Prinsip-prinsip Aqidah Ahlusunnah Wal Jama’ah (II) Alaihi Wa Sallam

Nama-nama Al Firqatun Najiyah & maknanya
Setelah kita mengetahui bahwa kelompok ini adalah golongan yang selamat dari kesesatan, maka tibalah giliran bagi kita utk mengetahui pula nama-nama beserta ciri-cirinya agar kita dapat mengikutinya. Sebenarnyalah kelompok ini memiliki nama-nama agung yang membedakannya dari kelompok-kelompok lain.
Dan diantara nama-namanya adalah : Al-Firqotun Najiyah (golongan yang selamat) ; Ath-Thooifatul Manshuroh (golongan yang ditolong) ; & Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, yang artinya adalah sebagai berikut.
1. Bahwasanya kelompok ini adalah kelompok yang selamat dari api neraka sebagaimana telah dikecualikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menyebutkan kelompok-kelompok yang ada pada umatnya dgn sabdanya : “Seluruhnya di atas neraka kecuali satu ; yakni yang tak masuk kedalam neraka”.(Telah terdahulu keterangannya).
2. Bahwasanya kelompok ini adalah kelompok yang tetap berpegang teguh pada Al-Qur’an & As-Sunnah & apa-apa yang dipegang oleh As-Saabiqunal Awwalun (para pendahulu yang pertama) baik dari kalangan Muhajirin maupun Anshar, sebagaimana di sabdakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Mereka itu adalah siapa-siapa yang berjalan diatas apa-apa yang aku & sahabatku lakukan hari ini”.(Telah terdahulu keterangannya).
3. Bahwasanya pemeluk kelompok ini adalah mereka yang menganut paham Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Mereka itu bisa dibedakan dari kelompok lainnya pada dua hal penting ; pertama. berpegang teguhnya mereka terhadap As-Sunnah sehingga mereka di sebut sebagai pemeluk sunnah (Ahlus Sunnah). Berbeda dgn kelompok-kelompok lain karena mereka berpegang teguh dgn pendapat-pendapatnya, hawa nafsunya & perkataan para pemimpinnya. Oleh karena itu, kelompok-kelompok tersebut tak dinisbatkan kepada Sunnah, akan tetapi dinisbatkan kepada bid’ah-bid’ah & kesesatan-kesesatan yang ada pada kelompok itu sendiri, seperti Al-Qadariyah & Al-Murji’ah ; atau dinisbatkan kepada para imam-nya seperti Al-Jahmiyah ; atau dinisbatkan pada pekerjaan-pekerjaannya yang kotor seperti Ar-Rafidhah & Al-Khawarij.
Adapun perbedaan yang kedua adalah bahwasanya mereka itu Ahlul Jama’ah karena kesepakatan mereka utk berpegang teguh dgn Al-Haq & jauhnya mereka dari perpecahan. Berbeda dgn kelompok-kelompok lain, mereka tak bersepakat utk berpegang teguh dgn Al-Haq akan tetapi mereka itu hanya mengikuti hawa nafsu mereka, maka tak ada kebenaran pada mereka yang mampu menyatukan mereka.
4. Bahwasanya kelompok ini adalah golongan yang ditolong Allah sampai hari kiamat. Karena gigihnya mereka dlm menolong dinullah maka Allah menolong mereka, seperti difirmankan Allah : “Jika kamu menolong Allah niscaya Allah akan menolong mereka”. (Muhammad : 7) . Oleh karena itu pula Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda : “Tidaklah yang menghina & menentang mereka itu akan mampu memadlorotkan (membahayakan) mereka sampai datang keputusan Allah Tabaraka wa Ta’ala sedang mereka itu tetap dlm keadaan demikian”. (Telah terdahulu keterangannya).
Prinsip-prinsip Ahlusunnah Wal Jamaah
Sesungguhnynya Ahlus Sunnah wal Jama’ah berjalan di atas prinsip-prinsip yang jelas & kokoh baik dlm itiqad, amal maupun perilakunya. Seluruh prinsip-prinsip yang agung ini bersumber pada kitab Allah & Sunnah Rasul-Nya & apa-apa yang dipegang oleh para pendahulu umat dari kalangan sahabat, tabi’in & para pengikut mereka yang setia.
Prinsip-prinsip tersebut teringkas dlm butir-butir berikut.
Prinsip Pertama. Beriman kepada Allah, para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, Hari Akhir & Taqdir baik & buruk.
1. Iman kepada Allah Beriman kepada Allah artinya berikrar dgn macam-macam tauhid yang tiga serta beriti’qad & beramal dengannya yaitu tauhid rububiyyah, tauhid uluuhiyyah & tauhid al-asmaa wa -ash-shifaat. Adapun tauhid rububiyyah adalah menatauhidkan segala apa yang dikerjakan Allah baik mencipta, memberi rizki, menghidupkan & mematikan ; & bahwasanya Dia itu adalah Raja & Penguasa segala sesuatu. Tauhid uluuhiyyah artinya mengesakan Allah melalui segala pekerjaan hamba yang dgn cara itu mereka bisa mendekatkan diri kepada Allah apabila memang hal itu disyari’atkan oleh-Nya seperti berdo’a, takut, rojaa’ (harap), cinta, dzabh (penyembelihan), nadzr (janji), isti’aanah (minta pertolongan), al-istighotsah (minta bantuan), al-isti’adzah (meminta perlindungan), shalat, shaum, haji, berinfaq di jalan Allah & segala apa saja yang disyari’atkan & diperintahkan Allah dgn tak menyekutukan-Nya dgn sesuatu apapun baik seorang malaikat, nabi, wali maupun yang lainnya. Sedangkan makna tauhid al-asma wash-shifaat adalah menetapkan apa-apa yang Allah & Rasuln-Nya telah tetapkan atas diri-Nya baik itu berkenaan dgn nama-nama maupun sifat-sifat Allah & mensucikan-Nya dari segala ‘aib & kekurangan sebagaimana hal tersebut telah disucikan oleh Allah & Rasul-Nya. Semua ini kita yakini tanpa melakukan tamtstil (perumpamaan), tanpa tasybiih (penyerupaan), tahrif (penyelewengan), ta’thil (penafian), & tanpa takwil ; seperti difirmankan Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang artinya : “Tak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya & Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (Asy-Syuro : 11)
Dan firman Allah pula yang artinya : “Dan Allah mempunyai nama-nama yang baik, maka berdo’alah kamu dengannya”. (Al-A’raf : 180).
2. Beriman kepada Para Malaikat-Nya Yakni membenarkan adanya para malaikat & bahwasanya mereka itu adalah mahluk dari sekian banyak mahluk Allah, diciptakan dari cahaya. Allah mencitakan malaikat dlm rangka utk beribadah kepada-Nya & menjalankan perintah-perintah-Nya di dunia ini, sebagaimana difirmankan Allah yang artinya : “….Bahkan malaikat-malaikat itu adalah mahluk yang dumuliakan, mereka tak mendahulu-Nya dlm perkataan & mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya”. (Al-Anbiyaa : 26-27).
Allah berfirman yang artinya : “Allahlah yang menjadikan para malaikat sebagai utusan yang memiliki sayap dua, tiga & empat ; Allah menambah para mahluk-Nya apa-apa yang Dia kehendaki”. (Faathir : 1)
3. Iman kepada Kitab-kitab-Nya Yakni membenarkan adanya Kitab-kitab Allah beserta segala kandungannya baik yang berupa hidayah (petunjuk) & cahaya serta mengimani bahwasanya yang menurunkan kitab-kitab itu adalah Allah sebagai petunjuk bagi seluruh manusia. Dan bahwasanya yang paling agung diantara sekian banyak kitab-kitab itu adalah tiga kitab yaitu Taurat, Injil & Al-Qur’an & di antara ketiga kitab agung tersebut ada yang teragung yakni Al-Qur’an yang merupakan mu’jizat yang agung.
Allah berfirman yang artinya : “Katakanlah (Hai Muhammad) : ‘sesungguhnya jika manusia & jin berkumpul utk membuat yang serupa Al-Qur’an niscaya mereka tak akan mampu melakukannya walaupun sesama mereka saling bahu membahu”. (Al-isra : 88)
Dan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah mengimani bahwa Al-Qur’an itu adalah kalam (firman) Allah ; & dia bukanlah mahluq baik huruf maupun artinya. Berebda dgn pendapat golongan Jahmiyah & Mu’tazilah, mereka mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah mahluk baik huruf maupun maknanya. Berbeda pula dgn pendapat Asyaa’irah & yang menyerupai mereka, yang mengatakan bahwa kalam (firman) Allah hanyalah artinya saja, sedangkan huruf-hurufnya adalah mahluk.
Menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah, kedua pendapat tersebut adalah bathil berdasarkan firman Allah yang artinya : “Dan jika ada seorang dari kaum musyrikin meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar KALAM ALLAH (Al-Qur’an)”. (At-Taubah : 6) “Artinya : Mereka itu ingin merubah KALAM Allah”. (Al-Fath : 15)
4. Iman Kepada Para Rasul Yakni membenarkan semua rasul-rasul baik yang Allah sebutkan nama mereka maupun yang tak ; dari yang pertama sampai yang terkahir, & penutup para nabi tersebut adalah nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Artinya pula, beriman kepada para rasul seluruhnya & beriman kepada Nabi kita secara terperinci serta mengimani bahwasanya beliau adalah penutup para nabi & rasul & tak ada nabi sesudahnya ; maka barangsiapa yang keimanannya kepada para rasul tak demikian berarti dia telah kafir.
Termasuk pula beriman kepada para rasul adalah tak melalaikan & tak berlebih-lebihan terhadap hak mereka & harus berbeda dgn kaum Yahudi & Nashara yang berlebih-lebihan terhadap para rasul mereka sehingga mereka menjadikan & memperlakukan para rasul itu seperti memperlakukan terhadap Tuhanya (Allah) sebagaimana yang difirmankan Allah, yang artinya : “Dan orang-orang Yahudi berkata : ‘Uzair itu anak Allah ; & orang-orang Nasrani berkata :’Isa Al-Masih itu anak Allah…”.(At-Taubah : 30)
Sedang orang-orang sufi & para ahli filsafat telah bertindak sebaliknya. Mereka telah meerendahkan & menghinakan hak para rasul & lebih mengutamakan para pemimpin mereka, sedang kaum penyembah berhala & atheis telah kafir kepada seluruh rasul tersebut.
Orang-orang Yahudi telah -kafir terhadap Nabi Isa & Muhammad ‘alaihima shalatu wa sallam ; sedangkan orang-orang Nashara telah kafir kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan orang-orang yang mengimani sebagian- mengingkari sebagian (dari para rasul Allah), maka dia telah mengingkari dgn seluruh rasul, Allah telah berfirman, yang artinya : “Sesungguhnya orang-orang yang kafur kepada Allah & Rasul-rasul-Nya & bermaksud memperbedakan antara (keimana kepada) Allah & Rasul-Nya, dgn mengatakan : Kami beriman kepada yang sebagian & kami kafir kepada sebagian (yang lain), serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan diantara yang demikian (iman & kafir) merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya, kami telah menyediakan utk mereka siksa yang menghinakan”. (An-Nisaa : 150-151).
Dan Allah juga berfirman yang artinya : “Kami tak mebeda-bedakan satu diantara Rasul-rasul-Nya ….”.(Al-Baqarah : 285)
5. Iman Kepada Hari Akhirat Yakni membenarkan apa-apa yang akan terjadi setelah kematian dari hal-hal yang telah diberitakan Allah & Rasul-Nya baik tentang adzab & ni’mat kubur, hari kebangkitan dari kubur, hari berkumpulnya manusia di padang mahsyar, hari perhitungan & ditimbangnya segala amal perbuatan & pemberian buku laporan amal dgn tangan kanan atau kiri, tentang jembatan (sirat), serta syurga & neraka.
Disamping itu keimanan utk bersiap sedia dgn amalan-amalan sholeh & meninggalkan amalan sayyi-aat (jahat) serta bertaubat dari padanya. Dan sungguh telah mengingkari adanya hari akhir orang-orang musyrik & kaum dahriyyun, sedang orang-orang Yahudi & Nashara tak mengimani hal ini dgn keimanan yan benar sesuai dgn tuntutan, walau mereka beriman akan adanya hari akhir. Firman Allah yang artinya : “Dan mereka (Yahudi & Nashara) berkata : ‘Sekali-kali tidaklah masuk syurga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi & Nashara. Demikianlah angan-angan mereka ……”.(Al-Baqarah : 111).
Firman ALLAH yang artinya : “Dan mereka berkata : Kami sekali-kali tak akan disentuh api neraka kecuali hanya dlm beberapa hari saja”. (Al-Baqarah : 80).
6. Iman kepada taqdir. Yakni beriman bahwasanya Allah itu mengetahui apa-apa yang telah terjadi & yang akan terjadi; menentukan & menulisnya dlm lauhul mahfudz ; & bahwasanya segala sesuatu yang terjadi, baik maupun buruk, kafir, iman, ta’at, ma’shiyat, itu telah dikehendaki, ditentukan & diciptakan-Nya ; & bahwasanya Allah itu mencintai keta’atan & membenci kemashiyatan.
Sedang hamba Allah itu mempunyai kekuasaan, kehendak & kemampuan memilih terhadap pekerjaan-pekerjaan yang mengantar mereka pada keta’atan atau ma’shiyat, akan tetapi semua itu mengikuti kemauan & kehendak Allah. Berbeda dgn pendapat golongan Jabariyah yang mengatakan bahwa manusia terpaksa dgn pekerjaan-pekerjaannya tak memiliki pilihan & kemampuan sebaliknya golongan Qodariyah mengatakan bahwasanya hamba itu memiliki kemauan yang berdiri sendiri & bahwasanya dialah yang menciptkan pekerjaan dirinya, kemauan & kehendak hamba itu terlepas dari kemauan & kehendak Allah.
Allah benar-benar telah membantah kedua pendapat di atas dgn firman-Nya, yang artinya : “Dan kamu tak bisa berkemauan seperti itu kecuali apabila Allah menghendakinya”. (At-Takwir : 29)
Dengan ayat ini Allah menetapkan adanya kehendak bagi setiap hamba sebagai banyahan terhadap Jabariyah yang ekstrim, bahkan menjadikannya sesuai dgn kehendak Allah, hal ini merupakan bantahan atas golongan Qodariyah. Dan beriman kepada taqdir dapat menimbulkan sikap sabar sewaktu seorang hamba menghadapi cobaan & menjauhkannya dari segala perbuatan dosa & hal-hal yang tak terpuji. bahkan dapat mendorong orang tersebut utk giat bekerja & menjauhkan dirinya dari sikap lemah, takut & malas.
.. bersambung ke Prinsip-prinsip Aqidah Ahlusunnah Wal Jama’ah (III)
(Disalin dari Prinsip-prinsip Aqidah Ahlusunnah Wal Jama’ah, tulisan Syaikh Dr Sholeh bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan, diterbitkan oleh Dar Al-Gasem Saudi Arabia PO Box 6373 Riyadh 11442.)

sumber: www.salafy.or.id

apakah ahlusunnahnnah waljamaah ceramah ten6tang aqidah ahlul sunnah waljamaah friv nnah waljamah tentang nw yg menganut paham ahlussunnah wal jamaah nw menganut paham ahlusunnah waljamaah