Kekejaman Kaum Syi'ah Terhadap Ahlu Sunnah Islam Dua

AHLU SUNNAH MENJADI INCARAN GOLONGAN LAIN
Benteng kaum Muslimin diserang dari dalam, kira kira begitulah ungkapan nan dirasakan umat ini atas kejahatan ahli bid'ah khususnya Syiah terhadap Islam, Sunnah & Ahlu Sunnah. Pengkhianatan & kekejaman nan dilakukan oleh ahli bid'ah terhadap Islam & kaum Muslimin sangat banyak terjadi. Ini tak lain dilandasi oleh keyakinan mereka nan mengkafirkan & menghalalkan darah orang-orang nan berada di luar kalangan mereka. Kurangnya penghormatan mereka terhadap kehormatan, harta & darah kaum Muslimin & kesembronoan mereka dlm menjatuhkan vonis kafir terhadap siapa saja nan tak sepaham menjadi alasan mereka melakukan semua itu.

Tercatat di awal sejarah Islam 2 kelompok bid'ah nan melakukannya, yaitu, Syiah & Khawârij. Akibat dari tindakan pengkhianatan mereka tersebut banyak Sahabat Nabi Radhiyallahu 'anhum nan terbunuh. Mereka tak segan-segan menghalalkan darah Sahabat Radhiyallahu a'nhum, para Ulama & orang shalih dgn alasan nan mengada-ada tanpa rasa takut & rasa malu sedikit pun terhadap Allâh Azza wa Jalla.

Sejak awal kemunculan kelompok-kelompok bid'ah ini selalu nan menjadi incaran & targetnya adalah Ahlu Sunnah. Kelompok-kelompok bid'ah itu rela melupakan perbedaan-perbedaan di antara mereka walaupun dlm masalah nan prinsipil utk bekerja sama dlm mematikan Sunnah & menghancurkan Ahlu Sunnah, begitulah sejarah berbicara. Khususnya pada abad ke-4 Hijriyah ketika mulai berdirinya daulah Syiah di beberapa wilayah, terutama di daerah-daerah pegunungan. Seiring dgn semakin gencarnya gerakan dakwah mereka ditambah lagi semakin lemahnya daulah Ahlu Sunnah pada masa itu.

SYIAH, MUSUH DALAM SELIMUT
Imam Ibnu Katsîr rahimahullah telah menjelaskan fenomena ini dlm kitabnya ketika menyebutkan biografi salah seorang tokoh Syiah yaitu Ibnu Nu'mân: “Ibnu Nu'mân ini adalah seorang tokoh Syiah & pembela mereka. Ia punya kedudukan di kalangan penguasa-penguasa daerah karena mayoritas penduduk di daerah-daerah tersebut pada masa itu mulai condong kepada tasyayyu' (Syi'ah). Di antara muridnya adalah asy-Syarîf ar-Râdhi & al-Murtadhâ. “(*1)

Beberapa sekte, seperti Ismâ'îliyah, Buwaihiyah, Qarâmithah & lain-lainnya memakai jubah Syiah ini utk meraih tujuannya. Contoh kasusnya adalah nan terjadi di Afrika utara, salah seorang juru dakwah Syiah nan bernama Husain bin Ahmad bin Muhammad bin Zakariya ash-Shan'âni nan berjuluk Abu ‘Abdillâh asy-Syî'i masuk ke wilayah Afrika seorang diri tanpa harta & tanpa 1 pun orang nan mendampinginya. Ia terus melakukan kegiatan dakwah di sana hingga ia berhasil menguasainya. (*2)

Abu ‘Abdillâh asy-Syîi'i inilah nan berhasil meyakinkan kaum Muslimin utk menerima ‘Ubaidullâh al-Qaddah sebagai imam dakwah sehingga mereka membaiatnya. Lalu ‘Ubaidullâh ini menggelari dirinya sebagai al-Mahdi & mendirikan daulah ‘Ubaidiyah nan kemudian lebih dipopulerkan dgn sebutan sebagai daulah Fâthimiyyah. Padahal pada hakekatnya merupakan daulah nan beraliran bathiniyah.

Di antara kejahatan nan dilakukan oleh ‘Ubaidullâh ini, suatu kali kudanya masuk ke dlm masjid. Lalu rekan-rekannya ditanya tentang hal itu, mereka menjawab, “Sesungguhnya kencing & kotoran kuda itu suci, karena ia adalah kuda al-Mahdi (yakni ‘Ubaidullâh). Pengurus masjid mengingkari hal itu. Maka mereka pun membawanya ke hadapan ‘Ubaidullâh al-Mahdi, & akhirnya ia menghabisi pengurus masjid tersebut. Ibnu ‘Adzâra t berkata,”Sesungguhnya di akhir hayatnya ‘Ubaidullâh ini ditimpa sebuah penyakit nan mengerikan yaitu adanya cacing nan keluar dari duburnya & kemudian memakan kemaluannya. Begitulah keadaannya hingga kematian merenggutnya. ” (*3)

Abu Syâmah rahimahullah berkomentar tentang ‘Ubaidullâh ini dgn berkata, “Ia adalah seorang zindiq (kafir), khabîts (sangat buruk), & merupakan musuh Islam. Menunjukkan diri sebagai Syiah & berupaya keras utk menghilangkan agama Islam. Ia banyak membunuh Fuqahâ', ahli hadits, orang orang shalih & banyak manusia lainnya. Anak keturunannya tumbuh dgn pola pikir seperti itu & apabila ada kesempatan mereka akan menunjukkan taringnya, jika tak maka mereka akan menyembunyikan diri. ” (*4)

Adz-Dzahabi rahimahullah berkata, “Duhai kiranya kalau ia hanya seorang penganut Syiah saja, tetapi ternyata di samping itu ia juga seorang zindiq. ” (*5)

Para ulama nan telah mereka bunuh di antaranya adalah Abu Bakar an-Nâbilisi, Muhammad bin al-Hubulli, Ibnu Bardûn nan dibunuh oleh Abu ‘Abdillâh asy-Syî'i. Sementara Ibnu Khairûn Abu Ja'far Muhammad bin Khairûn al-Mu'âfiri tewas di tangan ‘Ubaidullâh al-Mahdi.

Di antara penguasa mereka nan telah banyak membunuh para Ulama adalah al-‘Adhid, penguasa terakhir Bani ‘Ubaid. Ibnu Khalikân rahimahullah berkata tentang orang ini, “al-‘Adhid ini orang nan sangat kental Syi'ahnya, sangat keterlaluan dlm mencaci maki Sahabat Nabi, apabila ia melihat seorang Sunni (Ahlu Sunnah), ia menghalalkan darahnya. ” (*6)

Salah 1 sekte nan menimpakan berbagai bala terhadap Ahlu Sunnah adalah Buwaihiyah. Sekte ini dinisbatkan kepada Buwaihi bin Fannakhasru ad-Dailami al-Fârisi. Berkuasa di Irak & Persia lebih kurang 1 abad ketika kekhalifahan ‘Abbasiyah sedang melemah di Baghdad. Sekte ini juga menunjukkan kefanatikannya kepada ajaran Syi'ah. Bahkan mereka memotivasi orang orang Syiah di Baghdad utk melakukan tindakan-tindakan perlawanan terhadap Ahlu Sunnah. Hampir tiap tahun terjadi pertikaian & benturan-benturan antara kaum Syiah & Ahlu Sunnah. Sehingga banyak korban jiwa jatuh & menimbulkan kerugian materiil nan besar, toko-toko & pasar-pasar dibakar. Untuk menunjukkan hegemoni & dominasi mereka atas Ahlu Sunnah, pada tahun 351H kaum Syiah di Baghdad dgn dukungan dari Mu'izzud Daulah mewajibkan masjid-masjid utk melaknat Mu'awiyah Radhiyallahu 'anhu & 3 Khalifah Râsyid (Abu Bakar, ‘Umar & ‘Utsman Radhiyallahu 'anhum ). Sebuah ketetapan nan tak mampu dicegah oleh kekhalifahan ‘Abbasiyah. (*7)

Bahkan pada tahun 352 H, Mu'izzud Daulah menyuruh kaum Muslimin utk menutup toko-toko mereka, mengosongkan pasar, meliburkan jual-beli & menyuruh mereka utk meratap. Para wanita disuruh keluar tanpa penutup kepala & wajah dicoreng-moreng, lalu berkeliling kota sambil meratap & menampar-nampar pipi atas kematian Husain bin ‘Ali Radhiyallahu 'anhuma. Maka kaum Muslimin pun melakukannya, sementara Ahlu Sunnah tak mampu mencegahnya karena banyaknya jumlah kaum Syiah & kekuasaan kala itu berada di tangan mereka (di tangan kaum Buwaihiyyun). (*8) Sehingga Imam adz-Dzahabi rahimahullah sampai berkomentar, “Sungguh telah terlantar urusan agama Islam dgn berdirinya daulah Bani Buwaihi & Bani ‘Ubaid nan bermadzhab Syiah ini. Mereka meninggalkan jihad & mendukung kaum Nasrani Romawi & merampas kota Madâin. ” (*9)

Di antara sekte Syiah adalah Syiah Ismâ'iliyah. Setelah wafatnya Ja'far bin Muhammad ash-Shâdiq, kaum Syiah terpecah 2 kelompok. 1 kelompok menyerahkan kepemimpinan kepada anaknya, yaitu Mûsâ al-Kâzhim, mereka inilah nan kemudian disebut Syiah Itsnâ ‘Asyariyah (aliran Syiah nan meyakini adanya imam nan berjumlah 2 belas orang, red). Dan 1 kelompok lagi menyerahkan kepemimpinan kepada anaknya nan lain, yaitu Ismâ'il bin Ja'far, kelompok ini kemudian dikenal sebagai Syiah Ismâ'iliyah. Kadang kala mereka dinisbatkan kepada madzhab bathiniyah & kadang kala dikaitkan juga dgn Qarâmithah. Akan tetapi, mereka lebih senang disebut Ismâ'iliyah. (*10) Adapun Qarâmithah sendiri adalah penisbatan kepada Hamdân Qirmith. Kemudian pengikut-pengikutnya dikenal dgn sebutan Qarâmithah. Di antara tokoh mereka nan menimpakan fitnah besar terhadap kaum Muslimin adalah Abu Thâhir Sulaimân bin Hasan al-Janâbi.

Mereka inilah nan bersekutu bersama kaum Nasrani & Tatar utk melawan Islam & kaum Muslimin. Ketika mereka sudah memiliki kekuatan & berhasil mendirikan daulah Bahrain, mereka melakukan aksi-aksi nan membuat bulu kuduk merinding; berupa perampasan, pembunuhan & pemerkosaan. Bahkan kekejaman seperti itu tak pernah dilakukan oleh bangsa Tatar maupun kaum Nasrani sekalipun. Pada tahun 312 H, mereka menghadang kafilah haji nan hendak kembali ke Irak. Mereka merampas kendaraan kafilah itu, bekal-bekal & harta benda nan mereka bawa, & meninggalkan rombongan haji begitu saja sehingga kebanyakan dari mereka mati kehausan & kelaparan. (*11)

Dan pada tahun 317 H, mereka menyerang jamaah haji di Masjidil Harâm, & membunuhi para jamaah nan berada dlm masjid lalu membuang mayat mayat ke sumur Zamzam. Mereka membunuh orang orang di jalan-jalan kota Mekah & sekitarnya. Jumlah korbannya mencapai 3 puluh ribu jiwa. Bahkan ia merampas kelambu Ka'bah & membagi-bagikannya kepada pasukannya. Ia menjarah rumah-rumah penduduk Mekah & mencungkil Hajar Aswad dari tempatnya utk ia bawa ke Hajar (ibukota daulah mereka di Bahrain). (*12)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah merekam kekejaman nan dilakukan oleh Abu Thâhir al-Janâbi al-Bâthini ini dgn berkata, “Ia menjarah harta penduduk Mekah & menghalalkan darah mereka. Ia membunuhi manusia di rumah-rumah mereka hingga nan berada di jalan-jalan. Bahkan menjagal banyak jamaah haji di Masjdil Haram & di dlm Ka'bah. Lalu pemimpin mereka, yakni Abu Thâhir –semoga Allâh Azza wa Jalla melaknatnya- duduk di pintu Ka'bah, sementara orang-orang disembelihi di hadapannya & pedang-pedang berkelebatan membantai orang-orang di Masjidil Haram pada bulan haram (suci) di hari Tarwiyah nan merupakan hari nan mulia. Sementara Abu Thâhir ini berseru, ” Aku adalah Allâh, Allâh adalah aku. Aku menciptakan makhluk & akulah nan mematikan mereka.

Orang-orang pun berlarian menyelamatkan diri dari kekejaman Abu Thâhir ini. Di antara mereka bahkan ada nan bergantung pada kelambu Ka'bah. Namun itu tak menyelamatkan jiwa mereka sedikit pun. Mereka tetap ditebas habis dlm keadaan seperti itu. Mereka dibunuhi meskipun mereka sedang bertawaf…”

Beliau melanjutkan, “Setelah pasukan Qarâmithah ini melakukan aksi brutal mereka itu –semoga Allâh melaknat mereka- & perbuatan keji mereka terhadap para jamaah haji, Abu Thahir ini menyuruh pasukannya agar melemparkan mayat-mayat nan tewas ke sumur Zamzam. Dan sebagian lain dikubur di tempat-tempat mereka di tanah haram bahkan di dlm Masjidil Haram. Lalu kubah sumur Zamzam pun dirobohkan. Kemudian Abu Thâhir memerintahkan agar mencopot pintu Ka'bah, melepaskan kelambunya, utk ia koyak-koyak & bagikan kepada pasukannya. “(*13)

Dan jangan lupa juga pengkhianatan mereka terhadap Khalifah al-Musta'shim billâh nan dilakoni oleh Muhammad bin al-Alqami & Nâshiruddîn ath-Thûsi, nan anehnya kedua orang ini dianggap pahlawan oleh orang-orang Syi'ah.

Keruntuhan kota Baghdad nan kala itu merupakan ibukota Daulah Abbasiyah di tangan pasukan Tatar tak lepas dari konspirasi nan dilakukan oleh Ibnul Alqami & ath-Thûsi. Hal ini didorong dendam kesumat Ibnul Alqami ini terhadap Ahlu Sunnah. Pasalnya, pada tahun 656 H terjadi peperangan hebat antara Ahlu Sunnah & Syiah nan berujung dgn takluknya kota Karkh nan merupakan pusat kegiatan kaum Syiah & beberapa rumah sanak keluarga al-Alqami menjadi korban penjarahan. Ia sangat berambisi meruntuhkan kekuatan Ahlu Sunnah & menggunakan segala cara utk mencapai tujuannya, walaupun harus bersekutu dgn pasukan musuh & berkhianat terhadap khalifah. Hal itu ia lampiaskan ketika ia memegang jabatan kementrian bagi Khalifah al-Musta'shim billâh, ia memberi jalan bagi pasukan Tatar utk masuk Baghdad. Peristiwa itu terjadi pada tahun 656 H. Ketika Hulago Khan & pasukannya nan berjumlah 2 ratus ribu personil mengepung Baghdad & menghujani istana khalifah dgn anak panah. Pengamanan sekitar istana saat itu lemah karena sebelum terjadinya peristiwa ini, Ibnul Alqami secara diam-diam telah mengurangi jumlah personil tentara khalifah dgn cara memecat sejumlah besar perwira & mencoret nama mereka dari dinas ketentaraan. Pada masa kekhalifahan sebelumnya, yaitu Khalifah al-Mustanshir, jumlah pasukan mencapai 100. 000 personil. Sementara pada masa al-Musta'shim billâh jumlahnya menyusut menjadi 10. 000 personil saja. Kemudian Ibnul Alqami ini mengirim surat rahasia kepada bangsa Tatar & memprovokasi mereka utk menyerang Baghdad. Ia sebutkan dlm surat rahasia itu kelemahan angkatan bersenjata Daulah Abbasiyah di Baghdad. Itulah sebabnya bangsa Tatar dgn sangat mudah dapat merebutnya. Ketika pasukan Tatar mulai mengepung Baghdad sejak tanggal 12 Muharram 656 H, saat itulah Ibnul Alqami melakukan pengkhianatannya utk kesekian kali. Dialah orang pertama nan menemui pasukan Tatar. Lalu ia keluar bersama keluarganya, pembantu serta pengikutnya pada saat-saat kritis itu utk menemui Hulago Khan & mendapat perlindungan darinya. Kemudian ia membujuk Khalifah agar ikut keluar bersamanya menemui Hulagokan utk mengadakan perdamaian, yaitu memberikan separoh hasil devisa negara kepada bangsa Tatar.

Maka berangkatlah Khalifah bersama para qadhi, Fuqâha', tokoh-tokoh negara & masyarakat serta para pejabat tinggi negara lainnya dgn 700 kendaraan. Ketika sudah mendekati markas Hulago Khan, mereka ditahan oleh pasukan Tatar & tak diizinkan menemui Hulago Khan kecuali hanya Khalifah bersama 17 orang saja. Permintaan ini dipenuhi oleh Khalifah. Ia berangkat bersama 17 orang sementara nan lain menunggu. Sepeninggal Khalifah, sisa rombongan itu dirampok & dibunuh oleh pasukan Tatar. Selanjutnya Khalifah dibawa ke hadapan Hulago Khan seperti seorang pesakitan nan tak berdaya Kemudian atas permintaan Hulago Khan, Khalifah kembali ke Baghdad ditemani oleh Ibnul Alqami & Nâshiruddîn ath-Thûsi. Di bawah rasa takut & tekanan nan hebat, Khalifah mengeluarkan emas, perhiasan & permata dlm jumlah nan sangat banyak. Namun tanpa disadari oleh Khalifah, para pengkhianat dari Syiah ini telah membisiki Hulago Khan agar menampik tawaran damai dari Khalifah. Ibnul Alqami ini berhasil meyakinkan Hulago Khan & membujuknya utk membunuh Khalifah. Dan tatkala Khalifah kembali dgn membawa perbendaharaan negara nan banyak utk diserahkan, Hulago Khan memerintahkan agar Khalifah dieksekusi. Dan nan mengisyaratkan utk membunuh Khalifah adalah Ibnul Alqami & ath-Thûsi.

Dengan terbunuhnya Khalifah pasukan Tatar leluasa menyerbu Baghdad tanpa perlawanan berarti. Maka jatuhlah Baghdad ke tangan musuh. Dilaporkan bahwa jumlah orang nan tewas saat itu lebih kurang 2 juta orang. Tidak ada nan selamat kecuali Yahudi, Nashrani & orang-orang nan meminta perlindungan kepada pasukan Tatar, atau berlindung di rumah Ibnul Alqami & orang-orang kaya nan menebus jiwa mereka dgn menyerahkan harta kepada pasukan Tatar. (*14)

SEBUAH PELAJARAN BERHARGA
Melalui rekaman sejarah nan telah dipaparkan Ulama, menyerahkan amanat & jabatan kepada kaum Syiah merupakan tindakan bunuh diri nan membahayakan umat. Karena sejarah telah membuktikan pengkhianatan nan mereka lakukan terhadap kaum Muslimin, khususnya kepada Ahlu Sunnah.

Al-Baghdâdi rahimahullah telah menjelaskan secara ringkas permusuhan kaum Syiah Bathiniyah ini terhadap Islam & kaum Muslimin. Beliau berkata, “Ketahuilah –semoga Allâh membuatmu bahagia- sesungguhnya bahaya nan ditimbulkan oleh kaum Bathiniyah terhadap kaum Muslimin lebih besar daripada bahaya nan ditimbulkan oleh kaum Yahudi, Nashrani maupun Majusi. Bahkan lebih besar daripada kaum Dahriyah (atheis) serta kelompok-kelompok kafir lainnya. Bahkan lebih besar daripada bahaya nan ditimpakan oleh Dajjal nan muncul di akhir zaman. Karena orang orang nan tersesat akibat dakwah Bathiniyah ini sejak awal mula munculnya dakwah mereka sampai hari ini lebih banyak daripada orang-orang nan disesatkan oleh Dajjal pada waktu munculnya nanti. Karena fitnah Dajjal tak lebih dari 4 puluh hari, sementara kejahatan kaum Bathiniyah ini lebih banyak lagi daripada butiran pasir & tetesan hujan. ” (*15)

Kaum Bathiniyah ini sengaja memilih ajaran Syiah sebagai alat utk beraksi karena adanya kecocokan dgn ambisi & keinginan mereka. Karena mereka tak menemukan jalan masuk kepada Islam kecuali dgn menampakkan ajaran Syiah ini & menisbatkan diri kepada agama Syiah. Abu Hamid Al-Ghazâli rahimahullah mengungkapkan, “Telah sukses diadakan pertemuan di antara pengikut-pengikut ajaran Majusi & Mazdakiyah dari kalangan kaum Tsanawiyah nan mulhid (kafir) serta sekelompok besar kaum filsafat mulhid –ad-Dailami menambahkan- & sisa-sisa pengikut ajaran Kharamiyah serta kaum Yahudi. Mereka disatukan dgn 1 slogan yaitu membuat tipu daya utk menolak Islam. Mereka berkata, “Sesungguhnya Muhammad telah mengalahkan kita ini & menghapus agama kita. Carilah sekutu utk menghadapinya karena kita ini tak mampu secara frontal utk menghadapi mereka. kita ini tak bisa berhasil merebut kekuasaan nan ada di tangan kaum Muslimin dgn senjata & peperangan. Karena kekuatan mereka & banyaknya personil pasukan mereka. Demikian pula kita ini tak mampu utk beradu argumentasi dgn mereka karena mereka memiliki Ulama, fudhala' & ahli tahqiq. Tidak ada cara kecuali melakukan makar & tipu daya. Kemudian mereka membuat rancangan & program utk mencapai tujuan ini. Dan di antara cara nan mereka tempuh adalah masuk ke tengah kaum Muslimin melalui jalan tasyayyu' (ajaran Syi'ah). Walaupun mereka juga menganggap bahwa kaum Syiah ini sesat, hanya saja mereka itu adalah orang nan paling dangkal akalnya, paling konyol logikanya, paling mudah utk menerima perkara-perkara nan mustahil, paling percaya dgn riwayat-riwayat dusta nan mereka buat, serta nan paling mudah utk menerima riwayat-riwayat palsu. Apalagi dlm ideologi Syiah ini terdapat ajaran taqiyah (bermuka dua) nan sangat mereka perlukan utk menjalankan misi mereka. Maka mereka pun bersembunyi di balik ajaran ini utk melemahkan Islam & kaum Muslimin. Sehingga tampilan luar mereka adalah Syiah, tetapi batin mereka berisi kekufuran (terhadap Islam). (*16)

Itulah sedikit dari fakta sejarah nan sudah terjadi. Sebenarnya masih banyak lagi sejarah hitam kekejaman ahli bid'ah ini (kaum Syiah) terhadap Ahlu Sunnah khususnya & kaum Muslimin pada umumnya. kita ini harus mengambil pelajaran dari masa lalu agar tak berulang pada masa mendatang. Karena sesungguhnya seorang Mukmin itu tak boleh jatuh dlm 1 lobang berulang kali, sebagaimana nan disebutkan dlm hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Wallâh a'lam

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XIII/1431H/2010M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondanrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858197]

Referensi
(*1). Al-Bidâyah wan Nihâyah (XII/17)
(*2). Wafayâtul A'yân, Ibnu Khalikân (II/192)
(*3). Akhbâr Mulûk Bani ‘Ubaid tulisan ash-Shanhâji hlm. 96
(*4). Ar-Raudhataini fi Akhbâri Daulatain hlm. 201
(*5). Târîkh Islâm , adz-Dzahabi
(*6). Wafayâtul A'yân (III/110)
(*7). Al-Kâmil (VIII/542)
(*8). Al-Kâmil (VIII/549)
(*9). Siyar A'lâmun Nubalâ' (XVI/232)
(*10). Al-Milal wan Nihal (I/191-192)
(*11). Târîkh Akhbâr Qarâmithah hlm. 38
(*12). Târîkh Akhbâr Qarâmithah hlm. 54
(*13). Al-Bidâyah wan Nihâyah (XI/160)
(*14). Al-Bidâyah wan Nihâyah (XVIII/213-224)
(*15). Al-Farqu bainal Firaq hlm 382
(*16). Silahkan lihat Fadhâih Bâthiniyah hlm 18-19 dgn sedikit penambahan & pengurangan.
sumber: www.almanhaj.or.id penulis Ustadz Abu Ihsan Al-Atsari tags: Islam Dua, Sahabat Nabi, Islam Sunnah, Sejarah Islam, Kira Kira

kekejaman syiah terhadap sunni kekejaman syiah terhadap sunni kekejaman syiah terhadap sunni kekejaman syiah zaman nabi foto kekejaman syiah terhadap sunni kekejaman syiah terhadap sunni foto korban ke kejaman kaum syiah kekejaman syiah terhadap sunni kekejaman syiah terhadap sunni kekejaman syiah terhadap sunni pesan korban keberutalan siah terhadap sunni kekejaman kaum nasrani foto2 perkosaan suni dilakukan syiah kekejaman syiah terhaddap suni kekejaman syiah terhadap sunni