Pembagian Harta Waris Wa Sallam

Problema keluarga sehubungan dgn pembagian harta waris atau pusaka, akan bertambah rumit manakala diantara para ahli waris ingin menguasai harta peninggalan, sehingga berdampak merugikan orang lain. Tak ayal, permusuhan antara 1 dgn lainnya sulit dipadamkan. Akhirnya solusi nan ditawarkan dlm pembagian waris tersebut ialah dgn dibagi sama rata. Atau ada juga nan menyelesaikannya di meja pengadilan & upaya lainnya.

Sebagai kaum Muslimin, sesungguhnya utk menyelesaikan permasalahan waris ini, sehingga persaudaraan di dlm keluarga tetap terjaga dgn baik, maka tak ada jalan lain kecuali kembali kepada Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari sinilah penulis ingin menyampaikan perkara ini. Meski singkat, kami berharap semoga bermanfaat.

SIAPAKAH nan BERWENANG MEMBAGI HARTA WARIS?
Adapun nan berwenang membagi harta waris atau nan menentukan bagiannya nan berhak mendapatkan & nan tidak, bukanlah orang tua anak, keluarga atau orang lain, tetapi Allah Subhanahu wa Ta'ala, karena Dia-lah nan menciptakan manusia, & nan berhak mengatur kebaikan hambaNya.

يُوصِيكُمُ اللَّهُ فِي أَوْلَادِكُمْ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْأُنْثَيَيْنِ

“Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu, bahagian seorang anak lelaki sama dgn bahagian 2 orang anak perempuan…”[An-Nisa: 11]

يَسْتَفْتُونَكَ قُلِ اللَّهُ يُفْتِيكُمْ فِي الْكَلَالَةِ إِنِ امْرُؤٌ هَلَكَ لَيْسَ لَهُ وَلَدٌ وَلَهُ أُخْتٌ

“Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah: “Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah, (yaitu) jika seorang meninggal dunia, & ia tak mempunyai anak & mempunyai saudara perempuan…” [An-Nisa: 176]

Sebab turun ayat ini, sebagaimana diceritakan oleh sahabat Jabir bin Abdullah Radhiyallahu ‘anhu bahwa dia bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Wahai Rasulullah, apa nan harus aku lakukan dgn harta nan kutinggalkan ini”? Lalu turunlah ayat An-Nisa ayat 11. Lihat Fathul Baari 8/91, Shahih Muslim 3/1235, An-Nasa'i Fil Kubra 6/320

Jabir bin Abdullah Radhiyallahu ‘anhu berkata, datang isteri Sa'ad bin Ar-Rabi' kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dgn membawa 2 putri Sa'ad. Dia (isteri Sa'ad) bertanya:”Wahai Rasulullah, ini 2 putri Sa'ad bin Ar-Rabi. Ayahnya telah meninggal dunia ikut perang bersamamu pada waktu perang Uhud, sedangkan pamannya mengambil semua hartanya, & tak sedikit pun menyisakan utk 2 putrinya. Keduanya belum menikah…. “. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allahlah nan akan memutuskan perkara ini”. Lalu turunlah ayat waris.

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil paman anak ini, sambil bersabda: “Bagikan kepada 2 putri Sa'ad 2 pertiga bagian, & ibunya seperdelapan Sedangkan sisanya utk engkau”[Hadits Riwayat Ahmad, 3/352, Abu Dawud 3/314, Tuhwatul Ahwadzi 6/267, & Ibnu Majah 2/908,Al-Hakim 4/333,Al-Baihaqi 6/229. Dihasankan oleh Al-Albani. Lihat Irwa 6/122]

Berdasarkan keterangan di atas, jelaslah, bahwa nan berwenang & berhak membagi waris, tak lain hanyalah Allah Subhanahu wa Ta'ala. Bahkan Allah mempertegas dgn firmanNya فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ (ini adalah ketetapan dari Allah), & firmanNya تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ (itu adalah ketentuan Allah). Lihat surat An Nisa` ayat 11,13 & 176.

Ketentuan Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah sangat tepat & satu-satunya cara utk menanggulangi problema keluarga pada waktu keluarga meninggal dunia, khususnya dlm bidang pembagian harta waris, karena pembagian dari Allah Jalla Jalaluhu pasti adil. Dan pembagiannya sudah jelas nan berhak menerimanya. . Oleh sebab itu, mempelajari ilmu fara'idh atau pembagian harta pusaka merupakan hal nan sangat penting utk menyelesaikan perselisihan & permusuhan di antara keluarga, sehingga selamat dari memakan harta nan haram.

Berikutnya, Allah Jalla Jalaluhu menentukan pembagian harta waris ini utk kaum laki-laki & perempuan. Allah berfirman.

لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَالْأَقْرَبُونَ وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَالْأَقْرَبُونَ مِمَّا قَلَّ مِنْهُ أَوْ كَثُرَ نَصِيبًا مَفْرُوضًا

“Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapak & kerabatnya, & bagi wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapak & kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bahagian nan telah ditetapkan” [An-Nisa: 7]

Dalil pembagian harta waris secara terperinci dapat dibaca dlm surat An-Nisa ayat 11-13 & 176.

BARANG nan DIANGGAP SEBAGAI PENINGGALAN HARTA WARIS
Dalam ilmu fara'idh, terdapat istilah At-Tarikah. Menurut bahasa, artinya barang peninggalan mayit. Adapun menurut istilah, ulama berbeda pendapat. Sedangkan menurut jumhur ulama ialah, semua harta atau hak secara umum nan menjadi milik si mayit. Lihat Fiqhul Islam Wa Adillatih 8/270.

Muhammad bin Abdullah At-Takruni berkata: “At-Tarikah ialah, segala sesuatu nan ditinggalkan oleh mayit, berupa harta nan ia peroleh selama hidupnya di dunia, atau hak dia nan ada pada orang lain, seperti barang nan dihutang, atau gajinya, atau nan akan diwasiatkan, atau amanatnya, atau barang nan digadaikan, atau barang baru nan diperoleh sebab terbunuhnya dia, atau kecelakaan berupa santunan ganti rugi. Lihat kitab Al-Mualim Fil Fara'idh hal. 119

Adapun barang tak berhak diwaris, diantaranya:
1. Peralatan tidur utk isteri & peralatan nan khusus bagi dirinya, atau pemberian suami kepada isterinya semasa hidupnya. Lihat Fatawa Lajnah Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah wal Ifta 16/429

2. Harta nan telah diwakafkan oleh mayit, seperti kitab & lainnya. Lihat Fatawa Lajnah Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah wal Ifta 16/466

3. Barang nan diperoleh dgn cara haram, seperti barang curian, hendaknya dikembalikan kepada pemiliknya, atau diserahkan kepada nan berwajib. Lihat keterangannya di dlm kitab Al-Muntaqa Min Fatawa, Dr Shalih Fauzan 5/238

Semua barang peninggalan mayit bukan berarti mutlak menjadi milik ahli waris, karena ada hak lainnya nan harus diselesaikan sebelum harta peninggalan tersebut dibagi. Hak-hak nan harus diselesaikan sebelum harta waris tersebut dibagi ialah sebagai berikut.

1. Mu'nat Tajhiz Atau Perawatan Jenazah
Kebutuhan perawatan jenazah hingga penguburannya. Misalnya meliputi pembelian kain kafan, upah penggalian tanah, upah memandikan, bahkan perawatan selama dia sakit. Semua biaya ini diambilkan dari harta si mayit sebelum dilakukan hal lainnya. Berdasarkan perkataan Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: وَكَفِّنُوهُ فِي ثَوْبَيْهِ (Dan kafanillah dia dgn 2 pakaianya). [Hadits Riwayat Bukhari 2/656, Muslim 2/866] Maksudnya, peralatan & perawatan jenazah diambilkan dari harta si mayit.

2. Al-Huquq Al-Muta'aliqah Bi Ainit Tarikah Atau Hak-Hak nan Berhubungan Dengan Harta Waris.
Misalnya barang nan digadaikan oleh mayit, hendaknya diselesaikan dgn menggunakan harta si mayit, sebelum hartanya di waris. Bahkan menurut Imam Syafi'i, Hanafi & Malik. Didahulukan hak ini sebelum kebutuhan perawatan jenazah, karena berhubungan dgn harta si mayit. Lihat Fiqhul Islami wa Adillatihi 8/274. Tas-hil Fara'idh, 9. Dalilnya ialah, karena perkara ini termasuk hutang nan harus diselesaikan oleh si mayit sebagaimana disebutkan di dlm surat An-Nisa ayat 12, yaitu: “Sesudah dibayar hutangnya”.

3. Ad-Duyun Ghairu Al-Muta'aliqah Bit Tarikah Atau Hutang Si Mayit
Apabila si mayit mempunyai hutang, baik nan behubungan dgn berhutang kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, seperti membayar zakat & kafarah, atau nan berhubungan dgn anak Adam, seperti berhutang kepada orang lain, pembayaran gaji pegawainya, barang nan dibeli belum dibayar, melunasi pembayaran, maka sebelum diwaris, harta si mayit diambil utk melunasinya. Dalilnya ialah.

مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصِينَ بِهَا أَوْ دَيْنٍ

“Sesudah dipenuhi wasiat nan mereka buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya dgn tak memberi madharat (kepada ahli waris)”. [An-Nisa: 12]

4. Tanfidzul Wasiyyah Atau Menunaikan Wasiat
Sebelum harta diwaris, hendaknya diambil utk menunaikan wasiat si mayit, bila wasiat itu bukan utk ahli waris, karena ada larangan hal ini, & bukan wasiat nan mengandung unsur maksiat, karena ada larangan mentaati perintah maksiat. Wasiat ini tak boleh melebihi sepertiga, karena merupakan larangan. Dalilnya, lihat surat An-Nisa ayat 12 yaitu: “Sesudah dipenuhi wasiat nan mereka buat”.

Jika 4 perkara di ats telah ditunaikan, & ternyata masih ada sisa hak milik si mayit, maka itu dinamakan Tarikah atau bagian bagi ahli waris nan masih hidup. Dan saat pembagian harta waris, jika ada anggota keluarga lainnya nan tak mendapatkan harta waris ikut hadir, sebaiknya diberi sekedarnya, agar dia ikut merasa senang, sebagaimana firman Allah dlm surat An-Nisa ayat 8.

BAGAIMANA MENENTUKAN nan BERHAK MENERIMA HARTA WARIS?
Sebelum harta peninggalan si mayit diwaris, hendaknya diperhatikan perkara-perkara dibawah ini.

1. Al-Muwarrits (orang nan akan mewariskan hartanya) dinyatakan telah mati, bukan pergi nan mungkin kembali, atau hilang nan mungkin dicari.
2. Al-Waritsun wal Waritsat (ahli waris), masih hidup pada saat kematiannya Al-Muwarrits
3. At-Tarikah (barang pusakanya) ada, & sudah disisakan utk kepentingan si mayit.
4. Hendaknya mengerti Ta'silul Mas'alah, yaitu angka nan paling kecil sebagai dasar utk pembagian suku-suku bagian setiap ahli waris dgn hasil angka bulat. Adapun caranya.

a. Jika ahli waris memiliki bagian ashabah, tak ada nan lain, maka ta'silul mas'alahnya menurut jumlah nan ada ; yaitu laki-laki mendapat 2 bagian dari bagian wanita.
Misalnya: Mayit meninggalkan 1 anak laki-laki & 1 anak perempuan. Maka angka ta'silul mas'alahnya 3, anak laki-laki = 2 & anak perempuan =1.
Misal lain: Mayit meninggalkan 5 anak laki-laki, maka angka aslul mas'alahnya 5, maka setiap anak laki-laki = 1

b. Jika ahli waris ashabul furudh hanya seorang, nan lain ashabah, maka ta'silul mas'alahnya angka nan ada.
Misalnya: Mayit meninggalkan isteri & anak laki-laki. Maka angka ta'silul mas'alahnya 8, karena isteri mendapatkan 1/8, nan lebihnya utk anak laki-laki; isteri = 1 & anak laki-laki = 7

c. Jika ahli waris nan mendapatkan ashabul furudh lebih dari satu, atau ditambah ashabah, maka dilihat angka pecahan setiap ahli waris, yaitu: ½, ¼, 1/6, 1/8, 1/3. 2/3.
c. 1. Jika sama angka pecahannya (المماثلة ), seperti 1/3, 1/3, maka ta'silul masalahnya diambil salah satu, yaitu angka 3
c. 2. Jika pecahan 1 sama lain saling memasuki ( المداخلة ), , maka ta'silul masalahnya angka nan besar, seperti ½, 1/6, ta'silul masalahnya 6, 1/6 dari 6 = 1, sedangkan ½ dari 6 = 3
c. 3. Jika pecahan 1 sama lain bersepakat (الـمتوافقة ) maka ta'silul masalahnya salah 1 angkanya dikalikan dgn angka nan paling kecil nan bisa dibagi dgn nan lain. Misalnya ; 1/6, 1/8, maka ta'silul masalahnya 24
c. 4. Jika pecahan 1 sama lain kontradiksi (المباينة), maka ta'silul masalahnya sebagian angkanya dikalikan dgn angka lainnya, sekiranya bisa dibagi dgn angka nan lain. Misalnya: angak 2/3, ¼, maka ta'silul mas'alahnya 4 x 3 = 12

d. Bila sulit memahami bagian [c1-c4], maka bisa memilih salah 1 dari angka 2, 3, 4, 6, 8, 12, 24 utk dijadikan angka pedoman nan bisa dibagi dgn pecahan suku-suku bagian ahli waris dgn hasil nan bulat.

Misalnya: si A mendapatkan 2/3, si B mendapatkan ¼, maka angka pokok nan bisa dibagi keduanya bukan 8, tetapi 12 & setersunya.

Dalam membagi harta waris setelah diketahui ta'silul masalah & bagian setiap ahli warisnya, ada 3 cara nan bisa ditempuh.

1. Dengan cara menyebutkan pembagian masing-masing ahli waris sesuai dgn ta'silul masalahnya, lalu diberikan bagiannya.
Misalnya si mati meninggalkan harta Rp. 120. 000 & meninggalkan ahli waris: isteri, ibu & paman. Maka ta'silul masalahnya 12, karena isteri mendapatkan 1/4, & ibu mendapatkan 1/3.
- Isteri mendapatkan /4 dari 12 = 3, sehingga ¼ dari 120. 000 = 30. 000
- Ibu 1/3 dari 12 = 4, maka 1/3 dari 120. 000 = 40. 000
- Paman ashabah mendapatkan sisa yaitu 5, maka 120. 000 – 30. 000 – 40. 000 = 50. 000

2. Atau dgn mengalikan bagian setiap ahli waris dgn jumlah harta waris, kemudian dibagi hasilnya dgn ta'silul mas'alah, maka akan keluar bagiannya. Contoh seperti di atas, prakterknya.
- Isteri bagiannya 3 x 120. 000 = 360. 000: 12 = 30. 000
- Ibu bagiannya 4 x 120. 000= 480. 000: 12 = 40. 000
- Paman bagiannya 5 x 120. 000 = 600. 000: 12 = 50. 000

3. Atau membagi jumlah harta waris dgn ta'silul mas'alah, lalu hasilnya dikalikan dgn bagian ahli waris, maka akan keluar hasilnya.
Contoh seperti di atas, prkateknya.
-Isteri bagiannya 120. 000: 12 = 10. 000 x 3 (1/4 dari 12) = 30. 000
-Ibu bagiannya 120. 000: 12 = 10. 000 x 4 (1/3 dari 12) = 40. 000
-Paman bagiannya 120. 000: 12 = 10. 000 x 5 (sisa) = 50. 000

CARA MENYELESAIKAN PERBEDAAN ANTARA SUKU BAGIAN DENGAN TA'SILUL MAS'ALAH
1. Jika bagian tertentu telah dibagikan kepada nan berhak & tak ada ashabah, ternyata harta waris masih tersisa, maka sisa tersebut dikembalikan kepda ahli waris selain suami & isteri.
Misalnya: Si mati meninggalkan suami & seorang anak perempuan, maka aslul masalah 4, yaitu suami mendapat ¼ = 1, & anak perempuan mendapatkan ½ = 2. Adapun nan tersisa 1 diberikan kepada anak perempuan

2. Jika suku bagian ahli waris (siham) melebihi ta'silul mas'alah, hendaknya ditambah (aul).
Misalnya: Si mati meninggalkan suami & 2 saudari selain ibu. Suami mendapatkan ½ & saduari 2/3, ta'silul mas'alahnya 6, nan sudah tentu kurang, karena suami mendapatkan 3, & saudari mendapatkan 4, maka ta'silul mas'alah ditambah 1, sehingga menjadi 7.

3. Jika suku bagian ahli waris (siham) kurang daripada ta'silul mas'alahnya, maka dikembalikan kepada ahli warisnya selain suami & isteri, namanya: Radd.
Misalnya: Si mati meninggalkan isteri & seorang anak perempuan. Isteri mendapatkan 1/8, 1 anak perempuan mendapatkan ½, ta'silul mas'alahnya 8, yaitu isteri =1, 1 anak perempuan = 4 + sisa 3 = 7

4. Jika suku bagian ahli waris (siham) sama pembagiannya dgn ta'silul mas'alahnya dinamakkan (al-adalah).
Misalnya si mati meninggalkan suami & 1 saudara perempuan. Suami mendapatkan ½, & seorang saudari mendapatkan ½, ta'silul mas'alahnya 2, yaitu suami = 1, & seorang saudarinya = 1

Jika pada waktu pembagian ada anggota keluarga lainnya nan bukan ahli waris ikut hadir, seperti bibi atau anak yatim, faqir miskin, maka hendaknya diberi hadiah walaupun sedikit.

وَإِذَا حَضَرَ الْقِسْمَةَ أُولُو الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينُ فَارْزُقُوهُمْ مِنْهُ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلًا مَعْرُوفًا

“Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir kerabat, anak yatim & orang miskin, maka berilah mereka dari harta itu (sekedarnya)dan ucapkanlah kepada mereka perkataan nan baik”. [An-Nisa: 8]

Demikian sebagian pembahasan nan bisa disajikan kepada pembaca. Untuk telaah lebih luas, dapat dibaca kitab rujukan di atas & kitab fara'idh lainnya.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi Khusus (7-8) /Tahun IX/1426H/2005M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197]
sumber: www.almanhaj.or.id penulis Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron tags: Wa Sallam, Subhanahu Wa

pengertian zdawil huquq surat perjanjian warisan contoh surat perjanjian tanah warisan contoh surat pembagian waris islam contoh surat pernyataan perjanjian pembagian tanah 4 keluarga contoh surat pernyataan pembagian waris contoh surat pernyataan pembagian waris surat perjanjian warisan tanah dzawil huquq surat perjanjian bagi waris tidak memiliki anak contoh surat pembagian harta dari orang tua, dzawil huquq pembagian warisan menurut dzawil huquq contoh surat warisan keluarga contoh surat pembagian warisan tanah