Antara Ketenangan Jiwa, Kedamaian Hati, Dan Sebuah Kebenaran Ketenangan Jiwa

Pada zaman ini, banyak permasalahan nan dihadapi setiap manusia -dan secara khusus kaum Muslimin-, baik berkaitan dgn masalah lahir, batin, ataupun kejiwaan. Dari sini, muncullah berbagai ragam usaha utk mengatasi problematika hidupnya. Tujuan utamanya, pada dasarnya hanya satu, yaitu; mendapatkan kepuasan hati, ketenteraman hidup, & ketenangan jiwa.

Yang amat disayangkan, munculnya anggapan keliru karena ketidakpahaman atau karena belum mengerti, bahwa tak semua hal nan mampu mendatangkan kepuasan, ketenteraman hidup & ketenangan jiwa menunjukkan kebenaran sesuatu tersebut. Ya, kita ini bisa katakan, benar, memang sesuatu tersebut dapat mendatangkan kepuasan, ketenteraman hidup & ketenangan jiwa. Namun permasalahannya, apakah semua hal nan bisa mendatangkan kepuasan, ketenteraman hidup & ketenangan jiwa bisa dibenarkan secara syar'i? Jadi, nan dimaksud “benar” disini adalah, benar secara tinjauan & hukum syar'i. Jika tak demikian, kita ini akan menemukan betapa banyak praktek-praktek nan memang telah terbukti mampu mendatangkan kepuasan hati, ketenteraman hidup & ketenangan jiwa orang. Sebagai contoh, sebutlah bersemedhi, bertapa, atau meditasi, atau terapi psikologis lainnya. Hal-hal tersebut memang terbukti mampu mendatangkan kepuasan hati, ketenteraman hidup & ketenangan jiwa orang nan melakukannya (*1). Namun, apakah syariat Islam nan mulia & sempurna ini membenarkannya? Atau minimal mengizinkannya? Atau; apakah kepuasan hati, ketenteraman hidup & ketenangan jiwa tersebut -jika memang terjadi- adalah hakiki & abadi? Inilah permasalahannya.

Al Imam al ‘Allamah Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,”Adapun di bawah derajat orang ini (yakni orang nan merasakan kelezatan dgn mengenal Allah & bertaqarrub denganNya), maka sangatlah banyak, & tak bisa menghitung banyaknya kecuali Allah. Bahkan, sampai pada derajat orang (yang masih bisa merasakan kelezatan dengan) melakukan hal-hal nan sangat hina, hal-hal nan kotor & menjijikan, baik berupa perkataan maupun perbuatan…”. (*2)

Perkataan beliau ini menjelaskan, ternyata ada hal-hal nan memang terbukti mampu mendatangkan kepuasan hati, ketenteraman hidup & ketenangan jiwa orang nan melakukannya, namun, tentu sangat berbeda derajat orang nan merasakan kepuasan hati, ketenteraman hidup & ketenangan jiwa dgn cara bertaqarrub & taat kepada Allah, dgn orang nan mencapainya tetapi dgn cara bermaksiat & meninggalkan perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Permasalahan ini, persis dgn seseorang nan mencari kesembuhan dari penyakit kronis nan dideritanya, sementara para dokter telah angkat tangan dari penyakitnya tersebut, lalu akhirnya, orang ini berobat ke dukun, kemudian sembuh. Maka, apakah kesembuhannya bisa ia jadikan dalil atas bolehnya berobat atau mendatangi dukun? Apakah kesembuhan nan ia dapati -dengan izin Allah Subhanahu wa Ta'ala - menunjukkan bahwa dukun tersebut berada di atas al haq (baca: kebenaran)? Apakah kesembuhannya itu berasal dari cara nan dibenarkan oleh syariat? (*3)

Sebagai seorang muslim -yang mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta'ala senantiasa memberikan taufiqNya- kita ini tentu tak boleh ragu & syak, bahwa kepuasan hati, ketenteraman hidup & ketenangan jiwa adalah salah 1 sifat syariat Islam nan mulia & sempurna ini. Itupun, harus dilakukan sesuai dgn tuntunan syariat nan benar dlm beribadah. Yaitu, ikhlash hanya utk Allah l semata, & mutaba'atur rasul (mengikuti tuntunan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam), sebagaimana nan telah banyak diterangkan oleh para ulama tentang masalah ini. (*4)

Dari sekilas penjelasan di atas, kita ini bisa pahami, bahwa merupakan kekeliruan jika ada seseorang nan berkata “Segala sesuatu nan bisa mendatangkan & menimbulkan kepuasan hati, ketenteraman hidup & ketenangan jiwa, maka hal itu boleh-boleh saja dilakukan, karena hal itu merupakan indikasi kebenaran sesuatu tersebut”.

Di manakah letak kekeliruan perkataan ini? kita ini katakan: “Memang, salah 1 bukti benarnya sesuatu hal adalah timbulnya kepuasan hati, ketenteraman hidup & ketenangan jiwa pada si pelakunya. Dan ini merupakan salah 1 sifat syariat Islam jika dilakukan sesuai dgn tuntunan syariat nan benar dlm beribadah, sebagaimana telah diterangkan di atas. Namun, tak semua nan bisa mendatangkan & menimbulkan kepuasan hati, ketenteraman hidup & ketenangan jiwa sebagai sebuah kebenaran”.

Seandainya orang itu hanya berkata “Segala sesuatu nan bisa mendatangkan & menimbulkan kepuasan hati, ketenteraman hidup & ketenangan jiwa boleh-boleh saja dilakukan,” hanya sampai disini saja, mungkin masih bisa kita ini benarkan. Itupun selama perbuatan tersebut tak melanggar syariat. Karena segala sesuatu nan dilakukan, selama tak berhubungan dgn permasalahan ibadah, & selama tak ada dalil nan melarangnya, maka hukum asalnya adalah boleh, sebagaimana telah diterangkan oleh para ulama dlm masalah ini. (*5)

Permasalahannya, jika kita ini perhatikan & pelajari secara lebih dalam, hal-hal nan bisa mendatangkan & menimbulkan kepuasan hati, ketenteraman hidup & ketenangan jiwa nan banyak digemari orang saat ini, pada kenyataannya tak mungkin dapat dipisahkan dari praktek ibadah, bahkan sangat berkaitan erat dgn masalah aqidah nan letaknya di dlm hati, sedangkan hati merupakan sumber dari kebaikan atau keburukan seseorang, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

. . . أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْـغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُـلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُـلُّهُ، أَلاَ وَهِيَ الْـقَلْبُ .

“…Ketahuilah, sesungguhnya di dlm jasad ini ada segumpal daging, apabila ia (segumpal daging) tersebut baik, baiklah seluruh jasadnya, & apabila ia (segumpal daging) tersebut rusak (buruk), maka rusaklah (buruklah) seluruh jasadnya. Ketahuilah, segumpal daging tersebut adalah hati”. (*6)

Oleh karena itu, jika ingin selamat dari hal-hal nan dapat merusak agama kita, bahkan dlm hal aqidah, hendaknya seorang muslim senantiasa berhati-hati & waspada, serta penuh pertimbangan demi keselamatan agamanya, & bertanya, apakah perbuatan nan hendak dilakukan utk pencarian kepuasan hati, ketenteraman hidup & ketenangan jiwanya bertentangan dgn aqidah? Ataukah bagaimana?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,”Karena hati itu diciptakan utk diketahui kegunaannya, maka mengarahkan penggunaan hati (yang benar) adalah (dengan cara menggunakannya untuk) berfikir & menilai…”. (*7)

Berkaitan erat dgn permasalahan ini, sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memberikan solusi bagi setiap muslim nan senantiasa ingin mendapatkan kepuasan hati, ketenteraman hidup & ketenangan jiwa nan hakiki & abadi. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

الَّذِينَ آمَنُواْ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللّهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“(Yaitu) orang-orang nan beriman & hati mereka tenteram dgn mengingat Allah. Ingatlah, hanya dgn mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”. [ar Ra'd/13: 28].

Asy Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al Badr -hafizhahullah- berkata,”…… Sesungguhnya al Imam al ‘Allamah Ibnul Qayyim rahimahullah telah menyebutkan di dlm kitab beliau nan sangat berharga, al Wabil ash Shayyib sebanyak 7 puluh sekian faidah dzikir. Dan di sini, kami akan sempurnakan utk menyebutkan beberapa faidah dzikir lainnya, dari sekian banyak faidah nan telah beliau sebutkan di dlm kitabnya. Di antara faidah-faidah dzikir nan begitu agung, yaitu (dzikir) dapat mendatangkan kebahagiaan, kegembiraan, & kelapangan bagi orang nan melakukannya, serta dapat melahirkan ketenangan & ketenteraman di dlm hati orang nan melakukannya. Sebagaimana firman Allah…,” & asy Syaikh membawakan ayat ke-28 surat ar Ra'd di atas.

Kemudian beliau kembali menjelaskan & berkata,”Makna firman Allah (وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم) adalah hilangnya segala sesuatu (yang berkaitan dengan) kegelisahan & kegundahan dari dlm hati, & dzikir tersebut akan menggantikannya dgn rasa keharmonisan (ketentraman), kebahagiaan, & kelapangan. Dan maksud firmanNya (أَلاَ بِذِكْرِ اللّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ) adalah sudah nyata, & sudah sepantasnya hati (manusia) tak akan pernah merasakan ketentraman, kecuali dgn dzikir (mengingat) Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Bahkan, sesungguhnya dzikir adalah penghidup hati nan hakiki. Dzikir merupakan makanan pokok bagi hati & ruh. Apabila (jiwa) seseorang kehilangan dzikir ini, maka ia hanya bagaikan seonggok jasad nan jiwanya telah kehilangan makanan pokoknya. Sehingga tak ada kehidupan nan hakiki bagi sebuah hati, melainkan dgn dzikrullah (mengingat Allah). Oleh karena itu, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata (*9): “Dzikir bagi hati, bagaikan air bagi seekor ikan. Maka, bagaimanakah keadaan seekor ikan jika ia berpisah dgn air?”(*10)

Dari penjelasan nan begitu gamblang di atas, jelaslah sesungguhnya tak ada penawar bagi orang nan hatinya gersang & selalu gelisah, resah, & gundah, melainkan hanya dgn dzikrullah.

Dzikrullah dapat dilakukan dgn 2 cara, dgn mengingat Allah & banyak berdzikir dgn bertasbih, bertahmid, bertahlil (mengucapkan Laa ilaha illallaah), ataupun bertakbir. Dan dgn memahami makna-makna al Qur`an & hukum-hukumnya; karena di dlm al Qur`an terdapat dalil-dalil & petunjuk-petunjuk nan jelas, serta bukti kebenaran nan nyata. (*11)

Namun, nan amat disayangkan, masih banyak kaum Muslimin nan belum memahami hal ini. Bahkan, utk mendapatkan kepuasan hati, ketenteraman hidup & ketenangan jiwa, justru mencari-cari solusi selainnya. Padahal kepuasan hati, ketenteraman hidup & ketenangan jiwa nan hakiki tidaklah mungkin dihasilkan melainkan hanya dgn dzikrullah.

Al Imam al ‘Allamah Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “…Sesungguhnya, hati tak akan (merasakan) ketenangan, ketenteraman, & kedamaian, melainkan jika pemiliknya berhubungan dgn Allah Subhanahu wa Ta'ala (dengan melakukan ketaatan kepadaNya)… sehingga, barangsiapa nan tujuan utama (dalam hidupnya), kecintaannya, rasa takutnya, & ketergantungannya hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, maka ia telah mendapatkan kenikmatan dariNya, kelezatan dariNya, kemuliaan dariNya, & kebahagiaan dariNya utk selama-lamanya”. (*12)

Penjelasan beliau ini, juga menujukkan pemahaman, bahwa jika seseorang meninggalkan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, atau bahkan bermaksiat kepadaNya, maka hatinya akan sempit, gersang, selalu gelisah, resah, & gundah (*13). Adapun kemaksiatan nan terbesar adalah syirik, & Allah tak akan mengampuni orang nan berbuat syirik sampai ia bertaubat sebelum ia mati. (Lihat an Nisaa`/4: 48 & 116). Juga Allah berfirman:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكاً وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى

“Dan barangsiapa nan berpaling dari peringatanKu, maka sesungguhnya baginya penghidupan nan sempit, & Kami akan menghimpunkannya pada hari Kiamat dlm keadaan buta”. [Thaha/20: 124].

Salah 1 penafsiran ulama tentang lafazh (مَعِيشَةً ضَنكاً) pada surat Thaha ayat ke-124 di atas adalah, kehidupan nan sangat sempit & menyulitkan di dunia ini, disebabkan berpalingnya ia dari kitabullah & dzikrullah. Ia akan merasakan kesempitan, kegelisahan, & kepedihan-kepedihan lainnya dlm kehidupannya, & itu adalah adzab secara umum. (*14)

Adapun kadar kepuasan hati, ketenteraman hidup & ketenangan jiwa seseorang, itu sangat bergantung kepada sejauh mana kedekatannya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Al Imam al ‘Allamah Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan: “Kelezatan (yang dirasakan oleh hati) setiap orang, bergantung pada sejauh mana keinginannya dlm mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, & (keinginannya dlm meraih) kemuliaan dirinya. Orang nan paling mulia jiwanya, nan paling tinggi derajatnya dlm merasakan kelezatan (dalam hatinya), adalah (orang nan paling) mengenal Allah, nan paling mencintai Allah, nan paling rindu dgn perjumpaan denganNya, & nan paling (kuat) mendekatkan dirinya kepadaNya dgn segala hal nan dicintai & diridhai olehNya”. (*15)

Itulah dzikrullah & tha'atullah, sebagai kunci utama utk membuka hati seseorang dlm merealisasikan kepuasan hati, ketenteraman hidup & ketenangan jiwanya. Sedangkan tingkatan tha'atullah nan paling tinggi & agung adalah tauhidullah (mentauhidkan Allah). Dan (sebaliknya), tingkatan maksiat nan paling besar dosanya & paling buruk akibatnya, adalah asy syirku billah (menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta'ala). Dengan kata lain, orang nan paling berbahagia, tenteram, & tenang jiwanya adalah seorang muslim nan bertauhid & merealisasikan tauhidnya dlm kehidupan sehari-hari. Sedangkan orang nan paling sengsara hidupnya di dunia ini, & tak merasakan kebahagiaan, ketenangan, & ketenteraman jiwa nan hakiki & abadi, adalah orang nan musyrik & bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala (*15).

Kemudian, adakah hal lainnya setelah dzikrullah & tha'atullah nan secara khusus mampu mendatangkan kepuasan hati, ketenteraman hidup & ketenangan jiwa seseorang? Jawabnya, ada. Yaitu shalat.

Hendaknya seorang mukmin menyibukkan dirinya utk meraih kepuasan hati, ketenteraman hidup & ketenangan jiwanya dgn melakukan shalat secara benar & khusyu'. Dengan demikian, ia merasa tenang ketika berhadapan dgn Rabb-nya. Hatinya menjadi tenteram, lalu diikuti ketenangan & ketenteraman tersebut oleh seluruh anggota tubuhnya. Dari sini, ia akan merasakan kedamaian hati & ketenangan jiwa nan luar biasa. Dia memuji Rabb dgn segala macam pujian di dlm shalatnya. Bahkan, ia berkata kepada Rabb-nya إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (hanya Engkaulah nan kami sembah & hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan). Dia memohon kepada Rabb-nya segala kebutuhannya. Dan nan terpenting dari seluruh kebutuhannya adalah memohon utk istiqamah (konsisten) di atas jalan nan lurus. nan dengannya terwujudlah kebahagiaan di dunia & akhirat. Dia pun berkata اِهْدِنَا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ (Tunjukilah kami jalan nan lurus). Dia mengagungkan Rabb-nya saat ruku' & sujud, & memperbanyak doa di dlm sujudnya.

Betapa indah & agungnya komunikasi nan ia lakukan dgn Rabb-nya. Sebuah komunikasi nan sangat luar biasa, mampu menumbuhkan ketenteraman & kedamaian jiwa, sekaligus menjauhkan dirinya dari segala macam kegelisahan, keresahan, & kesempitan hati & jiwanya. Maka, tak perlu heran, jika shalat ini merupakan penghibur & penghias hati Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

. . . وَجُعِلَتْ قُـرَّةُ عَـيْـنِيْ فِي الصَّـلاَةِ .

“…dan telah dijadikan penghibur (penghias) hatiku (kebahagiaanku) pada shalat”. (*17)

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam juga pernah berkata kepada salah 1 sahabatnya:

قُمْ يَا بِلاَلُ، فَـأَرِحْـنَا بِالصَّلاَةِ .

“Bangunlah wahai Bilal, buatlah kami beristirahat dgn (melakukan) shalat”. (*18)

Al Imam al ‘Allamah Ibnul Qayyim rahimahullah, setelah menjelaskan hikmah-hikmah & beberapa keistimewaan shalat, beliau berkata: “… Kemudian, disyariatkan baginya utk mengulang-ulang raka'at ini 1 per satu, sebagaimana disyariatkannya mengulang-ulang (lafazh) dzikir & doa 1 per satu. Hal itu agar ia mempersiapkan dirinya dgn raka'at nan pertama tadi, utk menyempurnakan raka'at nan berikutnya. Sebagaimana raka'at nan kedua utk menyempurnakan raka'at nan pertama. Semuanya itu bertujuan utk memenuhi hatinya dgn makanan (rohani) ini, & mengambil bekal darinya utk mengobati penyakit nan ada dlm hatinya. Karena sesungguhnya kedudukan shalat terhadap hati, bagaikan kedudukan makanan & obat terhadapnya… Maka, tak ada 1 pun nan mampu menjadi makanan & bagi hatinya, selain shalat ini. Maksudnya, (fungsi) shalat dlm menyehatkan & menyembuhkan hati, seperti (fungsi) makanan pokok & obat-obatan terhadap badannya”. (*19)

Dr. Hasan bin Ahmad bin Hasan al Fakki berkata,”Tatkala shalat dijadikan sebagai pembangkit ketenangan & ketenteraman (jiwa), serta sebagai terapi psikologis, maka, tak mengherankan jika sebagian dokter jiwa menganggapnya sebagai terapi utama dlm penyembuhan para pasien penyakit jiwa. Salah seorang di antara mereka ada nan mengatakan, sepertinya shalat ini salah 1 terapi nan mampu mendatangkan kehangatan jiwa manusia. Sesungguhnya shalat bisa menjauhkan dirimu dari segala kesibukan nan membuatmu gundah & resah. Shalat ini pun mampu membuatmu merasa tak menyendiri dlm hidup ini. Mampu membuatmu merasakan bahwa Allah menyertaimu. Shalat pun ternyata mampu memberimu kekuatan dlm bekerja, nan sebelumnya dirimu tak mampu berbuat apa-apa. Maka, pergilah ke kamar tidurmu Lalu, mulailah melakukan shalat utk menghadap Rabb-mu”. (*20)

Demikianlah, sehingga memang shalat nan benar & khusyu', pasti akan melahirkan ketenteraman jiwa & kedamaian hati. Bukan seperti shalat nan dilakukan oleh orang-orang Nashrani, nan telah disifatkan oleh al Imam al ‘Allamah Ibnul Qayyim rahimahullah sebagai sebuah shalat nan pembukaannya adalah kenajisan, takbiratul ihramnya dgn bersalib di wajah, qiblatnya sebelah timur, syi'arnya adalah kesyirikan, (maka) bagaimana hal ini tersembunyi bagi orang berakal, bahwa hal ini sesuatu nan memang tak pernah dibenarkan oleh 1 syariat manapun? [21]

Dr. Hasan bin Ahmad bin Hasan al Fakki kembali menjelaskan: “Adapun sebuah shalat nan permulaannya adalah pengagungan & pemuliaan terhadap Allah Subhanahu wa Ta'ala, & shalat ini mengandung firmanNya, pujian & pengagungan kepadaNya, rasa tunduk nan sempurna si pelakunya kepada Rabbnya, maka tak ragu lagi, shalat seperti inilah nan mampu menjadi perantara seorang hamba dlm berkomunikasi dgn Rabb-nya. Shalatnya ini bermanfaat baginya utk memohon kepada Rabb agar (Dia) membebaskan dari segala kesulitan. Di samping itu, ia pun akan mendapatkan manfaat & pahala nan besar di akhirat, serta kemenangan dgn mendapatkan ridha ar Rahman (Allah Subhanahu wa Ta'ala). Dan kiaskanlah terhadap shalat ini seluruh ketaatan hamba terhadap Rabb-nya. Sungguh agama Islam adalah sebuah manhaj (metode, tata cara & pola hidup) nan sempurna, nan sangat adil. Menjamin setiap orang bisa mencapai hidup bahagia di dunia & akhirat. Dan ini sebagai sebuah kemenangan nan besar”. [22]

Demikianlah, mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat bagi kita ini semua, bisa menambah iman, ilmu, & amal shalih kita. Wallahu a'lam bish shawab.

Maraji' & Mashadir:
1. Al Qur`an & terjemahnya, Cetakan Mujamma' Malik Fahd, Saudi Arabia.
2. Shahih al Bukhari, Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin al Mughirah al Bukhari (194-256 H), Tahqiq Musthafa Dib al Bugha, Daar Ibni Katsir, al Yamamah, Beirut, Cetakan III, Tahun 1407 H/1987 M.
3. Shahih Muslim, Abu al Husain Muslim bin Hajjaaj al Qusyairi an Naisaburi (204-261 H), Tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi, Daar Ihya at Turats, Beirut.
4. Sunan Abi Daud, Abu Daud Sulaiman bin al Asy'ats As Sijistani (202-275 H), Tahqiq Muhammad Muhyiddin Abdul Hamid, Daar al Fikr.
5. Sunan an Nasa-i (al Mujtaba), Abu Abdirrahman Ahmad bin Syu'aib an Nasa-i (215-303 H), Tahqiq Abdul Fattah Abu Ghuddah, Maktab al Mathbu'at, Halab, Cetakan II, Tahun 1406 H/1986M.
6. Musnad al Imam Ahmad, Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal asy Syaibani (164-241 H), Mu'assasah Qurthubah, Mesir.
7. Risalah fii al Qalbi wa Annahu Khuliqa li Yu'lama bihi al Haqqu wa Yusta'malu fiima Khuliqa Lahu, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (661-728 H), Tahqiq Salim bin ‘Id al Hilali, Daar Ibn al Jauzi, Dammam, KSA, Cet. I, Th. 1411 H/1990 M.
8. Ighatsatul Lahfaan fi Mashayid asy Syaithan, Syamsuddin Ibnu Qayyim al Jauziyah (751 H), Takhrij Muhammad Nashiruddin al Albani (1332-1420 H), Tahqiq Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid al Halabi al Atsari, Daar Ibn al Jauzi, Dammam, KSA, Cetakan I, Tahun 1424 H.
9. Ad Daa'u wa ad Dawaa' (al Jawab al Kafi liman sa-ala ‘an ad Dawaa' asy Syafi), Syamsuddin Ibnu Qayyim al Jauziyah (751 H), Tahqiq Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid al Halabi al Atsari, Daar Ibn al Jauzi, Dammam, KSA, Cetakan VI, Tahun 1423 H.
10. Syifa-ul ‘Alil fi Masa-il al Qadha-i wa al Qadar wa al Hikmah wa at Ta'lil, Syamsuddin Ibnu Qayyim al Jauziyah (751 H), Tahqiq Khalid Abdullathif as Sab'u al Alami, Daar al Kitab al ‘Arabi, Beirut, Libanon, Cetakan II, Tahun 1417 H/1997 M.
11. Al Wabil ash Shayyib, Syamsuddin Ibnu Qayyim al Jauziyah (751 H), Tahqiq Muhammad Abdurrahman ‘Awadh, Daar al Kitab al ‘Arabi, Beirut, Libanon, Cetakan VI, Tahun 1417 H/1996 M.
12. Fawa-id al Fawa-id, Syamsuddin Ibnu Qayyim al Jauziyah (751 H), Tartib & Takhrij Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid al Halabi al Atsari, Daar Ibn al Jauzi, Dammam, KSA, Cetakan V, Tahun 1422 H.
13. Taisir al Karim ar Rahman fi Tafsiri Kalami al Mannan, Abdurrahman bin Nashir as Sa'di, Tahqiq Abdurrahman bin Mu'alla al Luwaihiq, Daar as Salam, Riyadh, KSA, Cetakan I, Tahun 1422 H/2001 M.
14. Shahih Sunan Abi Daud, Muhammad Nashiruddin al Albani (1332-1420 H), Maktabah al Ma'arif, Riyadh.
15. Shahih Sunan an Nasa-i, Muhammad Nashiruddin al Albani (1332-1420 H), Maktabah al Ma'arif, Riyadh.
16. Shahih al Jami' ash Shaghir, Muhammad Nashiruddin al Albani (1332-1420 H), al Maktab al Islami.
17. As Silsilah as Shahihah, Muhammad Nashiruddin al Albani (1332-1420 H), Maktabah al Ma'arif, Riyadh.
18. Al Qaul al Mufid ‘ala Kitab at Tauhid, Muhammad bin Shalih al Utsaimin (1421 H), Daar Ibn al Jauzi, Dammam, KSA, Cetakan III, Tahun 1419 H/1999 M.
19. ‘Ilmu Ushuli al Bida', Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid al Halabi al Atsari, Daar ar Rayah, Riyadh, KSA, Cetakan II, Tahun 1417 H.
20. Fiqh al Ad'iyah wa al Adzkar, Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al Badr, Daar Ibn ‘Affan, Riyadh, KSA, Th. 1419 H.
21. Sittu Durar min Ushuli Ahlil Atsar, Abdul Malik bin Ahmad Ramadhani al Jazairi, Mathabi' al Humaidhi, KSA, Cetakan II, Tahun 1420 H.
22. Ahkam al Adwiyah Fi asy Syari'ati al Islamiyyah, Dr. Hasan bin Ahmad bin Hasan al Fakki, Taqdim Syaikh Dr. Muhammad bin Nashir bin Sulthan as Suhaibani, Maktabah Daar al Minhaj, Riyadh, Cetakan I, Tahun

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun X/1427H/2006M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]

Referensi
(*1). Lihat Ahkam al Adwiyah fii asy Syari'ah al Islamiyah, hlm. 525-539.
(*2). Lihat Fawa-id al Fawa-id, hlm. 367.
(*3). Lihat permasalahan ini di kitab al Qaul al Mufid ‘ala Kitab at Tauhid (1/531-552), & nan setelahnya.
(*4). Lihat -contohnya- kitab Sittu Durar min Ushuli Ahli al Atsar, hlm. 13 & 65.
(*5). Lihat ‘Ilmu Ushuli al Bida', hlm. 69 & 211.
(*6). HR al Bukhari (1/28 no. 52), Muslim (3/1219 no. 1599), & lain-lain, dari hadits an Nu'man bin Basyir g .
(*7). Lihat Risalah fii al Qalbi wa Annahu Khuliqa li Yu'lama bihi al Haqqu wa Yusta'malu fiima Khuliqa lahu, hlm. 16.
(*8). Lihat al Wabil ash Shayyib, hlm. 61-111.
(*9). Sebagaimana nan dinukil oleh muridnya di dlm kitab al Wabil ash Shayyib, hlm. 63.
(*10). Lihat Fiqh al Ad'iyah wa al Adzkar (1/17-18).
(*11). Lihat penjelasan ini dlm kitab Taisir Karim ar Rahman fi Tafsir Kalam al Mannan (1/1059-1060).
(*12). Lihat Fawa-id al Fawa-id, hlm. 24.
(*13). Sesungguhnya dampak negatif & pengaruh buruk dari perbuatan maksiat sangatlah banyak. Al Imam al ‘Allamah Ibnul Qayyim t menerangkan secara khusus dgn panjang lebar tentang hal ini dlm kitab beliau, ad Daa'u wa ad Dawaa' atau dgn nama lain al Jawab al Kafi liman sa-ala ‘an ad Dawaa' asy Syafi (85-170).
(*14). Lihat Taisir Karim ar Rahman fi Tafsir Kalam al Mannan (2/74-75).
(*15). Lihat Fawa-id al Fawa-id, hlm. 376.
(*16). Lihat permasalahan ini di kitab al Qaul al Mufid ‘ala Kitab at Tauhid (1/60-145), & nan setelahnya, tentang keutamaan orang nan merealisasikan tauhid & takut terjerumus ke dlm kesyirikan.
(*17). HR an Nasa-i (7/61 no. 3939-3940), Ahmad (3/128 no. 12315-12316, 3/199 no. 13079, 3/285 no. 14069), & lain-lain dari hadits Anas z . Dan hadits ini dishahihkan oleh asy Syaikh al Albani t dlm Shahih Sunan an Nasa-i, Shahih al Jami' (3124), & as Silsilah ash Shahihah (3/98 & 4/424).
(*18). HR Abu Dawud (4/296 no. 4986). Dan hadits ini dishahihkan oleh asy Syaikh al Albani t dlm Shahih Sunan Abi Dawud.
(*19). Lihat Syifa-ul ‘Alil fi masa-il al Qadha-i wa al Qadar wa al Hikmah wa at Ta'lil, hlm. 396.
(*20). Lihat Ahkam al Adwiyah fii asy Syari'ah al Islamiyah, hlm. 549-550.
[21]. Lihat Ighatsatul Lahfaan fi Mashayid asy Syaithan (2/1052).
[22]. Lihat Ahkam al Adwiyah fii asy Syari'ah al Islamiyah, hlm. 550.
sumber: www.almanhaj.or.id penulis Abu Abdillah Arief B. bin Usman Rozali tags: Ketenangan Jiwa, Syariat Islam, Mengenal Allah, Hanya Satu

kedamaian hati menurut islam dan kiat mendapatkan kedamaian hati kedamaian hati menurut islam dan kiat mendapatkan kedamaian hati kedamaian hati menurut islam dan kiat mendapatkan kedamaian hati kedamaian hati dan jiwa karena seorang laki- laki yang sudah beristri apa hukumnya kedamaian jiwa, ibnul qoyim jauzi kedamaian dan ketenangan doa kedamaian jiwa antara ketenangan jiwa, kedamaian hati dan sebuah kebenaran kedamaian hati muslim ketenangan jiwa dan hati dalam islam contoh ketenangan doa ketenangan, kedamaian dn ketentraman hati lahir dn batin ketenangan hati nan jiwa surat tentang kebenaran nan hakiki islam dan ketengan jiwa