Pandangan Islam Terhadap Kebudayaan Adab Islam

ASAL USUL BUDAYA
Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah. Merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal), diartikan sebagai hal-hal berkaitan dgn budi & akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture. Berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa juga diartikan mengolah tanah atau bertani. Kata culture, juga kadang diterjemahkan sebagai “kultur” dlm bahasa Indonesia.

Dalam Islam, istilah ini disebut dgn adab. Islam telah menggariskan adab-adab Islami nan mengatur etika & norma-norma pemeluknya. Adab-adab Islami ini meliputi seluruh aspek kehidupan manusia. Tuntunannya turun langsung dari Allah l melalui wahyu kepada Rasul-Nya. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai teladan terbaik dlm hal etika & adab ini.

Sebelum kedatangan Islam, nan berkembang di tengah-tengah masyarakat Arab ketika itu ialah budaya jahiliyah. Di antara budaya jahiliyah nan dilarang oleh Islam, misalnya tathayyur, menisbatkan hujan kepada bintang-bintang, & lain sebagainya.

Dinul-Islam sangat menitik beratkan pengarahan para pemeluknya menuju prinsip kemanusiaan nan universal, menoreh sejarah nan mulia & memecah tradisi & budaya nan membelenggu manusia, serta mengambil intisari dari peradaban dunia modern utk kemaslahatan masyarakat Islami. Allah berfirman:

“Katakanlah: “Kami beriman kepada Allah & kepada apa nan diturunkan kepada kami & nan diturunkan kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub & anak-anaknya, & apa nan diberikan kepada Musa, 'Isa & para nabi dari Rabb mereka. Kami tak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka & hanya kepada-Nya-lah kami menyerahkan diri”. Barang siapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, & dia di akhirat termasuk orang-orang nan rugi” [‘Ali ‘Imran/3:84-85]

PENETRASI BUDAYA
Proses penetrasi budaya merupakan suatu hal nan tak bisa dihindari. Karena kehidupan manusia nan saling berhubungan 1 sama lain. Interaksi sosial di antara manusia menyebabkan terjadinya proses penetrasi budaya ini. nan dimaksud dgn penetrasi kebudayaan, ialah masuknya pengaruh suatu kebudayaan ke dlm kebudayaan lainnya.

Penetrasi budaya dapat terjadi dgn 2 cara.
1. Penetrasi Damai (Penetration Pasifique).
Yaitu masuknya sebuah kebudayaan dgn jalan damai. Misalnya, masuknya pengaruh kebudayaan Hindu ke Indonesia. Penerimaan kedua macam kebudayaan tersebut tak mengakibatkan konflik, tetapi memperkaya khasanah budaya masyarakat setempat. Pengaruh kedua kebudayaan inipun tak mengakibatkan hilangnya unsur-unsur asli budaya masyarakat.

Penyebaran kebudayaan secara damai akan menghasilkan akulturasi, asimilasi atau sintesis.

Akulturasi, ialah bersatunya 2 kebudayaan sehingga membentuk kebudayaan baru tanpa menghilangkan unsur kebudayaan asli. Contohnya, bentuk bangunan Candi Borobudur nan merupakan perpaduan antara kebudayaan asli Indonesia dgn India.

Asimilasi, adalah bercampurnya 2 kebudayaan sehingga membentuk kebudayaan baru. Sedangkan Sintesis, yaitu bercampurnya 2 kebudayaan nan berakibat pada terbentuknya sebuah kebudayaan baru nan sangat berbeda dgn kebudayaan asli.

Dan sesudah tersebarnya agama Islam di Nusantara, pengaruh-pengaruh kebudayaan nan telah berasimilasi itu masih tersisa & dipertahankan oleh sebagian orang. Oleh karena itu, kita ini melihat unsur-unsur budaya India ini pada sebagian ritual keagamaan nan dilakukan oleh sebagian orang Islam, misalnya dlm upacara-upacara selamatan, seperti halnya upah-upah di Mandailing, peusijeuk di Aceh, & tepung tawar di Melayu, serta upacara-upacara perkawinan & kematian.

2. Penetrasi Kekerasan (Penetration Violante).
Yaitu masuknya sebuah kebudayaan dgn cara memaksa & merusak. Sebagai contoh, masuknya kebudayaan Barat ke Indonesia pada zaman penjajahan disertai dgn kekerasan, sehingga menimbulkan goncangan-goncangan nan merusak keseimbangan dlm masyarakat.

KEBUDAYAAN DI INDONESIA
Kebudayaan Indonesia dapat didefinisikan sebagai seluruh kebudayaan lokal nan telah ada sebelum terbentuknya negara Indonesia pada tahun 1945. Seluruh kebudayaan lokal nan berasal dari berbagai budaya suku-suku di Indonesia merupakan bagian integral dari kebudayaan Indonesia.

Kebudayaan Indonesia walau beraneka ragam, namun pada dasarnya terbentuk & dipengaruhi oleh kebudayaan besar lainnya, seperti kebudayaan Tionghoa & kebudayaan India. Kebudayaan India terutama masuk dari penyebaran agama Hindu & Buddha di Nusantara jauh sebelum Indonesia terbentuk. Kerajaan-kerajaan nan bernafaskan agama Hindu & Budha sempat mendominasi Nusantara pada abad ke-5 Masehi, ditandai dgn berdirinya kerajaan tertua di Nusantara, yakni kerajaan Kutai, sampai pada penghujung abad ke-15 Masehi.

Kebudayaan Tionghoa masuk & mempengaruhi kebudayaan Indonesia karena interaksi perdagangan nan intensif antara pedagang-pedagang Tionghoa & Nusantara (Sriwijaya). Selain itu, banyak pula nan masuk bersama perantau-perantau Tionghoa nan datang dari daerah selatan Tiongkok & menetap di Nusantara. Mereka menetap & menikah dgn penduduk local, hingga akhirnya menghasilkan perpaduan kebudayaan Tionghoa & lokal nan unik. Kebudayaan seperti inilah nan kemudian menjadi salah 1 akar daripada kebudayaan lokal modern di Indonesia, semisal kebudayaan Jawa & Betawi.

Adapun adab-adab Islam masuk ke Indonesia seiring dgn perkembangannya di Nusantara, nan dibawa oleh dai-dai dari Timur Tengah & Asia Selatan.

PANDANGAN ISLAM TERHADAP KEBUDAYAAN MANUSIA
'Aisyah Radhiyalahu 'anha menceritakan: “Sesungguhnya pernikahan pada masa jahiliyah ada 4 macam. Pernikahan sebagaimana nan dilakukan oleh orang-orang sekarang. Yaitu seseorang datang meminang wanita atau anak gadis kepada walinya, lalu ia memberi mahar kepadanya kemudian menikahinya”.

Jenis pernikahan lainnya, seorang lelaki berkata kepada istrinya apabila telah suci dari haidhnya, “pergilah menemui si Fulan lalu ambillah benih darinya,” kemudian suaminya menjauhi & tak menyentuhnya lagi hingga jelas kehamilannya dari benih si fulan tadi. Jika ternyata hamil, maka si suami boleh menyetubuhinya bila ia mau. Ia melakukan itu utk mendapatkan anak. Pernikahan jenis ini disebut nikah istibdhâ`.

Pernikahan jenis lain, yaitu berkumpullah beberapa orang lelaki nan berjumlah sekitar sepuluh orang. Mereka semua menyetubuhi seorang wanita. Apabila wanita itu hamil atau mengandung, & telah lewat beberapa hari setelah melahirkan kandungannya, maka iapun mengirim bayinya kepada salah seorang dari laki-laki itu. Maka mereka pun tak bisa mengelak. Kemudian mereka semua berkumpul dgn wanita itu, lalu si wanita berkata kepada mereka: “Tentunya kalian telah mengetahui urusan kalian. Aku telah melahirkan seorang anak, & anak ini adalah anakmu hai Fulan”. Si wanita menyebutkan nama salah seorang dari mereka nan ia sukai, & anak tersebut dinisbatkan kepada lelaki itu tanpa bisa menolaknya lagi.

Pernikahan jenis lain, yaitu sejumlah lelaki menyetubuhi seorang wanita tanpa menolak siapapun lelaki nan datang kepadanya. Dia ini ialah perempuan pelacur. Mereka menancapkan bendera pada pintu-pintu rumah sebagai tanda. Siapa saja lelaki nan ingin menyetubuhinya, ia bebas mendatanginya. Jika perempuan ini hamil & melahirkan anak, maka para lelaki itupun dikumpulkan. Lalu dipanggilah qâfah (*1) kemudian anak tersebut dinisbatkan kepada salah seorang dari mereka nan telah ditunjuk oleh qâfah tersebut. Maka anak itupun dinisbatkan kepadanya tanpa bisa menolaknya.

Ketika Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam diutus menjadi rasul dgn membawa kebenaran, dihapuslah seluruh jenis pernikahan jahiliyah kecuali penikahan nan dilakukan oleh orang-orang sekarang ini. (*2)

Dari riwayat ini, kita ini dapat mengetahui bahwa Islam membiarkan beberapa adat kebiasaan manusia nan tak bertentangan dgn syariat & adab-adab Islam atau sejalan dengannya. Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tak menghapus seluruh adat & budaya masyarakat Arab nan ada sebelum datangnya Islam. Akan tetapi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melarang budaya-budaya nan mengandung unsur syirik, seperti pemujaan terhadap leluhur & nenek moyang, & budaya-budaya nan bertentangan dgn adab-adab Islami.

Jadi, selama adat & budaya itu tak bertentangan dgn ajaran Islam, silakan melakukannya. Namun jika bertentangan dgn ajaran Islam, seperti memamerkan aurat pada sebagian pakaian adat daerah, atau budaya itu berbau syirik atau memiliki asal-usul ritual syirik & pemujaan atau penyembahan kepada dewa-dewa atau tuhan-tuhan selain Allah, maka budaya seperti itu hukumnya haram.

BEBERAPA CONTOH KEBUDAYAAN MASYARAKAT INDONESIA
A. Budaya Tumpeng.
Tumpeng adalah cara penyajian nasi beserta lauk-pauknya dlm bentuk kerucut. Itulah sebabnya disebut “nasi tumpeng”. Olahan nasi nan dipakai, umumnya berupa nasi kuning, meskipun kerap juga digunakan nasi putih biasa atau nasi uduk. Cara penyajian nasi ini khas Jawa atau masyarakat Betawi keturunan Jawa, & biasanya dibuat pada saat kenduri atau perayaan suatu kejadian penting. Meskipun demikian, masyarakat Indonesia mengenal kegiatan ini secara umum. Tumpeng biasa disajikan di atas tampah (wadah tradisional) & dialasi daun pisang.

Acara nan melibatkan nasi tumpeng disebut secara awam sebagai “tumpengan”. Di Yogyakarta misalnya, berkembang tradisi “tumpengan” pada malam sebelum tanggal 17 Agustus, Hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, utk mendoakan keselamatan negara. Ada tradisi tak tertulis nan menganjurkan bahwa pucuk dari kerucut tumpeng dihidangkan bagi orang nan profesinya tertinggi dari orang-orang nan hadir. Ini dimaksudkan utk menunjukkan rasa hormat kepada orang tersebut.

Ada beberapa macam tumpeng ini, di antaranya sebagai berikut.
1. Tumpeng Robyong. Tumpeng ini biasa disajikan pada upacara siraman dlm pernikahan adat Jawa. Tumpeng ini diletakkan di dlm bakul dgn berbagai sayuran. Di bagian puncak tumpeng ini diletakkan telur ayam, terasi, bawang merah & cabai.
2. Tumpeng Nujuh Bulan. Tumpeng ini digunakan pada syukuran kehamilan 7 bulan, & terbuat dari nasi putih. Selain 1 kerucut besar di tengah, tumpeng ini juga dikelilingi 6 buah tumpeng kecil lainnya. Biasa disajikan di atas tampah nan dialasi daun pisang.
3. Tumpeng Pungkur. Digunakan pada saat kematian seorang wanita atau pria nan masih lajang. Dibuat dari nasi putih nan disajikan dgn lauk-pauk sayuran. Tumpeng ini kemudian dipotong vertikal & diletakkan saling membelakangi.
4. Tumpeng Putih. Warna putih pada nasi putih menggambarkan kesucian dlm adat Jawa. Digunakkan utk acara sakral.
5. Tumpeng Nasi Kuning. Warna kuning menggambarkan kekayaan & moral nan luhur. Digunakan utk syukuran acara-acara gembira, seperti kelahiran, pernikahan, tunangan, & sebagainya.
6. Tumpeng Nasi Uduk. Disebut juga tumpeng tasyakuran. Digunakan utk peringatan Maulud Nabi.

Dari situ dapat kita ini ketahui bila tumpeng dibuat dlm rangka acara-acara atau ritual-ritual di atas, maka Islam tak membenarkannya. Namun kalau sekedar membuat tumpeng sebagai seni memasak tanpa disertai acara & ritual tersebut, maka tidaklah mengapa.

B. Peusijeuk, upah-upah (manyonggot), tepung tawar & selamatan.
Adat istiadat ini biasa diadakan apabila seseorang memiliki hajatan atau hendak pergi jauh utk menghilangkan kesialan. Di daerah Aceh, acara ini disebut peusijeuk. Di pesisir Melayu disebut tepung tawar, & di Jawa dikenal dgn sebutan selamatan. Di daerah Tapanuli Utara & Asahan dikenal dgn sebutan upah-upah atau manyonggot.

Tepung tawar biasa dilakukan dgn menghambur-hambur beras kepada orang nan ditepung tawari. Adapun upah-upah, juga merupakan upacara menolak kesialan. Biasanya dilakukan terhadap orang nan sakit agar spiritualnya (roh) kembali ke jasadnya. Yaitu dgn memasak ayam kemudian diletakkan di piring lalu dibawa mengitari orang nan akan diupah-upahi, kemudian disuapkan kepada orang tersebut. Tujuannya ialah mengembalikan semangat pada orang sakit itu.

Acara-acara seperti tersebut di atas, tak lepas dari unsur-unsur kepercayaan animisme, & konon asal-usulnya berasal dari ritual-ritual nenek moyang.

C. Sungkeman.
Biasanya, kebiasaan ini berasal dari pulau Jawa nan umumnya dilakukan pada saat Hari Raya & pada upacara pernikahan, tetapi kadang kala dilakukan juga setiap kali bertemu. Dilakukan dgn cara sujud kepada orang tua atau orang nan dianggap sepuh (Jawa, tua atau dituakan). Adat ini mengandung unsur sujud & rukuk kepada selain Allah, nan tentunya dilarang dlm Islam.

D. Beberapa adat-istiadat dlm upacara perkawinan adat Jawa nan bertentangan dgn syariat Islam, karena mengandung unsur syirik atau maksiat atau lainnya.

1. Tarub atau janur kuning. Sehari sebelum pernikahan, biasanya gerbang rumah pengantin perempuan akan dihiasi tarub atau janur kuning nan terdiri dari bermacam tumbuhan & daun-daunan, 2 pohon pisang dgn setandan pisang masak pada masing-masing pohon, melambangkan suami nan akan menjadi kepala rumah tangga nan baik & pasangan nan akan hidup baik & bahagia dimanapun mereka berada (seperti pohon pisang nan mudah tumbuh di manapun).

Tebu Wulung atau tebu merah, nan berarti keluarga nan mengutamakan pikiran sehat.

Cengkir Gading atau buah kelapa muda, nan berarti pasangan suami istri akan saling mencintai & saling menjagai & merawat 1 sama lain.

Berbagai macam daun seperti daun beringin, mojo-koro, alang-alang, dadap serep, sebagai simbol kedua pengantin akan hidup aman & keluarga mereka terlindung dari mara bahaya. Selain itu di atas gerbang rumah juga dipasang belketepe, yaitu hiasan dari daun kelapa utk mengusir roh-roh jahat & sebagai tanda bahwa ada acara pernikahan sedang berlangsung di tempat tersebut.

Sebelum tarub & janur kuning tersebut dipasang, sesajen atau persembahan sesajian biasanya dipersiapkan terlebih dahulu. Sesajian tersebut antara lain terdiri dari pisang, kelapa, beras, daging sapi, tempe, buah-buahan, roti, bunga, bermacam-macam minuman termasuk jamu, lampu, & lainnya. Arti simbolis dari sesajian ini ialah agar diberkati leluhur & dilindungi dari roh-roh jahat. Sesajian ini diletakkan di tempat-tempat dimana upacara pernikahan akan dilangsungkan, seperti kamar mandi, dapur, pintu gerbang, di bawah tarub, di jalanan di dekat rumah, & sebagainya. Dekorasi lain nan dipersiapkan adalah Kembar Mayang nan akan digunakan dlm upacara panggih.

2. Upacara Siraman. Acara nan dilakukan pada siang hari sebelum ijab atau upacara pernikahan ini, bertujuan utk membersihkan jiwa & raga. Siraman biasanya dilakukan di kamar mandi atau taman keluarga masing-masing & dilakukan oleh orang tua atau wakil mereka.

Ada 7 Pitulungan atau penolong (Pitu artinya tujuh) -biasanya 7 orang nan dianggap baik atau penting- nan membantu acara ini. Airnya merupakan campuran dari kembang setaman nan disebut Banyu Perwitosari, nan jika memungkinkan diambil dari 7 mata air & melambangkan kehidupan. Keluarga pengantin perempuan akan mengirim utusan dgn membawa Banyu Perwitosari ke kediaman keluarga pengantin pria & menuangkannya di dlm rumah pengantin pria.

3. Pecah Kendi. Yaitu ibu pengantin perempuan atau Pameas (untuk siraman pengantin pria) atau orang nan terakhir akan memecahkan kendi & mengatakan “wis pecah pamore”, artinya sekarang sang pengantin siap utk menikah.

4. Pangkas Rikmo lan Tanam Rikmo. Acara memotong sedikit rambut pengantin perempuan & potongan rambut tersebut ditanam di rumah belakang.

5. Ngerik, Yaitu pengantin perempuan duduk di dlm kamarnya. Pameas lalu mengeringkan rambutnya & memberi pewangi di rambutnya. Rambutnya lalu disisir & digelung atau dibentuk konde. Setelah Pameas mengeringkan wajah & leher sang pengantin, lalu ia mulai mendandani wajah sang pengantin. Lalu sang pengantin akan dipakaikan baju kebaya & kain batik. Sesajian utk upacara Ngerik pada dasarnya sama utk acara siraman. Biasanya supaya lebih mudah sesajian utk siraman digunakan / dimasukkan ke kamar pengantin & dipakai utk sesajian upacara Ngerik.

6. Gendhongan. Kedua orangtua pengantin perempuan menggendong anak mereka nan melambangkan ngentaske, artinya mengentaskan seorang anak.

7. Dodol Dhawet. Kedua orangtua pengantin wanita berjualan minuman dawet, yaitu minuman manis khas Solo, tujuannya agar banyak tamu nan datang.

8. Temu Panggih. Penyerahan pisang sanggan berupa gedung ayu suruh ayu sebagai tebusan atau syarat utk pengantin perempuan.

9. Penyerahan Cikal. Sebagai tanda agar kehidupan mendatang menjadi orang berguna & tak kurang suatu apapun.

10. Penyerahan Jago Kisoh. Sebagai tanda melepaskan anak dgn penuh ikhlas.

11. Tukar Manuk Cengkir Gading. Acara tukar menukar kembang mayang diawali tukar menukar manuk cengkir gading, sebagai simbol agar kedua pengantin menjadi pasangan nan berguna bagi keluarga & masyarakat.

12. Upacara Midodaren. Acara ini dilakukan pada malam hari sesudah siraman. Midodaren berarti menjadikan sang pengantin perempuan secantik dewi Widodari. Pengantin perempuan akan tinggal di kamarnya mulai dari jam 6 sore sampai tengah malam & ditemani oleh kerabat-kerabatnya nan perempuan. Mereka akan bercakap-cakap & memberikan nasihat kepada pengantin perempuan.

Orang tua pengantin perempuan akan memberinya makan utk terakhir kalinya, karena mulai besok ia akan menjadi tanggung jawab suaminya.

13. Peningsetan. Peningsetan nan berasal dari kata “singset” atau langsing, memiliki arti utk mempersatukan. Kedua keluarga mempelai setuju utk kedua anak mereka disatukan dlm tali pernikahan. Keluarga pengantin pria datang berkunjung ke kediaman keluarga pengantin perempuan membawa berbagai macam hantaran sebagai berikut:

Satu set Suruh Ayu (semacam daun nan wangi), mendoakan keselamatan. Pakaian batik dgn motif nan berbeda-beda, mendoakan kebahagiaan. Kain kebaya, mendoakan kebahagiaan. Ikat pinggang kain (setagen) bewarna putih, melambangkan kemauan nan kuat dari mempelai perempuan. Buah-buahan, mendoakan kesehatan. Beras, gula, garam, minyak, dll, melambangkan kebutuhan hidup sehari-hari. Sepasang cincin utk kedua mempelai. Sejumlah uang utk digunakan di acara pernikahan.

Acara ini disebut juga acara serah-serahan. Bisa diartikan bahwa sang calon mempelai perempuan “diserahkan” kepada keluarga calon mempelai pria sebagai menantu mereka atau calon mempelai pria nyantri di kediaman keluarga calon mempelai perempuan.

Pada masa kini, demi alasan kepraktisan, kedua belah pihak kadang-kadang dapat berbicara langsung tanpa upacara apapun. Selain menghemat waktu & uang, juga langsung pada pokok persoalan.

14. Nyantri. Selama acara midodaren berlangsung, calon mempelai pria tak boleh masuk menemui keluarga calon mempelai perempuan. Selama keluarganya berada di dlm rumah, ia hanya boleh duduk di depan rumah ditemani oleh beberapa teman atau anggota keluarga. Dalam kurun waktu itu, ia hanya boleh diberi segelas air, & tak diperbolehkan merokok. Sang calon mempelai pria baru boleh makan setelah tengah malam. Hal itu merupakan pelajaran bahwa ia harus dapat menahan lapar & godaan. Sebelum keluarganya meninggalkan rumah tersebut, kedua orangtuanya akan menitipkan anak mereka kepada keluarga calon mempelai perempuan, & malam itu sang calon mempelai pria tak akan pulang ke rumah. Setelah mereka keluar dari rumah & pulang, calon mempelai pria diijinkan masuk ke rumah namun tak diijinkan masuk ke kamar pengantin. Calon mertuanya akan mengatur tempat tinggalnya malam itu. Ini disebut dgn Nyantri. Nyantri dilakukan utk alasan keamanan & praktis, mengingat bahwa besok paginya calon pengantin akan didandani & dipersiapkan utk acara Ijab & acara-acara lainnya.

15. Upacara panggih/temu (mengawali acara resepsi). Pada upacara ini kembar mayang dibawa keluar rumah & diletakan di persimpangan dekat rumah nan tujuannya utk mengusir roh jahat. Kembar mayang adalah karangan bunga nan terdiri dari daun-daun pohon kelapa nan ditancapkan ke sebatang tanggul kelapa. Dekorasi ini memiliki makna:

Berbentuk seperti gunung, tinggi & luas, melambangkan seorang laki-laki harus berpengetahuan luas, berpengalaman, & sabar. Hiasan menyerupai keris, pasangan harus berhati-hati di dlm hidup mereka. Hiasan menyerupai cemeti, pasangan harus selalu berpikir positif dgn harapan utk hidup bahagia. Hiasan menyerupai payung, pasangan harus melindungi keluarga mereka. Hiasan menyerupai belalang, pasangan harus tangkas, berpikir cepat & mengambil keputusan utk keselamatan keluarga mereka. Hiasan menyerupai burung, pasangan harus memiliki tujuan hidup nan tinggi. Daun beringin, pasangan harus selalu melindungi keluarga mereka & orang lain. Daun kruton, melindungi pasangan pengantin dari roh-roh jahat. Daun dadap serep, daun ini dapat menjadi obat turun panas, menandakan pasangan harus selalu berpikiran jernih & tenang dlm menghadapi segala permasalahan (menenangkan perasaan & mendinginkan kepala). Bunga Patra Manggala, digunakan utk mempercantik hiasan kembar mayang.

Sebagai hiasan, sepasang kembar mayang diletakkan di samping kanan & kiri tempat duduk pengantin selama resepsi pernikahan. Kembar mayang hanya digunakan jika pasangan pengantin belum pernah menikah sebelumnya.

Dan kemudian melanjutkan upacara dgn melakukan beberapa ritual:

16. Balangan Suruh. Setelah pengantin laki-laki (dengan ditemani kerabat dekatnya, & orang tuanya tak boleh menemaninya dlm acara ini) tiba di depan gerbang rumah pengantin perempuan & pengantin perempuan keluar dari kamar pengantin dgn diapit oleh 2 orang tetua perempuan & diikuti dgn orangtua & keluarganya. Di depannya 2 anak perempuan (yang disebut Patah) berjalan & 2 remaja laki-laki berjalan membawa kembar mayang. Pada saat jarak mereka sekitar 3 meter, mereka saling melempar 7 bungusan nan berisi daun sirih, jeruk, nan ditali dgn benang putih. Mereka melempar dgn penuh semangat & tertawa. Dengan melempar daun sirih 1 sama lain, menandakan bahwa mereka adalah manusia, bukan makhluk jadi-jadian nan menyamar jadi pengantin. Selain itu ritual ini juga melambangkan cinta kasih & kesetiaan.

17. Wiji Dadi. Mempelai laki-laki menginjak telur ayam hingga pecah dgn kaki kanan, kemudian pengantin perempuan akan membasuh kaki sang suami dgn air bunga. Proses ini melambangkan seorang suami & ayah nan bertanggung jawab terhadap keluarganya & istri nan taat melayani suaminya.

18. Pupuk. Ibu pengantin perempuan nan mengusap pengantin laki-laki sebagai tanda ikhlas menerimanya sebagai bagian dari keluarga.

19. Sindur Binayang. Di dlm ritual ini ayah pengantin perempuan menuntun pasangan pengantin ke kursi pelaminan, ibu pengantin perempuan menyampirkan kain sindur sebagai tanda bahwa sang ayah menunjukkan jalan menuju kebahagiaan & sang ibu memberikan dukungan moral.

20. Timbang/Pangkon. Di dlm ritual ini pasangan pengantin duduk di pangkuan ayah pengantin perempuan, & sang ayah akan berkata bahwa berat mereka sama, berarti bahwa cinta mereka sama-sama kuat & juga sebagai tanda kasih sayang orang tua terhadap anak & menantu sama besarnya.

21. Tanem. Di dlm ritual ini ayah pengantin perempuan mendudukkan pasangan pengantin di kursi pengantin sebagai tanda merestui pernikahan mereka & memberikan berkat.

22. Tukar Kalpika. Mula-mula pengantin pria meninggalkan kamarnya dgn diapit oleh anggota laki-laki keluarga (saudara laki-laki & paman-paman). Seorang anggota keluarga nan dihormati terpilih utk berperan sebagai kepala rombongan. Pada waktu nan sama, pengantin perempuan juga meninggalkan kamar sambil diapit oleh bibi-bibinya utk menemui pengantin pria. Sekarang kedua pengantin duduk di meja dgn wakil-wakil dari masing-masing keluarga, & kemudian saling menukarkan cincin sebagai tanda cinta.

23. Kacar-Kucur/Tampa Kaya/Tandur. Dengan bantuan Pemaes, pasangan pengantin berjalan dgn memegang jari kelingking pasangannya, ke tempat ritual kacar-kucur atau tampa kaya. Pengantin pria akan menuangkan kacang kedelai, kacang tanah, beras, jagung, beras ketan, bunga & uang logam (jumlahnya harus genap) ke pangkuan perempuan sebagai simbol pemberian nafkah. Pengantin perempuan menerima hadiah ini dgn dibungkus kain putih nan ada di pangkuannya sebagai simbol istri nan baik & peduli.

24. Dahar Kembul/Dahar Walimah. Kedua pengantin saling menyuapi nasi 1 sama lain nan melambangkan kedua mempelai akan hidup bersama dlm susah & senang & saling menikmati milik mereka bersama. Pemaes akan memberikan sebuah piring kepada pengantin perempuan (berisi nasi kuning, telur goreng, kedelai, tempe, abon, & hati ayam). Pertama-tama, pengantin pria membuat 3 bulatan nasi dgn tangan kanannya & menyuapkannya ke mulut pengantin perempuan. Setelah itu ganti pengantin perempuan nan menyuapi pengantin pria. Setelah makan, mereka lalu minum teh manis.

25. Rujak Degan. Acara pembuka utk anak pertama, memohon supaya segera memiliki anak. Rujak degan artinya agar dlm pernikahan selalu sehat sejahtera.

26. Bubak Kawah. Acara perebutan alat-alat dapur utk anak pertama. Artinya agar pernikahan keduanya sehat & sejahtera.

27. Tumplak Punjen. Acara awal utk anak bungsu. Artinya segala kekayaan ditumpahkan karena menantu nan terakhir.

28. Mertui. Orang tua pengantin perempuan menjemput orang tua pengantin laki-laki di depan rumah utk berjalan bersama menuju tempat upacara. Kedua ibu berjalan di muka, kedua ayah di belakang. Orangtua pengantin pria duduk di sebelah kiri pasangan pengantin, & sebaliknya.

29. Sungkeman. Kedua pengantin bersujud memohon restu dari masing-masing orangtua. Pertama-tama ayah & ibu pengantin perempuan, kemudian baru ayah & ibu pengantin pria. Selama sungkeman, Pemaes mengambil keris dari pengantin pria, & setelah sungkeman baru dikembalikan lagi.

Itulah beberapa adat istiadat & kebudayaan di kalangan masyarakat Jawa nan bertentangan dgn ajaran Islam. Di antaranya ada nan berupa syirik, & di antaranya ada nan berupa maksiat & penghambur-hamburan harta & pemberatan atas manusia. Maha Benar Allah nan mengatakan:

”Kami tak menurunkan Al-Qur`ân ini kepadamu agar kamu menjadi susah” [Thaha 20:2].

Siapa saja nan berpaling dari pedoman & syariatnya pasti sempit & susah hidupnya, Allah berfirman:

“Dan barang siapa nan berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan nan sempit, & Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dlm keadaan buta”. [Thaha/20:124].

E. Tabot atau Tabuik.
Tabot atau Tabuik, adalah upacara tradisional masyarakat Bengkulu utk mengenang kisah kepahlawanan & kematian cucu Nabi Muhammad, Hasan & Husein bin Ali bin Abi Thalib dlm peperangan dgn pasukan Ubaidillah bin Zaid di padang Karbala, Irak pada tanggal 10 Muharam 61 Hijriah (681 M).

Perayaan di Bengkulu pertama kali dilaksanakan oleh Syaikh Burhanuddin nan dikenal sebagai Imam Senggolo pada tahun 1685. Syaih Burhanuddin (Imam Senggolo) menikah dgn wanita Bengkulu kemudian anak mereka, cucu mereka & keturunan mereka disebut sebagai keluarga Tabot. Upacara ini dilaksanakan dari 1 sampai 10 Muharram (berdasar kalendar islam) setiap tahun.

Pada awalnya, inti upacara Tabot ialah utk mengenang upaya pemimpin Syi'ah & kaumnya mengumpulkan potongan tubuh Husein, mengarak & memakamkannya di Padang Karbala. Istilah Tabot berasal dari kata Arab, “tabut”, nan secara harfiah berarti kotak kayu atau peti.

Dalam Al-Qur`ân, kata Tabot dikenal sebagai sebuah peti nan berisikan kitab Taurat. Bani Israil pada masa itu percaya bahwa mereka akan mendapatkan kebaikan bila Tabot ini muncul & berada di tangan pemimpin mereka. Sebaliknya mereka akan mendapatkan malapetaka bila benda itu hilang.

Tidak ada catatan tertulis sejak kapan upacara Tabot mulai dikenal di Bengkulu. Namun, diduga kuat tradisi nan berangkat dari upacara berkabung para penganut paham Syi'ah ini dibawa oleh para tukang nan membangun Benteng Marlborought (1718-1719) di Bengkulu. Para tukang bangunan tersebut, didatangkan oleh Inggris dari Madras & Bengali di bagian selatan India nan kebetulan merupakan penganut Islam Syi‘ah.

Para pekerja nan merasa cocok dgn tata kehidupan masyarakat Bengkulu, dipimpin oleh Imam Senggolo alias Syaikh Burhanuddin, memutuskan tinggal & mendirikan pemukiman baru nan disebut Berkas, sekarang dikenal dgn nama Kelurahan Tengah Padang. Tradisi nan dibawa dari Madras & Bengali diwariskan kepada keturunan mereka nan telah berasimilasi dgn masyarakat Bengkulu asli & menghasilkan keturunan nan dikenal dgn sebutan orang-orang Sipai.

Tradisi berkabung nan dibawa dari negara asalnya tersebut mengalami asimilasi & akulturasi dgn budaya setempat, & kemudian diwariskan & dilembagakan menjadi apa nan kemudian dikenal dgn sebutan upacara Tabot. Upacara Tabot ini semakin meluas dari Bengkulu ke Painan, Padang, Pariaman, Maninjau, Pidie, Banda Aceh, Meuleboh & Singkil. Namun dlm perkembangannya, kegiatan Tabot menghilang di banyak tempat. Hingga pada akhirnya hanya terdapat di 2 tempat, yaitu di Bengkulu dgn nama Tabot & di Pariaman Sumbar (masuk sekitar tahun 1831) dgn sebutan Tabuik. Keduanya sama, namun cara pelaksanaannya agak berbeda.

Jika pada awalnya upacara Tabot (Tabuik) digunakan oleh orang-orang Syi‘ah utk mengenang gugurnya Husain bin Ali bin Abi Thalib, maka sejak orang-orang Sipai lepas dari pengaruh ajaran Syi‘ah, upacara ini dilakukan hanya sebagai kewajiban keluarga utk memenuhi wasiat leluhur mereka. Belakangan, sejak 1 dekade terakhir, selain melaksanakan wasiat leluhur, upacara ini juga dimaksudkan sebagai wujud partisipasi orang-orang Sipai dlm pembinaan & pengembangan budaya daerah Bengkulu setempat.

Dengan alasan melestarikan budaya itulah, banyak kaum muslimin melakukannya. Padahal tak diragukan lagi bahwa adat & budaya seperti itu sangat jelas bertentangan dgn nilai-nilai Islam & mengandung unsur syirik & bid'ah. Sehingga wajib bagi kaum muslimin utk menjauhinya.

F. Tingkepan, babaran, pitonan & pacangan.
Masyarakat desa di Jawa Timur, seperti halnya di Jawa Tengah, memiliki ikatan nan berdasarkan persahabatan & teritorial. Berbagai upacara adat nan diselenggarakan antara lain:

1. Tingkepan, yaitu upacara usia kehamilan 7 bulan bagi anak pertama.
2. Babaran, yaitu upacara menjelang lahirnya bayi.
3. Sepasaran, yaitu upacara setelah bayi berusia 5 hari.
4. Pitonan, yaitu upacara setelah bayi berusia 7 bulan.
5. Sunatan yaitu acara khinatan.

Masyarakat di Jawa Timur umumnya menganut perkawinan monogami. Sebelum dilakukan lamaran, pihak laki-laki melakukan acara nako'ake (menanyakan apakah si gadis sudah memiliki calon suami), setelah itu dilakukan peningsetan (lamaran). Upacara perkawinan didahului dgn acara temu atau kepanggih. Untuk mendoakan orang nan telah meninggal, biasanya pihak keluarga melakukan acara kirim donga (kirim doa) pada hari ke-1, ke-3 (telung dino), ke-7 (pitung dino), ke-40 (patang puluh dino), ke-100 (satus dino), 1 tahun (pendak pisan), 2 tahun (pendak pindo) & 3 tahun atau 1000 hari setelah kematian (nyewu).

Acara-acara seperti ini berbau budaya Hindu nan masih dipertahankan oleh sebagian masyarakat.

Kesimpulannya: Sebenarnya masih banyak lagi adat & budaya nan menyebar di tengah-tengah masyarakat nan bertentangan dgn nilai-nilai Islam nan benar. Adapun nan kami sebutkan itu hanyalah sebagai contoh, & bentuknya bisa berubah-ubah & bervariasi sesuai dgn perkembangan budaya itu sendiri.

Oleh karena itu, hendaklah kaum muslimin secara cermat meneliti asal usulnya, apakah budaya itu mengandung unsur nan dilarang dlm agama atau tidak? Sebab, kita ini harus menjadikan syariat Islam sebagai barometernya, bukan sebaliknya. Karena sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah, & sebenar-benar pedoman adalah pedoman para salaf.

Marâji`:
1. Âdâbul-Khithbah wa Zifâf Minal-Kitâb wa Shahîhis-Sunnah, ‘Amru Abdul-Mun'im Salim.
2. Âdâbusy-Syar'iyyah, Ibnu Muflih.
3. Fathul-Bâri, Ibnu Hajar al-Asqalâni.
4. Kamus Besar Bahasa Indonesia.
5. Mausu'ah Adab Islami, Abu ‘Umar ‘Abdul-‘Aziz bin Fathi bin as-Sayyid Nidâ`.
6. Ritual Budaya Tabot Sebagai Media Penyiaran Dakwah Islam di Bengkulu, Bambang Indarto, Skripsi Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2006.
7. Wikipedia Indonesia.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XI/1428H/2008. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]

sumber: www.almanhaj.or.id penulis Ustadz Abu Ihsan al-Atsari tags: Adab Islam, Dalam Bahasa Inggris, Masyarakat Islami, Alaihi Wa Sallam, Ali Imran, Akal Manusia, Dalam Bahasa Indonesia, Subhanahu Wa, Dalam Islam, Agama Islam

hantaran lamaran dari setagen pandangan islam terhadap budaya lokal indonesia ikatan persahabatan&teritorial adab terhadap nasi makalah tentang pandangan islam terhadap kebudayaan budaya menurut pandangan islam pandangan islam terhadap ritual adat nasi kuning dalam pandangan islam pandangan islam terhadap tradisi tabot bagaimana sikap islam terhadap kebudayaan. bagaimana sikap islam terhadap kebudayaan. bagaimana sikap islam terhadap kebudayaan. pandangan islam terhadap budaya indonesia syirik asal usul tepung tawar kebudayaan menurut pandangan islam