Larangan Saling Mendengki

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ: لاَ تَحَاسَدُوْا ، وَلاَ تَنَاجَشُوْا ، وَلاَ تَبَاغَضُوْا ، وَلاَ تَدَابَرُوْا ، وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ ، وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا ، اَلْـمُسْلِمُ أَخُوْ الْـمُسْلِمِ ، لاَ يَظْلِمُهُ ، وَلاَ يَخْذُلُهُ ، وَلاَ يَحْقِرُهُ ، اَلتَّقْوَى هٰهُنَا ، وَيُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ، بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْـمُسْلِمَ ، كُلُّ الْـمُسْلِمِ عَلَى الْـمُسْلِمِ حَرَامٌ ، دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ.

“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu ia berkata, Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Kalian jangan saling mendengki, jangan saling najasy, jangan saling membenci, jangan saling membelakangi Janganlah sebagian kalian membeli barang nan sedang ditawar orang lain, & hendaklah kalian menjadi hamba-hamba Allâh nan bersaudara. Seorang muslim itu adalah saudara bagi muslim nan lain, maka ia tak boleh menzhaliminya, menelantarkannya, & menghinakannya. Takwa itu disini –beliau memberi isyarat ke dadanya 3 kali-. Cukuplah keburukan bagi seseorang jika ia menghina saudaranya nan Muslim. Setiap orang Muslim, haram darahnya, hartanya, & kehormatannya atas muslim lainnya. “

TAKHRIJ HADITS:
Hadits ini Shahih, diriwayatkan oleh:
1. Muslim (no. 2564).
2. Imam Ahmad (II/277, 311-dengan ringkas, 360)
3. Ibnu Mâjah (no. 3933, 4213-secara ringkas)
4. Al-Baihaqi (VI/92; VIII/250)
5. Al-Baghawy dlm Syarhus Sunnah (XIII/130, no. 3549).

SYARAH HADITS
Sabda Nabi «لاَ تَحَاسَدُوْا», artinya, jangan sebagian kalian dengki kepada sebagian nan lain. Sifat dengki ada pada watak manusia karena manusia tak suka diungguli orang lain dlm kebaikan apa pun.

Terkait perasaaan dengki ini, manusia terbagi menjadi beberapa kelompok:

Kelompok Pertama
Kelompok ini terbagi menjadi:
a. nan berusaha menghilangkan kenikmatan nan ada pada orang nan didengki dgn berbuat zhalim kepadanya, baik dgn perkataan maupun perbuatan. Kemudian berusaha mengalihkan kenikmatan tersebut kepada dirinya.

b. nan berusaha menghilangkan kenikmatan dari orang nan ia dengki tanpa menginginkan nikmat itu berpindah kepadanya. Ini merupakan dengki paling buruk & paling jelek.

Ini adalah dengki nan tercela, dilarang & merupakan dosa iblis nan dengki kepada Nabi Adam Alaihissallam ketika melihat beliau mengungguli para malaikat, karena Allâh menciptakan beliau dgn tangan-Nya sendiri, menyuruh para malaikat sujud kepada beliau, mengajarkan nama segala hal kepada beliau, & menempatkan beliau di dekat-Nya. Iblis tak henti-hentinya berusaha mengeluarkan Nabi Adam Alaihissallam dari surga hingga akhirnya beliau dikeluarkan darinya.

Sifat dengki seperti inilah nan melekat pada orang-orang yahudi. Allâh Azza wa Jalla menjelaskan dlm banyak ayat al-Qur'ân tentang hal itu. Seperti firman-Nya:

“Banyak diantara ahli kitab nan ingin sekiranya mereka dapat mengembalikan kamu setelah kamu beriman, menjadi kafir kembali, karena rasa dengki dlm hati mereka, setelah kebenaran jelas bagi mereka…” [al-Baqarah/2:109]

Atau firman Allâh Azza wa Jalla:

“Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) karena karunia nan telah diberikan Allâh kepadanya ?” [an-Nisâ'/4:54]

Imam Ahmad rahimahullah & at-Tirmidzi rahimahullah meriwayatkan hadits dari az-Zubair bin al-Awwâm Radhiyallahu 'anhu dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda:

دَبَّ إِلَيْكُمْ دَاءُ الْأُمَمِ قَبْلَكُمْ: اَلْحَسَدُ وَالْبَغْضَاءُ ، وَالْبَغْضَاءُ هِيَ الْحَالِقَةُ ، حَالِقَةُ الدِّيْنِ لاَ حَالِقَةُ الشَّعْرِ ، وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ تُؤْمِنُوْا حَتَّى تَحَابُّوْا ، أَفَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِشَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوْهُ تَحَابَبْتُمْ ؟ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ.

“Penyakit umat-umat sebelum kalian telah menyerang kalian yaitu dengki & benci. Benci adalah pemotong; pemotong agama & bukan pemotong rambut. Demi Dzat nan jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, kalian tak beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu nan jika kalian kerjakan maka kalian saling mencintai ? Sebarkanlah salam diantara kalian. ” (*1)

Kelompok Kedua
Kelompok ini, jika dengki kepada orang lain, mereka tak menuruti perasaan dengkinya & tak berbuat zhalim kepada orang nan ia dengki, baik dgn perkataan maupun perbuatan. Mereka ini terbagi dlm 2 jenis:

1. nan tak kuasa memupus rasa dengki dari hatinya. Perasaan ini telah menguasai dirinya. Orang nan seperti ini tak berdosa.

2. nan sengaja memunculkan kedengkian pada dirinya, mengulangi lagi. Ini dilakukan berulang kali disertai harapan kenikmatan nan melekat pada orang nan didengki sirna. Dengki seperti ini mirip dgn azam (tekad) utk melakukan kemaksiatan. Dengki seperti ini kecil kemungkinan terhindar dari perbuatan zhalim terhadap nan ia dengki, kendati hanya dgn perkataan. Dengan prilakunya nan zhalim ia berhak mendapatkan dosa.

Kelompok Ketiga
Kelompok ini, jika dengki, ia tak mengharapkan nikmat orang nan ada pada orang nan didengki itu hilang, namun ia berusaha mendapatkan kenikmatan nan sama & ingin seperti dia. Jika kenikmatan nan dikejarnya adalah kenikmatan dunia, maka itu tak ada nilai kebaikannya, seperti perkataan orang-orang nan mabuk dunia, “…Mudah-mudahan kita ini mempunyai harta kekayaan seperti apa nan telah diberikan kepada Qarun…” [al-Qashash/28:79].

Jika nikmat nan dikejar itu nikmat akhirat, maka itu baik. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٍ آتَاهُ اللهُ الْقُرْآنَ فَهُوَ يَقُوْمُ بِهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ ، وَرَجُلٍ آتَاهُ الله مَالاً فَهُوَ يُنْفِقُهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ.

“tak boleh dengki kecuali kepada 2 orang: Orang nan diberi al-Qur'ân oleh Allâh kemudian ia melaksanakannya di pertengahan malam & pertengahan siang, & orang nan diberi harta oleh Allâh kemudian ia menginfakkannya di pertengahan malam & pertengahan siang” (*2)

Dengki seperti ini dinamakan ghibthah.

Kelompok Keempat
Kelompok ini, jika mendapati sifat dengki pada dirinya, ia berusaha memusnahkannya, berbuat baik kepada nan didengki, mendo'akannya & menceritakan kelebihan-kelebihan orang nan didengki. Dia tak hanya berusaha menghilangkan rasa dengki pada dirinya namun dia juga berusaha menggantikannya dgn rasa senang melihat saudaranya lebih baik lagi. Ini termasuk derajat iman tertinggi. Orang nan seperti ini adalah mukmin sejati nan mencintai utk saudaranya apa nan ia cintai utk dirinya. (*3)

Seorang Muslim & Muslimah tak boleh dengki. Karena ia adalah sifat tercela, sifat orang-orang Yahudi & dapat merusak amal. Allâh Subhanahu wa Ta'ala melarang manusia mengharapkan segala kelebihan & keutamaan nan Allâh Subhanahu wa Ta'ala berikan kepada orang lain. Allâh Subhanahu wa Ta'ala berfirman, nan artinya, “Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia nan dilebihkan Allâh kepada sebagian kamu atas sebagian nan lain. (Karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa nan mereka usahakan, & bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa nan mereka usahakan. Mohonlah kepada Allâh sebagian dari karunia-Nya. Sungguh Allâh Maha Mengetahui segala sesuatu”. [an-Nisâ'/4:32]

DAMPAK BURUK DARI SIKAP HASAD (*4)
Orang nan hasad akan terjerumus ke dlm beberapa bahaya, diantaranya:
1. Dengan hasad berarti dia membenci apa nan telah Allâh Azza wa Jalla tetapkan. Karena, benci kepada nikmat nan Allâh berikan kepada orang lain berarti benci terhadap ketentuan Allâh Subhanahu wa Ta'ala.
2. Hasad akan menghapus kebaikan-kebaikannya sebagaimana api menghabiskan kayu bakar.
3. Hati orang nan hasad akan selalu merasa sedih & susah. Setiap kali melihat nikmat Allâh k atas orang nan ia dengki, ia akan berduka & susah & begitu seterusnya.
4. Hasad berarti menyerupai orang Yahudi. Padalah Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, nan artinya, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka(*5)
5. Bagaimanapun kuatnya hasad, itu tak akan menghilangkan nikmat Allâh Azza wa Jalla dari orang lain.
6. Hasad dapat menghilangkan kesempurnaan iman, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam:
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُـحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُـحِبُّ لِنَفْسِهِ
“Tidak sempurna iman seseorang dari kalian hingga ia menyukai bagi saudaranya apa nan ia sukai bagi dirinya” (*6)
7. Hasad dapat melalaikan seseorang dari memohon nikmat kepada Allâh Subhanahu wa Ta'ala.
8. Hasad dapat menyebabkan dirinya meremehkan nikmat Allâh Subhanahu wa Ta'ala nan ada pada dirinya.
9. Hasad, akhlak tercela, karena ia selalu memantau nikmat Allâh pada orang lain & berusaha menghalanginya dari manusia.
10. Jika orang nan hasad (dengki) sampai bertindak zhalim kepada nan didengki, maka nan didengki itu akan mengambil kebaikan-kebaikannya pada hari kiamat.

Kesimpulannya bahwa hasad merupakan akhlak tercela, tetapi sangat disayangkan sifat ini masih banyak ditemui di kalangan tengah masyarakat. Wallaahul Musta'aan, nas-alullaahal ‘afwa wal ‘aafiyah.

Sabda Nabi Shallallahu Alihi Wa Sallam «لاَ تَنَاجَشُوْاوَ«
Najasy ditafsirkan oleh banyak Ulama dgn najasy dlm jual beli. Yaitu menaikkan harga suatu barang nan dilakukan oleh orang nan tak berminat membelinya utk kepentingan penjual supaya untungnya lebih besar atau utk merugikan pembeli. Termasuk praktek najasy yaitu memuji barang dagangan seorang penjual supaya laku atau menawarnya dgn harga nan tinggi padahal dia tak berminat. Apa nan dilakukannya hanya utk mengecoh pembeli sehingga tak merasa kemahalan kalau jadi beli. Dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu 'anhuma, diriwayatkan bahwasa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam melarang najasy. (*7)

Ibnu Abi Aufa rahimahullah mengatakan, “Nâjisy (pelaku najasy) adalah pemakan harta riba & pengkhianat. ” (*8)

Ibnu Abdil Barr rahimahullah mengatakan, “Para Ulama sepakat bahwa pelaku najasy telah bermaksiat kepada Allâh k jika ia tahu najasy itu terlarangan. ” (*9)

Lalu bagaimana dgn keabsahan jual-beli tersebut ? Ada Ulama nan berpendapat, jika pelaku najasy adalah penjualnya atau orang nan disuruh penjual utk melakukan najasy, maka jual-beli itu tak sah. Sebagian besar fuqaha' berpendapat bahwa jual-beli najasy sah secara mutlak. Ini pendapat Abu Hanîfah, Imam Mâlik, & merupakan salah 1 riwayat dari Imam Ahmad. Hanya saja, Imam Mâlik & Imam Ahmad menegaskan bahwa pembeli mempunyai khiyâr (hak pilih antara melanjutkan jual-beli atau membatalkannya) jika ia tak mengetahui kondisi nan sebenarnya & ditipu dgn penipuan di luar batas kewajaran.

Atau bisa juga najasy dlm hadits diatas ditafsirkan dgn penafsiran nan lebih umum. Yaitu semua muamalah nan mengandung unsur penipuan atau makar. Dalam al-Qur'ân, Allâh Azza wa Jalla menjelaskan bahwa sifat orang-orang kafir & munafik ialah membuat makar terhadap para nabi & pengikut mereka. Sungguh indah apa nan dikatakan Abu Al-Athiyah,

لَيْسَ دُنْيَا إِلاَّ بِدِيْنٍ وَلَيـ ـسَ الدِّيْنُ إِلاَّ مَكَارِمَ الْأَخْلاَقِ
إِنَّمَا الْـمَكْرُ وَالْخَدِيْعَةُ فِي النَّا رِ هُمَا مِنْ خِصَالِ أَهْلِ النِّفَاقِ

Dunia tak lain adalah agama
dan agama tak lain adalah akhlak mulia
sesungguhnya makar & penipuan itu di neraka
karena keduanya sifat orang-orang munafik.

Makar diperbolehkan dilakukan terhadap orang nan memang diperbolehkan utk diganggu, yaitu orang-orang kafir nan wajib diperangi, seperti sabda beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam.

اَلْـحَرْبُ خَدْعَةٌ

“Perang adalah tipu daya” (*10)

Sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam « وَلاَ تَبَاغَضُوْا »
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam melarang kaum Muslimin saling membenci karena mengikuti hawa nafsu. Karena Allâh Subhanahu wa Ta'ala menjadikan mereka bersaudara. Bersaudara berarti saling mencintai, bukan saling membenci. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لاَتَدْخُلُوْا الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوْا ، وَلاَتُؤْمِنُوْا حَتَّى تَحَابُّوْا ، أَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوْهُ تَحَابْبْتُمْ: أَفْشُوْا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ

“Demi Dzat nan jiwaku berada di tangan-Nya, kalian tak beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu nan jika kalian kerjakan maka kalian akan saling mencintai ? Sebarkan salam di antara kalian. ” (*11)

Allâh telah mengharamkan atas kaum Muslimin segala nan berpotensi menimbulkan permusuhan & kebencian diantara mereka. Allâh berfirman, nan artinya, “Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan & kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar & berjudi itu, & menghalangi kamu dari mengingat Allah & sembahyang; Maka tidakkah kamu berhentilah (dari mengerjakan pekerjaan itu)”. [al-Mâidah/5:91]

Oleh karena itu, perbuatan mengadu domba diharamkan karena bisa menyebabkan permusuhan & kebencian. Di sisi lain, berbohong utk mendamaikan manusia diperbolehkan & Allâh menganjurkan mendamaikan mereka.

Diriwayatkan dari Abu Darda' Radhiyallahu 'anhu, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِأَفْضَلَ مِنْ دَرَجَةِ الصَّلاَةِ وَالصِّيَامِ وَالصَّدَقَةِ؟ قَالُوْا: بَلَى. قَال: إِصْلاَحُ ذَاتِ الْبَيْنِ ، وَ فَسَادُ ذَاتِ الْبَيْنِ هِيَ الْحَالِقَةُ.

“Maukah kalian aku jelaskan sesuatu nan lebih baik daripada derajat shalat, puasa & sedekah?' Para Shahabat berkata, 'Ya. ' Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, ‘Mendamaikan orang nan berselisih. Dan rusaknya hubungan persaudaraan adalah pemotong (agama). “. (*12)

Adapun benci karena Allâh Subhanahu wa Ta'ala, maka itu termasuk bagian terkuat dari keimanan & tak termasuk benci nan dilarang. Jika seseorang melihat keburukan pada saudaranya kemudian ia membenci saudaranya karena keburukan tersebut, maka ia mendapat pahala, kendati saudaranya mengajukan alas an nan bisa diterima. Seperti perkataan ‘Umar bin Khatthab Radhiyallahu 'anhu, “Dahulu kami mengenali kalian karena Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam berada di tengah kita-kita, wahyu turun, & Allâh menjelaskan kepada kita ini tentang perihal kalian. Ketahuilah, sesungguhnya Rasûlullâh n telah wafat & wahyu terputus. Ketahuilah, kita ini mengenali kalian sesuai dgn pengetahuan kita ini tentang kalian. Ketahuilah, barangsiapa di antara kalian memperlihatkan kebaikan, maka kita ini menduganya baik & mencintainya karenanya. Dan barangsiapa memperlihatkan keburukan, kami menduganya buruk dengannya & membencinya karenanya, sementara rahasia kalian ada di antara kalian sendiri & Rabb Azza wa Jalla”. (*13)

Sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam « وَلاَ تَدَابَرُوْا » .
Abu ‘Ubaid berkata, “Tadâbur (saling membelakangi) ialah saling memutus hubungan & saling mendiamkan. “

Dari Abu Ayyûb al-Anshâri Radhiyallahu 'anhu, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَحِلُّ لِـمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلاَثٍ يَلْتَقِيَانِ فَيَصُدُّ هَذَا وَيَصُدُّ هَذَا ، وَخَيْرُهُمَا الَّذِيْ يَبْدَأُ بِالسَّلاَمِ

“Tidak halal bagi seorang Muslim mendiamkan saudaranya lebih dari 3 hari; keduanya bertemu, namun nan ini berpaling dari satunya & nan satunya juga berpaling darinya. Orang nan paling baik di antara keduanya ialah nan memulai mengucapkan salam” (*14)

Para Ulama berbeda pendapat apakah sikap ‘mendiamkan' itu dianggap berakhir dgn ucapan salam ? Sejumlah Ulama berkata bahwa sikap ‘mendiamkan' itu berakhir dgn ucapan salam. Ini diriwayatkan dari al-Hasan rahimahullah & Imam Mâlik dlm riwayat Ibnu Wahb. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَحِلُّ لِـمُسْلِمٍٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلاَثٍ ، فَمَنْ هَجَرَ فَوْقَ ثَلاَثٍ فَمَاتَ دَخَلَ النَّارَ

“Tidak halal bagi seorang Muslim mendiamkan saudaranya lebih dari 3 hari. Barangsiapa mendiamkan saudaranya lebih dari 3 hari kemudian mati, maka ia masuk Neraka”. (*15)

Jika pada hari ketiga mereka bertemu, lalu salah seorang mengucapkan salam & nan lain menjawab, maka kedua berhak mendapatkan pahala. Namun jika tak dijawab salamnya, maka nan tak menjawab ini menanggung dosanya. (*16)

Sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam وَلاَ يَبِـعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ
Dari Ibnu ‘Umar Radhiyalahu 'anhuma bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

لاَيَبِـعِِ الرَّجُلُ عَلَى بَيْعِ أَخِيْهِ ، وَلاَ يَخْطُبُ عَلَى خِطْبَةِ أَخِيْهِ إِلاَّ أَنْ يَأْذَنَ لَهُ

“Seseorang tak boleh menjual diatas penjualan saudaranya & tak boleh melamar lamaran saudaranya kecuali jika ia mengizinkannya”. (*17)

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَسُمِ الْـمُسْلِمُ عَلىَ سَوْمِ أَخِيْهِ

“Seorang Muslim tak boleh menawar barang nan sedang dlm penawaran saudaranya”. (*18)

Keberadaan kata “Muslim” dlm hadits diatas menunjukkan bahwa ini merupakan hak orang Muslim atas Muslim lainnya. Ini tak berlaku pada non-muslim. Ini pendapat al-Auzâ'i rahimahullah & Imam Ahmad rahimahullah. Tapi, banyak juga para fuqahâ' (ulama ahli fikih) berpendapat bahwa larangan pada hadits di atas berlaku umum bagi Muslim & non-muslim.

Pengertian menjual barang di atas penjualan saudaranya ialah si A membeli sesuatu dari si B kemudian si C datang menawarkan barangnya kepada si A agar ia membelinya & membatalkan jual-beli pertama.

Sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا »», ‘Wahai hamba-hamba Allah, jadilah kalian bersaudara'.
Dalam potongan hadits ini terdapat isyarat bahwa jika kaum Muslimin meninggalkan sikap saling dengki, saling najasy, saling membenci, saling membelakangi, & menjual di atas penjualan saudaranya, maka mereka pasti akan menjadi bersaudara. (*19)

Sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam اَلْـمُسْلِمُ أَخُوْ الْـمُسْلِمِ ، لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يَخْذُلُهُ وَلاَ يَحْقِرُهُ , ‘Orang Muslim adalah saudara bagi Muslim nan lain, ia tak menzhaliminya, tak menelantarkannya, & tak menghinakannya'.

Sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam ini diambil dari firman Allâh Subhanahu wa Ta'ala, nan artinya, “Sesungguhnya orang-orang Mukmin adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudara kalian. ” [al-Hujurât/49:10]

Jika kaum Mukminin telah bersaudara, maka mereka diperintahkan utk melakukan segala nan bisa membuat hati bersatu & dilarang mengerjakan segala nan membuat hati saling benci. Mereka juga diperintahkan utk menyalurkan atau memberikan manfaat buat saudaranya & menghindarkannya dari segala nan mencelakakan. Di antara mudharat terbesar nan harus disingkirkan dari saudara adalah tindak kezhaliman. Kezhaliman tak saja haram dilakukan terhadap orang Muslim, namun juga haram dilakukan terhadap siapa pun.

Di antara hal nan dilarang ialah menelantarkan orang Muslim lainnya. Seorang Muslim diperintahkan menolong saudaranya nan muslim. Rasûlullâh bersabda Shallallahu 'alaihi wa sallam:

اُنْصُرْ أَخَاكَ ظَالِـمًا أَوْ مَظْلُوْمًا. قُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ نَصَرْتُهُ مَظْلُوْمًا ، فَكَيْفَ أَنْصُرُهُ ظَالِـمًا ؟ قَالَ: تَكُفُّهُ عَنِ الظُّلْمِ، فَذَاكَ نَصْرُكَ إِيَّاهُ.

“Tolonglah saudaramu nan zhalim atau dizhalimi. Kami bertanya, ‘Wahai Rasûlullâh, aku menolongnya jika ia dizhalimi. Bagaimana aku menolongnya jika ia menzhalimi?' Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, ‘Engkau cegah dia dari berbuat zhalim, itulah pertolonganmu terhadapnya”. (*20)

Di antara hal lain nan dilarang ialah berdusta kepada Muslim lainnya. Seorang Muslim tak boleh berbicara dusta kepada saudaranya. Dia harus berbicara dgn jujur.

Di antara hal lain nan dilarang ialah menghina orang Muslim. Karena perilaku buruk ini bersumber dari kesombongan. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

اَلْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Kesombongan ialah menolak kebenaran & meremehkan manusia”. [21]

Allâh Azza wa Jalla berfirman, nan artinya, “Wahai orang-orang nan beriman Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum nan lain, (karena) boleh jadi mereka nan (diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), & jangan pula perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain, (karena) boleh jadi perempuan nan (diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan nan mengolok-olok). . . ” [al-Hujurât/49:11]

Jadi, orang sombong itu melihat dirinya sebagai figur sempurna & melihat orang lain selalu kurang, karenanya ia menghina & meremehkan mereka. [22]

Sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam » اَلتَّقْوَى هَاهُنَا ، يُشِيْرُ إلى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ », Takwa itu disini –beliau sambil memberi isyarat ke dadanya 3 kali-.

Di dlm sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam ini terdapat isyarat bahwa kemuliaan seseorang di sisi Allâh k itu ditentukan dgn ketakwaannya. Orang nan dipandang hina oleh masyarakat karena lemah & miskin, bisa jadi lebih mulia di sisi Allâh Azza wa Jalla daripada orang nan terhormat di dunia. Allâh Azza wa Jalla berfirman, nan artinya, “…Sungguh, orang nan paling mulia diantara kamu di sisi Allâh ialah orang nan paling bertakwa…” [al-Hujurât/49:13]

Ketakwaan seseorang itu letaknya di hati, tak ada nan dapat melihat hakikatnya kecuali Allâh Azza wa Jalla. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ.

“Sesungguhnya Allâh tak melihat wajah & harta kalian, namun Allâh melihat hati & amal perbuatan kalian”. [23]

Bisa jadi orang nan mempunyai wajah tampan (cantik), kekayaan melimpah, terpandang di dunia, namun hatinya hampa dari takwa. Juga bisa jadi orang nan tak mempunyai apa-apa, namun hatinya penuh dgn takwa sehingga ia menjadi nan termulia di sisi Allâh Azza wa Jalla. Kondisi inilah nan sering terjadi. Disebutkan dlm hadits, dari Hâritsah bin Wahb bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ الْـجَنَّةِ: كُلُّ ضَعِيْف مُسْتَضْعَف ، لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللهِ لَأَبَرَّهُ أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ النَّارِ: كُلُّ عُتُلٍّ جَوَّاظ مُسْتَكْبِر

“Maukah kalian aku tunjukkan penghuni surga; yaitu setiap orang lemah nan dianggap lemah. Seandainya ia bersumpah atas nama Allâh, pasti dikabulkan. Maukah kalian aku jelaskan penghuni neraka yaitu setiap orang nan congkak, angkuh & sombong. “”. [24]

Dari Sahl bin Sa'ad Radhiyallahu 'anhu, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Seseorang berjalan melewati Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian beliau bertanya kepada orang nan duduk di samping beliau, ‘Bagaimana pendapatmu tentang orang ini?' Orang itu menjawab, ‘Ia termasuk orang-orang nan terhormat. Ia layak dinikahkan jika melamar, layak dibela jika ia minta pembelaan, & ucapannya layak didengar. ' Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam diam. Setelah itu, ada orang lain lagi lewat. RasûlullâhShallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada orang nan duduk di samping beliau, ‘Bagaimana pendapatmu tentang orang tersebut?' Orang tersebut berkata, ‘Wahai Rasûlullâh, ia seorang Muslim nan fakir. Ia pantas ditolak jika melamar, tak dibela jika minta pembelaan & perkataannya tak layak diperhatikan. ' Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, ‘Orang ini (orang kedua) lebih baik daripada isi bumi seperti orang nan pertama”. [25]

Sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرّ أَنْ يَحْقِرَأَخَاهُ الْـمُسْلِمَ » », ‘cukuplah keburukan bagi seseorang jika ia menghina saudaranya nan Muslim'.

Maksudnya, cukuplah menjadi sebuah keburukan jika orang Muslim menghina saudaranya nan muslim. Sebab perilaku buruknya ini hanya terdorong kesombongannya, padahal sombong termasuk perangai nan paling buruk. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk surga orang nan di hatinya masih ada kesombongan, kendati hanya sebiji sawi. ” [26]

Sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam كُلُّ الْـمُسْلِمِ عَلَى الْـمُسْلِمِ حَرَامٌ ، دَمُهُ، ومَالُهُ ، وَعِرْضُهُ » », ‘Setiap Muslim atas Muslim lainnya haram darah, harta & kehormatannya'.

Sabda ini termasuk nan sering disebutkan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dlm khutbah-khutbah beliau. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menyampaikannya saat haji Wada', hari Qurban, hari Arafah & hari kedua dari hari-hari Tasyriq. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا ، فِيْ بَلَدِكُمْ هَذَا ، فِيْ شَهْرِكُمْ هَذَا.

“Sesungguhnya darah, harta, & kehormatan kalian haram atas kalian sebagaimana keharaman hari kalian ini, di negeri kalian ini & di bulan kalian ini”. [27]

Dalam sebuah riwayat dijelaskan, sebagian shahabat melakukan perjalanan bersama Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, kemudian salah seorang dari mereka tidur. Salah seorang dari mereka pergi ke tali orang nan tidur tersebut & mengambilnya, akibatnya orang nan tidur tersebut kaget. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَحِلُّ لِـمُسْلِمٍ أَنْ يُرَوِّعَ مُسْلِمًا

“Orang Muslim tak boleh menakut-nakuti orang Muslim lainnya”. [28]

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu bahwasanya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam ditanya tentang ghibah. Beliau bersabda, “Menggunjing (ghibah) ialah engkau menyebutkan keburukan saudaramu. ” Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu bertanya, ‘Bagaimana pendapatmu jika apa nan aku katakan memang benar?' Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, ‘Jika apa nan engkau katakan itu benar, berarti engkau telah menggunjingnya. Jika apa nan engkau katakan tak benar, berarti engkau telah berdusta. '”[29]

Dalil-dalil di atas menegaskan bahwa orang Muslim tak boleh diganggu dgn cara apa pun, baik perkataan atau perbuatan, tanpa alasan nan benar. Allâh Azza wa Jalla berfirman, nan artinya, “Dan orang-orang nan menyakiti orang-orang Mukmin & Mukminah tanpa kesalahan nan mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan & dosa nan nyata. ” [al-Ahzâb/33:58]

Allâh Azza wa Jalla menjadikan kaum Mukminin bersaudara agar saling menyayangi & mengasihi. Dari Nu'man bin Basyir Radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

مَثَلُ الْـمُؤْمِنِيْن فِيْ تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ ، تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْـحُمَّى.

“Perumpamaan kaum Mukminin dlm cinta-mencintai, sayang-menyayangi, & simpati ibarat 1 tubuh. Jika salah 1 organ tubuhnya sakit, maka seluruh oragan tubuh nan lain mengeluh sakit seperti demam & tak bisa tidur. ” (*30)

FAWAID HADITS:
1. Hasad (dengki) itu haram
2. Sistem jual-beli najasy (meninggikan harga utk menipu pembeli) itu haram.
3. Larangan saling membenci & perintah utk saling mencintai.
4. Larangan menawar atau menjual atas tawaran-penjualan saudaranya.
5. Wajib memupuk persaudaraan antar kaum Muslimin.
6. Darah, harta & kehormatan seorang Muslim haram atas muslim lainnya.
7. Hati merupakan sumber segala sesuatu.
8. Takwa tempatnya di hati & dibuktikan dgn amal shalih.
10. Takwa & niat nan shalih adalah timbangan bagi Allâh atas hamba-hamba-Nya.

Maraji':
1. Al-Qur-an & terjemahnya.
2. Shahîh al-Bukhâri.
3. Shahîh Muslim
4. Musnad Imam Ahmad
5. Sunan Abu Dawud
6. Sunan at-Tirmidzi
7. Sunan an-Nasa-i
8. Sunan Ibni Majah
9. Sunan al-Kubra lil Baihaqi.
10 Syarhus Sunnah, karya Imam al-Baghawi.
11. Irwaa-ul Ghaliil, karya Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani.
12. Shahiih al-Jaami'ish Shaghiir, karya Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani.
13. Jaami'ul ‘Ulum wal Hikam, karya Ibnu Rajab al-Hanbali. Tahqiq: Syu'aib al-Arnauth & Ibrahim Baajis.
14. Qawaa-id wa Fawaa-id min Arba'in an-Nawawiyyah.
15. At-Tamhiid.
16. Majmu' al-Fataawa Syaikhil Islam Ibni Taimiyah.
17. Kitabul ‘Ilmi, karya Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi, 04-05/Tahun XIV/1431/2010M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]

Referensi
(*1). Hasan. HR. at-Tirmidzi (no. 2510 ), Ahmad (I/165, 167), & lainnya. Hadits ini dihasankan oleh Syaikh al-Albâni dlm Irwâ-ul Ghalîl (III/28, dlm bahasan hadits no. 777 & Hidâyatur Ruwât no. 4966).
(*2). Shahih. HR. Bukhâri (no. 5025, 7529), Muslim (no. 815), & lainnya dari Shahabat Ibnu ‘Umar Radhiyallahu'anhuma.
(*3). Jâmi'ul ‘Ulûm wal Hikam (II/260-263)
(*4). Dinukil dari Kitâbul ‘Ilmi (hlm. 72-75).
(*5). Shahih. Diriwayatkan oleh Ahmad (V/50, 92), & Abu Dawud (no. 4031), dari Shahabat Ibnu ‘Umar Radhiyallahu 'anhuma. Lihat Shahîh al-Jâmi'ish Shaghîr (no. 6149) & Jilbâbul Mar-atil Muslimah (hlm. 203-204).
(*6). Shahih. Diriwayatkan oleh al-Bukhâri (no. 13) Muslim (no. 45), Nasâ-i (VIII/115), at-Tirmidzi (no. 2515), Dârimi (II/307), Ibnu Mâjah (no. 66), & Ahmad (III/176, 206, 251, 272, 278, 279), dari Anas Radhiyallahu 'anhu .
(*7). Shahih. HR. Bukhâri (no. 2142, 6963), Muslim (no. 1516), & lainnya.
(*8). Shahih. HR. Bukhâri (no. 2675).
(*9). At-Tamhîd (XII/290).
(*10). Shahih. HR. Bukhâri (no. 3030), Muslim (no. 1739), & lainnya dari Shahabat Jabir Radhiyallahu 'anhu. Dan diriwayatkan juga oleh beberapa shahabat lainnya. Lihat, Jâmi'ul ‘Ulûm wal Hikam (II/263-265).
(*11). Shahih. HR. Muslim (no. 54), Abu Dâwud (no. 5193), at-Tirmidzi (no. 2688), & lainnya dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu.
(*12). Shahih. HR. Ahmad (VI/444-445), Abu Dâwud (no. 4919), Ibnu Hibbân (no. 1982-al-Mawârid), & at-Tirmidzi (no. 2509), beliau berkata, ‘Hadits ini hasan shahih'.
(*13). Diringkas dari Jâmi'ul ‘Ulûm wal Hikam (II/265-267).
(*14). Shahih. HR. Bukhâri (no. 6077, 6237), Muslim (no. 2560), & lainnya.
(*15). Shahih. HR. Abu Dâwud (no. 4914) & Ahmad (II/392). Dishahihkan oleh Syaikh al-Albâni dlm Irwâ-ul Ghalîl (VII/64).
(*16). Jâmi'ul ‘Ulûm wal Hikam (II/268-270).
(*17). Shahih. HR. Muslim (no. 1412 (50)).
(*18). Shahih. HR. Muslim (no. 1515 (9)).
(*19). Jaami'ul ‘Uluum wal Hikam (II/271).
(*20). Shahih. HR. Bukhari (no. 6952), at-Tirmidzi (no. 2255), Ahmad (III/99, 201), & lainnya dari Shahabat Anas radhiyallaahu ‘anhu.
[21]. Shahih. HR. Muslim (no. 91) & lainnya dari Shahabat Ibnu Mas'ud radhiyallaahu ‘anhu.
[22]. Diringkas dari Jaami'ul ‘Uluum wal Hikam (II/273-275).
[23]. Shahih. HR. Muslim (no. 2564 (33)), Ahmad (II/539), & lainnya dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu.
[24]. Shahih. HR. Bukhâri (no. 4918, 6071), Muslim (no. 2853)
[25]. Shahih. HR. Bukhâri (no. 5091, 6447). Lihat, Jâmi'ul ‘Ulûm wal Hikam (II/275-278)
[26]. Shahih. HR. Muslim (no. 91)
[27]. Shahih. HR. Bukhâri (no. 1739) dari Ibnu ‘Abbas c .
[28]. Shahih. HR. Abu Dâwud (no. 5004).
[29]. Shahih. HR. Muslim (no. 2589)
(*30). Shahih. HR. Bukhâri (no. 6011), Muslim (no. 2586), & lainnya.

sumber: www.almanhaj.or.id penulis Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas tags:

dalil larangan berbuat hasad dalil nakli tentang bersifat hasad dalil naqli tentang larangan berbuat hazut tuliskan dalil naqli tentang larangan,bersifat hasad,hasud merusak iman dan hasud dapat menghapus kebaikan dalil naqli tentang larangan bersifat hasud, hasud merusak iman dan hasud dapat menghapus kebaikan dalil tentang hasud dalil naqli tentang larangan bersifat hasud.hasud merusak iman dan hasud dapat menghapus kebaikan dalil larangan hasad tuliskan dalil naqli tentang larangan bersifat hasut tuliskan dalil naqli yang melarang manusia untuk berlaku hasad dalil tentang larangan berbuat hasad dalil naqli tentang larangan bersifat hasud sunsetinspirations.com/ larangan- saling- mendengki- 2474.htm dalil naqli tentang larangan hasut dalil naqli tentang larangan bersifat hasad