6b. Terbunuhnya Utsman Bin Affan Radhiyallahu Anhu

6. MUNCULNYA BERBAGAI MACAM FITNAH

B. TERBUNUHANYA 'UTSMAN BIN AFFAN RADHIYALLAHU ANHU
Munculnya fitnah pada zaman Sahabat Radhiyallahu anhu terjadi setelah terbunuhnya Amirul Mukminin ‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu ; masa sebelum wafat beliau ibarat sebuah pintu nan terkunci dari berbagai fitnah. Ketika beliau Radhiyallahu anhu terbunuh, muncullah berbagai fitnah nan besar, & muncullah orang-orang nan berseru kepadanya (fitnah) dari kalangan orang nan belum tertanam keimanan dlm hatinya, & dari kalangan orang-orang munafik nan sebelumnya menampakkan kebaikan di hadapan manusia, padahal mereka menyembunyikan kejelekan & makar terhadap agama ini.

Dijelaskan dlm ash-Shahiihain dari Hudzaifah Radhiyallahu anhu, bahwasanya ‘Umar Radhiyallahu anhu berkata:

أَيُّكُمْ يَحْفَظُ قَوْلَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْفِتْنَةِ؟ فَقَالَ حُذَيْفَةُ: أَنَا أَحْفَظُ كَمَا قَالَ. قَالَ: هَاتِ؛ إِنَّكَ لَجَرِيءٌ. قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَجَـارِهِ تُكَفِّرُهَا الصَّلاَةُ وَالصَّدَقَةُ وَاْلأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنِ الْمُنْكَرِ، قَالَ: لَيْسَتْ هَذِهِ وَلَكِنِ الَّتِي تَمُوجُ كَمَوْجِ الْبَحْرِ. قَالَ: يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ لاَ بَأْسَ عَلَيْكَ مِنْهَا، إِنَّ بَيْنَكَ وَبَيْنَهَا بَابًا مُغْلَقًا. قَالَ: يُفْتَحُ الْبَـابُ أَوْ يُكْسَرُ؟ قَالَ: لاَ، بَلْ يُكْسَرُ. قَالَ ذَلِكَ أَحْرَى أَنْ لاَ يُغْلَقَ. قُلْنَا: عُلِمَ الْبَابُ؟ قَالَ نَعَمْ، كَمَا أَنَّ دُونَ غَدٍ اللَّيْلَةَ إِنِّي حَدَّثْتُهُ حَدِيثًا لَيْسَ بِاْلأَغَالِيطِ. فَهِبْنَا أَنْ نَسْأَلَهُ، وَأَمَرْنَا مَسْرُوقًا، فَسَأَلَهُ، فَقَالَ: مَنِ الْبَابُ؟ قَالَ: عُمَرُ.

“Siapakah di antara kalian nan hafal sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tentang fitnah?” Lalu Hudzaifah berkata, “Aku hafal seperti nan beliau sabdakan. ” (‘Umar) berkata, “Kemarilah, engkau memang berani. ” Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Fitnah seorang laki-laki (yang ada) pada keluarganya, hartanya, & tetangganya, bisa dihapus dgn shalat, shadaqah, & amar ma'ruf nahi munkar. ” Beliau (‘Umar) berkata, “Bukan nan ini, akan tetapi nan bergelombang seperti gelombang ombak di lautan. ” Dia (Hudzaifah) berkata, “Wahai Amirul Mukminin Hal itu tak jadi masalah bagimu, sesungguhnya di antara engkau dengannya ada pintu nan tertutup. ” Beliau (‘Umar) bertanya, “Pintu itu dibuka atau dirusak?” Dia menjawab, “Tidak, bahkan dirusak. ” Beliau berkata, “Pintu itu pantas utk tak ditutup. ” Kami (Syaqiq) bertanya, “Apakah beliau tahu apakah pintu itu?” Dia menjawab, “Betul, sebagaimana (dia tahu) bahwa setelah esok hari ada malam, sesungguhnya aku meriwayatkan hadits & bukan cerita bohong. ” Lalu kami sungkan utk bertanya kepadanya, & kami memerintahkan Masruq agar ia bertanya kepada beliau, lalu dia berkata, “Siapakah pintu itu?” Dia (Hudzaifah) menjawab, “‘Umar. “(*1)

Itulah nan pernah dikabarkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. ‘Umar telah terbunuh, pintu telah dirusak, muncullah berbagai fitnah & terjadilah banyak musibah. Fitnah nan pertama kali muncul adalah terbunuhnya Khalifatur Rasyid, Dzun Nuraini, ‘Utsman bin ‘Affan Radhiyallahu anhu oleh para penyeru kejelekan, nan berkumpul utk menghadapinya dari Irak & Mesir. Mereka mema-suki Madinah & membunuhnya sementara beliau berada di rumahnya Radhiyallahu anhu. (*2)

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan kepada ‘Utsman bahwa musibah akan menimpanya, karena itulah beliau bersabar & melarang para Sahabat agar tak memerangi orang-orang nan membangkang kepadanya, sehingga tak ada pertumpahan darah karenanya Radhiyallahu anhu. (*3)

Dijelaskan dlm hadits Abu Musa al-Asy'ari Radhiyallahu anhu, ia berkata:

خَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَـى حَائِطٍ مِنْ حَوَائِطِ الْمَدِينَةِ. . . فَجَاءَ عُثْمَـانُ، فَقُلْتُ: كَمَا أَنْتَ؛ حَتَّى أَسْتَأْذِنَ لَكَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ائْذَنْ لَهُ وَبَشِّرْهُ بِالْجَنَّةِ مَعَهَا بَلاَءٌ يُصِيبُهُ.

“Pada suatu hari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam masuk ke sebuah kebun dari kebun-kebun Madinah. . . lalu datang ‘Utsman, aku berkata, ‘Tunggu dulu Sehingga aku memohon izin (kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam) untukmu,' kemudian Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata, ‘Izinkanlah ia, berilah kabar kepadanya dgn Surga, bersamanya ada musibah nan menimpanya. '” (*4)

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mengkhususkan ‘Utsman dgn menyebutkan musibah nan akan menimpanya, padahal ‘Umar pun meninggal dgn terbunuh. Hal itu karena ‘Umar tak mendapatkan cobaan sebesar nan didapatkan oleh ‘Utsman; berupa sikap kaumnya nan lancang & memaksanya utk melepaskan jabatan kepemimpinan atas tuduhan kezhaliman & ketidakadilan nan dinisbatkan kepadanya, & ‘Utsman memberikan penjelasan nan lugas serta bantahan atas pernyataan-pernyataan mereka. (*5)

Dengan terbunuhnya ‘Utsman Radhiyallahu anhu kaum muslimin menjadi berkelompok-kelompok, terjadilah peperangan antara para Sahabat, berbagai fitnah & hawa nafsu menyebar, banyaknya pertikaian, pendapat menjadi berbeda-beda, & terjadilah berbagai pertempuran nan membinasakan pada zaman Sahabat Radhiyallahu anhum. Sebelumnya, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam sudah mengetahui fitnah nan akan terjadi pada zaman mereka.

Dijelaskan dlm sebuah hadits:

فَإِنَّهُ أَشْـرَفَ عَلَى أُطُمٍ مِنْ آطَامِ الْمَدِينَةِ، فَقَالَ: هَلْ تَرَوْنَ مَا أَرَى؟ قَالُوْا: لاَ. قَالَ: فَإِنِّي لأَرَى الْفِتَنَ تَقَعُ خِلاَلَ بُيُوتِكُمْ كَوَقْعِ الْقَطْرِ.

“(Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam) pernah memperhatikan sebuah bangunan tinggi dari beberapa bangunan tinggi di Madinah, lalu beliau berkata, ‘Apakah kalian melihat fitnah nan aku lihat?' Para Sahabat menjawab, ‘Tidak. ' Beliau berkata, ‘Sesungguhnya aku melihat fitnah-fitnah terjadi di antara rumah-rumah kalian bagaikan kucuran air hujan. '” (*6)

An-Nawawi rahimahullah berkata, “Penyerupaan dgn kucuran air hujan terjadi pada sesuatu nan banyak dgn cakupannya nan umum, artinya fitnah tersebut banyak & tak khusus menimpa 1 kelompok. Ini merupakan isyarat adanya peperangan nan terjadi antara mereka, seperti perang Jamal, Shiffin, Hurrah (daerah berbatu), pembunuhan ‘Utsman & al-Husain Radhiyallahu anhuma. . . & nan lainnya. Hadits tersebut juga menunjukkan adanya mukjizat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam nan nampak. (*7)

[Disalin dari kitab Asyraathus Saa'ah, Penulis Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, Daar Ibnil Jauzi, Cetakan Kelima 1415H-1995M, Edisi Indonesia Hari Kiamat Sudah Dekat, Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]

Referensi
(*1). Shahiih al-Bukhari, kitab al-Manaaqib, bab ‘Alaamatun Nubuwwah (VI/603-604, al-Fat-h), & Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa'ah (XVIII/ 16-17, Syarh an-Nawawi).
(*2). Lihat perincian peristiwa itu dlm kitab al-Bidaayah wan Nihaayah (VII/170- 191).
(*3). Lihat al-‘Awaashim minal Qawaashim (hal. 132-137) tahqiq & ta'liq Muhibbuddin al-Khatib.
(*4). Shahiih al-Bukhari, kitab al-Fitan, bab al-Fitnah allati Tamuuju ka Maujil Bahri (XIII/48, al-Fat-h).
(*5). Lihat Fat-hul Baari (XIII/51).
(*6). Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa'ah.
(*7). Syarh Muslim, karya an-Nawawi (XVIII/8).
sumber: www.almanhaj.or.id penulis Dr. Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil tags:

terbunuhnya usman bin laden kejelekan utsman bin afan kisah terbunuhnya utsman bin affsan