Koreksi Terhadap Penyimpangan Umat Dalam Bulan Rajab Keutamaan Bulan Rajab

Segala puji hanya milik Allah Rabb semesta alam, nan menurunkan Al Qur'an nan mulia sebagai petunjuk & peringatan bagi seluruh makhluk dari kalangan jin & manusia. Semoga shalawat & salam tetap tercurah kepada Muhammad sebagai utusan Allah & manusia sempurna rohani & akalnya, tinggi kedudukannya serta mulia budi pekerti & akhlaknya, sehingga ucapan & tindakan Beliau menjadi panutan & suri tauladan.

KEMULIAAN BULAN RAJAB
Tidak ada 1 dalilpun nan shahih –yang secara khusus- menyebutkan keutamaan bulan Rajab, sebagaimana telah dituturkan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar dlm kitab Tabyin Al Ujab: “”Tidak ada hadits shahih nan pantas utk dijadikan hujjah dlm masalah keutamaan bulan Rajab, (dengan) puasa di dalamnya & shalat malam khusus pada malam harinya”. Beliau juga berkata: “Sungguh Imam Abu Ismail Al Harawi Al Hafizh telah mendahuluiku menetapkan demikian. Kami meriwayatkan darinya dgn sanad nan shahih. Demikian pula kami meriwiyatkan dari selainnya”.

Demikian pula kalangan ulama kritikus serta para huffazh telah mendahuluinya, diantaranya: Al ‘Allamah Ibnu Qayyim Al Jauziyah (wafat 751 H), beliau berkata di dlm Al Manar Al Munif, hlm. 96: “Setiap hadits nan menyebutkan puasa Rajab & shalat pada sebagian malamnya, maka itu kedustaan nan diada-adakan”.

Al ‘Allamah Al Faqih Majdudin Al Fairuz Abadi (wafat 826 H), beliau berkata di penutup kitab Safar As Sa'adah, hlm. 150: “Dan bab shalat raghaib, shalat nishfu sya'ban, shalat nishfu rajab, shalat iman, shalat malam mi'raj …, bab-bab ini, di dalamnya tak ada sesuatu pun nan sah secara pokok”. Beliau juga berkata: “Bab puasa Rajab & keutamaannya, tak ada satupun nan tsabit, bahkan sebaliknya ada riwayat nan memakruhkannya”.

Meskipun demikian, Rajab memiliki keutamaan; karena Rajab termasuk bulan haram & terhormat, sebagaimana firman Allah.
,
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتَابِ اللهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّماَوَاتِ وَاْلأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ

Sesunguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah 2 belas bulan, dlm ketetapan Allah ketika Dia menciptakan langit & bumi, diantaranya 4 bulan haram…[At Taubah: 36]

Empat bulan haram tersebut adalah Rajab, Dzulqa'dah, Dzulhijjah & Muharram. Diantara 4 bulan itu 3 berurutan (Dzulqa'dah, Dzulhijjah & Muharram), sedangkan Rajab terpisah.

Secara spesifik, tak ada penjelasan tentang keutamaan Rajab. Namun secara umum kemuliaan Rajab masuk ke dlm bulan-bulan nan haram & terhormat di hadapan Allah. Firman Allah Ta'ala.

ذَلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ فَلاَتَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

Itulah (ketetapan) agama nan lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dlm bulan nan 4 itu … [At Taubah: 36].

Qatadah berkata: Amal shalih lebih besar pahalanya pada bulan haram, & melakukan kezhaliman pada bulan itu dosanya lebih besar dibanding pada bulan-bulan selainnya, meskipun kezhaliman di setiap keadaan tetap besar dosanya.

Ibnu Jajir menukil riwayat dari Ibnu Abbas berkata, dia berkata: 4 bulan dikhususkan dlm penghormatan, karena setiap maksiat lebih besar dosanya & setiap amal shalih berpahala lebih besar.

PERANG PADA BULAN RAJAB
Para ulama berselisih dlm mengharamkan perang pada bulan haram. Sebagian berpendapat haram, kemudian di nasakh berdasarkan firman Allah Ta'ala

وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَآفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ كَآفَّةً

“…dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya, sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya… [At Taubah: 36]

Yaitu, secara umum, seolah-olah Allah Ta'ala mengatakan “pada bulan haram maupun bulan lainnya.

Demikian ini adalah pendapat Qatadah, Atha' Al Khurasani, Az Zuhri, Sufyan Ats Tsauri. Mereka berkata: “Sesungguhnya Nabi berperang pada perang Hawazin sambil menusuk dgn tombaknya & mengepung mereka pada bulan Syawal & sebagian bulan Dzulqa'dah”.

Yang lain berpendapat, bahwa hukumnya tak dinasakh. Ibnu Juraij berkata: ‘Atha bin Abi Rabah bersumpah dgn nama Allah Ta'ala, bahwa tak halal bagi manusia berperang di tanah haram & pada bulan haram, kecuali mereka diperangi di dalamnya, & hukum ini tak dinasakh”.

Ibnu Jarir menukil dari Qatadah, dia berkata: “… & janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali mereka memulai mengobarkan peperangan di tempat itu, kemudian Allah menasakh ayat ini dgn firmanNya.

فَإِذَا انْسَلَخَ اْلأَشْهُرُ الْحُرُمُ فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَيْثُ وَجَدْتُمُوْهُمْ

Apabila sudah habis bulan-bulan haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka. [At Taubah: 5].

Dan inilah pendapat Hanafiyah, Thawus & juga Jabir, Mujahid, Ibnu Juraij, sebagai pendapat nan rajih (kuat). Dalam musnad Ahmad 3/334, 345, Tafsir Ibnu Jarir dgn kedua sanadnya dari Jabir, dia berkata: “Rasulullah tak pernah berperang pada bulan haram, kecuali bila diperangi atau Beliau tak berperang hingga bulan-bulan haram berakhir”. Dan inilah pendapat nan dirajihkan oleh Al Alusi di Rauhul Bayan 2/108, Al Qurtubi di Al Jami' Al Ahkam Al Qur'an 2/351, Ar Razi di dlm tafsirnya 5/142, Ibnul ‘Arabi di Al Ahkam 1/108, Al Jashas di Al Ahkam. Dengan demikian kita ini mengetahui bahwa keharaman perang pada bulan haram tetap & tak dinasakh.

NAMA DAN ASAL USUL RAJAB
Rajab berasal dari lafadz tarjib, nan berarti mengagungkan. Dan menurut pendapat mayoritas, lafadz Rajab termasuk musytaq. Ini pendapat nan paling kuat, karena ia bentukan dari: رجب فلانا , artinya dia memuliakan & mengagungkannya karena penghormatan orang Arab kepadanya. Oleh karena itu, Rajab dikatakan al murajab (yang diagungkan, dimuliakan).

Al Qadhi Abu Ya'la berkata: “Dinamakan bulan haram karena mengandung 2 makna. Pertama, diharamkan berperang di dalamnya & orang-orang jahiliyah pun meyakininya pula. Kedua, karena melanggar larangan-larangan pada bulan ini lebih berat dosanya dibanding pada bulan selainnya, demikian pula ketaatan. Dari Zadul Masir, 3/432.

PENYIMPANGAN DALAM MENYAMBUT BULAN RAJAB
1. Menyambut Rajab Dengan Beristighfar.
Sebagian umat Islam menyambut bulan Rajab dgn memperbanyak membaca istighfar, berpegang dgn hadits dari ‘Ali Radhiyallahu 'anhu secara marfu': “Perbanyaklah istighfar pada bulan Rajab, karena Allah setiap saat membebaskan dari neraka pada bulan itu”. Padahal hadits ini dha'if, dikeluarkan Ad Dailami dlm Al Firdaus 1/81 no. 247, & di dalamnya terdapat Asbagh bin Tsubatah, dia seorang perawi nan matruk nan diisyaratkan diucapannya penulis. Lihat Tadzkirah Al Maudhu'at, 116 & Tanzih Asy Syari'ah 2/333.
Diantara bacaan istighfar itu ialah:

أَسْتَغْفِرُ اللهَ ذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ مِنْ جَمِيْعِ الذُّنُوْبِ وَاْلآثَامِ

Aku mohon ampun kepada Allah nan memiliki keagungan & kemuliaan dari segala dosa.

Dari Abdullah Ibnu Abbas bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ الَّذِيْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ تَوْبَةَ عَبْدٍ ظَالِمٍ لِنَفْسِهِ لاَ يَمْلِكُ لِنَفْسِهِ مَوْتًا وَلاَ حَيَاةً وَلاَ نُشُوْرًا, سَبْعَ مَرَّاتٍ, أَوْحَى اللهُ تَعَالَى إِلَى الْمَلَكَيْنِ الْمُوَكَّلَيْنِ بِهِ: أَنْ خَرِّقَا صَحِيْفَةَ ذُنُوْبِهِ.

Aku mohon ampun kepada Allah nan Maha Agung nan tiada Ilah nan berhak disembah selain Dia nan Maha Hidup lagi berdiri sendiri mengurus makhlukNya, & aku bertaubat kepadaNya dgn taubat seorang hamba nan menzhalimi dirinya sendiri nan tak dapat menahan kematian, kehidupan & hari kiamat, sebanyak 7 kali maka Allah akan mewahyukan kepada 2 malaikat nan mewakili degan berfirman: “Bakarlah catatan (lembaran) dosa-dosanya”.

Syaikh Ali Muhammad Qari dlm kitab Al Adab Fi Rajab berkata: “Kita merasa cukup dgn tsabitnya hadits ini, karena perhatian Al Hafizh Ad Damiri dgn menukil dlm tulisannya, dia diam & tak mengomentarinya. Andaikata hadits ini maudhu' (palsu), niscaya dia menerangkannya, karena dia imam di bidang ini & minimal derajatnya dha'if, sedangkan hadits dha'if diamalkan dlm fadhail a'mal sesuai dgn kesepakatan.

Sehingga Syaikh Masyhur Hasan Salman berkomentar: Diamnya Ad Damiri, tak bukan berarti hadits ini menjadi tsabit (sah), apalagi para hufazh & ahli hadits telah menyatakan batilnya seluruh hadits-hadits nan mengkhususkan suatu ibadah pada bulan Rajab.

2. Shalat Raghaib
Adapun tata cara shalat Raghaib sebanyak 12 raka'at dgn 6 kali salam dilaksanakan setelah shalat Maghrib pada Jum'at pertama bulan Rajab, membaca surat Al Qadr 3 kali & Al Ikhlas 12 kali setelah membaca Al Fatihah & setelah selesai, membaca shalawat Nabi 70 kali, kemudian berdo'a dgn do'a nan dia kehendaki, maka rijal haditsnya majhul, & telah dijelaskan oleh para ahli hadits, bahwa ia maudhu' (palsu) (*1).

Orang nan antusias terhadap shalat Raghaib, berpegang dgn hadits dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah bersabda: Janganlah kalian melupakan malam Jum'at pertama dari bulan Rajab, karena malam itu disebut oleh Malaikat dgn Raghaib; maka tidaklah ada seorang nan berpuasa pada hari Kamis pertama dari bulan Rajab, kemudian shalat antara Maghrib dgn Isya' sebanyak 2 belas raka'at, kecuali Allah akan mengampuni dosa-dosanya.

Hadits ini disebutkan secara lengkap bersama tata caranya dlm kitab Al Maudhuaat, karya Ibnul Jauzi. Begitu juga dlm kitab Al Ihya, karya Al Ghazali & Al Hafizh Al Iraqi berkata: “Hadits ini palsu”.

Abu Faraj Ibnul Jauzi berkata: “Ini adalah hadits palsu nan dibuat secara dusta atas nama Rasulullah oleh Ahli Bid'ah nan sangat ektrim, yaitu Ali bin Abdullah Jahdham”.

Abu Syamah berkata: “Diantara (yang menjadi) faktor hadits ini dituduh palsu adalah besarnya pahala nan diobral & janji pengampunan dosa nan fantastis, sehingga membuat orang awam tergiur & meremehkan kewajiban nan asasi. Dalam lafazh hadits terdapat indikasi, bahwa hadits ini palsu, karena waktu shalat ini antara Isya' dgn atamah. & tak mungkin lafazh hadits ini berasal dari Nabi, karena Beliau melarang menamai shalat Isya dgn atamah.

Dan dlm Syarah Muslim, karya An Nawawi disebutkan: Para ulama berhujjah terhadap makruhnya (tidak disukai) shalat Raghaib dgn hadits.

لَا تَخْتَصُّوا لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ بِقِيَامٍ مِنْ بَيْنِ اللَّيَالِي وَلَا تَخُصُّوا يَوْمَ الْجُمُعَةِ بِصِيَامٍ

“Janganlah kamu mengkhususkan malam Jum'at utk shalat, & hari Jum'at utk berpuasa”. (*2)

Dengan demikian shalat Raghaib termasuk bid'ah nan munkar, termasuk bid'ah nan sesat; karena di dalamnya ada kemungkaran nan jelas. Allah memerangi pembuat & penciptanya. Dan sesungguhnya para imam telah menulis karangan-karangan nan bagus dlm menjelaskan keburukan, kesesataan, kebid'ahan & jeleknya dalil-dalil nan dipakai (dan kesalahan serta kesesatan pelakunya) nan jumlahnya lebih banyak dari nan dibatasi.

Pendapat An Nawawi ini juga menyatakan sesat & bodoh kepada orang nan shalat Raghaib pada malam Jum'at, baik sendirian maupun berjama'ah dgn alasan ada anjuran nan membolehkannya. Padahal semua riwayat seputar shalat Raghaib adalah palsu & penuh dgn pendustaan atas nama Rasulullah.

Syaikh Masyhur Salman berkata: Hadits ini maudhu' (palsu) & tak disyari'atkan beribadah kepada Allah dgn hadits maudhu' dlm semua keadaan. Maka shalat Raghaib adalah bid'ah nan sesat, sebagaimana pendapat jumhur ulama & ahli tahqiq diantara mereka.

3. Puasa Pada Hari Jumat Dan Qiyamul Lail Pada Malam Harinya di Bulan Rajab
Ada sebagian orang berpendapat, bahwa para ulama berbeda pendapat dlm memakruhkan pengkhususan hari Jum'at utk berpuasa & qiyamul lail pada malamnya. Sedangkan pendapat nan paling kuat adalah makruh tanzih. Oleh sebab itu, tak boleh mengkhususkan hari Jum'at utk puasa & qiyamul lail & meremehkan malam nan lainnya.

Dalam Jami' Al Ushul, setelah menyebutkan shalat Raghaib beserta tata caranya & berdo'a setelahnya, dinyatakan: “Hadits ini termasuk nan aku temukan di kitab Razin, & aku belum pernah menemukannya dlm salah 1 kutubus sittah, & hadits ini dicela di dalamnya” (*3). Dan nan paling tinggi, hadits ini berstatus dha'if. (*4)

Mereka juga berdalih, bahwa Syaikh Ibnu Shalah memilih pendapat bolehnya shalat tersebut, demikian pula Hujjatul Islam (Al Ghazali, pen. ) dlm Al Ihya & nan lainnya dari para syaikh & ulama.

Cara berdalih seperti itu jelas kurang tepat & salah, apalagi semua ulama sepakat tentang bid'ahnya shalat Raghaib. Semua telah dibantah secara tuntas & jelas oleh ‘Iz bin Abdus Salam, bahwa tak ada 1 dalilpun nan menganjurkan shalat tersebut. Bahkan Abu Syamah Al Maqdisi dlm Al Inshaf telah membuat penilaian secara adil & bijaksana.

Abu Syamah memaparkan hujjah mereka masing-masing, & beliau memberi bantahan tuntas 1 per satu, kemudian membuat kesimpulan secara adil & bijak, bahwa shalat tersebut hukumnya bid'ah, sebagaimana dikatakan oleh muridnya, yaitu Imam Nawawi dlm Al Majmu' 4/56.

Adapun sikap Ibnu Shalah terhadap shalat tersebut sangat goncang & kabur, sebab beliau pernah berfatwa melarangnya, kemudian berbalik membolehkannya. Dan Al ‘Iz telah membuat bantahan nan cukup bagus, bahwa sesungguhnya beliau pernah shalat malam Jum'at mengimami umat manusia, sedangkan manusia tak tahu kalau itu dilarang. Maka dia takut jika melarangnya akan dikatakan “Apakah kamu tak melakukan shalat itu?” Sehingga beliau lebih rela mengikuti hawa nafsu & menganjurkan orang lain utk menganggap baik terhadap sesuatu nan tak dianggap baik oleh syari'at nan suci …

Adapun pernyataan Imam Al Ghazali dlm Al Ihya 1/203 telah dibantah, bahwa beliau sedikit sekali perbendaharaan ilmu haditsnya, sebagaimana dikatakan oleh dirinya sendiri, maka pengukuhan beliau terhadap hadits shalat pada malam Jum'at pertama dari bulan Rajab ini ditolak.

Demikian dikatakan Ath Thurthusi dlm Al Hawadits Wal Bida', hlm. 116-117 & Abu Syamah dlm Al Ba'its, hlm. 33 darinya pula. Apalagi dlm shalat tersebut terdapat sesuatu nan menambahi Al Qur'an & As Sunnah; bahkan sebaliknya banyak dalil-dalil, baik dari Al Qur'an & Sunnah menyelisihi tata cara shalat tersebut.

4. Menyalakan Api Pada Malam Jum'at Dari Bulan Rajab.
Adapun menjadikan malam itu utk berkumpul & menambahkan api atau semisalnya pada saat itu, maka tak diragukan lagi, bahwa itu merupakan bid'ah nan jelek & perbuatan nan munkar; karena di dalamnya terdapat pemborosan harta serta menyerupai para penyembah api.

5. Berkumpul Pada Malam Tanggal 27 Rajab.
Ada sebagian manusia membaca kisah Mi'raj, berdzikir, melakukan ibadah tertentu & berkumpul pada malam 27 Rajab utk merayakannya. Ini merupakan perbuatan bid'ah. Tidak ada satupun dalil nan shahih tentang pembacaan do'a-do'a pada malam-malam bulan Rajab, Sya'ban maupun Ramadhan. Semua adalah karangan manusia & bid'ah. Seandainya hal tersebut baik, sudah pasti para sahabat telah melakukannya terlebih dahulu. Juga tak ada dalil pasti nan menetapkan kapan terjadinya peristiwa Isra', begitu pula bulannya. Permasalahan kepergian & kepulangan Rasulullah dari Isra' dgn kondisi kasur Beliau nan tak dlm keadaan dingin, tak ada dalil nan menerangkannya. Hal ini hanyalah kebohongan belaka.

Benar, ada riwayat bahwa ketika merenovasi bangunan Ka'bah, Abdullah bin Zubair menempatkannya di atas bangunan nan tinggi & selesai menjelang tanggal 27 Rajab melalui malam-malam nan banyak. Dia menyembelih 2 kurban utk orang-orang fakir & miskin, & menyuruh penduduk Makkah ketika itu agar melaksanakan umrah sebagai rasa syukur kepada Allah karena dapat menyempurnakan Baitullah dgn susunan nan disukai Nabi. Meskipun demikian, itu bukan dalil utk membolehkan acara bid'ah pada malam 27 Rajab. Semakin menambah acara tersebut, maka semakin dibenci Allah & RasulNya, terlebih adanya berbagai kemungkaran nan terjadi, yaitu ikhtilath (campur baur antara laki-laki & perempuan), menabuh rebana & menari, serta menyia-nyiakan harta benda.

6. Shalat Pada Malam Isra & Mi'raj
Shalat pada malam Mi'raj, shalat malam Lailatul Qadar, shalat pada setiap malam bulan Rajab, Sya'ban & Ramadhan tak ada satupun nan memiliki dasar nan shahih. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berpendapat: Shalat malam 27 Rajab & shalat malam semisalnya, tak disyari'atkan menurut kesepakatan para ulama, sebagaimana diungkapkan oleh para ulama nan mu'tabar. Tidaklah orang nan menciptakan shalat seperti ini, kecuali orang bodoh & pelaku bid'ah.

Semua isi kisah Mi'raj nan dinisbatkan kepada Ibnu Abbas adalah dusta, kecuali beberapa huruf saja. Kisah anak Sultan, orang nan banyak melakukan dosa & tak shalat kecuali pada bulan Rajab. Ketika meninggal, tampak pada dirinya tanda-tanda orang shalih. Rasulullah menanyakan mengapa hal tersebut bisa terjadi, dijawab: Bahwa orang tersebut bersungguh-sungguh & berdo'a pada bulan Rajab. Kisah ini adalah dusta nan tak boleh dibaca & diriwayatkan. nan sangat mengherankan, sebagian orang nan bergelar ulama menceritakan kisah ini kepada masyarakat.

Adapun hadits nan diriwayatkan oleh Al Hafizh As Suyuti dlm Al Jami' Al Kabir: “Di dlm bulan Rajab terdapat 1 malam, orang nan beramal pada malam itu dicatat baginya 100 kebaikan, & malam itu adalah 3 malam pada akhir bulan Rajab. Maka orang nan shalat 12 raka'at pada malam itu dgn membaca Al Fatihah pada tiap raka'at & (surah lain dari Al Quran, bertasyahud tiap 2 raka'at & salam di akhirnya), & setelah shalat mengucapkan: Subhanallah, walhamdulillah wa laa ilaha illa allah, (Allahu Akbar) 100 kali & (istighfar 100 kali) & membaca Shalawat Nabi 100 kali & berdo'a utk dirinya sesuai nan diinginkannya dari urusan dunia & akhiratnya, & pada waktu paginya berpuasa, maka sesungguhnya Allah akan mengabulkan semua do'anya, kecuali do'a dlm maksiat” (*5). Hadits di atas diriwayatkan oleh Al Baihaqi dari Aban dari Anas dgn isnad nan sangat dha'if. Dan dia menjelaskan di Ihya, bahwa itu adalah shalat malam Mi'raj. (*6)

7. Mengkhususkan Umrah Pada Bulan Rajab.
Tidak ada keutamaan secara khusus umrah pada bulan Rajab dgn bersandar kepada dalil shahih, karena Rasulullah tak pernah mengerjakannya, tak pernah menyetujui salah seorang sahabat nan melakukannya. Dan apabila Beliau menganjurkan umrah pada bulan Rajab secara khusus, maka itu tak tsabit.

Diriwayatkan dari ‘Urwah bin Zubair, dia berkata: “Aku & Ibnu Umar pernah bersandar di pintu kamar ‘Aisyah, & sungguh kami mendengar suara siwaknya”. Dia (Urwah) berkata: Aku bertanya kepada Ibnu Umar,”Wahai, Abu Abdurrahman. Apakah Nabi pernah umrah pada bulan Rajab?” Dia menjawab,”Ya. ” Maka aku bertanya kepada ‘Aisyah,”Wahai, Bunda. Apakah engkau tak mendengar nan telah dikatakan oleh Abu Abdurrahman?” Aisyah menjawab,”Apa nan dikatakannya?” Aku berkata,”Dia mengatakan bahwa Nabi umrah 4 kali. Salah satunya pada bulan Rajab. ” Maka Aisyah berkata,”Semoga Allah mengampuni Abu Abdurrahman. Demi agamaku, tidaklah Beliau umrah pada bulan Rajab, & tidaklah Beliau umrah pada salah 1 umrahnya, kecuali dia bersamanya. [Beliau tak umrah pada bulan Rajab saja]. ” Dia (Urwah) berkata,”Ibnu Umar mendengar, tetapi dia tak berkata ‘ya' ataupun ‘tidak', bahkan diam. “(*7)

Ini menunjukkan keraguan Ibnu Umar, sehingga sama saja baginya, baik dia mencabut kembali perkataannya ataupun tidak. Sesungguhnya dia menyendiri, maka perkataannya syadz lagi munkar, tak disepakati oleh seorang pun sahabat nan mulia & tak pula oleh para imam nan alim.

8. Puasa Pada Bulan Rajab.
Kalangan ulama kritikus serta para huffazh telah mendahuluinya juga, diantaranya Al ‘Allamah Ibnu Qayyim Al Jauziyah (wafat 751 H). Beliau berkata di dlm Al Manar Al Munif, hlm. 96: “Setiap hadits nan menyebutkan puasa Rajab & shalat pada sebagian malamnya, maka itu (merupakan) kedustaan nan diada-adakan”.

Al ‘Allamah Al Faqih Majdudin Al Fairuz Abadi (wafat 826 H). Beliau berkata di penutup kitab Safar As Sa'adah, hlm. 150: “Dan bab shalat Raghaib, shalat Nishfu Sya'ban, shalat Nishfu Rajab, shalat Iman, shalat malam Mi'raj, … bab-bab ini -di dalamnya- secara pasti tak ada sesuatu pun nan sah”. Dan beliau juga berkata: “Bab puasa Rajab & keutamaannya, tak ada sesuatu pun nan tsabit, bahkan sebaliknya ada riwayat nan memakruhkannya”.

Imam Suyuti berkata di dlm Al Amru Bil Ittiba' Wa nahyu ‘Anil Ibtida', lembaran 14 / 1: Asy Syafi'i t berkata,”Aku membenci seorang laki-laki nan menjadikan puasa (Rajab) sebulan penuh sebagaimana puasa Ramadhan. Demikian pula puasa sehari diantara hari-hari nan lainnya. “

Abu Al Khatab menyebutkan di dlm kitab Ada'u Ma Wajaba Fi bayani Wadh'i Al Wadhi'in Fi Rajab, dari orang kepercayaan, Ibnu Ahmad As Saji Al Hafizh, beliau berkata,”Imam Abdullah Al Anshari, syaikh negeri Khurasan tak pernah puasa Rajab, bahkan melarangnya. Beliau berkata,'Tidak ada sesuatu pun nan sah datang dari Rasulullah tentang keutamaan Rajab & puasa padanya'. “

Beliau berkata,”Sesungguhnya para sahabat membenci puasa Rajab. Diantara mereka adalah Abu Bakar & Umar Radhiyallahu 'anhuma. Umar pernah mengumpamakan orang nan sering puasa Rajab seperti dirrah (susu nan melimpah-limpah, lihat Mukhtarush Shihah, pent. ).

Aku berkata: Permisalan Umar ini terdapat di dlm Al Mu'jam Al Ausath, karya Thabrani & di dalamnya ada orang nan bernama Al Hasan bin Jabalah. Al Haitsami berkata di dlm Al Majma' 13/191,”Aku belum pernah menemukan orang nan menyebutkannya, & rijal hadits nan lainnya tsiqah. “

Menurut Ibnu Wadhah dlm Al Bida' hlm. 44 & Al Faqihi dlm Kitabu Makkah, sebagaimana dikatakan oleh Abu Syamah Al Maqdisi dlm Al Ba'its ‘Ala Inkar Al Bida' Wal Hawadits, hlm. 49. Beliau berkata juga: “Abu Utsman Sa'id bin Mansur menyandarkannya kepada imam nan disepakati keadilannya & disepakati mengeluarkan & meriwayatkannya,” & beliau berkata: “Ini adalah sanad nan para perawinya disepakati keadilannya”.

Ath Thurtusi dlm Al Hawadits Wal Bida', hlm. 129 & Abu Syamah dlm Al Ba'its, hlm. 49 menukil kebencian Abu Bakar pada puasa Rajab.

Sebagai pelengkap, kami sampaikan ucapan Imam Abdullah Al Anshari, menukil dari Asy Suyuthi rahimahullah Ta'ala: “Jika dikatakan puasa Rajab adalah amalan nan baik, maka katakan padanya, mengamalkan kebaikan hendaknya sesuai nan disyari'atkan Rasulullah. Bila kita ini tahu, bahwa itu dusta atas nama Rasulullah, maka itu keluar dari nan disyari'atkan, & mengagungkannya termasuk perkara jahiliyah, sebagaimana kata Umar. Umar pernah memukul rajabiyyin, yaitu orang-orang nan berpuasa Rajab. Adapun Ibnu Abbas, seorang ulama Al Qur'an membencinya juga. Dan dikeluarkan oleh Abdurrazaq di dlm Mushannaf 4/292, dari Atha' dari Ibnu Abbas, bahwa dia membenci seluruh puasa Rajab, agar tak dijadikan hari raya. Isnadnya shahih, sebagaimana dikatakan Ibnu Hajar dlm Tabyin Al Ajab, hlm. 65, 66 – Al Misriyyah.

As Suyuti berkata juga: Biasanya bila Ibnu Umar melihat manusia & apa nan mereka siapkan utk bulan Rajab, (maka) beliau membencinya. Beliau berkata,”Berpuasalah pada bulan Rajab & berbukalah, karena dia adalah bulan nan dahulu dimuliakan kaum jahiliyyah”.

At Turthusi dlm Al Hawadits Wal Bid'ah, hlm. 129 & Abu Syamah di dlm Al Ba'its, hlm. 49 menyebutkan atsar Ibnu Umar ini. Dan di hlm. 130-131 berkata,”Puasa Rajab dibenci berdasarkan salah 1 dari 3 segi. Salah satunya adalah bila orang-orang mengkhususkannya dgn puasa pada setiap tahun, maka orang-orang awam nan tak tahu akan menyangka (bahwa) itu wajib seperti puasa Ramadhan, atau mungkin sunnah nan tetap nan dikhususkan Rasulullah utk berpuasa, seperti sunnah-sunnah rawatib. Dan bisa jadi, puasa itu ditentukan karena keutamaan pahalanya dibanding seluruh bulan, sebagaimana puasa ‘Asy Syura, maka puasa itu dianggap ada karena ada keutamaannya, bukan hanya karena sisi sunnah atau wajibnya.

Andaikata hal ini terjadi karena ada keutamaannya, tentu Rasulullah telah menjelaskan atau Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah melakukannya, meskipun sekali seumur hidupnya, sebagaimana Beliau pernah melakukan puasa ‘Asy Syura. Dan (dalam masalah ini) Beliau tak pernah melakukanya, sehingga batallah anggapan keberadaan puasa itu, dikarenakan tak ada keutamaannya. Secara ittifaq, itu bukan fardhu & bukan pula wajib. Dan secara khusus, tak ada dalil nan menetapkan anjuran puasa Rajab. Dengan demikian, berpuasa Rajab berarti melakukan secara terus-menerus suatu perkara nan dibenci.

Meskipun begitu, orang-orang nan berpuasa Rajab masih memiliki dalih, bahwa mengamalkan hadits dha'if dlm keutamaan amal diperbolehkan, karena para ulama ahli hadits & ahli ilmu bersikap toleran dlm mendatangkan hadits-hadits dha'if nan berkaitan dgn keutamaan amal.

Pernyataan tersebut terbantahkan dgn dalil sebagai berikut: “Sesunguhnya ulama Ahli Hadits toleran dlm mengamalkan hadits-hadits dha'if, dlm keutamaan amal dgn beberapa syarat(*9). Diantaranya, nan paling penting adalah hendaknya harus dijelaskan sisi kelemahannya, & hadits tersebut tak maudhu', supaya orang nan mengamalkannya tak membuat syari'at baru, seperti hadits puasa Rajab, sebagaimana dikatakan Ibnu Qayyim, Fairuz Abadi, Al Hafizh Ibnu Hajar Al ‘Asqalani, Al Hafizh Abdullah Al Anshari, Ibnu Hammat Ad Dimasqi & Ibnu Rajab di dlm Lathaiful Ma'arif, hlm. 123-127, & Abu Hafs Al Mushuli di dlm Al Mughni ‘Anil Hifzhi Wal Kitab, hlm. 371 & disetujui oleh Abu Ishaq Al Huwaini dlm kritikannya, yaitu Junnatul Murtab, & selain mereka.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun VIII/1425H/2004. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondanrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]

Referensi
(*1). Lihat kebid'ahannya di Al Inshaf 5 Fi Shalat Ar Raghaib Minal Ikhtilaf, karya Abu Syamah Al Maqdisi. Dia memasukkannya dgn lengkap dlm Al Ba'its ‘Ala Inkari Al Bida' Wal Hawadits & Musajalah ‘Ilmiyyah Baina Al Imamaini Al ‘Iz bin Abdul Salam Wa Ibnu Ash Shalah & Iqtidha Ash Shirat Al Mustaqim, hlm. 283; Al Madkhal, 1/193; Tabyin ‘Al Ajab Fi Fadhli Rajab, hlm. 47 – Al Misyriyah; Fatawa An Nawawi, hlm. 26; Majmu' Fatawa Ibnu Taimiyah, 212; As Sunan Al Mubtadi'at, hlm. 140; Al Maudhu'at, 2/124; Al Laliu Al Masnu'ah, 2/57; Tanzih Asy Syari'ah, 2/92; Al Majmu', 4/56; Safar As Sa'adah, hlm. 150 & Al Amru Bi Al Ittiba', lembar 15/1
(*2). Dikeluarkan Al Bukhari dlm Ash Shahih, 4/232 no. 1985; Muslim dlm Ash Shahih, 2/801 no. 1144; Ahmad dlm Al Musnad, 2/495; At Tirmidzi dlm Al Jami', 12312 no. 740, An Nasa'i dlm As Sunan Al Kubra, sebagaimana di dlm Tuhfah Al Asyraf, 10/351; Ibnu Majah dlm As Sunan, 1/549 no. 1723; Al Baihaqi dlm As Sunan Al Kubra, 4/302; At Thahawi dlm Syarhu Ma'ani Al Atsari, 2/78.
(*3). Jami' Al Ushul 6/154 & dia menisbatkannya ke Razin Al ‘Iraqi dlm Takhrij Ahadits Al Ihya, 1/203, & dia berkata: maudhu'.
(*4). Perkataan Ibnu ‘Atsir ini tak bermanfaat, bagaimana sedangkan banyak para ulama nan mu'tabar menyatakan bid'ah & palsunya shalat raghaib.
(*5). Dikeluarkan Al-Baihaqi di (Asy-Syu'ab) 1/19/ أ & dia berkata: ini lebih dha'if dari nan sebelumnya. Dan As-Suyuti menyandarkan kepadanya di (Ad-Duru Al-Mansur) 3/236 & (Al-Jami' Al-Kabir) no. 35170-bersama urutannya-Kanzu Al-‘Amal & Ibnu Hajar di (Tabyin Al-‘Ajab) no. 25 & dia mendha'ifkanya.
(*6). Yaitu shalat nan bid'ah, tak ada di dlm sunnah nan shahih, sebagaimana dijelaskan Fairuz Abadi (Khatimah Safar As-Sa'adah ) hal. 150, & Al-‘Iraqi (Takhrij Al-Ihya) &Ibnu Hammad Ad-Dimasqi.
(*7). Dikeluarkan Al-Bukhari (Ash-Shahih) 3/599-600 no. 1775 & 1776, Muslim (Ash-Shahih) 2/916 no. 1255 & selain keduanya.
(*8). Berkata Ibnu Al-Jauzi di dlm (Musykilnya): “Diamnya Ibnu Umar tak lepas dari 2 keadaan: mungkin dia syak (ragu) maka diam atau dia menyebutkan setelah lupa maka dgn diamnya itu dia kembali kepada perkataannya. Dan ‘Aisyah telah mengoreksi dgn koreksi nan baik.
Dan Anas berkata: “Rasulullah umrah 4 kali, semuanya di bulan Dzulqa'dah”. Dan hadits ini menunjukkan kuatnya hafalan ‘Aisyah & pemahamannya nan bagus.
Az-Zarkasi menukilnya di (Al-Ijabah) hal. 94 cet. Al-Maktab Al-Islami – Beirut.
(*9). Disebutkan Ibnu Hajar di Tabyin al-ajab hal. 21 – Misriyyah & As-Sakhawi menukilnya di Al-Qaul al-Badi' hal. 258 & Al-Albani menta'liqnya di Shahih Al-Jami'As-Shaghir 1/48-51 & di Muqaddimah Shahih At-Targhib wa At-Tarhib 1/24-28 dgn panjang lebar ,rinci & penting serta bermanfaat.
sumber: www.almanhaj.or.id penulis Ustadz Zainal Abidin Syamsuddin tags: Keutamaan Bulan Rajab, Puasa Rajab, Al Qur

istighfar rajab istigfar rajab sahih kah hadist nabi tentang doa istighfar rajab istigfarrajab.com istighfar rajab hadis shoheh atau apa istigfar rojab pidato koreksi terhadap bulan rajab keutamaan istigfar rajab keutamaan istigfar rajab keutamaan istigfar rajab istighfar bulan rajab dalil shohih istighfar rajab istifar rojab pendapat para ulama mengenai istighfar rojab keutamaan istighfar rajab