Hukum untuk orang yang meninggalkan sholat (I) Imam Abu Hanifah

PASAL PERTAMA
HUKUM ORANG YANG MENINGGALKAN SHALAT
Masalah ini termasuk salah satu masalah ilmu yang amat besar, diperdebatkan oleh para ulama dahulu & sekarang.
Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan :“ orang yang meninggalkan shalat adalah kafir, kekafiran yang menyebabkan orang tersebut keluar dari Islam, diancam hukuman mati, jika tak bertaubat & tak mengerjakan shalat.
Sementara Imam Abu Hanifah, Malik & Syafi’i mengatakan :“ orang yang meninggalkan adalah fasik & tak kafir”, namun, mereka berbeda pendapat mengenai hukumannya, menurut Imam Malik & Syafi’i “diancam hukuman mati sebagai hadd”, & menurut Imam Abu Hanifah “diancam hukuman ta’zir, bukan hukuman mati”.
Apabila masalah ini termasuk masalah yang diperselisihkan, maka yang wajib adalah dikembalikan kepada kitab Allah subhaanahu wa ta’aala & sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam, karena Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman :
] æãÇ ÇÎÊáÝÊã Ýíå ãä ÔíÁ ÝÍßãå Åáì Çááå [.
“Tentang sesuatu apapun yang kamu perselisihkan, maka putusannya dikembalikan kepada Allah.” ( QS. As Syura, 10 ).
Dan Allah Ta'ala juga berfirman :
] ÝÅä ÊäÇÒÚÊã Ýí ÔíÁ ÝÑÏæå Åáì Çááå æÇáÑÓæá Åä ßäÊã ÊÄãäæä ÈÇááå æÇáíæã ÇáÂÎÑ Ðáß ÎíÑ æÃÍÓä ÊÃæíáÇ [.
“Jika kamu belainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah ( Al Qur’an ) & Rasul ( As Sunnah ), jika kamu benar benar beriman kepada Allah & hari kemudian, yang demikian itu lebih utama ( bagimu ) & lebih baik akibatnya.” ( QS. An Nisa’, 59 ).
Oleh karena masing masing pihak yang berselisih pendapat, ucapannya tak dapat dijadikan hujjah terhadap pihak lain, sebab masing masing pihak menganggap bahwa dialah yang benar, sementara tak ada salah satu dari kedua belah pihak yang pendapatnya lebih patut utk diterima, maka dlm masalah tersebut wajib kembali kepada juri penentu diantara keduanya, yaitu Al Qur’an & Sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam.
Kalau kita kembalikan perbedaan pendapat ini kepada Al Qur’an & As Sunnah, akan kita dapatkan bahwa Al Qur’an maupun As Sunnah keduanya menunjukkan bahwa orang yang meninggalkan shalat adalah kafir, & kufur akbar yang menyebabkan ia keluar dari islam.
PERTAMA : DALIL DARI AL QUR’AN :
Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman dlm surat At Taubah :
] ÝÅä ÊÇÈæÇ æÃÞÇãæÇ ÇáÕáÇÉ æÂÊæÇ ÇáÒßÇÉ ÝÅÎæÇäßã Ýí ÇáÏíä [.
“Jika mereka bertaubat, mendirikan shalat & menunaikan zakat, maka (mereka itu ) adalah saudara saudaramu seagama.” ( QS. At Taubah, 11 ).
Dan dlm surat Maryam, Allah berfirman :
] ÝÎáÝ ãä ÈÚÏåã ÎáÝ ÃÖÇÚæÇ ÇáÕáÇÉ æÇÊÈÚæÇ ÇáÔåæÇÊ ÝÓæÝ íáÞæä ÛíÇ ÅáÇ ãä ÊÇÈ æÂãä æÚãá ÕÇáÍÇ ÝÃæáÆß íÏÎáæä ÇáÌäÉ æáÇ íÙáãæä ÔíÆÇ [.
“Lalu datanglah sesudah mereka pengganti (yang jelek) yang menyia nyiakan shalat & memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan, kecuali orang yang bertaubat, beriman & beramal shaleh, maka mereka itu akan masuk surga & tak akan dirugikan sedikitpun.” (QS. Maryam, 59-60 ).
Relevansi ayat kedua, yaitu yang terdapat dlm surat Maryam, bahwa Allah berfirman tentang orang orang yang menyia nyiakan shalat & memperturutkan hawa nafsunya :” kecuali orang yang bertaubat, beriman …”. Ini menunjukkan bahwa mereka ketika menyia nyiakan shalat & memperturutkan hawa nafsu adalah tak beriman.
Dan relevansi ayat yang pertama, yaitu yang terdapat dlm surat At Taubah, bahwa kita & orang orang musyrik telah menentukan tiga syarat :
· Hendaklah mereka bertaubat dari syirik.
· Hendaklah mereka mendirikan shalat, dan
· Hendaklah mereka menunaikan zakat.
Jika mereka bertaubat dari syirik, tetapi tak mendirikan shalat & tak pula menunaikan zakat, maka mereka bukanlah saudara seagama dgn kita.
Begitu pula, jika mereka mendirikan shalat, tetapi tak menunaikan zakat maka mereka pun bukan saudara seagama dgn kita.
Persaudaraan seagama tak dinyatakan hilang atau tak ada, melainkan jika seseorang keluar secara keseluruhan dari agama ; tak dinyatakan hilang atau tak ada karena kefasikan & kekafiran yang sederhana tingkatannya.
Cobalah anda perhatikan firman Allah subhaanahu wa ta’aala dlm ayat Qishash karena membunuh :
] Ýãä ÚÝí áå ãä ÃÎíå ÔíÁ ÝÇÊÈÇÚ ÈÇáãÚÑæÝ æÃÏÇÁ Åáíå ÈÅÍÓÇä [.
“Maka barang siapa yang diberi maaf oleh saudaranya, hendaklah ( yang memaafkan ) mengikuti dgn cara yang baik, & hendaklah ( yang diberi maaf ) membayar ( diyat ) kepada yang memberi maaf dgn cara yang baik ( pula ).” ( QS. Al Baqarah, 178 ).
Dalam ayat ini, Allah subhaanahu wa ta’aala menjadikan orang yang membunuh dgn sengaja sebagai saudara orang yang dibunuhnya, padahal pidana membunuh dgn sengaja termasuk dosa besar yang sangat berat hukumannya, Karena Allah Subhaanahu wa ta’aala berfirman :
] æãä íÞÊá ãÄãäÇ ãÊÚãÏÇ ÝÌÒÇÄå Ìåäã ÎÇáÏÇ ÝíåÇ æÛÖÈ Çááå Úáíå æáÚäå æÃÚÏ áå ÚÐÇÈÇ ÃáíãÇ [.
“Dan barang siapa yang membunuh seorang mu’min dgn sengaja, maka balasannya ialah neraka jahannam, kekal ia didalamnya & Allah murka kepadanya & mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.” ( QS. An Nisa’, 93 ).
Kemudian cobalah anda perhatikan firman Allah subhaanahu wa ta’aala tentang dua golongan dari kaum mu’minin yang berperang :
] æÅä ØÇÆÝÊÇä ãä ÇáãÄãäíä ÇÞÊÊáæÇ ÝÃÕáÍæÇ ÈíäåãÇ, ÝÅä ÈÛÊ ÅÍÏÇåãÇ Úáì ÇáÃÎÑì ÝÞÇÊáæÇ ÇáÊí ÊÈÛí ÍÊì ÊÝíÁ Åáì ÃãÑ Çááå¡ ÝÅä ÝÇÁÊ ÝÃÕáÍæÇ ÈíäåãÇ ÈÇáÚÏá æÃÞÓØæÇ Åä Çááå íÍÈ ÇáãÞÓØíä¡ ÅäãÇ ÇáãÄãäæä ÅÎæÉ ÝÃÕáÍæÇ Èíä ÃÎæíßã [.
“Dan jika ada dua golongan dari orang orang mu’min berperang, maka damaikanlah antara keduanya, jika salah satu dari dua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain, maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali ( kepada perintah Allah ), maka damaikanlah antara keduannya dgn adil & berlaku adillah, sesungguhnya Allah menyukai orang orang yang berbuat adil, sesungguhnya orang orang mu’min adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu…” ( QS. Al Hujurat, 9 ).
Di sini Allah subhaanahu wa ta’aala menetapkan persaudaraan antara pihak pendamai & kedua pihak yang berperang, padahal memerangi orang mu’min termasuk kekafiran, sebagaimana disebutkan dlm hadits shoheh yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori & periwayat yang lain, dari Ibnu Mas’ud rodhiallohu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda :
” ÓÈÇÈ ÇáãÓáã ÝÓæÞ æÞÊÇáå ßÝÑ “.
“Menghina seorang Muslim adalah kefasikan, & memeranginya adalah kekafiran.”
Namun kekafiran ini tak menyebabkan keluar dari Islam, sebab andaikata menyebabkan keluar dari islam maka tak akan dinyatakan sebagai saudara seiman. Sedangkan ayat suci tadi telah menunjukkan bahwa kedua belah pihak sekalipun berperang mereka masih saudara seiman.
Dengan demikian jelaslah bahwa meninggalkan shalat adalah kekafiran yang menyebabkan keluar dari Islam, sebab jika hanya merupakan kefasikan saja atau kekafiran yang sederhana tingkatannya ( yang tak menyebabkan keluar dari Islam ) maka persaudaraan seagama tak dinyatakan hilang karenanya, sebagaimana tak dinyatakan hilang karena membunuh & memerangi orang mu’min.
Jika ada pertanyaan : apakah anda berpendapat bahwa orang yang tak menunaikan zakat pun dianggap kafir, sebagaimana pengertian yang tertera dlm surat At Taubah tersebut ?
Jawabnya adalah : orang yang tak menunaikan zakat adalah kafir, menurut pendapat sebagian ulama, & ini adalah salah satu pendapat yang diriwayatkan dari Imam Ahmad Rahimahullah.
Akan tetapi pendapat yang kuat menurut kami ialah yang mengatakan bahwa ia tak kafir, namun diancam hukuman yang berat, sebagaimana yang terdapat dlm hadits hadits Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam, seperti hadits yang dituturkan oleh Abu Hurairah rodhiallohu ‘anhu, bahwa Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam ketika menyebutkan hukuman bagi orang yang tak mau membayar zakat, disebutkan dibagian akhir hadits :
” Ëã íÑì ÓÈíáå ÅãÇ Åáì ÇáÌäÉ æÅãÇ Åáì ÇáäÇÑ “.
“ … Kemudian ia akan melihat jalannya, menuju ke sorga atau ke neraka.”
Hadits ini diriwayatkan secara lengkap oleh Imam Muslim dlm bab “dosa orang yang tak mau membayar zakat”.
Ini adalah dalil yang menunjukkan bahwa orang yang tak menunaikan zakat tak menjadi kafir, sebab andaikata menjadi kafir, tak akan ada jalan baginya menuju sorga.
Dengan demikian manthuq (yang tersurat) dari hadits ini lebih didahulukan dari pada mafhum ( yang tersirat ) dari ayat yang terdapat dlm surat At Taubah tadi, karena sebagaimana yang telah dijelaskan dlm ilmu ushul fiqh bahwa manthuq lebih didahulukan dari pada mafhum.
KEDUA : DALIL DARI AS SUNNAH :
1- Diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah rodhiallohu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda :
” Åä Èíä ÇáÑÌá æÈíä ÇáÔÑß æÇáßÝÑ ÊÑß ÇáÕáÇÉ “.
“Sesungguhnya ( batas pemisah ) antara seseorang dgn kemusyrikan & kekafiran adalah meninggalkan shalat.” ( HR. Muslim, dlm kitab al iman ).
2- Diriwayatkan dari Buraidah bin Al Hushaib rodhiallohu ‘anhu, ia berkata : aku mendengar Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda :
” ÇáÚåÏ ÇáÐí ÈíääÇ æÈíäåã ÇáÕáÇÉ Ýãä ÊÑßåÇ ÝÞÏ ßÝÑ “.
“Perjanjian antara kita & mereka adalah shalat, barang siapa yang meninggalkannya maka benar benar ia telah kafir.” ( HR. Abu Daud, Turmudzi, An Nasai, Ibnu Majah & Imam Ahmad ).
Yang dimaksud dgn kekafiran di sini adalah kekafiran yang menyebabkan keluar dari Islam, karena Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam menjadikan shalat sebagai batas pemisah antara orang orang mu’min & orang orang kafir, & hal ini bisa diketahui secara jelas bahwa aturan kafir tak sama dgn aturan Islam, karena itu, barang siapa yang tak melaksanakan perjanjian ini maka dia termasuk golongan orang kafir.
3- Diriwayatkan dlm shoheh Muslim, dari Ummu Salamah Radliallahu anha, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda :
” ÓÊßæä ÃãÜÑÇÁ ¡ ÝÊÚÑÝæä æÊäßÜÑæä ¡ Ýãä ÚÑÝ ÈÑÆ ¡ æãä ÃäßÜÑ Óáã ¡ æáßä ãä ÑÖí æÊÇÈÚ ¡ ÞÇáæÇ : ÃÝáÇ äÞÇÊáåã ¿ ÞÇá : áÇ ãÇ ÕáæÇ “.
“Akan ada para pemimpin, & diantara kamu ada yang mengetahui & menolak kemungkaran kemungkaran yang dilakukan, barang siapa yang mengetahui bebaslah ia, & barang siapa yang menolaknya selamatlah ia, akan tetapi barang siapa yang rela & mengikuti, ( tak akan selamat ), para sahabat bertanya : bolehkah kita memerangi mereka ?, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam menjawab :” Tidak, selama mereka mengerjakan shalat.”
4- Diriwayatkan pula dlm shaheh Muslim, dari Auf bin Malik rodhiallohu ‘anhu ia berkata : Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda :
” ÎíÇÑ ÃÆãÊßã ÇáÐíä ÊÍÈæäåã æíÍÈæäßã¡ æíÕáæä Úáíßã æÊÕáæä Úáíåã¡ æÔÑÇÑ ÃÆãÊßã ÇáÐíä ÊÈÛÖæäåã æíÈÛÖæäßã¡ æÊáÚäæäåã æíáÚäæäßã¡ Þíá: íÇ ÑÓÜæá Çááå¡ ÃÝáÇ ääÇÈÐåã ÈÇáÓíÝ ¿ ÞÇá : áÇ¡ ãÇ ÃÞÇãæÇ Ýíßã ÇáÕáÇÉ “.
“Pemimpinmu yang terbaik ialah mereka yang kamu sukai & merekapun menyukaimu, serta mereka mendoakanmu & kamupun mendoakan mereka, sedangkan pemimpinmu yang paling jahat adalah mereka yang kamu benci & merekapun membencimu, serta kamu melaknati mereka & merekapun melaknatimu, beliau ditanya : ya Rasulallah, bolehkan kita memusuhi mereka dgn pedang ?, beliau menjawab :” tidak, selama mereka mendirikan shalat dilingkunganmu.”
Kedua hadits yang terahir ini menunjukkan bahwa boleh memusuhi & memerangi para pemimpin dgn mengangkat senjata bila mereka tak mendirikan shalat, & tak boleh memusuhi & memerangi para pemimpin, kecuali jika mereka melakukan kakafiran yang nyata, yang bisa kita jadikan bukti dihadapan Allah nanti, berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Ubadah bin Ash Shamit rodhiallohu ‘anhu :
ÏÚÇäÇ ÑÓæá Çááå Õáì Çááå Úáíå æÓáã¡ ÝÈÇíÚäÇå ¡ ÝßÇä ÝíãÇ ÃÎÐ ÚáíäÇ Ãä ÈÇíÚäÇ Úáì ÇáÓãÚ æÇáØÇÚÉ Ýí ãäÔØäÇ æãßÑåäÇ æÚÓÑäÇ æíÓÑäÇ æÃËÑÉ ÚáíäÇ ¡ æÃä áÇ ääÇÒÚ ÇáÃãÜÑ Ãåáå¡ ÞÇá : ÅáÇ Ãä ÊÑæÇ ßÝÑÇ ÈæÇÍÇ ÚäÏßã ãä Çááå Ýíå ÈÑåÇä.
“Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam telah mengajak kami, & kamipun membaiat beliau, diantara bai’at yang diminta dari kami ialah hendaklah kami membai’at utk senantiasa patuh & taat, baik dlm keadaan senang maupun susah, dlm kesulitan maupun kemudahan, & mendahulukannya atas kepentingan dari kami, & janganlah kami menentang orang yang telah terpilih dlm urusan ( kepemimpinan ) ini, sabda beliau :” kecuali jika kamu melihat kekafiran yang terang terangan yang ada buktinya bagi kita dari Allah.”
Atas dasar ini, maka perbuatan mereka meninggalkan shalat yang dijadikan oleh Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam sebagai alasan utk menentang & memerangi mereka dgn pedang adalah kekafiran yang terang terangan yang bisa kita jadikan bukti dihadapan Allah nanti.
*****
Tidak ada satu nash pun dlm Al Qur’an ataupun As Sunnah yang menyatakan bahwa orang yang meninggalkan shalat itu tak kafir, atau dia adalah mu’min. kalaupun ada hanyalah nash nash yang menunjukkan keutamaan tauhid, syahadat “La ilaha Illallah wa anna Muhammad Rasulullah”, & pahala yang diperoleh karenanya, namun nash nash tersebut muqoyyad (dibatasi ) oleh ikatan ikatan yang terdapat dlm nash itu sendiri, yang dgn demikian tak mungkin shalat itu ditinggalkan, atau disebutkan dlm suatu kondisi tertentu yang menjadi alasan bagi seseorang utk meninggalkan shalat, atau bersifat umum sehingga perlu difahami menurut dalil dalil yang menunjukkan kekafiran orang yang meninggalkan shalat, sebab dalil dalil yang menunjukkan kekafiran orang yang meninggalkan shalat bersifat khusus, sedangkan dalil yang khusus itu harus didahulukan dari pada dalil yang umum.
Jika ada pertanyaan : apakah nash nash yang menunjukkan kekafiran orang yang meninggalkan shalat itu tak boleh diberlakukan pada orang yang meninggalkannya karena mengingkari hukum kewajibannya ?
Jawab : tak boleh, karena hal itu akan mengakibatkan dua masalah yang berbahaya :
Pertama : menghapuskan atribut yang telah ditetapkan oleh Allah & dijadikan sebagai dasar hukum.
Allah telah menetapkan hukum kafir atas dasar meninggalkan shalat, bukan atas dasar mengingkari kewajibannya, & menetapkan persaudaraan seagama atas dasar mendirikan shalat, bukan atas dasar mengakui kewajibannya, Allah tak berfirman :” jika mereka bertaubat & mengakui kewajiban shalat”, Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam pun tak bersabda :” batas pemisah antara seseorang dgn kemusyrikan & kekafiran adalah mengingkari kewajiban shalat”, atau “perjanjian antara kita & mereka ialah pengakuan terhadap kewajiban shalat, barang siapa yang mengingkari kewajibannya maka dia telah kafir”.
Seandainya pengertian ini yang dimaksud oleh Allah subhaanahu wa ta’aala & Rasul-Nya, maka tak menerima pengertian yang demikian ini berarti menyalahi penjelasan yang dibawa oleh Al Qur’an.
Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman :
] æäÒáäÇ Úáíß ÊÈíÇäÇ áßá ÔíÁ [.
“Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab ( Al Qur’an ) utk menjelaskan segala sesuatu …” ( QS. An Nahl, 89 ).
] æÃäÒáäÇ Åáíß ÇáÐßÑ áÊÈíä ááäÇÓ ãÇ äÒá Åáíåã [.
“Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab ( Al Qur’an ) agar kamu menerangkan kepada umt manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka …” ( QS. An Nahl, 44 ).
Kedua : menjadikan atribut yang tak ditetapkan oleh Allah sebagai landasan hukum.
Mengingkari kewjiban shalat lima waktu tentu menyebabkan kekafiran bagi pelakunya, tanpa alasan karena tak mengetahuinya, baik dia mengerjakan shalat atau tak mengerjakannya.
Kalau ada seseorang yang mengerjakan shalat lima waktu dgn melengkapi segala syarat, rukun, & hal hal yang wajib & sunnah, namun dia mengingkari kewajiban shalat tersebut, tanpa ada suatu alasan apapun, maka orang tersebut kafir, sekalipun dia tak meninggalkan shalat.
Dengan demikian jelaslah bahwa tak benar jika nash nash tersebut dikenakan pada orang yang meninggalkan shalat karena mengingkari kewajibannya, yang benar ialah bahwa orang yang meninggalkan shalat adalah kafir dgn kekafiran yang menyebabkannya keluar dari Islam, sebagaimana secara tegas dinyatakan dlm salah satu hadits riwayat Ibnu Abi Hatim dlm kitab Sunan, dari Ubadah bin Shamit rodhiallohu ‘anhu ia berkata : Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam telah berwasiat kepada kita :
” áÇ ÊÔÑßæÇ ÈÇááå ÔíÆÇ ¡ æáÇ ÊÊÑßæÇ ÇáÕáÇÉ ÚãÏÇ ¡ Ýãä ÊÑßåÇ ÚãÏÇ ãÊÚãÏÇ ÝÞÏ ÎÑÌ ãä ÇáãáÉ “.
“Janganlah kamu berbuat syirik kepada Allah sedikitpun, & janganlah kamu sengaja meninggalkan shalat, barang siapa yang benar benar dgn sengaja meninggalkan shalat maka ia telah keluar dari Islam”.
Demikian pula jika hadits ini kita kenakan pada orang yang meninggalkan shalat karena mengingkari kewajibannya, maka penyebutan kata “shalat” secara khusus dlm nash nash tersebut tak ada gunanya sama sekali.
hukum ini bersifat umum, termasuk zakat, puasa, & haji, barang siapa yang meninggalkan salah satu kewajiban tersebut karena mengingkari kewajibannya, maka ia kafir, jika tanpa alasan karena tak mengetahui.
Karena orang yang meninggalkan shalat adalah kafir menurut dalil sam’i atsari ( Al Qur’an & As Sunnah ), maka menurut dalil aqli nadzari ( logika ) pun demikian.
Bagaimana seseorang dikatakan mempunyai iman, sementara dia meninggalkan shalat yang merupakan sendi agama, & pahala yang dijanjikan bagi orang yang mengerjakannya menuntut kepada setiap orang yang berakal & beriman utk segera melaksanakan & mengerjakannya, serta ancaman bagi orang yang meninggalkannya menuntut kepada setiap orang yang berakal & beriman utk tak meninggalkan & melalaikannya. Dengan demikian, apabila seseorang meninggalkan shalat, berarti tak ada lagi iman yang tersisa pada dirinya.
Jika ada pertanyaan : apakah kekafiran bagi orang yang meninggalkan shalat tak dapat diartikan sebagai kufur ni’mat, bukan kufur millah ( yang mengeluarkan pelakunya dari agama Islam ), atau diartikan sebagai kekafiran yang tingkatannya dibawah kufur akbar, seperti kekafiran yang disebutkan dlm hadits dibawah ini, yang mana Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda :
” ÇËäÇä ÈÇáäÇÓ åãÇ Èåã ßÝÑ : ÇáØÚä Ýí ÇáäÓÈ ¡ æÇáäíÇÍÉ Úáì ÇáãíÊ “.
“Ada dua perkara terdapat pada manusia, yang keduanya merupakan suatu kekafiran bagi mereka, yaitu : mencela keturunan & meratapi orang mati”.
” ÓÈÇÈ ÇáãÓáã ÝÓæÞ ¡ æÞÊÇáå ßÝÑ “.
“Menghina seorang muslim adalah kefasikan, & memeranginya adalah kekafiran”.
Jawab : pengertian seperti ini dgn mengacu pada contoh tersebut tak benar, karena beberapa alasan :
Pertama : bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam telah menjadikan shalat sebagai batas pemisah antara kekafiran & keimanan, antara orang orang mu’min & orang orang kafir, & batas ialah yang membedakan apa saja yang dibatasi, serta memisahkannya dari yang lain, sehingga kedua hal yang dibatasi berlainan, & tak bercampur antara yang satu dgn yang lain.
Kedua : shalat adalah salah satu rukun Islam, maka penyebutan kafir terhadap orang yang meninggalkannya berarti kafir & keluar dari Islam, karena dia telah menghancurkan salah satu sendi Islam, berbeda halnya dgn penyebutan kafir terhadap orang yang mengerjakan salah satu macam perbuatan kekafiran.
Ketiga : di sana ada nash nash lain yang menunjukkan bahwa oang yang meninggalkan shalat adalah kafir, yang dgn kekafirannya menyebabkan ia keluar dari Islam.
Oleh karena itu kekafiran ini harus difahami sesuai dgn arti yang dikandungnya, sehingga nash nash itu akan sinkron & harmonis, tak saling bertentangan.
Keempat : penggunaan kata kufur berbeda beda, tentang meninggalkan shalat beliau bersabda :
” Åä Èíä ÇáÑÌá æÈíä ÇáÔÑß æÇáßÝÑ ÊÑß ÇáÕáÇÉ “.
“Sesungguhnya ( batas pemisah ) antara seseorang dgn kemusyrikan & kekafiran adalah meninggalkan shalat.” ( HR. Muslim, dlm kitab al iman ).
Di sini digunakan artikel “ al ”, dlm bentauk ma’rifah ( definite ), yang menunjukkan bahwa yang dimaksud dgn kufur di sini adalah kekafiran yang sebenarnya, berbeda dgn penggunaan kata kufur secara nakirah ( indefinite ), atau “kafara” sebagai kata kerja, atau bahwa dia telah melakukan suatu kekafiran dlm perbuatan ini, bukan kekafiran mutlak yang menyebabkan keluar dari Islam.
Syekhul Islam Ibnu Taimiyah dlm kitabnya yang bernama Iqtidha ashshirath al mustaqim cetakan As Sunnah al Muhammadiyah, hal 70, ketika menjelaskan sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam : ÇËäÇä Ýí ÇáäÇÓ åãÇ Èåã ßÝÑ … ”
Ia mengatakan : sabda Nabi “ Keduanya merupakan kekafiran” artinya : kedua sifat ini adalah suatu kekafiran yang masih terdapat pada manusia, jadi, kedua sifat ini adalah suatu kekafiran, karena sebelum itu keduanya termasuk perbuatan perbuatan kafir, tetapi masih terdapat pada manusia.
Namun, tak berarti bahwa setiap orang yang terdapat pada dirinya salah satu bentuk kekafiran dgn sendirinya menjadi kafir karenanya secara mutlak, sehingga terdapat pada dirinya hakekat kekafiran. Begitu pula, tak setiap orang yang terdapat dlm dirinya salah satu bentuk keimanan dgn sendirinya menjadi mu’min.
Penggunaan kata “ Al Kufr ” dlm bentuk ma’rifah ( dgn artikel “ al”) sebagaimana disebut dlm sabda Nabi Shalallahu 'alaihi wassalam :
” Åä Èíä ÇáÑÌá æÈíä ÇáÔÑß æÇáßÝÑ ÊÑß ÇáÕáÇÉ “.
“Sesungguhnya ( batas pemisah ) antara seseorang dgn kemusyrikan & kekafiran adalah meninggalkan shalat.” ( HR. Muslim, dlm kitab al iman ).
Berbeda dgn kata “ Kufr ” dlm bentuk nakirah ( tanpa artikel “ al ” ) yang digunakan dlm kalimat positif.
*****
Apabila sudah jelas bahwa orang yang meninggalkan shalat adalah kafir, keluar dari Islam, berdasarkan dalil dalil ini, maka yang benar adalah pendapat yang dianut oleh Imam Ahmad bin Hanbal, yang juga merupakan salah satu pendapat Imam Asy Syafii, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Katsir dlm tafsirnya tentang firman Allah subhaanahu wa ta’aala :
] ÝÎáÝ ãä ÈÚÏåã ÎáÝ ÃÖÇÚæÇ ÇáÕáÇÉ æÇÊÈÚæÇ ÇáÔåæÇÊ ÝÓæÝ íáÞÜæä ÛíÇ ÅáÇ ãä ÊÇÈ æÂãä æÚãá ÕÇáÍÇ ÝÃæáÆß íÏÎáæä ÇáÌäÉ æáÇ íÙáãæä ÔíÆÇ [.
“Lalu datanglah sesudah mereka pengganti ( yang jelek ) yang menyia nyiakan shalat & memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan, kecuali orang yang bertaubat, beriman & beramal shaleh, maka mereka itu akan masuk surga & tak akan dirugikan sedikitpun.” (QS. Maryam, 59-60 ).
Disebutkan pula oleh Ibnu Al Qoyyim dlm “ Kitab Ash Shalat ” bahwa pendapat ini merupakan salah satu dari dua pendapat yang ada dlm madzhab Syafi’i,Ath Thahaqi pun menukilkan demikian dari Imam Syafii sendiri.
Dan pendapat inilah yang dianut oleh mayoritas sahabat, bahkan banyak ulama yang menyebutkan bahwa pendapat ini merupakan ijma’ (consensus) para sahabat.
Abdullah bin Syaqiq mengatakan :” para sahabat Nabi berpendapat bahwa tak ada satupun amal yang bila ditinggalkan menyebabkan kafir, kecuali shalat.” ( diriwayatkan oleh Turmudzi & Al Hakim menyatakannya shahih menurut persyaratan Imam Bukhori & Muslim ).
Ishaq bin Rahawaih, seorang Imam terkenal mengatakan : “telah dinyatakan dlm hadits shohih & Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam bahwa orang yang meninggalkan shalat adalah kafir, & demikianlah pendapat yang dianut oleh para ulama sejak zaman Nabi sampai sekarang ini, bahwa orang yang sengaja meninggalkan shalat tanpa ada suatu halangan sehingga lewat waktunya adalah kafir.”
Dituturkan oleh Ibnu Hazm bahwa pendapat tersebut telah dianut oleh Umar, Abdurrahman bin Auf, Muadz bin Jabal, Abu Hurairah, & para sahabat lainnya, & ia berkata : “ & sepengetahuan kami tak ada seorang pun diantara sahabat Nabi yang menyalahi pendapat mereka ini ”, keterangan Ibnu Hazm ini telah dinukil oleh Al Mundziri dlm kitabnya At Targhib Wat Tarhib, & ada tambahan lagi dari para sahabat yaitu Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin Abbas, Jabir bin Abdillah, Abu Darda’ rodhiallohu ‘anhu, ia berkata lebih lanjut : “ & diantara para ulama yang bukan dari sahabat adalah Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rahawaih, Abdullah bin Al Mubarak, An Nakhoi, Al Hakam bin Utbaibah, Ayub As Sikhtiyani, Abu Daud At Thayalisi, Abu Bakar bin Abi Syaibah, Zuhair bin Harb, & lain lainnya.”
Jika ada pertanyaan : apakah jawaban atas dalil dalil yang dipergunakan oleh mereka yang berpendapat bahwa orang yang meninggalkan shalat itu tak kafir ?
Jawab : Tidak disebutkan dlm dalil dalil ini bahwa orang yang meninggalkan shalat itu tak kafir, atau mu’min, atau tak masuk neraka, atau masuk sorga, & yang semisalnya.
Siapapun yang memperhatikan dalil dalil itu dgn seksama pasti akan menemukan bahwa dalil dalil itu tak keluar dari lima bagian & kesemuanya tak bertentangan dgn dalil dalil yang dipergunakan oleh mereka yang berpendapat bahwa orang yang meninggalkan shalat adalah kafir.
Bagian pertama : hadits hadits dhaif & tak jelas, orang yang menyebutkannya berusaha utk dapat dijadikan sebagai landasan hukum, namun tetap tak membawa hasil.
Bagian kedua : pada dasarnya, tak ada dalil yang menjadi pijakan pendapat yang mereka anut dlm masalah ini, seperti dalil yang digunakan oleh sebagian orang, yaitu firman Allah subhaanahu wa ta’aala :
] Åä Çááå áÇ íÛÝÑ Ãä íÔÑß Èå æíÛÝÑ ãÇ Ïæä Ðáß áãä íÔÇÁ [.
“Sesungguhnya Allah tak akan mengampuni dosa syirik, & Dia mengampuni segala dosa yang selain dari ( syirik ) itu.” ( QS. An Nisa’, 48).
Firman Allah “ ãÇ Ïæä Ðáß ” artinya : “dosa dosa yang lebih kecil dari pada syirik ”, bukan “ dosa yang selain syirik ”, berdasarkan dalil bahwa orang yang mendustakan apa yang diberitakan Allah & RasulNya adalah kafir, dgn kekafiran yang tak diampuni, sedangkan dosa orang yang meninggalkan shalat tak termasuk syirik.
Andaikata kita menerima bahwa firman Allah “ ãÇ Ïæä Ðáß ” artinya adalah “dosa dosa selain syirik”, niscaya inipun termasuk dlm bab Al Amm Al Makhsus ( dalil umum yang bersifat husus ), dgn adanya nash nash lain yang menunjukkan adanya kekafiran yang menyebabkan keluar dari Islam termasuk dosa yang tak diampuni, sekalipun tak termasuk syirik.
Bagian ketiga : dalil umum yang bersifat husus, dgn hadits hadits yang menunjukkan kekafiran orang yang meninggalkan shalat.
Contohnya : sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam dlm hadits yang dituturkan oleh Mu’adz bin Jabal rodhiallohu ‘anhu :
” ãÇ ãä ÚÈÏ íÔåÏ Ãä áÇ Åáå ÅáÇ Çááå æÃä ãÍãÏÇ ÚÈÏå æÑÓæáå ÅáÇ ÍÑãå Çááå Úáì ÇáäÇÑ “.
“Tidak ada seorang hamba yang bersaksi bahwa tak ada sesembahan yang haq kecuali Allah & Muhammad adalah hamba & utusanNya, kecuali Allah haramkan ia dari api neraka.”
Inilah salah satu lafadznya, & diriwayatkan pula dgn lafadz seperti ini dari Abu Hurairah, Ubadah bin Shamit & Atban bin Malik radhiyallohu ‘anhu.
Bagian keempat : dalil umum yang muqoyyad ( dibatasi ) oleh suatu ikatan yang tak mungkin baginya meninggalknan shalat.
Contohnya : sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam dlm hadits yang dituturkan oleh Itban bin Malik rodhiallohu ‘anhu :
” ãÇ ãä ÃÍÏ íÔåÏ Ãä áÇ Åáå ÅáÇ Çááå æÃä ãÍãÏÇ ÑÓæá Çááå ÕÏÞÇ ãä ÞáÈå ÅáÇ ÍÑãå Çááå Úáì ÇáäÇÑ “.
“Tidak ada seorang hamba yang bersaksi bahwa tak ada sesembahan yang haq kecuali Allah, & Muhammad adalah utusan Allah, dgn ihlas dlm hatinya ( semata mata karena Allah ), kecuali Allah haramkan ia dari api neraka.”
Dan sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam dlm hadits yang dituturkan oleh Mu’adz bin Jabal rodhiallohu ‘anhu :
” ãÇ ãä ÃÍÏ íÔåÏ Ãä áÇ Åáå ÅáÇ Çááå æÃä ãÍãÏÇ ÑÓæá Çááå ÕÏÞÇ ãä ÞáÈå ÅáÇ ÍÑãå Çááå Úáì ÇáäÇÑ “.
“Tidak ada seorang hamba yang bersaksi bahwa tak ada sesembahan yang haq kecuali Allah, & Muhammad adalah utusan Allah, dgn ihlas dlm hatinya ( semata mata karena Allah ), kecuali Allah haramkan ia dari api neraka.”( HR. Bukhori).
Dengan dibatasinya pernyataan dua kalimat syahadat oleh keihlasan niat & kejujuran hati, menunjukkan bahwa shalat tak mungkin akan ditinggalkan, karena siapapun yang jujur & ihlas dlm pernyataannya niscaya kejujuran & keihlasannya akan mendorong dirinya utk melaksanakan shalat, & tentu saja, karena shalat merupakan sendi Islam, serta media komunikasi antara hamba & Tuhan.
Maka apabila ia benar benar mengharapkan perjumpaan dgn Allah, tentu akan berbuat apapun yang dapat menghantarkannya ke tujuannya itu, & menjauhi apa yang menjadi pengahalangnya.
Demikian pula orang yang mengucapkan kalimat “La Ilaha Illallah wa anna Muhammad Rasulullah” secara jujur dari lubuk hatinya, tentu kejujurannya itu akan mendorong dirinya utk melaksanakan shalat dgn ikhlas semata mata karena Allah, & mengikuti tuntunan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam, karena hal itu termasuk syarat syarat syahadat yang benar.
Bagian kelima : dalil yang disebutkan secara muqoyyad (dibatasi ) oleh suatu kondisi yag menjadi alasan bagi seseorang utk meninggalkan shalat.
Contohnya : hadits riwayat Ibnu Majah, dari Hudzaifah bin Al Haman, ia menuturkan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda :
” íÏÑÓ ÇáÅÓáÇã ßãÇ íÏÑÓ æÔí ÇáËæÈ ” æÝíå ” æÊÈÞì ØæÇÆÝ ãä ÇáäÇÓ ÇáÔíÎ ÇáßÈíÑ æÇáÚÌæÒ íÞæáæä : ÃÏÑßäÇ ÂÈÇÁäÇ Úáì åÐå ÇáßáãÉ áÇ Åáå ÅáÇ Çááå ÝäÍä äÞæáåÇ “.
“Akan hilang Islam ini sebagaimana akan hilang ornamen yang terdapat pada pakaian”… “dan tinggallah beberapa kelompok manusia, yaitu kaum lelaki & wanita yang tua renta, mereka berkata :”kami mendapatkan orang tua kami hanya menganut kalimat “La Ilaha Illallah” ini, maka kamipun menyatakannya ( seperti mereka ).”
Shilah berkata kepada Hudzaifah :” Tidak berguna bagi mereka kalimat “La Ilah Illallah”, bila mereka tak tahu apa itu shalat, apa itu puasa, apa itu haji, apa itu zakat.”, maka Hudzaifah rodhiallohu ‘anhu memalingkan mukanya dgn menjawab :” wahai Shilah, kalimat itu akan menyelamatkan mereka dari api neraka”, berulangkali dia katakan seperti itu kepada Shilah, & ketiga kalinya dia mengatakan sambil menatapnya.
Orang orang yang selamat dari api neraka dgn kalimat syahadat saja, mereka itu dimaafkan utk tak melaksanakan syariat Islam, karena mereka sudah tak mengenalnya, sehingga apa yang mereka kerjakan hanyalah apa yang mereka dapatkan saja, kondisi mereka adalah serupa dgn kondisi orang yang meninggal dunia sebelum diperintahkannya syariat, atau sebelum mereka mendapat kesempatan utk mengerjakan syariat, atau orang yang masuk Islam di negara kafir tetapi sebelum sempat mengenal syariat ia meninggal dunia.
Kesimpulannya, bahwa dalil-dalil yang dipergunakan oleh mereka yang berpendapat bahwa tak kafir orang yang tak shalat atau meninggalkannya, tak dapat melemahkan dalil dalil yang dipergunakan oleh mereka yang berpendapat bahwa orang yang meninggalkan shalat adalah kafir, karena dalil dalil yang mereka pergunakan itu dhaif, & tak jelas, atau sama sekali tak membuktikan kebenaran pendapat mereka, atau dibatasi oleh suatu ikatan yang dgn demikian tak mungkin shalat itu ditinggalkan, atau dibatasi oleh suatu kondisi yang menjadi alasan utk meninggalkan shalat, atau dalil umum yang bersifat husus dgn adanya nash nash yang menunjukkan kekafiran orang yang meninggalkan shalat.
Dengan demikian jelaslah bahwa orang yang meninggalkan shalat adalah kafir, berdasarkan dalil yang kuat yang tak dapat disanggah & disangkal lagi, utk itu harus dikenakan kepadanya konsekwensi hukum karena kekafiran & riddah ( keluar dari Islam ), sesuai dgn prinsip “hukum itu dinyatakan ada atau tak ada mengikuti ilat ( alasan) nya”.
(Dinukil dari Íßã ÊÇÑß ÇáÕáÇÉ, Edisi Indonesia Hukum orang yang meninggalkan sholat. Penulis Syaikh Muhammad bin Shaleh Al Utsaimin rahimahullah)

sumber: www.salafy.or.id

hukum hillah dlm islam hukum hillah dlm islam hukum hillah dlm islam kekafiran imam abu hanifah hilah orang meningal hukum orang islam tidak sholat ketika ninggal apakah wajib di sholati izzis.web.id/ hukum- untuk- orang- yang- meninggalkan- sholat- i- imam- abu- hanifah- 2760.htm izzis.web.id/ hukum- untuk- orang- yang- meninggalkan- sholat- i- imam- abu- hanifah- 2760.htm izzis.web.id/ hukum- untuk- orang- yang- meninggalkan- sholat- i- imam- abu- hanifah- 2760.htm izzis.web.id/ hukum- untuk- orang- yang- meninggalkan- sholat- i- imam- abu- hanifah- 2760.htm hukum hillah bagi imam abu hanifah orang mati yang tidak boleh di sholati hukum orang yang meninggalkan sholat hukum sholat pengganti bagi orang tua yg meninggal hilah orang meninggal