Contoh-Contoh Hadits Ahad Gaya Baru

MUKADDIMAH
Pembahasan mengenai hadits ahad & hubungannya dgn aqidah, atau hukum & aqidah, itu tak pernah dibicarakan oleh generasi pertama, kedua & ketiga. Khususnya para sahabat g , tak pernah memilah atau membagi-bagi hadits, seperti pembagian nan dilakukan oleh sebagian ahli bid'ah, bahwa hadits ahad hanya terbatas utk hukum, sedangkan hadits mutawatir dapat dipakai utk aqidah. Pembagian seperti ini tak pernah dikenal, kecuali oleh ahli bid'ah, seperti Mu'tazilah. Dan fikrah ini terus berkembang sampai pada awal abad kedua puluh, hingga timbul Mu'tazilah gaya baru, atau nan kita ini kenal dgn Hizbut Tahrir.

Hizbut Tahrir mereka membagi, hadits mutawatir utk aqidah & ahkam. Sedangkan hadits ahad dikhususkan utk masalah hukum. Adapun para sahabat, tabi'in & tabi'ut tabi'in menerima hadits, jika hadits tersebut sah dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, tanpa membaginya sebagaimana nan dilakukan oleh Mu'tazilah & nan sepaham dengannya. Jadi, para sahabatnya melihatnya, sah atau tidak, jika sesuai dgn kaidah-kaidah ilmu hadits, & diterima baik utk masalah hukum ataupun aqidah. Jadi pembagian nan dilakukan oleh Hizbut Tahrir, bahwa hadits ahad tak bisa dipakai dlm aqidah, merupakan pembagian nan muhdats (bid'ah). Ini bisa dilihat dari beberapa segi.

1. Berdasarkan nash Al Qur'an, banyak ayat (firman Allah) nan dijadikan dalil oleh Imam Syafi'i. Diantaranya tersebut dlm kitab Ar Risalah, bahwa khabar ahad itu diterima.

2. Demikian juga dari hadits-hadits nan akan kita ini lihat.
Diantaranya, bahwa Rasulullah mengutus sebagian sahabat orang per orang utk menyampaikan Islam.

3. Bertentangan dgn Ijma' para sahabat. Para sahabat tak pernah menolak hadits nan disampaikan oleh 1 sahabat nan lain nan berkenaan dgn akidah & contoh tentang ini banyak sekali.

4. Bertentangan dgn kaidah ilmu hadits, nan dapat menunjukkan kebodohan mereka. Memang, perlu diketahui bahwa ahlul bid'ah itu menegakkan manhaj mereka atas dasar kebodohan & hawa nafsu. Sedangkan Ahlus Sunnah menegakkan manhaj di atas dasar ilmu & keadilan.

BAGIAN KEDUA
Tampak sangat jelas kebodohan Hizbut Tahrir nan menolak khabar ahad utk aqidah, karena hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berbicara tentang Islam. Allah Azza wa Jalla memerintahkan Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam utk menjelaskan Al Qur'an. Tentunya, nan dimaksudkan dlm hal ini adalah dinul Islam. Allah berfirman:

وَأَنزَلْنَآ إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَانُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur'an, agar kamu menerangkan kepada ummat manusia apa nan telah diturunkan kepada mereka & supaya mereka memikirkan”. [An Nahl: 44].

Ayat nan mulia ini, memberikan sejumlah faidah, hukum & qawaid. Diantaranya, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam diperintahkan oleh Allah utk menjelaskan Al Qur'an. Penjelasan Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam tentang Al Qur'an ini, agar manusia faham dgn apa nan dimaksudkan oleh Allah Azza wa Jalla.

Penjelasan Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam sangat luas, meliputi apa nan ada dlm Al Qur'an, bahkan nan tak disebutkan secara terperinci di dalamnya, meskipun secara mujmal (global) terdapat di dlm Al Qur'an. Karena itu, ulama membagi Sunnah Nabi menjadi beberapa bagian. Pendapat ini disampaikan oleh ulama, diantaranya Imam Syafi'i, kemudian dinukil Imam Baihaqi di dlm kitabnya, Al Madkhal, & Imam Suyuthi di dlm kitab Miftahul Jannah.

1. Bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengamalkan atau memerintahkan apa nan diperintahkan oleh Allah. Misalnya, Allah memerintahkan shalat, maka Beliaupun ikut memerintahkan shalat. Allah mengancam orang nan meninggalkan shalat, Beliupun ikut mengancam. Dan begitu seterusnya.

2. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan apa nan mujmal di dlm Al Qur'an atau Beliau memberikan tambahan-tambahan, seperti wudhu, tentang makanan nan diharamkan nan tak disebutkan di dlm Al Qu'an kecuali beberapa macam, & lain-lain.

3. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan atau melarang sesuatu nan sama sekali tak ada keterangannya dlm Al Qur'an, tetapi secara mujmal atau mutlak terdapat dlm Al Qur'an, yakni perintah Allah Azza wa Jalla agar taat kepada Beliau Shallallahu 'alaihi wa salalm. Allah memerintahkan agar kita ini taat kepada Allah & Rasul, disebutkan di dlm Al Qur'an kurang lebih di 44 tempat. Diantaranya:

وَمَآءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَانَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan Apa nan diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah dia. Dan apa nan dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah; & bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya, Allah sangat keras hukumanNya”. [Al Hasyr: 7].

Ayat ini bersifat mutlak, memerintahkan kita ini utk menerima nan datang dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, walaupun tak tertulis di dlm Al Qur'an. Misalnya, seperti haramnya cincin emas serta kain sutera bagi kaum pria, & lain sebagainya.

Ini merupakan Sunnah & penjelasan Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam terhadap Al Qur'an. Dari sini, kita ini mengetahui bahwa Sunnah Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam tak hanya berbicara tentang 1 hokum. Jika Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam berbicara tentang 1 hal -misalnya tentang shalat, zakat, jual beli- tak hanya terbatas pada hukum tersebut, tetapi mencakup hukum nan lain, karena ini merupakan penjelasan Beliau terhadap Al Qur'an & Islam secara keseluruhan. Karena itu, Al Qur'an sangat membutuhkan kepada hadits, & tak sebaliknya.

Nanti kita ini akan melihat contoh, bahwa dlm 1 hadits kadang berbicara tentang aqidah, akhlak, kisah, hukum & lain-lain. Sehingga dari 1 hadits, kita ini dapat mengambil faidah nan banyak, puluhan bahkan ratusan. Sehingga, jika kita ini katakan bahwa hadits ahad tak dipakai utk aqidah, maka sebagian besar aqidah akan tertolak.

Kita lihat lagi kejahilan Hizbut Tahrir. Mereka hanya mengikuti hawa nafsu. Diantara kebodohannya, mereka tak bisa mengetahui adanya keterikatan antara aqidah & hukum. Padahal keterikatan antara keduanya sangat erat, tak terpisahkan. Karena, kalau memisahkannya, berarti kita ini menetapkan sesuatu tanpa iman. Misalnya hukum haramnya khamr. Dan menetapkan keharaman khamr itu dgn keyakinan, nan demikian ini merupakan aqidah. Mustahil kita ini menetapkan hukum tanpa keyakinan bahwa itu telah ditetapkan keharamannya oleh Allah Azza wa Jalla. Jadi, pemisahan antara aqidah & hukum merupakan 1 kerancuan dlm beragama, jauh dari nur Al Qur'an & Sunnah.

Hizbut Tahrir & kawan-kawannya juga tak istiqamah dlm menjalankan ajaran mereka. Ada sesuatu nan lucu. Kalau mereka mengatakan bahwa hadits ahad tak bisa diterima dlm aqidah, maka konsekwensinya, jika mereka menyampaikan materi dlm ta'lim, atau manakala menulis kitab, maka khabarnya wajib harus mutawatir, tak boleh 1 orang. Ini sesuai dgn teori mereka. Akan tetapi, kenyataannya ustadz-ustadz mereka menyampaikan materi aqidah seorang diri, begitu juga ketika menulis.

CONTOH-CONTOH HADITS AHAD
Sering terjadi, apa nan disangka oleh Hizbut Tahrir sebagai hadits ahad, ternyata bukan ahad. Sebagai contoh tentang adzab kubur. Bahkan mereka sering menyampaikan pengingkarannya terhadap adzab kubur. Padahal hadits tentang masalah ini mutawatir maknawi. Dan masih banyak contoh lainnya.

Hadits apa saja nan mereka tolak? Ini harus diteliti terlebih dahulu, apakah termasuk khabar ahad ataukah mutawatir? Demikian jika kita ini mengikuti teori mereka. Tetapi ternyata mereka tak paham nan dimaksud dgn ahad & mutawatir.

Di depan sudah disampaikan, jika kita ini menerima teori mereka, maka sebagian besar aqidah akan tertolak. Contoh-contoh hadits ahad nan diterima, disepakati & dijadikan dalil oleh para ulama dari zaman ke zaman, nan di dalamnya disamping berbicara tentang aqidah, tetapi juga hukum, atau nan lainnya. Karena keduanya berkaitan. Contohnya, kita ini lihat 1 per satu.

Contoh pertama, hadits nomor 1, nan kami bawakan dari Shahih Bukhariyaitu sebuah hadits ahad & gharib.

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

“Sesungguhnya amal itu dgn niat, & sesungguhnya bagi masing-masing orang apa nan dia niatkan. Barangsiapa nan hijrahnya kepada dunia yangakan ia dapatkan atau kepada perempuan nan akan dia nikahi maka (hasil) hijrahnya adalah apa nan dia niatkan”. [Muttafaqun ‘alaih].

Apakah hadits ini tak berbicara tentang aqidah? Bahkan hadits ini berbicara tentang salah 1 diterimanya amal, tentang ikhlas nan merupakan syarat diterimanya amal seseorang. Hadits ini, jelas merupakan hadits ahad, & termasuk ke dlm bagian hadits gharib, karena tak diriwayatkan, kecuali dari jalan Umar bin Khaththab. & tak ada nan meriwayatkan darinya, kecuali Al Qamah bin Waqqash Al Laitsi. & tak ada nan meriwayatkan darinya, kecuali Muhammad bin Ibrahim At Taimi. & tak ada nan meriwayatkan darinya, kecuali Yahya bin Sa'id Al Anshari. Kemudian dari beliau ini diriwayatkan oleh puluhan perawi, bahkan mungkin ratusan. Awalnya mutawatir, akhirnya ahad & gharib. Ini salah 1 contoh hadits nan diterima oleh para ulama, bahkan hampir sebagian besar ulama.

Contoh hadits kedua, yaitu hadits nomor 7, nan diriwayatkan juga oleh Imam Bukhari. Hadits nan panjang, berbicara tentang hukum, aqidah, adab & lain-lain. Yaitu hadits tentang kisah Hiraklius. Hadits ini telah diterima oleh para ulama. Di dalamnya diceritakan, Hiraklius bertanya kepada Abu Sufyan, nan ketika itu ia masih musyrik, berkaitan dgn dakwah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Diantaranya, Hiraklius bertanya kepada Abu Sufyan:

مَاذَا يَأْمُرُكُمْ قُلْتُ يَقُولُ اعْبُدُوا اللَّهَ وَحْدَهُ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَاتْرُكُوا مَا يَقُولُ آبَاؤُكُمْ وَيَأْمُرُنَا بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَالصِّدْقِ وَالْعَفَافِ وَالصِّلَةِ

“Apa nan diperintahkan oleh Muhammad kepada kalian? Aku (Abu Sufyan) menjawab,”Muhammad mengatakan: ‘ Sembahlah Allah semata & janganlah kalian menyekutukanNya dgn sesuatu apapun, tinggalkanlah apa nan dikatakan (diyakini) oleh bapak-bapak (nenek moyang) kalian'. Muhammad (juga) menyuruh kami utk shalat, zakat, jujur, menjaga harga diri & menyambung tali silaturrahim…”"

Apakah nan dimaksudkan dlm hadits ini bukan aqidah? Demikian ini aqidah, merupakan hadits ahad & bukan mutawatir. Bahkan dlm hadits nan mulia ini terdapat surat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, yaitu:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ مِنْ مُحَمَّدٍ عَبْدِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ إِلَى هِرَقْلَ عَظِيمِ الرُّومِ سَلَامٌ عَلَى مَنْ اتَّبَعَ الْهُدَى أَمَّا بَعْدُ فَإِنِّي أَدْعُوكَ بِدِعَايَةِ الْإِسْلَامِ أَسْلِمْ تَسْلَمْ يُؤْتِكَ اللَّهُ أَجْرَكَ مَرَّتَيْنِ فَإِنْ تَوَلَّيْتَ فَإِنَّ عَلَيْكَ إِثْمَ الْأَرِيسِيِّينَ وَ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَنْ لَا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

“Bismillahirrahmanirrahim, dari Muhammad hamba Allah & RasulNya kepada Hirakla (Hiraklius) pembesar Romawi, keselamatan atas orang nan mengikuti petunjuk, amma ba'du. Sesungguhnya aku mengajakmu dgn ajakan Islam, Islamlah Engkau pasti akan selamat & Allah akan memberikan kepadamu balasan 2 kali lipat. Jika engkau berpaling, maka engkau akan menanggung dosa-dosa rakyatmu. (Kemudian Rasulullah n membawakan ayat, nan artinya:) Katakanlah:”Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) nan tak ada perselisihan antara kami & kamu, bahwa tak kita ini sembah kecuali Allah & tak kita ini persekutukan Dia dgn sesuatupun & tak (pula) sebagian kita ini menjadikan sebagian nan lain sebagai Ilah selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang nan berserah diri (kepada Allah)”. [Ali Imran:64].

Surat ini mengajak Hiraklius utk masuk Islam, kembali ke agama tauhid. Apakah seperti ini bukan aqidah? Demikian ini adalah masalah aqidah. Bahkan dlm hadits ini terkumpul masalah akhlak, hukum, aqidah & sebagainya. Kalau hadits ahad tak bisa dijadikan sebagai hujjah dlm masalah aqidah, maka hadits nan mulia ini tertolak.

Contoh nan ke tiga, hadits nomor 8 di dlm Shahih Bukhari. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim & nan lainnya. Hadits ini ahad. Tetapi sepengetahuan kami, hadits ini masyhur, yaitu dari jalan Ibnu Umar.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَان َ

“Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Islam dibangun diatas 5 asas (yaitu) syahadat (persaksian) bahwa tak Ilah nan hak kecuali Allah & syahadat bahwa Muhammad itu Rasulullah, mendirikan shalat, memberikan zakat, haji & puasa ramadlan (dalam riwayat lain puasa Ramadlan baru haji)”

Bukankah hadits ini telah disepakati oleh para ulama & diterima dari zaman ke zaman? Hadits ini menjelaskan tentang rukun-rukun Islam, & diawali dgn syahadat. Apakah ini bukan masalah aqidah? Disini kita ini melihat lagi bahwa 1 hadits, selain berbicara masalah aqidah, juga masalah hukum.

Contoh ke empat, yaitu hadits nomor 9, di dlm Shahih Bukhari. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim & nan lainnya. Hadits ini, selain ahad juga gharib, dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ

“Dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam , Beliau Shallallahu 'alaihi wa salalm bersabda, 'Iman itu ada 6 puluh cabang lebih & rasa malu merupakan salah 1 cabang iman”.

Hadits ini menjelaskan tentang cabang keimanan. Yakni, iman itu mempunyai 6 puluh cabang lebih. Dan di riwayat Imam Muslim,

الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنْ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ

“Iman itu tujuhpuluh cabang lebih, nan paling tinggi adalah ucapan laailaha illallaah, & nan paling rendah ialah menyingkirkan gangguan dari jalan, & malu merupakan salah 1 cabang iman”.

Hadits ini juga berbicara tentang aqidah, hukum, akhlak & adab, seperti menghilangkan gangguan dari jalan. Padahal ini merupakan hadits ahad & gharib. Jikalau kita ini menerima kaidah mereka (Hizbut Tahrir), maka tertolaklah hadits ini, karena tak diriwayatkan secara mutawatir.

Contoh nan ke lima, hadits nan ke 14 & 15. Ini juga merupakan hadits ahad, berbicara tentang aqidah. Yaitu kecintaan kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salllam & cara mencapai kesempurnaan cinta kepadanya. Diriwayatkan dari jalan Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ

“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Demi Dzat nan jiwaku berada di tanganNya, tak akan beriman (sempurna keimanan) salah seorang diantara kalian sampai aku lebih dicintai daripada bapak & anaknya”.

Dan hadits nomor 15, dari jalan Anas:

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salalm bersabda, 'Tidak akan beriman (tidak akan sempurna keimanan) salah seorang diantara kalian sampai aku lebih dicintai daripada bapak & anaknya & semua orang”.

Ini juga berbicara tentang aqidah.

Contoh nan ke enam, hadits nomor 16, tentang kelezatan atau manisnya iman nan dapat dirasakan oleh seseorang. Diriwayatkan dari Anas Radhiyallahu 'anhu dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.

قَالَ ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

“Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Ada 3 hal, jika ketiganya terkumpul pada diri seseorang maka ia akan mendapatkan manisnya iman; (yaitu) Allah & Rasulnya lebih dicintai daripada selain keduanya, mencintai seseorang, ia tak mencintainya kecuali karena Allah & benci kembali kepada kekufuran sebagaimana dia benci dilempar kedalam api neraka”.

Hadits ini juga berbicara tentang cinta kepada Allah, RasulNya & juga keimanan. Bahwa iman itu punya rasa. Demikian ini adalah masalah aqidah.

Contoh nan ke tujuh, hadits nomor 26.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ أَيُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ فَقَالَ إِيمَانٌ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ حَجٌّ مَبْرُورٌ

“Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah ditanya: “Amal apakah nan paling afdhal?” Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab,”Iman kepada Allah & RasulNya. ” Kemudian ditanya lagi, 'Lalu apa lagi ?' Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, 'Jihad di jalan Allah'. Kemudian ditanya lagi, 'Lalu apa lagi ?' Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, 'Haji nan mabrur. '

Hadits nan mulia ini menjelaskan tentang iman. Bahwa iman itu masuk dlm bagian amal, & amal itu masuk dlm bagian iman.

Oleh karena itu, Imam Bukhari memberikan Bab: Man Qaala Annal Iman Huwal Amal, bahwa amal itu masuk dlm iman. Sehingga, ketika Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam ditanya tentang amal nan paling afdhal, Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab iman kepada Allah.

Hadits ini telah diterima oleh semua ulama Ahlus Sunnah utk menetapkan, bahwa amal itu masuk dlm bagian iman. nan tentunya akan menjelaskan kepada kita, bila iman itu bisa bertambah karena perbuatan ta'at, & bisa berkurang karena perbuatan maksiat.

Contoh ke delapan, hadits nomor 32, dari jalan Abdullah bin Mas'ud.

قَالَ لَمَّا نَزَلَتْ الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ قَالَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّنَا لَمْ يَظْلِمْ فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Ibnu Mas'ud mengatakan, “ketika turun firman Allah (yang artinya) Orang-orang nan beriman & tak mencampuradukkan iman mereka dgn kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang nan mendapat keamanan & mereka itu adalah orang-orang nan mendapat petunjuk. (QS. Al An'am 82), para shahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata, 'Siapakah diantara kita ini nan tak berbuat zhalim ?' lalu Allah menurunkan firmanNya (yang artinya), sesungguhnya kesyirikan itu adalah kezhaliman nan besar”

Ketika ayat Al An'am 82 diturunkan, para sahabat merasa susah & berat. Mereka mengatakan, siapakah diantara kita ini nan tak menzhalimi dirinya? Maka Rasulullah n menjelaskan kepada mereka, bahwa bukan itu nan dimaksud; tidakkah kalian mendengar perkataan Luqman kepada anaknya? Jadi zhulm (kezhaliman) disini, maksudnya adalah syirik. Ini juga berbicara tentang aqidah, antara tauhid & syirik.

Contoh ke sembilan, hadits no. 39, dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu.

إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ

“Sesungguhnya agama itu adalah mudah”

Ini juga berbicara tentang aqidah, bahkan berbicara tentang agama ini secara keseluruhan. Bahwa ajaran Islam, pengamalan & dakwahnya adalah mudah. Apakah ini tak berbicara aqidah? Hadits ini berbicara tentang Islam, & tentunya kaffah. Sebagaimana Allah memerintahkan kepada kita ini utk masuk Islam secara kaffah (menyeluruh).

Contoh ke sepuluh, hadits nomor 50. Yaitu hadits tentang Jibril nan datang kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam lalu bertanya Islam, iman & ihsan, & di Shahih Bukhari diringkas.

مَا الْإِيمَانُ قَالَ الْإِيمَانُ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَبِلِقَائِهِ وَرُسُلِهِ وَتُؤْمِنَ بِالْبَعْثِ قَالَ مَا الْإِسْلَامُ قَالَ الْإِسْلَامُ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ وَلَا تُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَتُقِيمَ الصَّلَاةَ وَتُؤَدِّيَ الزَّكَاةَ الْمَفْرُوضَةَ وَتَصُومَ رَمَضَانَ قَالَ مَا الْإِحْسَانُ قَالَ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

“Apakah iman ? Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'iman adalah engkau beriman kepada Allah, malaikatNya, kitab-kitabNya, pertemuan denganNya, para rasulNya & beriman kepada hari kebangkitan. ' Jibril bertanya, 'Apakah Islam ? Rasulullah n bersabda, 'Islam adalah engkau beribadah kepada Allah & tak menyekutukan sesuatupun denganNya, mendirikan shalat, menunaikan zakat nan wajib, puasa Ramadlan. Jibril bertanya, 'Apakah Ihsan ? Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salalm bersabda, 'Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya, jika engkau tak bisa melihatnya maka sesungguhnya Dia melihatmu …”

Hadits ini termasuk ahad.

Contoh ke sebelas, hadits nomor 53, yaitu hadits tentang utusan Abdul Qais nan datang kepada Rasulullah, lalu menyambut mereka & memerintahkan kepada mereka 4 perkara & melarang dari 4 perkara.

أَمَرَهُمْ بِالْإِيمَانِ بِاللَّهِ وَحْدَهُ قَالَ أَتَدْرُونَ مَا الْإِيمَانُ بِاللَّهِ وَحْدَهُ قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامُ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءُ الزَّكَاةِ وَصِيَامُ رَمَضَانَ وَأَنْ تُعْطُوا مِنْ الْمَغْنَمِ الْخُمُسَ

“Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memerintah mereka agar beriman kepada Allah Azza wa Jalla semata, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya, 'Tahukah kalian, apakah berimankepaada Allah semata itu? Mereka menjawab, 'Allah & RasulNya lebih tahu. Beliau menerangkan, 'syahadat (persaksian) bahwa tak ilah nan haq kecuali Allah & Muhammad Shallallahu 'alaihi wa salalm itu Rasulullah, menegakkan shalat, memberikan zakat, puasa Ramadlan & memberikan seperlima dari ghanimah…”

Ini juga berbicara tentang iman.

Contoh ke duabelas, hadits nomor 1392, & di beberapa tempat lainnya, dari jalan Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhuma.

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ مُعَاذًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ إِلَى الْيَمَنِ فَقَالَ ادْعُهُمْ إِلَى شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً فِي أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ وَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ

“Bahwasanya rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengutus Mu'adz Radhiyallahu 'anhu ke Yaman, lalu rasulullah bersabda, 'Serulah mereka kepada syahadat (persaksian) bahwa tak ilah nan haq kecuali Allah & bahwasanya aku Rasulullah. Jika mereka mentaatimu dlm hal itu, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka shalat 5 kali sehari semalam. Jika mereka mentaatimu dlm hal itu, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan kepada mereka zakat dlm harta mereka nan diambil dari orang-orang kaya mereka & diberikan kepada orang-orang fakir mereka”.

Hadits nan mulia ini diterima oleh seluruh ulama. Apakah hadits ini bukan berbicara masalah aqidah? Bahkan ini merupakan asas dlm Islam. Tidak ada Islam tanpa syahadat tauhid.

Contoh ke tigabilas, dari selain Bukhari. Yaitu hadits nan masyhur & telah diterima oleh para ulama.

إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ

“Sesungguhnya mantera-mantera (yang bathil), jimat & pelet termasuk bagian syirik”.

Tentunya mantera-mantera nan dimaksudkan disini adalah mantera nan bathil. Karena ruqyah (pengobatan dgn bacaan) itu ada dua, ada nan syar'i & nan tak syar'i.

Hadits ini juga ahad, & masih banyak lagi contoh-contoh tentang hadits ahad nan berkaitan dgn aqidah, & diterima oleh para ulama.

PEMBAGIAN HADITS MENJADI MUTAWATIR DAN AHAD
Pembagian hadits menjadi mutawatir & ahad, memang ada dlm kaidah ilmu hadits. Namun perlu diketahui, bahwa para ulama membagi hadits menjadi mutawatir & ahad bukan utk menolak hadits.

Pembagian itu merupakan tinjauan ilmiah, berdasarkan jumlah (banyak atau sedikiknya) perawi nan meriwayatkannya. Sebagian tinjauan mereka berdasarkan shahih & lemahnya suatu riwayat.

Berdasarkan jumlah perawinya, jika perawi suatu hadits itu banyak, maka para ulama mengatakan bahwa hadits itu mutawatir, meskipun mereka masih berbeda pendapat tentang batasan banyak atau sedikit. Juga ada definisi lain tentang mutawatir ini, yaitu jika hadits tersebut diketahui keshahihannya & diterima secara mutlak oleh para ulama. Definisi ini dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.

Adapun hadits ahad, yaitu hadits di bawah mutawatir. Mereka membagi menjadi:
- Gharib, yaitu hadits nan hanya diriwayatkan oleh 1 orang sahabat saja, sebagaimana hadits pada contoh pertama & ke 4 di atas.
- Aziz, yaitu hadits nan diriwayatkan oleh 2 orang sahabat, walaupun lafazhnya agak berbeda.
- Masyhur, yaitu hadits nan diriwayatkan oleh 3 orang sahabat nan berbeda.

Ini semua termasuk dlm bagian hadits ahad. Maka disini ada pembagian hadits menjadi hadits shahih, hasan & dha'if.

Jika perawinya lebih dari tiga, maka disebut mutawatir. Demikian jika mengumpulkan antara 2 definisi diatas. Contoh hadits seperti ini sangat banyak. Misalnya:

من كذب على فليتبوا مقعده من النار

“Barangsiapa nan berdusta atas namaku, maka hendaklah ia mempersiapkan tempat duduknya dari neraka”

Hadits tentang azab kubur ini juga mutawatir maknawi (secara makna). Begitu juga tentang turunnya Isa Alaihissallam di akhir zaman, munculnya Dajjal, haudh (telaga) Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, tentang bumi berlapis tujuh. Dan masih banyak lagi contohnya.

Adapun berdasarkan difinisi Syaikhul Islam, yaitu hadits nan diketahui keshahihannya & diterima secara mutlak oleh para ulama, bisa juga disebut mutawatir. Ini sangat banyak sekali, terutama hadits-hadits nan berada di shahih Bukhari & Muslim.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi Khusus/Tahun VIII/1425H/2004M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-7574821]
sumber: www.almanhaj.or.id penulis Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir ‘Abdat tags: Gaya Baru, Alaihi Wa Sallam, Hizbut Tahrir, Ilmu Hadits, Al Qur

apa yang dimaksud dengan mutawatir dan mujmal contoh hadist kemukakan alasan dalil naqli bahwa riya dan sumah dapat merusak amal saleh kemukakan alasan dalil naqli dan aqlinya bahwa riya dan sumah itu dapat merusak amal saleh kemukakan alasan naqli dan aqlinya bahwa riya dan sumah dapat merusak amal soleh contoh hadits gharib aqidah hadits ahad dan contohnya contoh hadist lahaula walakuata hadist contoh hadits ahad contoh hadis ahad contoh hadits ahad contoh hadis ahad contoh hadis ahad dan penjelasannya contoh hadis ahad