Jum'at: Tema Dan Isi Khutbah Jum'at Wa Sallam

Adapun tentang tema & isi khutbah ditunjukkan oleh hadits-hadits & penjelasan para ulama di bawah ini. Hadits Jabir bin Samurah, dia berkata,

كَانَتْ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خُطْبَتَانِ يَجْلِسُ بَيْنَهُمَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيُذَكِّرُ النَّاسَ

“Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam biasa melakukan 2 khutbah. Beliau duduk diantara keduanya. (Dalam khutbahnya) Beliau membaca Al Qur'an & mengingatkan manusia” [HR Muslim, no. 862].

Hadits Jabir bin Abdullah, ia berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ النَّاسَ يَحْمَدُ اللَّهَ وَيُثْنِي عَلَيْهِ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ ثُمَّ يَقُولُ مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَخَيْرُ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ

“Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berkhutbah kepada orang banyak. Beliau memuji Allah, menyanjungNya dgn apa nan pantas bagi Allah, lalu Beliau bersabda,”Barangsiapa nan diberikan petunjuk oleh Allah, tak ada seorangpun nan menyesatkannya. Dan barangsiapa nan disesatkan, maka tak ada nan memberinya petunjuk. Sebaik-baik perkataan adalah kitab Allah. ” [HR Muslim, no. 867]

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَطَبَ احْمَرَّتْ عَيْنَاهُ وَعَلَا صَوْتُهُ وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ حَتَّى كَأَنَّهُ مُنْذِرُ َيْشٍ يَقُولُ صَبَّحَكُمْ وَمَسَّاكُمْ وَيَقُولُ بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ وَيَقْرُنُ بَيْنَ إِصْبَعَيْهِ السَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى وَيَقُولُ أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ ثُمَّ يَقُولُ أَنَا أَوْلَى بِكُلِّ مُؤْمِنٍ مِنْ نَفْسِهِ مَنْ تَرَكَ مَالًا فَلِأَهْلِهِ وَمَنْ تَرَكَ دَيْنًا أَوْ ضَيَاعًا فَإِلَيَّ وَعَلَيَّ

“Dari Jabir bin Abdullah, dia berkata: Kebiasaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam jika berkhutbah, kedua matanya memerah, suaranya tinggi, & kemarahannya sungguh-sungguh. Seolah-olah Beliau memperingatkan tentara dgn mengatakan “Musuh akan menyerang kamu pada waktu pagi”, “Musuh akan menyerang kamu pada waktu sore”.

Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam juga berkata,”Aku diutus dgn hari kiamat seperti ini. ” Beliau mengisyaratkan 2 jarinya: jari telunjuk & jari tengah.
Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam juga berkata: “Amma ba'd. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitab Allah, & sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad. Seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara nan baru, & seluruh bid'ah (perkara baru) adalah kesesatan.

Kemudian Beliau berkata: “Aku lebih dekat kepada tiap-tiap orang mukmin daripada dirinya sendiri. Barangsiapa mati meninggalkan harta, maka hartanya utk keluarganya (yaitu ahli warisnya). Dan barangsiapa mati meninggalkan hutang & orang-orang nan harus ditanggung (anak-anak, isteri, atau lainnya), maka kepadaku & tanggunganku”. [HR Muslim, no. 867].

Dalam hadits lain disebutkan:

عَنْ بِنْتٍ لِحَارِثَةَ بْنِ النُّعْمَانِ قَالَتْ مَا حَفِظْتُ ق إِلَّا مِنْ فِي رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ بِهَا كُلَّ جُمُعَةٍ

“Dari putri Haritsah bin An Nu'man, dia berkata,”Tidaklah aku menghafal surat Qaaf, kecuali dari mulut Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau berkhutbah dgn surat Qaaf setiap Jum'at. ” [HR Muslim, no. 873; Abu Dawud; & An Nasa'i].

Imam Abu Hanifah rahimahullah berkata,”Sepantasnya seorang imam berkhutbah dgn khutbah nan sebentar (ringan). Imam membuka khutbahnya dgn hamdallah, memujiNya berulang-ulang, membaca syahadat, bershalawat atas Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, memberi nasihat, mengingatkan, membaca surat (Al Qur'an). Kemudian duduk dgn duduk sebentar, lalu bangkit, kemudian berkhutbah lagi: membaca hamdallah, memujiNya berulang-ulang, bershalawat atas Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, & mendo'akan mukminin & mukminat. ” [Badai'ish Shanai', 1/263. Dinukil dari Majalah Al Ashalah, Edisi 21, 15 Rabi'ul Akhir 1420H, hlm. 67].

Imam Asy Syafi'i rahimahullah berkata,”Aku menyukai imam berkhutbah dgn (membaca) hamdallah, shalawat atas RasulNya Shallallahu 'alaihi wa sallam, nasihat, bacaan (ayat Al Qur'an), & tak lebih dari itu. ” [Al Umm, 1/203. Dinukil dari Majalah Al Ashalah, Edisi 21, 15 Rabi'ul Akhir 1420H, hlm. 67]

Al ‘Izz bin Abdus Salam rahimahullah berkata: Tidak sepantasnya bagi khathib menyebutkan di dlm khutbahnya, kecuali nan sesuai dgn tujuan-tujuan khutbah. Yaitu: pujian (untuk Allah), do'a, targhib (anjuran kebaikan), & tarhib (ancaman kemaksiatan). Dengan cara menyebutkan janji & ancaman (Allah & RasulNya), & semua nan akan mendorong kepada ketaatan, atau mencegah dari kemaksiatan, demikian juga (dengan) bacaan Al Qur'an. Dan kebiasaan Nabi dlm banyak kesempataan, yaitu berkhutbah dgn surat Qaaf, karena surat itu mengandung dzikir kepada Allah, pujian kepadaNya, ilmuNya terhadap apa nan dibisik-bisikan jiwa manusia, & terhadap apa nan ditulis oleh Malaikat, berupa ketaatan & kemaksiatan. Kemudian menyebutkan kematian & sakaratil maut. Menyebutkan kiamat & perkara-perkara nan menakutkan padanya. Persaksian terhadap makhluk dgn amal-amalnya. Menyebutkan sorga & neraka. Juga menyebutkan kebangkitan & keluar dari kubur. Kemudian wasiat dlm menegakkan shalat. Maka, isi khutbah nan keluar dari tujuan-tujuan ini merupakan bid'ah. Di dlm khutbah, tidaklah pantas disebutkan khalifah-khalifah, raja-raja, & amir-amir (Yakni memuji-muji para penguasa zhalim. Adapun memuji & mendo'akan kebaikan penguasa shalih, maka tidaklah mengapa, wallahu a'lam, Pen), karena tempat ini khusus bagi Allah & RasulNya, dgn menyebutkan apa-apa nan mendorong ketatan kepadaNya & mencegah maksiat kepadaNya. Allah berfirman,

وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلاَ تَدْعُوا مَعَ اللهِ أَحَدًا

“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah”. [Al Jin:18].

Seandainya terjadi suatu peristiwa pada kaum muslimin, maka tak mengapa membicarakan perkara nan berkaitan dgn peristiwa tersebut sesuai apa nan dianjurkan oleh agama. Seperti kedatangan musuh, & khathib mendorong utk berjihad melawannya, bersiap-siap menyongsongnya. Juga jika terjadi kekeringan, nan perlu mohon hujan kepada Alloh, maka khathib berdo'a agar kekeringan itu dihilangkan. Dan kewajiban khathib, ialah meninggalkan perkataan-perkataan nan hanya diketahui oleh orang-orang tertentu. Ini termasuk bid'ah nan buruk. Karena sesungguhnya tujuan khutbah adalah memberi manfaat kepada hadirin dgn targhib (anjuran kebaikan) & tarhib (ancaman dari kemaksiatan). Serupa dgn hal itu, ialah khathib berkhutbah kepada bangsa Arab dgn kata-kata asing, nan mereka tak memahaminya, wallahu a'lam. (Seperti nan dilakukan sebagian kaum muslimin di kampung-kampung di Indonesia, berkhutbah dgn bahasa Arab, padahal hadirin tak ada nan memahaminya, Pen. ). [Fatawa Al ‘Izz bin Abdus Salam, hlm. 77, 78. Dinukil dari Al Qaulul Mubin Fi Akhthail Mushallin, hlm. 371, 372].

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,”Dan pokok-pokok khutbah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah pada bacaan hamdalah, sanjungan kepada Allah atas nikmat-nikmatNya, sifat-sifat kesempurnaanNya, & pujian-pujian kepadaNya. Juga pengajaran kaidah-kaidah Islam, menyebutkan Jannah (surga), Naar (neraka), hari kiamat, perintah taqwa, penjelasan sebab-sebab kemurkaan Allah, & tempat-tempat keridhaanNya. Berdasarkan inilah pokok-pokok khutbah Beliau. ” [Zadul Ma'ad, 1/188].

Syaikh Masyhur Hasan Salman berkata,”Sebagian orang nan mulia telah berkata: Khutbah nan paling tepat adalah nan sesuai dgn zaman, tempat, & keadaan. Ketika ‘Idul Fithri, khathib menjelaskan hukum-hukum zakat fithrah. Di daerah nan penduduknya berselisih, menjelaskan persatuan. Atau orang-orang malas menuntut ilmu, khathib mendorong mereka menuntut ilmu. Orang tua-orang tua membiarkan pendidikan anak-anak, khathib mendorong mereka utk itu, & lain-lain nan sesuai dgn keadaan orang banyak, selaras dgn pendapat (kebutuhan) mereka, & sesuai tabi'at mereka. Seseorang hendaklah berkhutbah sesuai dgn tempat & keadaannya, memperhatikan keadaan manusia, memperhatikan perbuatan mereka, & kejadian-kejadian setiap pekan. Kemudian, ketika naik mimbar, melarang mereka dari (kemungkaran) & mengingatkan mereka terhadap kejadian-kejadian itu. Semoga mereka mendapatkan petunjuk kepada jalan nan lurus. ” [Catatan kaki kitab Al Qaulul Mubin Fi Akh-thail Mushalin, hlm. 367].

Demikianlah sedikit penjelasan tentang tema khutbah Jum'at. Maka, hendaklah seorang khathib pandai memilih tema nan bermanfaat utk kaum muslimin.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun VIII/1425H/2004M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
sumber: www.almanhaj.or.id penulis Ustadz Abu Isma'il Muslim Al Atsari tags: Wa Sallam, Al Qur

khutbah beserta arabnya contoh khutbah shalat jumat lengkap dengan doa tema khutbah jumat lengkap dengan doa khutbah jumat lengkap dengan arabnya khutbah jumat beserta arabnya naska khutbah shalat jumat lengkap khutbah jumat lengkap dengan arabnya khutbah jumat beserta arabnya khutbah jumat lengkap dengan arabnya khutbah jumat lengkap dengan arabnya isi teks khutbah shalat jumat bacaan khutbah lengkap khutbah shalat jumat lengkap dengan doa dakwah shalat jumat lengkap khutbah shalat jumat lengkap doa