Riya Dan Bahayanya

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ z قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ يَقُوْلُ: إِنَّ اَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَعَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيْكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ قَالَ: كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ ِلأَنْ يُقَالَ جَرِيْءٌ, فَقَدْ قِيْلَ ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى اُلْقِيَ فيِ النَّارِ, وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأََ اْلقُرْآنَ فَأُُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَعَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيْكَ اْلقُرْآنَ, قَالَ:كَذَبْتَ, وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ: عَالِمٌ وَقَرَأْتَ اْلقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِىءٌٌ ، فَقَدْ قِيْلَ ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى اُلْقِيَ فيِ النَّارِ, وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ وَاَعْطَاهُ مِنْ اَصْْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: مَاتَرَكْتُ مِنْ سَبِيْلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيْهَا إِلاَّ أَنْفَقْتُ فِيْهَا لَكَ, قَالَ: كَذَبْتَ ، وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ فَقَدْ قِيْلَ, ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ. رواه مسلم (1905) وغيره

Dari Abi Hurairah Radhiyallahu 'anhu, ia berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya manusia pertama nan diadili pada hari kiamat adalah orang nan mati syahid di jalan Allah. Dia didatangkan & diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan (yang diberikan di dunia), lalu ia pun mengenalinya. Allah bertanya kepadanya: 'Amal apakah nan engkau lakukan dgn nikmat-nikmat itu?' Ia menjawab: 'Aku berperang semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid. ' Allah berfirman: 'Engkau dusta Engkau berperang supaya dikatakan seorang nan gagah berani. Memang demikianlah nan telah dikatakan (tentang dirimu). ' Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret orang itu atas mukanya (tertelungkup), lalu dilemparkan ke dlm neraka. Berikutnya orang (yang diadili) adalah seorang nan menuntut ilmu & mengajarkannya serta membaca al Qur`an. Ia didatangkan & diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengakuinya. Kemudian Allah menanyakannya: 'Amal apakah nan telah engkau lakukan dgn kenikmatan-kenikmatan itu?' Ia menjawab: 'Aku menuntut ilmu & mengajarkannya, serta aku membaca al Qur`an hanyalah karena engkau. ' Allah berkata: 'Engkau dusta Engkau menuntut ilmu agar dikatakan seorang ‘alim (yang berilmu) & engkau membaca al Qur`an supaya dikatakan (sebagai) seorang qari' (pembaca al Qur`an nan baik). Memang begitulah nan dikatakan (tentang dirimu). ' Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret atas mukanya & melemparkannya ke dlm neraka. Berikutnya (yang diadili) adalah orang nan diberikan kelapangan rezeki & berbagai macam harta benda. Ia didatangkan & diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengenalinya (mengakuinya). Allah bertanya: 'Apa nan engkau telah lakukan dgn nikmat-nikmat itu?' Dia menjawab: 'Aku tak pernah meninggalkan shadaqah & infaq pada jalan nan Engkau cintai, melainkan pasti aku melakukannya semata-mata karena Engkau. ' Allah berfirman: 'Engkau dusta Engkau berbuat nan demikian itu supaya dikatakan seorang dermawan (murah hati) & memang begitulah nan dikatakan (tentang dirimu). ' Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeretnya atas mukanya & melemparkannya ke dlm neraka. '”

TAKHRIJ HADITS
Hadits ini diriwayatkan oleh:
1. Muslim, Kitabul Imarah, bab Man Qaatala lir Riya' was Sum'ah Istahaqqannar (VI/47) atau (III/1513-1514 no. 1905).
2. An Nasa-i, Kitabul Jihad bab Man Qaatala liyuqala: Fulan Jari', Sunan Nasa-i (VI/23-24), Ahmad dlm Musnad-nya (II/322) & Baihaqi (IX/168).

Hadits ini dishahihkan oleh al Hakim & disetujui oleh adz Dzahabi (I/418-419), Syaikh Ahmad Muhammad Syakir dlm tahqiq Musnad Imam Ahmad, no. 8260 & Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani dlm Shahih at Targhib wat Tarhib (I/114 no. 22) serta dlm Shahih An Nasa-i (II/658 no. 2940).

Hadits nan semakna dgn ini diriwayatkan oleh Imam at Tirmidzi dlm Sunan-nya, Kitab Az Zuhud, bab Ma Ja'a fir Riya' was Sum'ah , no. 2382; Tuhfatul Ahwadzi (VII/54 no. 2489); Ibnu Khuzaimah dlm Shahih-nya, no. 2482 & Ibnu Hibban no. 2502 -Mawariduzh Zham'an- & al Hakim (I/418-419).

Para perawi hadits ini tsiqah (terpercaya), kecuali Al Walid bin Abil Walid Abu Utsman. Dikatakan oleh al Hafizh, bahwa dia layyinul hadits (lemah haditsnya) dlm Taqribut Tahdzib 2/290 tahqiq Musthafa Abdul Qadir 'Atha'. Perkataan ini keliru, karena Al Walid bin Abdil Walid termasuk perawi Imam Muslim & dikatakan tsiqah oleh Abu Zur'ah Ar Razi. (Lihat Al Jarhu wat Ta'dil oleh Abu Hatim Ar Razi, juz IX hlm. 19-20).

At Tirmidzi berkata mengenai hadits ini: “Hasan gharib”. Sedangkan Imam al Hakim berkata: “Shahihul isnad” & disetujui oleh Imam adz Dzahabi dlm Mustadrak al Hakim (I/419). Lihat ta'liq Shahih Ibnu Khuzaimah (IV/115).

Tatkala Mu'awiyah Radhiyallahu 'anhu mendengar hadits ini, beliau berkata: “Hukuman ini telah berlaku atas mereka, bagaimana dgn orang-orang nan akan datang?” Kemudian beliau menangis terisak-isak hingga pingsan. Setelah siuman, beliau mengusap mukanya seraya berkata: Benarlah Allah & RasulNya, Allah berfirman:

“Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia & perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dgn sempurna & mereka di dunia tak akan dirugikan. Itulah orang-orang nan tak memperoleh di akhirat kecuali neraka. Lenyaplah di akhirat itu apa nan telah mereka usahakan di dunia & sia-sialah apa nan telah mereka kerjakan”. [Hud: 15-16]. [HR Tirmidzi no. 2382 & Ibnu Khuzaimah no. 2482].

PENJELASAN HADITS
Nilai amal di sisi Allah diukur dgn ikhlas karena Allah & sesuai dgn nan dicontohkan Rasulullah n , bukan dgn banyak & besarnya. Allah berfirman:

“Katakanlah: Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, nan diwahyukan kepadaku bahwa sesungguhnya Rabb kamu itu adalah Allah nan Esa. Barangsiapa mengharap perjumpaaan dgn Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal nan shalih & jangan mempersekutukan seorang pun dlm beribadah kepada Rabb-nya”. [al Kahfi: 110].

Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Inilah 2 landasan amal nan diterima, ikhlas karena Allah & sesuai dgn Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam”. (*1)

Hadits di atas menjelaskan tentang 3 golongan manusia nan dimasukkan ke dlm neraka & tak mendapat penolong selain Allah l . Mereka membawa amal nan besar, tetapi mereka melakukannya karena riya', ingin mendapatkan pujian & sanjungan. Pelaku riya' , pada hari nan dibuka & disibak semua hati, wajahnya diseret secara tertelungkup sampai masuk ke dlm neraka. Nas-alullaha as-Salaamah wal ‘Afiyah. 3 golongan tersebut ialah:

Golongan Pertama: Yaitu kaum nan dianugerahi Allah kesehatan & kekuatan. Kewajiban mereka seharusnya adalah mencurahkan semuanya utk Allah & di jalan Allah dlm rangka mensyukuri nikmat-nikmatNya. Tetapi sayang, setan telah menjadikan mereka mencurahkannya di luar jalan ini. Mereka memang pergi ke medan jihad & berperang, tetapi tujuan mereka supaya disebut pemberani. Kepada merekalah Allah mengawali pengadilanNya pada hari Kiamat. Lalu Allah memperlihatkan nikmat-nikmatNya nan telah dianugerahkan kepada mereka, seraya bertanya: “Apa nan kamu kerjakan dgn nikat-nikmat itu?” Pada saat itulah Allah membuka rahasia hati mereka seraya berfirman: “Kamu pendusta Sesungguhnya kamu berperang (berjihad) hanya supaya dikatakan pemberani (pahlawan). ” Mereka tak mampu membantah, karena memang demikianlah kenyataannya. Malaikat pun diperintahkan menarik wajahnya & melemparkan ke dlm api neraka.

Golongan Kedua: Yaitu kaum nan dimuliakan Allah dgn diberi kesempatan utk menuntut ilmu & mengajarkannya kepada manusia. Mereka mampu membaca al Qur`an & mempelajarinya. Seharusnya, dgn ilmu tersebut mereka berniat karena Allah semata sebagai manifestasi rasa syukur kepadaNya atas limpahan rahmatNya. Tetapi sayang, tujuan nan semestinya karena Allah, telah dipalingkan & dihiasi oleh setan, sehingga mereka berbuat riya' (pamer) dgn ilmu itu di hadapan manusia, agar mendapat pujian, kedudukan, harta & jabatan. Mereka tak menyadari, bahwa Allah selalu melihat & mengetahui apa nan mereka lakukan. Allah mengetahui rahasia nan tersembunyi di hati mereka. Ternyata, mereka belajar, mengajar & membaca al Qur`an supaya dikatakan sebagai seorang alim, pintar atau nan semisal itu. Sedangkan nan membaca al Qur`an supaya dikatakan qari' atau qari'ah, orang nan bagus & indah bacaannya. Maka pada hari Kiamat nanti, tak ada nan mereka peroleh kecuali dikatakan “pendusta”. Mereka hanya terdiam disertai kehinaan, kerugian & penuh penyesalan. Kemudian Allah menyuruh malaikat agar menyeret & mencampakkan mereka ke dlm neraka. Wal 'iyadzu billah.

Golongan Ketiga: Yaitu kaum nan diberi kelapangan rezeki & berbagai macam harta benda. Mereka adalah golongan nan mampu, kaya & berduit. Kewajiban mereka semestinya bersyukur kepada Allah dgn ikhlas karena Allah semata. Tetapi sayang, mereka shadaqah, infaq, memberikan uang & mendermakan harta supaya menjadi terkenal & dikatakan dermawan, karim (yang mulia hatinya), supaya dikatakan orang nan khair (baik). Padahal apa nan mereka katakan di hadapan Allah, bahwa mereka berinfaq, bershadaqah karena Allah adalah dusta belaka. Sungguh telah dikatakan nan demikian itu, & mereka tak bisa membantah. Allah mengetahui hati & tujuan mereka. Kemudian mereka diperintahkan utk diseret atas mukanya & dicampakkan ke dlm neraka, & mereka tak mendapatkan seorang penolong pun selain Allah Subhanahu wa Ta'ala. (*2)

Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tentang orang nan berperang, orang alim & dermawan serta siksa Allah atas mereka, ialah karena mereka mengerjakan demikian utk selain Allah. Dan dimasukkan mereka ke dlm neraka menunjukkan betapa haramnya riya' & keras siksaannya, serta diwajibkannya ikhlas dlm seluruh amal. Allah berfirman:

“Tidaklah mereka diperintahkan melainkan utk menyembah Allah dgn memurnikan ketaatan kepadaNya dlm (menjalankan) agama dgn lurus” [al Bayyinah: 5]

Keumuman hadits-hadits tentang keutamaan jihad, sesungguhnya diperuntukkan bagi orang nan melaksanakannya karena Allah dgn ikhlas. Demikian pula pujian terhadap ulama & orang nan berinfaq di segala sektor kebaikan, semua itu terjadi dgn syarat apabila mereka melakukan nan demikian itu semata-mata karena Allah Ta'ala. (*3)

Demikian mengerikan siksa & ancaman bagi orang nan berbuat riya' dlm melakukan kebaikan. Mereka berbuat dgn tujuan mengharap pujian & sanjungan dari manusia. Islam lebih banyak memperhatikan faktor niat (pendorong) suatu amal daripada amal itu sendiri, meskipun kedua-duanya mendapat perhatian.

Secara fitrah sudah diketahui, bahwa penipuan nan dilakukan seseorang terhadap orang lain merupakan perbuatan hina & dosa nan jelek. Jika penipuan itu dilakukan seorang makhluk terhadap khaliq (pencipta)nya, maka perbuatan itu lebih sangat hina, buruk & tercela. Perbuatan itu merupakan perbuatan orang nan suka berpura-pura & berbuat utk menarik perhatian manusia. Ia memperlihatkan di hadapan mereka seakan-akan dia hanya menghendaki Allah semata. Padahal ia adalah seorang penipu & pendusta, maka tak heran jika Allah menghinakannya dgn dimasukkan ke dlm api neraka.

Dalam tulisan ini akan dibahas tentang definisi riya', sebab-sebabnya, macamnya, bahayanya & beberapa hal nan tak termasuk riya' serta obat penyakit riya'. Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat utk penulis & para pembaca sekalian.

DEFINISI RIYA'
Secara lughah (bahasa), riya' الرِّيَاءُ adalah mashdar dari kata: رَاءَى – يُرَاءِى – رِءَاءً وَ رِيَاءًا (رَاءَاهُ ) مُرَاءَاةً

Perkataan:
أَرَاهُ أَنَّهُ مُتَّصِفٌ بِالْخَيْرِ وَ الصَّلاَحِ عَلَى خِلاَفِ مَا هُوَ عَلَيْهِ

Berarti: “Ia memperlihatkan bahwasanya ia orang baik, padahal hatinya tak demikian. Artinya, apa nan nampak berbeda dgn apa nan sebenarnya ada padanya”. (*4)

Sedangkan secara istilah syar'i, para ulama berbeda pendapat dlm memberikan definisi riya'. Tetapi intinya sama, yaitu

أَنْ يَقُوْمَ الْعَبْدُ بِالْعِبَادَةِ الَّتِيْ يَتَقَرَّبُ بِهَا لِلَّهِ لاَ يُرِيْدُ اللهَ عَزَّ وَ جَلَّ بَلْ يُرِيْدُ عَرْضاً دُنْيَوِياًّ

“Seorang melakukan ibadah utk mendekatkan diri kepada Allah, tetapi ia melakukan bukan karena Allah melainkan karena tujuan dunia”. (*5)

Al Qurthubi mengatakan:

حَقِيْقَةُ الرِّيَاءِ طَلَبُ مَا فِيْ الدُّنْيَا بِالْعِبَادَةِ ، وَ أَصْلُهُ طَلَبُ الْمَنْزِلَةِ فِيْ قُلُوْبِ النَّاسِ

(Hakikat riya' adalah mencari apa nan ada di dunia dgn ibadah & pada asalnya adalah mencari posisi tempat di hati manusia). (*6)

Jadi riya' adalah melakukan ibadah utk mencari perhatian manusia sehingga mereka memuji pelakunya & ia mengharap pengagungan & pujian serta penghormatan dari orang nan melihatnya. (*7)

PERBEDAAN RIYA' DAN SUM'AH
Imam Bukhari di dlm Shahih-nya membuat bab Ar Riya' was Sum'ah dgn membawakan hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam:

مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللهُ بِهِ . وَمَنْ يُرَائِيْ يُرَائِي اللهُ بِهِ

“Barangsiapa memperdengarkan (menyiarkan) amalnya, maka Allah akan menyiarkan aibnya, & barangsiapa beramal karena riya', maka Allah akan membuka niatnya (di hadapan orang banyak pada hari Kiamat)”. [HR Bukhari no. 6499 & Muslim no. 2987 dari sahabat Jundub bin Abdillah].

Perbedaan riya' & sum'ah ialah, riya' berarti beramal karena diperlihatkan kepada orang lain. Sedangkan sum'ah ialah, beramal supaya diperdengarkan kepada orang lain. Riya' berkaitan dgn indera mata, sedangkan sum'ah berkaitan dgn indera telinga. (*8)

PERBEDAAN ANTARA RIYA' DAN 'UJUB
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah (wafat th. 728 H) mengatakan: “Seringkali orang menghubungkan antara riya' & 'ujub. Padahal riya' merupakan perbuatan syirik kepada Allah karena makhluk, sedangkan 'ujub adalah syirik kepada Allah karena nafsu”. (*9)

Imam Nawawi rahimahullah (wafat th. 676 H) berkata: “Ketahuilah, bahwa keikhlasan niat terkadang dihalangi oleh penyakit 'ujub. Barangsiapa berlaku 'ujub (mengagumi) amalnya sendiri, maka akan terhapus amalnya. Demikian juga orang nan sombong”. (*10)

'Ujub, menurut bahasa berarti kekaguman, kesombongan atau kebanggaan. Yaitu seorang bangga dgn dirinya atau pendapatnya. Orang nan berlaku 'ujub adalah orang nan tertipu dgn dirinya, ibadahnya & ketaatannya. Ia tak mewujudkan makna إِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (hanya kepadaMu ya Allah, kami mohon pertolongan). Sedangkan orang nan berlaku riya' tak mewujudkan maknaإِيَّاكَ نَعْبُدُ (hanya kepada Engkau ya Allah, kami beribadah).

Apabila seseorang sudah mewujudkan makna ِيَّاكَ نَعْبُدُ وَ إِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ , maka akan hilang darinya penyakit riya' & 'ujub. (*11)

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

ثَلاَثٌ مُهْلِكَاتٌ: هَوًى مُتَّبَعٌ ، وَشُحٌّ مُطَاعٌ ، وَ إِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ

“Tiga perkara nan membinasakan, yaitu hawa nafsu nan dituruti, kebakhilan (kikir) nan ditaati & kebanggaan seseorang terhadap dirinya”. [HR Abu Syaikh & Thabrani dlm Mu'jam Ausath. Lihat Shahih Jami'ush Shaghiir no. 3039 & Silsilah Ahaadits ash-Shahiihah no. 1802]

SEBAB-SEBAB RIYA'
Sebab-sebab nan menjerumuskan manusia ke lembah riya' ada beberapa hal. Pokok pangkal riya' adalah kecintaan kepada pangkat & kedudukan. Jika hal ini dirinci, maka dapat dikembalikan kepada 3 sebab pokok, yaitu: Pertama. Senang menikmati pujian & sanjungan. Kedua. Menghindari atau takut celaan manusia. Ketiga. Tamak (sangat menginginkan) terhadap apa nan ada pada orang lain.

Hal ini dipertegas dgn riwayat di dlm ash Shahihain, dari hadits Abu Musa al-'Asyari Radhiyallahu 'anhu, ia berkata, bahwa ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam seraya berkata:

الرَّجُلُ يُقَاتِلُ لِلْمَغْنَمِ ، وَ الرَّجُلُ يُقاَتِلُ لِيُذْكَرَ ، وَ الرَّجُلُ يُقاَتِلُ لِيُرَى مَكَانُهُ ، فَمَنْ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ: مَنْ قَاتَلَ لِتَكُوْنَ كَلِمَةُ اللهِ أَعْلَى ، فَهُوَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ

“Ada seseorang berperang karena rasa fanatisme, berperang dgn gagah berani & berperang dgn riya'; manakah dari nan demikian itu berada di jalan Allah?” Beliau menjawab: “Barangsiapa nan berperang dgn tujuan agar kalimat Allah nan paling tinggi, maka itulah fi sabilillah”. [HR Bukhari no. 2810 & Muslim no. 1904 & selainnya].

Makna perkataan orang itu “berperang dgn gagah berani”, yaitu agar namanya disebut-sebut & dipuji. Makna perkataan “berperang dgn fanatisme (golongan)”, yaitu ia tak mau dikalahkan atau dihina. Makna perkataan “berperang dgn riya'”, yaitu agar kedudukannya diketahui orang lain, & hal ini merupakan kenikmatan pangkat & kedudukan di hati manusia.

Boleh jadi seseorang tak tertarik terhadap pujian, tetapi ia takut terhadap hinaan. Seperti seorang nan penakut di antara para pemberani. Dia berusaha menguatkan hati utk tak melarikan diri agar tak dihina & dicela. Ada kalanya seseorang memberi fatwa tanpa ilmu karena menghindari celaan supaya tak dikatakan sebagai orang bodoh. 3 hal inilah nan menggerakkan riya' & sebagai penyebabnya. (*12)

MACAM-MACAM RIYA'
1. Riya' nan berasal dari badan, seperti memperlihatkan bentuk tubuh nan kurus & pucat agar tampak telah berusaha sedemikian rupa dlm beribadah & takut pada akhirat. Atau memperlihatkan rambut nan acak-acakkan (kusut) agar dianggap terlalu sibuk dlm urusan agama sehingga merapikan rambutnya pun tak sempat. , atau dgn memperlihatkan suara nan parau, mata cekung (sayu) & bibir kering agar dianggap terus-menerus berpuasa. Riya' semacam ini sering dilakukan oleh para ahli ibadah. Adapun orang-orang nan sibuk dgn urusan dunia, maka riya' mereka dgn memperlihatkan badan nan gemuk, penampilan nan bersih, wajah nan ganteng & rambut nan kelimis.

2. Riya' nan berasal dari pakaian & gaya, seperti menundukkan kepala ketika berjalan, sengaja membiarkan bekas sujud di wajah, memakai pakaian tebal, mengenakan kain wol, menggulung lengan baju & memendekkannya serta sengaja berpakaian lusuh (agar dianggap ahli ibadah). Atau dgn mengenakan pakaian tambalan, berwarna biru, meniru orang-orang thariqat shufiyyah padahal batinnya kosong (dari keikhlasan). Atau mengenakan tutup kepala di atas sorban supaya orang melihat adanya perbedaan dgn kebiasaan nan ada.

Orang-orang nan melakukan riya' dlm hal ini, ada beberapa tingkatan. Di antara mereka ada nan yang mengharap kedudukan di kalangan orang nan baik dgn menampakkan kezuhudan dgn pakaian nan lusuh. Jika dia berpakaian sederhana, namun bersih seperti kebiasaan Salafush Shalih, maka ia merasa seperti hewan korban nan siap disembelih karena dia takut akan dikomentari sebagai “biasanya ia menampakkan kezuhudan, tapi rupanya sudah berbalik dari jalan itu”. Sedangkan riya' para pemuja dunia ialah dgn pakaian nan mahal, kendaraan nan bagus & perabot rumah nan mewah.

3. Riya' dgn perkataan, seperti dlm hal memberi nasihat, peringatan, menghapal kisah-kisah terdahulu & atsar dgn maksud utk berdebat atau memperlihatkan kedalaman ilmunya & perhatiannya terhadap keadaan para salaf. Atau dgn menggerakkan bibir dgn dzikir di hadapan orang banyak, memperlihatkan amarah saat kemungkaran di hadapan orang banyak, membaca al Qur`an dgn suara perlahan & memperindahnya utk menunjukkan rasa takut & kesedihan, atau nan seperti itu. Wallahu a'lam. Sedangkan riya' para pemuja dunia adalah dgn menghapalkan syair-syair atau pepatah & berpura-pura fasih dlm perkataan.

4. Riya' dgn perbuatan, seperti riya' nan dilakukan orang nan shalat dgn memanjangkan bacaan saat berdiri, memanjangkan ruku' & sujud atau menampakkan kekhusyuan atau nan lainnya. Begitu pula dlm hal puasa, haji, shadaqah & lain-lain. Sedangkan riya' para pemuja dunia ialah dgn berjalan penuh lagak & gaya, angkuh, congkak, menggerak-gerakkan tangan, melangkah perlahan-lahan, menjulurkan ujung pakaian; semuanya dimaksudkan utk menunjukkan penampilan dirinya.

5. Riya' dgn teman atau orang-orang nan berkunjung kepadanya, seperti seseorang memaksakan dirinya supaya dikunjungi oleh ulama atau ahli ibadah ke rumahnya, agar dikatakan “si fulan telah dikunjungi ulama & banyak ulama nan sering datang ke rumahnya”. Ada juga orang nan berlaku riya' dgn banyak syaikh atau gurunya, agar orang berkomentar tentang dirinya “dia sudah bertemu dgn sekian banyak syaikh & menimba ilmu dari mereka”. Dia berbuat seperti itu utk membanggakan diri. Begitulah nan biasa dilakukan orang-orang nan berlaku riya' utk mencari ketenaran, kehormatan & kedudukan di hati manusia. (*13)

Kita memohon keselamatan kepada Allah dari semua macam riya' ini. Ya, Allah. Janganlah Engkau sesatkan hati kami setelah Engkau memberi petunjuk kepada kami, & jauhkanlah diri kami & amal kami dari riya'. Amin.

CIRI-CIRI DAN TANDA-TANDA RIYA'
Riya' mempunyai ciri & tanda-tanda sebagaimana kata Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu 'anhu , bahwa orang nan berlaku riya' memiliki 3 ciri, yaitu: dia menjadi pemalas apabila sendirian, dia menjadi giat jika berada di tengah-tengah orang banyak, dia menambah kegiatan kerjanya jika dipuji & berkurang jika diejek. (*14)

Tanda nan paling jelas ialah merasa senang jika ada orang nan melihat ketaatannya. Andaikan orang tak melihatnya, dia tak merasa senang. Dari sini diketahui, bahwa riya' itu tersembunyi di dlm hati, seperti api nan tersembunyi di dlm batu. Jika orang melihatnya, maka menimbulkan kesenangan. Dan kesenangan ini bergerak dgn gerakan nan sangat halus, lalu membangkitkannya utk menampakkan amalnya. Bahkan ia berusaha agar amalnya itu diketahui, baik secara sindirian atau terang-terangan. (*15)

Diriwayatkan bahwa Abu Umamah al Bahili pernah mendatangi seseorang nan sedang bersujud di masjid sambil menangis ketika berdoa. Kemudian Abu Umamah mengatakan kepadanya: “Apakah engkau lakukan seperti ini jika engkau shalat di rumahmu?” (Teguran dimaksudkan utk menghilangkan sikap riya'). (*16)

JEBAKAN DAN PERINGATAN
Terkadang, seorang hamba bersungguh-sungguh utk membersihkan diri dari riya', namun ia terjebak & tergelincir di dalamnya, sehingga ia meninggalkan amal karena takut riya'.

Jika seorang hamba meninggalkan amal nan baik dgn maksud supaya terhindar dari riya', maka tak ragu lagi, bahwa sikap ini adalah sikap nan salah dlm menghadapi riya'.

Fudhail bin Iyadh menjelaskan, meninggalkan amal karena manusia adalah riya', sedangkan beramal karena manusia adalah syirik. Ikhlas itu adalah Allah menyelamatkan kita ini dari keduanya.

Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan: “Perkataan Fudhail bahwa orang nan meninggalkan amal karena manusia adalah riya', sebab ia melakukannya karena manusia. Adapun kalau meninggalkan amal karena ingin melakukannya di saat sepi atau sendirian, maka diperbolehkan & ini sunnah, kecuali dlm perkara nan wajib, seperti shalat wajib 5 waktu atau zakat, atau ia seorang alim nan menjadi panutan dlm ibadah, maka menampakkannya adalah afdhal (utama). (*17)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan,”Barangsiapa melakukan amal rutin nan disyariatkan, seperti shalat Dhuha, qiyamul lail (shalat tahajud), maka hendaklah dia tetap melakukannya & tak seyogyanya ia meninggalkan kebiasaan itu hanya karena berada di tengah-tengah manusia. Hanya Allah-lah nan mengetahui rahasia hatinya, bahwa ia melaksanakannya karena Allah & ia bersungguh-sungguh berusaha agar selamat dari riya' & dari hal-hal nan merusak keikhlasan,” kemudian beliau membawakan perkataan Fudhail bin Iyadh seperti di atas.

Selanjutnya beliau mengatakan, barangsiapa melarang sesuatu nan disyariatkan hanya berdasarkan anggapan bahwa hal itu adalah riya', maka larangannya itu tertolak berdasarkan beberapa alasan sebagai berikut:

1. Amal nan disyariatkan tak boleh dilarang hanya karena takut riya'. Bahkan diperintahkan utk tetap dilakukan dgn ikhlas. Bila kita ini melihat seseorang nan mengerjakan suatu amal nan disyariatkan, kita ini harus menetapkan bahwa dia melakukannya (atau membiarkannya), kendatipun kita ini dapat memastikan ia berbuat dgn riya'. Seperti halnya orang-orang munafik nan Allah berfirman tentang mereka:

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah & Allah akan membalas tipuan mereka. Apabila mereka berdiri shalat, mereka berdiri dgn malas. Mereka bermaksud riya' (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali”. [an Nisaa`: 142].

Mereka (orang-orang munafik) shalat bersama Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam & para sahabatnya membiarkan amal nan mereka tampakkan, meskipun mereka berbuat itu dgn riya' & tak melarang perbuatan zhahir mereka. (Artinya, para sahabat tak melarang mereka shalat bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, Pen). Hal itu, karena kerusakan meninggalkan syariat nan mesti ditampakkan jauh lebih berbahaya daripada menampakkan amal tersebut dgn riya'. Sebagaimana meninggalkan iman & shalat 5 waktu lebih besar bahayanya, dibanding dgn meninggalkan amal itu dgn riya'.

2. Pengingkaran hanya terjadi pada apa nan diingkari oleh syariat. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

…إِنِّيْ لَمْ أُوْمَرْ ، أَنْ أُنَقِّبَ عَلَى قُلُوْبِ النَّاسِ ، وَلاَ أَشُقَّ بُطُوْنَهُمْ…

“Sesungguhnya aku tak diperintah utk menyelidiki (memeriksa) hati mereka & tak pula utk membedah perut mereka”. [HR Bukhari no. 4351, Muslim no. 1064 (144) & Ahmad (III/4-5) dari Abu Said al Khudri Radhiyallahu 'anhu].

Umar bin Khaththab Radhiyallahu 'anhu mengatakan: “Barangsiapa menampakkan kebaikan, kami akan mencintainya meskipun hatinya berbeda dgn itu. Dan orang nan menampakkan kejelekannya, kami akan membencinya meskipun ia mengaku bahwa hatinya baik”.

3. Sesungguhnya membolehkan pengingkaran terhadap hal seperti itu, justru akan membuka peluang kepada ahlus syirk wal fasad (orang nan berbuat syirik & kerusakan) utk mengingkari ahlul khair wad diin (orang nan berbuat baik). Apabila mereka melihat orang nan melakukan perkara nan disyariatkan & disunnahkan, mereka berkata “orang ini telah berbuat riya”. Lalu karena tuduhan ini, orang nan jujur & ikhlas akan meninggalkan perkara-perkara nan disyariatkan karena takut ejekan, celaan & tuduhan mereka. Lantas terbengkalailah kebaikan (amal-amal khair) & tak terlaksana. Kemudian, hal itu akan menjadi senjata bagi orang-orang nan berbuat syirik utk tetap & terus melakukan kegiatan mereka, & tak ada seorang pun nan mengingkari. Hal ini merupakan kerusakan nan paling besar.

4. Sesungguhnya hal seperti ini merupakan syi'ar (semboyan) orang nan munafik. Mereka selalu mencela orang nan menampakkan amal nan disyariatkan. Allah berfirman:

“(Orang-orang munafik) yaitu orang -orang nan mencela orang-orang mukmin nan memberi shadaqah dgn sukarela & (mencela) orang-orang nan tak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekadar kesanggupannya, maka orang-orang munafik itu menghina Allah. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, & utk mereka adzab nan pedih”. [at Taubah: 79]

Insya Allah bersambung ……

[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun IX/1426H/2005M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Alamat Jl. Solo-Puwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183, Telp. 0271-761016]

Referensi
(*1). Tafsir Ibnu Katsir (III/120-121), Cet. Maktabah Daarus Salaam.
(*2). Taujihat Nabawiyah 'ala Thariq, karya Dr. Sayyid Muhammad Nuh, Darul Wafa'.
(*3). Syarah Muslim (XIII/50-51).
(*4). Mu'jamul Wasith (I/320).
(*5) Al Ikhlas, oleh Dr. Umar Sulaiman al Asyqar, hlm. 94, Cet. Daarun Nafa-is, Th. 1415 H.
(*6). Tafsir al Qurthubi (XX/144), Cet. Daarul Kutub al Ilmiyyah, Th. 1420 H.
(*7). Fathul Bari (XI/336).
(*8). Ibid (XI/336) & Al Ikhlas, hlm. 95, Dr. Umar Sulaiman al Asyqar.
(*9). Majmu' Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (X/227).
(*10). Syarah Arbain, hlm. 5.
(*11). Al Ikhlas, hlm. 97, Dr. Umar Sulaiman al Asyqar.
(*12). Mukhtashar Minhajul Qashidin, hlm. 284, Ibnu Qudamah al Maqdisi, tahqiq Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid.
(*13). Mukhtashar Minhajul Qashidin, hlm. 275-278, Ibnu Qudamah al Maqdisi, tahqiq Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid; Ar Riya' wa Atsaruhu As Sayi' fil Ummah, hlm. 17-20.
(*14). Al Kabair, Imam adz Dzahabi hlm. 212, tahqiq Abu Khalid Al-Husain bin Muhammad As Sa'idi, Cet. Darul Fikr.
(*15). Mukhtashar Minhajul Qashidin, Ibnu Qudamah al Maqdisi, hlm. 280.
(*16). Al Kabair, Imam adz Dzahabi, hlm. 211.
(*17). Syarah Arbain, Imam Nawawi, hlm. 6.
(*18). Majmu' Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (23/174-175).
sumber: www.almanhaj.or.id penulis Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas tags:

dalil naqli tentang larangan berbuat riya dalil larangan riya dalil naqli tentang berbuat riya dalil naqli tentang larangan berbuat riya sunsetinspirations.com/ riya- dan- bahayanya- 519.htm dalil naqli tentang riya dalil tentang riya dalil nagli larangam berbuat riya adalah dalil naqli tentang larangan berbuat riya adalah dalil naqli tentang riya dalil tentang riya dalail naqli tentang larangn berbuat riya dalil naqli tentang larangan berbuat riya dalil naqli tentang larangan berbuat riya dalil naqli tentang riya