Hukum Seorang Muslim Menikahi Wanita Ahli Kitab Alaihi Wa Sallam

Di kalangan para ulama ada 2 pendapat dlm masalah ini.

Pendapat Pertama.
Seorang muslim halal menikahi wanita-wanita Ahli Kitb, baik nan merdeka, nan berstatus sebagai Ahli Dzimmah, ataupun nan menjaga kehormatannya. Ini adalah pendapat jumhur ulama dari kalangan Hanafiyah (*2), Malikiyah (*3), Syafi'iyah (*4), & Hanabilah (Hanbali) (*5).

Pendapat Kedua.
Seorang muslim haram menikahi wanita-wanita Ahli Kitab, baik nan merdeka, nan berstatus sebagai Ahli Dzimmah ataupun nan menjaga kehormatannya.

Pendapat ini dinukil dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma, & ia menjadi pendapat Syi'ah Imamiyah (*6).

Dalil-Dalil Pendapat Di Atas.

Pendapat Pertama: Yaitu pendapat jumhur ulama, mereka berdalil dgn dalil-dalil sebagai berikut.
[a]. Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Artinya ” Makanan (sembelihan) orang-orang nan diberi Al-Kitab itu halal bagimu, & makanan kamu halal pula bagi mereka. (Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita nan menjaga kehormatan di antara orang-orang nan diberi Al-Kitab sebelum kamu” [Al-Maidah: 5]

[b]. Perilaku para sahabat, karena mereka telah menikahi wanita-wanita nan bersetatus sebagai Ahli Dzimmah dari Ahli Kitab. Misalnya Utsman Radhiyallahu ‘anhu, beliau telah menikahi Nailah binti Al-Gharamidhah Al-Kalbiyyah, padahal ia seorang wanita Nasrani, lalu masuk Islam dgn perantara beliau. Hudzaifah Radhiyallahu ‘anhu menikah dgn seorang wanita Yahudi dari Al-Madain.

[c]. Jabir Radhiyallahu ‘anhu ditanya tentang hukum seorang muslim menikahi wanita-wanita Yahudi & Nasrani. Maka beliau menjawab: “Kami telah menikahi mereka pada waktu penaklukan kota Kufah bersama Sa'ad bin Abi Waqqash” (*7)

[d]. Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai orang-orang Majusi.
Artinya ” Berbuatlah kalian kepada mereka seperti nan berlaku bagi Ahli Kitab, selain menikahi wanita-wanita mereka & tak makan daging sembelihan mereka” (*8)

Sedangkan Pendapat Kedua: Mereka berdalil dgn dalil-dalil sebagai berikut.
[a]. Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala
Artinya ” Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman” [Al-Baqarah: 221]

Sisi pengambilan dalil dari ayat tersebut adalah bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengharamkan nikah dgn wanita musyrik dlm ayat ini. Padahal wanita Ahli Kitab adalah orang musyrik. Dalam menyatakan bahwa wanita Ahli Kitab itu adalah orang musyrik, mereka berdalil dgn sebuah riwayat nan shahih dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma bahwa beliau pernah ditanya tentang hukum menikah dgn wanita-wanita Nashrani & Yahudi. Maka beliau menjawab: “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan bagi orang-orang nan beriman menikah dgn wanita-wanita musyrik. Dan, saya tak mengetahui ada kemusyrikan nan lebih besar daripada seorang wanita nan mengatakan Rabb-nya adalah Nabi Isa. Padahal beliau adalah salah seorang hamba Allah Subhanahu wa Ta'ala” (*9) [HR Al-Bukhari dlm Shahih-nya]

[b]. Mereka juga berdalil dgn firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Artinya ” Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dgn perempuan-perempuan kafir” [Al-Mumtahanah: 10]

Sisi pengambilan dalil dari ayat tersebut adalah bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala telah melarang tetap berpegang teguh pada ikatan pernikahan dgn perempuan-perempuan kafir. Padahal perempuan-perempuan Ahli Kitab termasuk perempuan-perempuan kafir. Sementara larangan (An-Nahyu) dlm ayat tersebut bermakna haram.

Diskusi Seputar Dalil-Dalil Di Atas
Jumhur ulama telah mendiskusikan (mengkritisi) dalil-dalil pendapat kedua dgn penjelasan sebagai berikut.

(*1). Diskusi Dalil Pertama.
Yaitu firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Artinya ” Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman” [Al-Baqarah: 221]

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, bahwasanya ayat tersebut telah dimansukh (dihapus) dgn ayat nan tertera di dlm surat Al-Maidah, yakni firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Artinya ” Pada hari ini dihalalkan bagimu nan baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang nan diberi Al-Kitab itu halal bagimu, & makanan kamu halal pula bagi mereka. (Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita nan menjaga kehormatan di antara orang-orang nan diberi Al-Kitab sebelum kamu” [Al-Maidah: 5]

Demikian pula bahwa dalil nan dijadikan hujjah oleh mereka adalah bersifat umum (‘amm), nan mengandung arti setiap wanita kafir, sedangkan ayat nan kami bawakan ini adalah bersifat khusus (khas), nan menyatakan halal menikahi wanita Ahli Kitab. Padahal dalil nan bersifat khusus itu wajib didahulukan. (*10)

(*2). Diskusi Dalil Kedua.
Yaitu tentang pernyataan Ibnu Umar: “Saya tak mengetahui ada kesyirikan nan lebih besar daripada seorang wanita nan mengatakan Rabb-nya adalah Nabi Isa”. Maka dapat dijawab: “Bahwa ayat ini mengkhususkan wanita-wanita Ahli Kitab dari wanita-wanita musyrik secara umum. Maka dalil nan bersifat umum harus dibangun di atas dalil nan bersifat khusus” (*11)

(*3). Diskusi Dalil Ketiga
Yaitu firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Artinya ” Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dgn perempuan-perempuan kafir” [Al-Mumtahanah: 10]

Ibnu Qudamah mejelaskan: “Lafadz musyrikin (orang-orang musyrik) secara mutlak itu tak mencakup Ahli Kitab, berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala berikut.

Artinya ” orang-orang kafir yakni Ahli Kitab & orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tak akan meninggalkan (agamanya)…”[Al-Bayyinah: 1]

Allah Subhanahu wa Ta'ala juga berfirman.

Artinya ” Sesungguhnya orang-orang kafir yakni Ahli Kitab & orang-orang musyrik” [Al-Bayyinah: 6]

Maka anda akan mendapatkan bahwa Al-Qur'an sendiri membedakan antara kedua golongan tersebut. Al-Qur'an telah menunjukkan bahwa lafadz ‘musyrikin' (orang-orang musyrik) secara mutlak itu tak mencakup Ahli Kitab.

Jadi firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Artinya ” Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dgn perempuan-perempuan kafir” [Al-Mumtahanah: 10]

Adalah bersifat umum (‘amm), nan mengandung arti setiap wanita kafir, sedangkan ayat nan kami bawakan ini adalah bersifat khusus (khash), nan menyatakan halal menikahi wanita Ahli Kitab. Padahal dalil nan besifat khusus itu wajib didahulukan.

Setelah diskusi singkat ini, jelaslah bagi kita ini bahwa semua dalil para ulama nan menyatakan haram menikahi wanita Ahli Kitab adalah lemah, & tak ada satupun dalil nan shahih. Adapun nan lebih rajih (unggul) adalah pendapat jumhur ulama nan menyatakan halal menikahi wanita-wanita mereka (Ahli Kitab).

Berkaitan: . . Di kalangan para ulama nan menyatakan halal menikahi wanita-wanita Ahli Kitab sendiri, yaitu jumhur ulama, mereka masih berbeda pendapat tentang menikahi wanita-wanita Ahli Kitab, apakah hukum halal itu boleh secara muthlak ataukah boleh namun makruh hukumnya?

Dalam masalah ini terdapat 3 pendapat.

Pendapat Pertama.
Menikahi wanita-wanita Ahli Kitab adalah boleh namun makruh hukumnya. Ini adalah pendapat sebagian madzhab Hanafiyah (*12), pendapat madzhab Malikiyah (*13), Syafi'iyah (*14), & Hanabilah (*15).

Pendapat Kedua
Menikahi wanita-wanita Ahli Kitab adalah boleh secara mutlak, tak makruh sama sekali. Ini adalah pendapat sebagian madzhab Malikiah, di antara mereka ada Ibnu Al-Qasim & Khalil, & itu merupakan pendapat imam Malik (*16).

Pendapat Ketiga
Az-Zarkasyi dari kalangan madzhab Syafi'iyah berkata: “Kadangkala hukumnya menikahi wanita Ahli Kitab bisa sunnah (istihbab), apabila wanita tersebut dapat diharapkan masuk Islam. Pasalnya, ada riwayat bahwa Utsman Radhiyallahu ‘anhu telah menikah seorang wanita Nashrani, kemudian wanita itu masuk Islam & ke-islamannya pun baik” (*17). Ini adalah pendapat nan marjuh (lemah) dari kalangan madzhab Syafi'iyah.

[Disalin dari kitab Akhkaamu Nikaakhu Al-Kuffaar Alaa Al-Madzhabi Al-Arba'ah, Penulis , edisi Indonesia Bolehkah Rumah Tangga Beda Agama?, Penerbit At-Tibyan, Penerjemah Mutsana Abdul Qahhar

Referensi
(*1). Ahli dzimmah adalah orang-orang bukan Islam nan berada di bawah perlindungan pemerintah Islam.
(*2). Syarh Fath Al-Qadir III/228, Bada'i Ash-Shana'i II/270, Hasyiyah Ibnu Abidin III/45 & Tabyin Al-Haqaiq Syarh Kanzu Ad-Daqaiq oleh Az-Zailaiy II/109 terbtan Daar Al-Ma'rifah, Beirut.
(*3). Al-Fawakih Ad-Diwani II/42, Bidayah Al-Mujtahid II/44 & Al-Kafi oleh Ibnu Abdil Barr II/543
(*4). Al-Majmu Syarh Al-Muhadzdzab XVI/232, Mughni Al-muhtaj III/187 Raudhah Ath-Thalibin VII/132 & Alaihis salam Sail Al-Jarar Al-Mutadaffiq Ala Hadaiq Al-Zhar II/253 terbitan Al-Daar Al-Kutub Al-Ilmiyyah, Beirut.
(*5). Al-Mughni oleh Ibnu Qudamah VI/589 & Syarh Muntaha Al-Iradaat III/236
(*6). Al-Majmu Syarh Al-Muhadzdzab XVI/233, Al-Mughni oleh Ibnu Qudamah VI/590 & Fath Al-Qadir oleh Asy-Syaukani I/15
(*7). Al-Majmu Syarh Al-Muhadzdzab XVI/232
(*8). Tanwir Al-Hawalik Syarh Al-Muwaththa Malik, kitab Az-Zakaat I/263
(*9). Fathul Baari Syarh Shahih Al-Bukhari, kitab Ath-Thalaq IX/416 terbitan Daar Al-Ma'rifah, Beirut
(*10). Al-Mughni oleh Ibnu Qudamah VI/590
(*11). Lihat Tafsir Fath Al-Qadir oleh Asy-Syaukani II/15
(*12). Tabyin Al-Haqa-iq Syarh Kanzu Ad-Daqa-iq II/109
(*13). Al-Fawakih Ad-Diwani II/43
(*14). Takmilah Al-Majmu 16/232
(*15). Al-Furu oleh Ibnu muflih V/207
(*16). Al-Fawakih Ad-Diwani II/43
(*17). Mughni Al-Muhtaj III/187
sumber: www.almanhaj.or.id penulis Humaidhi bin Abdul Aziz bin Muhammad Al-Humaidhi tags: Alaihi Wa Sallam, Sabda Rasulullah, Al Kitab, Masuk Islam, Ahli Kitab, Subhanahu Wa

hukum menikahi ahli kitab apa hukumnya menikah antara islam &nasrani apakah arti wanita ahli kitab hukum menikahi wanita ahli kitab hukum nikah dengan nan muslim berserta dalil hukum menikahi yahudi menikah laki2muslim dg ahli kitab dalil laki2 muslim menikahi wanita ahli kitab sahabat nabi yang menikah denga ahli kitab sahabat nabi muhammad saw yang menikah dengan ahli kitab izzis.web.id/ hukum- seorang- muslim- menikahi- wanita- ahli- kitab- alaihi- wa- sallam- 141.htm dalil ttg laki2 muslim menikahi wanita yahudi &nasrani makna dan hukum ahlu kitab al maidah 5 penerbit kitab badai ash- shanai aya tentang menikahi ahli kitab