Dalil-Dalil Iman Kepada Qadha Dan Qadar Rukun Rukun Iman

Dalil nan menunjukkan rukun nan agung dari rukun-rukun iman ini ialah al-Qur-an, as-Sunnah, ijma', fitrah, akal, & panca indera.

Dalil-Dalil Dari Al-Qur-an
Dalil-dalil dari al-Qur-an sangat banyak, di antaranya firman Allah Azza wa Jalla

“…Dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan nan pasti berlaku. ” [Al-Ahzab:38]

Juga firman-Nya:

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran. ” [Al-Qamar: 49]

Dan juga firman-Nya nan lain:

“dan tak ada sesuatu pun melainkan pada sisi Kami-lah kha-zanahnya, & Kami tak menurunkannya melainkan dgn ukuran tertentu. ” [Al-Hijr: 21]

Juga firman-Nya:

“Sampai waktu nan ditentukan, lalu Kami tentukan (bentuknya), maka Kami-lah sebaik-baik nan menentukan. ” [Al-Mursalaat: 22-23]

Juga firman-Nya nan lain:

“…Kemudian engkau datang menurut waktu nan ditetapkan hai Musa. ” [Thaahaa: 40]

Dan juga firman-Nya:

“…Dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, & Dia menetapkan ukuran-ukurannya dgn serapi-rapinya. ” [Al-Furqaan: 2]

Dan firman-Nya nan lain:

“Dan nan menentukan kadar (masing-masing) & memberi petunjuk. ” [Al-A'laa: 3]

Firman-Nya nan lain:

“… (Allah mempertemukan kedua pasukan itu) agar Dia melakukan suatu urusan nan mesti dilaksanakan. . . ” [Al-Anfaal: 42]

Serta firman-Nya nan lain:

“Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dlm Kitab itu, ‘Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini 2 kali. . . ” [Al-Israa': 4]

Dalil-Dalil Dari As-Sunnah
Sementara dari sunnah ialah seperti sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana nan terdapat dlm hadits Jibril Alaihissalam

“…Dan engkau beriman kepada qadar, nan baik maupun nan buruk… . ” (*1)

Muslim meriwayatkan dlm kitab Shahiih dari Thawus, dia mengatakan, “Saya mengetahui sejumlah orang dari para Sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakan, ‘Segala sesuatu dgn ketentuan takdir. ' Ia melanjutkan, “Dan aku mendengar ‘Abdullah bin ‘Umar mengatakan, ‘Segala sesuatu itu dgn ketentuan takdir hingga kelemahan & kecerdasan, atau kecerdasan & kelemahan. '”(*2)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“…Jika sesuatu menimpamu, maka janganlah mengatakan, ‘Se-andainya aku melakukannya, niscaya akan demikian & demikian. ' Tetapi ucapkanlah, ‘Sudah menjadi ketentuan Allah, & apa nan dikehendakinya pasti terjadi… . '” (*3)

Demikianlah (dalil-dalil tersebut), & akan kita ini temukan dlm kitab ini dalil-dalil nan banyak dari al-Qur-an & as-Sunnah, sebagai tambahan atas apa nan telah disebutkan.

Dalil-Dalil Dari Ijma'
Sedangkan menurut Ijma', maka kaum muslimin telah bersepakat tentang kewajiban beriman kepada qadar, nan baik & nan buruk, nan berasal dari Allah. An-Nawawi Rahimahullah berkata, “Sudah jelas dalil-dalil nan qath'i dari al-Qur-an, as-Sunnah, ijma' Sahabat, & Ahlul Hil wal ‘Aqd dari kalangan salaf & khalaf tentang ketetapan qadar Allah Azza wa Jalla. ” (*4)

Ibnu Hajar Rahimahullah berkata, “Sudah menjadi pendapat salaf seluruhnya bahwa seluruh perkara semuanya dgn takdir Allah Ta'ala. ” (*5)

Dalil-Dalil Dari Fitrah
Adapun berdasarkan fitrah, bahwa iman kepada qadar adalah sesuatu nan telah dimaklumi secara fitrah, baik dahulu maupun sekarang, & tak ada nan mengingkarinya kecuali sejumlah kaum musyrikin. Kesalahannya tak terletak dlm menafikan & mengingkari qadar, tetapi terletak dlm memahaminya menurut cara nan benar. Karena itu, Allah Azza wa Jalla berfirman tentang kaum musyrikin:

“Orang-orang nan mempersekutukan Allah, akan mengatakan, ‘Jika Allah menghendaki, niscaya kami & bapak-bapak kami tak mempersekutukan-Nya. . . . '” [Al-An'aam: 148]

Mereka menetapkan kehendak (masyii-ah) bagi Allah, tetapi mereka berargumen dengannya atas perbuatan syirik. Kemudian Dia menjelaskan bahwa ini merupakan keadaan umat sebelum mereka, dgn firman-Nya:

“… Demikian pulalah orang-orang nan sebelum mereka telah mendustakan (para Rasul)… . ” [Al-An'aam: 148]

Bangsa ‘Arab di masa Jahiliyyah mengenal takdir & tak mengingkarinya, serta di sana tak ada orang nan berpendapat bahwa suatu perkara itu memang telah ada sebelumnya (terjadi dgn sendirinya, tanpa ada nan menghendakinya).

Hal ini kita ini jumpai secara nyata dlm sya'ir-sya'ir mereka, sebagaimana nan disebutkan sebelumnya, & sebagaimana dlm ucapan ‘Antarah:
Wahai tetumbuhan, ke mana aku akan lari dari kematian
jika Rabb-ku di langit telah menentukannya (*6)

Sebagaimana juga ucapan Tharfah bin al-‘Abd:
Seandainya Rabb-ku menghendaki, niscaya aku menjadi Qais bin Khalid
dan sekiranya Rabb-ku menghendaki, niscaya aku menjadi ‘Amr bin Martsad (*7)

Suwaid bin Abu Kahil berkata:
Yang Maha Pemurah, & segala puji untuk-Nya, telah menuliskan
keluasan akhlak pada kami begitu juga kebengkokannya (*8)

Al-Mutsaqqib al-‘Abdi berkata:
Aku yakin, jika Rabb menghendaki,
bahwasanya kekuatan & tujuan-Nya akan sampai kepadaku (*9)

Zuhair berkata:
Jangan menyembunyikan kepada Allah apa nan ada dlm jiwa kalian
agar tersembunyi, & meskipun disembunyikan Allah tetap mengetahuinya
Dia menunda lalu diletakkan dlm kitab utk disimpan
bagi hari Penghisaban, atau disegerakan utk diberi balasan (*10)

Sebagaimana kita ini dapati juga dlm khutbah-khutbah mereka, seperti dlm pernyataan Hani' bin Mas'ud asy-Syaibani dlm khutbahnya nan masyhur pada hari Dzi Qar, “Sesungguhnya sikap waspada (hati-hati) tak dapat menyelamatkan dari takdir. ” (*11)

Tidak seorang pun dari mereka nan menafikan qadar secara mutlak, sebagaimana nan ditegaskan oleh salah seorang pakar bahasa ‘Arab, Abul ‘Abbas Ahmad bin Yahya Tsa'lab Rahimahullah, dgn ucapannya, “Saya tak mengetahui ada orang ‘Arab nan mengingkari takdir. ” Ditanyakan kepadanya, “Apakah di hati orang-orang ‘Arab terlintas pernyataan menafikan takdir?” Ia menjawab, “Berlindunglah kepada Allah, tak ada pada bangsa ‘Arab kecuali menetapkan takdir, nan baik maupun nan buruk, baik semasa Jahiliyyah maupun semasa Islam. Pernyataan mereka sangat banyak & jelas. ” Kemudian dia mengucapkan sya'ir:

Takdir-takdir berlaku atas jarum nan menancap
dan tidaklah jarum berjalan melainkan dgn takdir
Lalu dia mengucapkan sya'ir milik Umru-ul Qais:
Kesengsaraan pada 2 kesengsaraan telah tertuliskan (*12)

Labid berkata:
Bertakwa kepada Rabb kami adalah sebaik-baik kewajiban
dan dgn seizin Allah hidup & ajalku
Aku memuji Allah & tak ada sekutu bagi-Nya
di kedua tangan-Nya tergenggam kebajikan, apa nan dikehendaki-Nya pasti terjadi
Siapa nan diberi petunjuk kepada jalan kebajikan, maka dia telah mendapat petunjuk & hidupnya menyenangkan
dan siapa nan dikehendaki-Nya (untuk disesatkan), maka Dia menyesatkannya (*13)

Ka'b bin Sa'ad al-Ghanawi berkata:
Tidakkah engkau mengetahui bahwa dudukku tak menjauhkan kematianku dariku
dan tak pula kepergianku mendekatkanku kepada kematian
Bersama takdir nan pasti, hingga kematianku menimpaku
seandainya jiwa tak terburu-buru (*14)

Dalil-Dalil Dari Akal
Sedangkan dalil akal, maka akal nan sehat memastikan bahwa Allah-lah Pencipta alam semesta ini, nan Mengaturnya & nan Menguasainya. Tidak mungkin alam ini diadakan dgn sistim nan menakjubkan, saling menjalin, & berkaitan erat antara sebab & akibat sedemikian rupa ini adalah secara kebetulan. Sebab, wujud itu sebenarnya tak memiliki sistem pada asal wujud-nya, lalu bagaimana menjadi tersistem pada saat adanya & perkembangannya?

Jika ini terbukti secara akal bahwa Allah adalah Pencipta, maka sudah pasti sesuatu tak terjadi dlm kekuasaan-Nya melainkan apa nan dikehendaki & ditakdirkan-Nya.

Di antara nan menunjukkan pernyataan ini ialah firman Allah Azza wa Jalla:

“Allah-lah nan menciptakan 7 langit & seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, & sesungguhnya Allah, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu. ” [Ath-Thalaaq: 12]

Kemudian perincian tentang qadar tak diingkari akal, tetapi merupakan hal nan benar-benar disepakati, sebagaimana nan akan dijelaskan nanti.

Dalil-Dalil Dari Panca Indera
Adapun bukti secara inderawi, maka kita ini menyaksikan, mendengar, & membaca bahwa manusia akan lurus berbagai urusan mereka dgn beriman kepada qadha' & qadar -dan telah lewat penjelasan tentang hal ini pada pembahasan “Buah Keimanan kepada Qada' & Qadar”-. Orang-orang nan benar-benar beriman kepadanya adalah manusia nan paling berbahagia, paling bersabar, paling berani, paling dermawan, paling sempurna, & paling berakal.

Seandainya keimanan kepada takdir tersebut tidaklah nyata, niscaya mereka tak mendapatkan semua itu.

Kemudian, qadar adalah “sistem tauhid,” (*15) sebagaimana dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhu, & tauhid itu sendiri adalah sebagai sistem kehidupan. Maka kehidupan manusia tak akan benar-benar istiqamah (lurus), kecuali dgn tauhid, & tauhid tak akan lurus kecuali dgn beriman kepada qadha' & qadar.

Mudah-mudahan apa nan akan disebutkan di akhir kitab ini mengenai kisah-kisah manusia nan menyimpang dlm masalah takdir akan menjadi bukti atas hal itu.

Kemudian dlm perkara nan telah diberitakan Allah & Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, berupa perkara-perkara ghaib di masa mendatang nan telah terjadi, sebagaimana disebutkan dlm hadits, adalah bukti nan jelas & nyata bahwa iman kepada qadar adalah hak & benar.

[Disalin dari kitab Al-Iimaan bil Qadhaa wal Qadar, Edisi Indoensia Kupas Tuntas Masalah Takdir, Penulis Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd, Penerjemah Ahmad Syaikhu, Sag. Penerbit Pustaka Ibntu Katsir]
__________
Footenotes
(*1). HR. Muslim, kitab al-Iimaan, (I/38, no. 8).
(*2). Muslim, (no. 2655) diriwayatkan juga oleh Ahmad dlm al-Musnad, yang
diteliti oleh Ahmad Syakir, (VIII/152, no. 5893), & diriwayatkan oleh Malik dlm al-Muwaththa', (II/879).
(*3). HR. Muslim, (no. 2664).
(*4). Syarh Shahiih Muslim, an-Nawawi, (I/155).
(*5). Fat-hul Baari, (XI/287) lihat, Syarh Ushuul I'tiqaad Ahlis Sunnah wal Jamaa'ah, al-Lalika-i, (III/534-538), di mana dia menukil ijma' atas hal itu dari sejumlah besar kaum salaf, & lihat, Majmuu'ul Fataawaa, (VIII/449, 452, 459).
(*6). Diiwaan ‘Antarah, hal. 74.
(*7). Syarh al-Mu'allaqaatil ‘Asyr, az-Zauzani, hal. 119.
(*8). Al-Mufadh-dhaliyyaat, al-Mufadh-dhal adh-Dhabi, hal. 197.
(*9). Al-Mufadhdhaliyyaat, hal. 151.
(*10). Syarh Diiwaan Zuhair bin Abi Sulma, hal. 25.
(*11). Al-Amaali, Abu ‘Ali al-Qali, (I/171), Jamharatul Khuthabil ‘Arab, Ahmad Zaki Shafwat, (I/37), & Taariikhul Adabil ‘Arabi, Ahmad Hasan az-Zayyat, hal. 33.
(*12). Lihat, Syarh Ushuul I'tiqaad Ahlis Sunnah wal Jamaa'ah, al-Lalika-i, (III/538) & lihat, (IV/704-705) dari kitab nan sama.
(*13). Syarh Ushuul I'tiqaad Ahlis Sunnah wal Jamaa'ah, al-Lalika-i, (IV/705), & lihat, Syi'r Labid Ibn Rabi'ah baina Jaahiliyyatih wa Islaamih, Zakaria Shiyam, hal. 95.
(*14). Al-‘Ashma'iyyaat, al-‘Ashma'i ‘Abdulmalik bin Quraib, hal. 74.
(*15). Majmuu'ul Fataawaa, (II/113)
sumber: www.almanhaj.or.id penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd tags: Rukun Rukun Iman, Alaihi Wa Sallam, Panca Indera, Al Qamar

dalil naqli yang berkaitan dengan qadha dan qadar dalil tentang qada dan qadar dalil naqli qada dan qadar dalil tentang qadha dan qadar dalil naqli adanya qada dan qadr dalil tentang qada dan qadar dalil naqli tentang qada dan qadar dalil tentang beriman kepada qada dan qadar dalil tentang qada dan qadar dalil naqli qada dan qadar dalil - dalil tentang qada dan qadar terlengkap dalil naqli mengenai qada dan qadar dalil naqli tentang qadha dan qodar dalil naqli qadha dan qadar hadits tentang qadha & qadar