. Jum'at tak bisa diqiyaskan dgn Dhuhur karena sangat banyak perbedaan antara keduanya. Ibadah harus dgn dasar & dalil, apabila ada nan mengatakan boleh maka silahkan dia menyebutkan dasar & dalilnya & dia tak akan mendapatkannya karena tak ada 1 dalilpun dlm hal ini.

Rasulullah shallallahu alaihi wa'ala alihi wasallam bersabda: Barang siapa membuat perkara baru dlm urusan kami ini (dalam agama) nan bukan dari padanya (tidak berdasar) maka tertolak. [27]

Dalam riwayat lain: Barangsiapa mengamalkan suatu amalan nan tak ada perintah kami (tidak ada ajarannya) maka amalannya tertolak. [28]

Jadi kembali kepada hukum asal, yaitu wajib mendirikan shalat pada waktunya masing-masing kecuali apabila ada dalil nan membolehkan utk menjama' (menggabungnya) dgn shalat lain. [29]

JAMA' DAN SEKALIGUS QASHAR.
Tidak ada kelaziman antara jama' & qashar. Musafir di sunnahkan mengqashar shalat & tak harus menjama', nan afdhal bagi musafir nan telah menyelesaikan perjalanannya & telah sampai di tujuannya adalah mengqashar saja tanpa menjama' sebagaimana dilakukan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ketika berada di Mina pada waktu haji wada', yaitu beliau hanya mengqashar saja tanpa menjama,(*30) & beliau shallallahu alaihi wa'ala alihi wa sallam pernah melakukan jama'sekaligus qashar pada waktu perang Tabuk. [31] Rasulullah shallallahu alaihi wa'ala alihi wasallam selalu melakukan jama' sekaligus qashar apabila dlm perjalanan & belum sampai tujuan. [32] Jadi Rasulullah shallallahu alaihi wa'ala alihi wasallam sedikit sekali menjama' shalatnya karena beliau shallallahu alaihi wa'ala alihi wasallam melakukannya ketika diperlukan saja. [33]

MUSAFIR SHALAT DI BELAKANG MUKIM.
Shalat berjama'ah adalah wajib bagi orang mukim ataupun musafir, apabila seorang musafir shalat di belakang imam nan mukim maka dia mengikuti shalat imam tersebut yaitu 4 rakaat, namun apabila dia shalat bersama-sama musafir maka shalatnya di qashar (dua raka'at). Hal ini di dasarkan atas riwayat sahih dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma. Berkata Musa bin Salamah: Suatu ketika kami di Makkah (musafir) bersama Ibnu Abbas, lalu aku bertanya: Kami melakukan shalat 4 raka'at apabila bersama kamu (penduduk Mekkah), & apabila kami kembali ke tempat kami (bersama-sama musafir) maka kami shalat 2 raka'at ? Ibnu Abbas radhiallahu anhuma menjawab: Itu adalah sunnahnya Abul Qasim (Rasulullah shallallahu alaihi wa'ala alihi wasalla”[34]

MUSAFIR MENJADI IMAM ORANG MUKIM.
Apabila musafir dijadikan sebagai imam orang-orang mukim & dia mengqashar shalatnya maka hendaklah orang-orang nan mukim meneruskan shalat mereka sampai selesai (empat raka'at), namun agar tak terjadi kebingungan hendaklah imam nan musafir memberi tahu makmumnya bahwa dia shalat qashar & hendaklah mereka (makmum nan mukim) meneruskan shalat mereka sendiri-sendiri & tak mengikuti salam setelah dia (imam) salam dari 2 raka'at. Hal ini pernah di lakukan Rasulullah shallallahu alaihi wa'ala alihi wasallam ketika berada di Makkah (musafir) & menjadi imam penduduk Mekkah, beliau shallallahu alaihi wa'ala alihi wasallam berkata: Sempurnakanlah shalatmu (empat raka'at) wahai penduduk Mekkah Karena kami adalah musafir. [35] Beliau shallallahu alaihi wa'ala alihi wasallam shalat dua-dua (qashar) & mereka meneruskan sampai 4 raka'at setelah beliau salam. [36]

Apabila imam nan musafir tersebut khawatir membingungkan makmumnya & dia shalat 4 raka'at (tidak mengqashar) maka tidaklah mengapa karena hukum qashar adalah sunnah mu'akkadah & bukan wajib. [37]

SHALAT JUM'AT BAGI MUSAFIR.
Kebanyakan ulama berpendapat bahwa tak ada shalat Jum'at bagi usafir, namun apabila musafir tersebut tinggal di suatu daerah nan diadakan shalat Jum'at maka wajib atasnya utk mengikuti shalat um'at bersama mereka. Ini adalah pendapat imam Malik, imam Syafi'i, Ats-Tsauriy, Ishaq, Abu Tsaur, dll. [38]

Dalilnya adalah bahwasanya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa'ala alihi wasallam apabila safar (bepergian) tak shalat Jum'at dlm safarnya, juga ketika Haji Wada' Beliau shallallahu alaihi wa'ala alihi wasallam tak melaksanakan shalat Jum'at & menggantinya dgn shalat Dhuhur nan dijama' (digabung) dgn Ashar[39]. Demikian pula para Khulafa Ar-Rasyidun (empat khalifah) radhiallahu anhum & para sahabat lainnya radhiallahu anhum serta orang-orang nan setelah mereka apabila safar tak shalat Jum'at & menggantinya dgn Dhuhur. [40]

Dari Al-Hasan Al-Basri, dari Abdur Rahman bin Samurah berkata: Aku tinggal bersama dia (Al-Hasan Al-Basri) di Kabul selama 2 tahun mengqashar shalat & tak shalat Jum'at”

Sahabat Anas radhiallahu anhu tinggal di Naisabur selama 1 atau 2 tahun, beliau tak melaksanakan shalat Jum'at.

Ibnul Mundzir -rahimahullah menyebutkan bahwa ini adalah Ijma' (kesepakatan para ulama') nan berdasarkan hadis sahih dlm hal ini sehingga tak di perbolehkan menyelisihinya. [41]

Wallahu A'lam & Semoga Bermanfaat.

[Disalin dari tulisan nan disusun oleh , beliau adalah salah seorang ustadz nan berdomisili & banyak memberi pengajaran di kota Malang, Jawa Timur]

Referensi
(*1). Lihat Tafsir Ath-Thabari 4/244, Mu'jamul Washit hal 738.
(*2). Lihat Al-Mughni, Ibnu Qudamah 3/104 & Al-Majmu' Syarah Muhadzdzab 4/165.
(*3). HR. Muslim, Abu Dawud dll. Lihat Al-jami'li Ahkamil Qur'an, Al- Qurthubi 5/226-227.
(*4). HR. Muslim, Ibnu Majah, Abu Dawud dll.
(*5). HR. Ibnu Majah & An-Nasa'i dll dgn sanad sahih. Lihat sahih Ibnu Majah 871 & Zaadul Ma'ad, Ibnul Qayim 1/467
(*6). HR. Bukhari & Muslim dll. Lihat Al-Wajiz fi Fiqhis Sunnati wal Kitabil Aziz, Abdul Adhim bin Badawi Al-Khalafi 138.
(*7). HR. Bukhari & Muslim.
(*8). Lihat Al-Muhalla, Ibnu Hazm 21/5, Zaadul Ma'ad, Ibnul Qayyim
1/481, Fiqhus Sunnah, Sayyid Sabiq 1/307-308, As-Shalah, Prof. Dr. Abdullah Ath-Thayyar 160-161, Al-Wajiz, Abdul Adhim Al-Khalafi 138 dll.
(*9). Lihat Majmu'Fatawa Syaikh Utsaimin 15/265.
(*10). Al-Wajiz, Abdul ¡¥Adhim Al-Khalafi 138
(*11). HR. Bukhari, Muslim dll.
(*12). HR. Imam Ahmad dll dgn sanad sahih.
(*13) HR. Bukhari dll
(*14). Riwayat Al-Baihaqi dll dgn sanad sahih
(*15). Lihat Majmu' Fatawa Syaikh Utsaimin jilid 15, Irwa'ul Ghalil Syaikh Al-Albani jilid 3, Fiqhus Sunnah 1/309-312.
(*16). HR. Bukhari & Muslim.
(*17). HR. Bukhari. Lihat Zaadul Ma'ad, Ibnul Qayyim 1/315-316, 473-475, Fiqhus Sunah 1/312-313, Taudhihul Ahkam, Al-Bassam 2/223-229. Majmu' Fatawa Syaikh Utsaimin 15/254.
(*18). Kitab Ad-Dakwah, Bin Baz, lihat As-Shalah, Prof. Dr. Abdullah Ath-Thayyar 308.
(*19). Lihat Fiqhus Sunnah 1/313-317.
(*20). Lihat Fatawa Muhimmah, Syaikh Bin Baz 93-94, Kitab As-Shalah, Prof. Dr. Abdullah Ath-Thayyar 177.
[21]. Lihat Taudhihul Ahkam, Al-Bassam 2/308-310 & Fiqhus Sunnah 1/316-317.
[22]. HR. Bukhari & Muslim
[23]. HR. Muslim, Inbu Majah dll.
[24]. Taudhihul Ahkam, Al-Bassam 2/310, Al-Wajiz, Abdul Adhim bin Badawi Al-Khalafi 139-141, Fiqhus Sunnah 1/313-317
[25]. Lihat syarh Muslim, imam Nawawi 5/219 & Al-Wajiz fi Fiqhis Sunnah wal Kitabil Aziz 141.
[26]. HR. Muslim dll. Lihat Sahihul Jami¡¦ 1070.
[27]. HR. Bukhari 2697 & Muslim 1718.
[28]. HR. Muslim.
[29]. Lihat Majmu' Fatawa Syaikh Utsaimin 15/ 369-378
(*30). Lihat Sifat haji Nabi shallallahu alaihi wa'ala alihi wasallam karya Al-Albani.
[31]. HR. Muslim. Lihat Taudhihul Ahkam, Al-Bassam 2/308-309.
[32]. As-Shalah, Prof. Dr. Abdullah Ath-Thayyar 181. Pendapat ini adalah merupakan fatwa para ulama termasuk syaikh Abdul Aziz bin Baz.
[33]. Lihat Taudhihul Ahkam, Al-Bassam 2/ 308.
[34]. Riwayat Imam Ahmad dgn sanad sahih. Lihat Irwa'ul Ghalil no
571 & Tamamul Minnah, Syaikh Al-Albani 317
[35]. HR. Abu Dawud. .
[36]. Lihat Al-Majmu' Syarah Muhadzdzab 4/178 & Majmu' Fatawa Syaikh Utsaimin 15/269
[37]. Lihat Taudhihul Ahkam, Syaikh Abdullah bin Abdir Rahman Al- Bassam 2/294-295
[38]. Lihat Al-Mughni, Ibnu Qudamah 3/216, Al-Majmu'Syarh Muhadzdzab, Imam Nawawi 4/247-248, lihat pula Majmu'Fatawa Syaikh Utsaimin 15/370.
[39]. Lihat Hajjatun Nabi shallallahu alaihi wa'ala alihi wasallam Kama Rawaaha Anhu Jabir -radhiallahu anhu, Karya Syaikh Muhammad Nasiruddin Al-Albani hal 73.
[40]. Lihat Al-Mughni, Ibnu Qudamah 3/216.
[41]. Lihat Al-Mughni, Ibnu Qudamah 3/216
sumber: www.almanhaj.or.id penulis Abdullah Shaleh Al-Hadrami tags: Al Qur, Bin Malik, Ibnu Abbas, Subhanahu Wa, Abu Bakar

hadis dan dahlil quran tentang jamak dan qosor hukum mengqashar shalat maghrib apa dasar hukum dalil shalat safar hadits dalil mengqashar dan menjama sholat sholat jumat dan ashar bisa di jamak bagi perantau dalil alquran tentang jamak qoshor. dalil alquran tentang sholat jumat buat musafir dalil atau quran tentang jama pengertian dan dasar sholat jamak dasar hadis dan qur an sholat jamak hukum shalat jama sekaligus qashar ayat alquran tentang jamak qoshor hukum sholat jum- at bagi musafir& perantau dasar hukum sholat jamak dasar hukum sholat jamak